Menanti Sinterklas Berbagi Kado Akhir Tahun di Bursa
Defisit Anggaran Daerah Bisa Menekan Ekonomi
Tekanan Mulai Reda, Rupiah Bisa Menguat di Akhir 2023
Emiten Jumbo Gencar Ekspansi
Berburu Dividen Jelang Akhir Tahun
Musim pembagian bonus akhir tahun telah tiba. Sejumlah emiten akan segera membagikan dividen interim dalam waktu dekat. Misalnya, PT Sigma Energy Compressindo Tbk (SICO) yang akan membagikan dividen interim tahun buku 2023 sebesar Rp 2 per saham. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) juga akan membayarkan dividen interim untuk tahun buku 2023 sebesar Rp 15 per saham. Emiten farmasi lain, PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) secara resmi juga akan membagikan dividen tengah tahun atau interim sebesar Rp 50 per saham. Tak mau ketinggalan, PT Budi Starch & Sweetener Tbk (BUDI) berencana untuk membagikan dividen interim kepada pemegang saham periode tahun buku 2023. Direktur Kiwoom Sekuritas Indonesia, Chang-kun Shin melihat, dampak pembagian dividen interim akan menyebabkan kinerja saham emiten tersebut berpeluang menguat. Khususnya menjelang cum date. Shin menilai TSPC dan BUDI punya peluang melanjutkan tren pertumbuhan. Hal itu terlihat dari kinerja kedua emiten tersebut sampai bulan September 2023 yang menunjukkan pertumbuhan. Kepala Riset Praus Capital, Marolop Alfred Nainggolan menilai pembagian dividen dan dividen interim akan selalu menjadi katalis positif bagi performa saham emiten yang bersangkutan.
Geopolitik Tegang, Komoditas Panas
Diminta Diet, NIM Bank Justru Semakin Gemuk
Digitalisasi Jadi Kunci Bisnis PRDA
JALUR TENGAH PELAT MERAH
Perusahaan pelat merah masih menjadi motor utama pembangunan infrastruktur di Tanah Air. Perannya hampir tak tergantikan di berbagai proyek negara dalam skala besar.Memasuki tahun politik, posisi korporasi BUMN tetap diandalkan. Namun, perannya perlu dilakukan dengan penuh hati-hati dan kecermatan tinggi. Netralitas korporasi pelat merah perlu dijaga agar sasaran dan target yang dirancang bisa tercapai.
Efek Domino Depresiasi Rupiah
Ketika kondisi keuangan negara Amerika Serikat (AS) mengalami defisit yang kian membengkak, posisi nilai tukar mata uang dolar AS justru melonjak naik hingga menyebabkan mata uang negara lain terpuruk. Kenaikan tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS yang meningkat hingga 5% membuat penarikan dolar AS di seluruh dunia marak untuk diinvestasikan kembali ke AS.Bagi Indonesia, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tentu perlu diwaspadai. Meskipun neraca perdagangan Indonesia pada September 2023 sebetulnya mencatatkan surplus sebesar US$3,42 miliar, tetapi posisi rupiah justru melemah. Menurut Bank Indonesia (BI), per 26 Oktober 2023, kurs rupiah referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate tercatat Rp15.933 per dolar AS. Pelemahan nilai tukar rupiah ini terjadi saat indeks dolar AS terpantau menguat ke level 106,49%. Upaya BI untuk menstabilkan rupiah, harus diakui bukan hal yang mudah dilakukan. Bukan tidak mungkin, nilai tukar rupiah akan tembus Rp16.000 per 1 dolar AS jika kondisi geopolitik masih tidak menentu.
Depresiasi mata uang, termasuk rupiah sering terjadi pada negara dengan fundamental pertumbuhan yang lemah seperti defisit transaksi berjalan yang terus-menerus, serta tingginya tingkat inflasi. Secara garis besar ada efek domino yang terjadi ketika nilai tukar rupiah turun.Pertama, mempengaruhi kelangsungan hidup sejumlah sektor industri manufaktur.
Kedua, pelemahan rupiah dan kenaikan nilai tukar mata uang dollar AS, cepat atau lambat akan menyebabkan terjadinya kenaikan biaya logistik.
Ketiga, efek domino pelemahan rupiah tak pelak juga akan menyebabkan terjadinya pelemahan permintaan dan daya beli masyarakat.
Keempat, tidak hanya inflasi, efek domino dari terjadinya depresiasi mata uang rupiah terhadap dolar AS juga berpotensi meningkatkan jumlah dan kewajiban pemerintah maupun swasta dalam membayar utang.









