Saat Nadi Ekonomi Leuwiliang Terbakar
Rulan (54) bergegas setelah mendapat kabar Pasar Leuwiliang,
Kabupaten Bogor, Jabar, terbakar, Rabu (27/9) sekitar pukul 20.00. Ia tidak
bisa menyelamatkan barang dagangannya di kios Blok A. Ia dan pedagang lain tidak
berdaya saat api cepat menyebar dan membesar. ”Habis semua, tidak ada satu pun
dagangan pakaian terselamatkan. Saya datang sudah gede apinya. Hanya bisa pasrah,”
kata Rulan, Jumat (29/9) di lokasi pasar. Akibat kebakaran itu, Rulan mengalami
kerugian Rp 700 juta. ”Mungkin lebih. Yang pasti ini saya rugi besar,” katanya.
Hingga Kamis (28/9) pukul 13.30, asap pekat masih menyelimuti gedung utama di Blok
A dan B Pasar Leuwiliang. Sejumlah pedagang tampak mengais-ngais barang
dagangannya di tengah hawa panas. Setidaknya 66 petugas dan 16 mobil pemadam kebakaran
dikerahkan untuk memadamkan api.
Ujang (68), pedagang pakaian di Blok A, hanya bisa berdiri
menatap lapaknya yang hangus terbakar. Tidak banyak barang yang bisa ia
selamatkan karena api cepat menyebar. Ia hanya berharap, pascakebakaran bisa
segera berjualan kembali sehingga tak terus merugi. Pemerintah diharapkan juga bisa
memberikan bantuan ke pada pedagang yang terdampak agar bisa melanjutkan roda
ekonomi. Akibat kebakaran itu, dari total 590 kios, sebanyak 550 kios terbakar.
Selanjutnya, dari 641 los, 580 los terbakar. Sementara dari total 835 lapak tenda,
yang terbakar sebanyak 450 lapak. Di luar itu, ada total 1.619 lapak yang
terbakar dan 2.066 pedagang terdampak. Bupati Bogor Iwan Setiawan menyadari
kebakaran Pasar Leuwiliang merugikan pedagang. Insiden itu juga berdampak pada
warga yang hendak membeli barang untuk memenuhi kebutuhan hariannya. Pasar yang
berdiri tahun 2004 itu merupakan pasar terbesar di Kabupaten Bogor selatan. Karena
dinilai penting dan roda ekonomi harus terus berputar, menurut Iwan, Pasar Leuwiliang
perlu segera direvitalisasi. Pasar sementara juga perlu disiapkan agar para pedagang
bisa segera berjualan. (Yoga)
Amman Mineral Cetak Laba Bersih Rp 1,8 Triliun
LPS: Special Rate KBMI 2 Tertinggi
Government Shutdown Tampak Tak Terelakkan
Upaya Gojek Menambah Pengguna Ojol
Sulit Maju Tanpa Industri Baterai
Siap Ekspansi Usai Berlayar di Bursa
Adu Taji Saham Bank BUMN
TikTok Wajib Ajukan Ulang Izin E-Commerce
PROSPEK KUAT PASAR SAHAM
Kendati tertatih menggapai level 7.000 pada kuartal III, penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) bakal lebih solid pada sisa tahun ini. IHSG cenderung menguat sepanjang kuartal III/2023 berkat sokongan investor domestik yang optimistis terhadap prospek pasar saham, meskipun sentimen eksternal cenderung kurang bersahabat. Dalam 3 bulan terakhir, IHSG tercatat menguat 4,32% hingga akhirnya ditutup di level 6.939,89 pada hari terakhir perdagangan kuartal III/2023, Jumat (29/9). Sepanjang tahun berjalan, IHSG bertahan di teritori hijau dengan penguatan 1,3% Year-to-Date (YtD). IHSG sempat kembali menyentuh level psikologis 7.000 akhir pekan lalu, tetapi gagal bertahan pekan ini akibat sentimen suku bunga the Fed yang masih bertahan di level tinggi, bahkan disinyalir bakal naik sekali lagi tahun ini. Akan tetapi, dengan kinerja yang terbatas tersebut, IHSG masih berada di posisi kedua terkuat di antara indeks komposit Asean. Padahal, investor asing agresif melepas aset mereka dengan net sell Rp21,18 triliun sepanjang 3 bulan terakhir. Secara YtD, net sell asing mencapai Rp4,44 triliun. Kondisi ini menjadikan pasar keuangan AS lebih memikat bagi investor global. Jika the Fed kembali menaikkan suku bunga acuan tahun ini, maka Fed Fund Rate dan BI 7 Day Reverse Repo Rate akan sama tingginya, padahal peringkat investasi Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan dengan AS. Meskipun demikian, melihat penguatan IHSG sepanjang kuartal III/2023 dengan sokongan investor domestik, masih cukup beralasan untuk meyakini potensi penguatan lanjutan pada sisa tahun ini. Apalagi, pasar akan ditopang oleh sentimen positif dalam negeri berupa persiapan Pemilu 2024. Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Roger MM menilai sulitnya IHSG menembus level 7.000 pekan ini akibat adanya risiko kenaikan kembali suku bunga the Fed. Hal ini tidak terlepas dari faktor inflasi AS yang belum jinak.
Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan sentimen the Fed memang menjadikan pasar cenderung wait and see. Kendati begitu, dia sependapat IHSG memiliki peluang lebih besar menghijau karena fundamental ekonomi Indonesia yang baik.“Panin AM menilai level wajar IHSG di akhir tahun 2023 adalah 7.400,” ujarnya. Sementara itu, Head of research NH Korindo Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan dalam skenario terbaik, IHSG dapat parkir di level 7.350 hingga 7.400 di akhir tahun. Namun, pada skenario terburuk, IHSG kemungkinan tertahan di kisaran 7.050 hingga 7.100. Meski begitu, Equity & Fixed Income Analyst KGI Sekuritas Rovandi memberi catatan sentimen pelemahan rupiah, serta penurunan cadangan devisa akibat aktivitas dagang yang menurun dan harga ekspor batu bara yang belum pulih akan menjadi penekan IHSG. Oleh karena itu, KGI Sekuritas memperkirakan level IHSG yang lebih rendah di akhir tahun 2023, yaitu sekitar 7.175. Head of Investment Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe juga meyakini sentimen Pemilu bakal menjadi alasan yang kuat bagi investor untuk melakukan window dressing jelang pergantian tahun. Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Maximilianus Nico Demus sepakat potensi window dressing yang berimbas pada penguatan signifikan IHSG pada tahun ini cukup besar. Adapun, window dressing merupakan strategi manajer investasi mempercantik kinerja portofolio agar menampilkan laporan kinerja yang lebih cantik di akhir tahun.









