Gaji ”Ngepas”, Anak Muda Jungkir Balik Mengelola Keuangan
Sebagian besar kelas menengah usia 17-40 tahun jumpalitan
mengatur pengeluaran. Salah satu caranya dengan menambah pekerjaan lantaran sisa
gajinya kurang dari nol alias minus untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari
102,48 juta penduduk usia 17-40 tahun, sebanyak 48,49 juta orang atau 47,32 %
tergolong dalam masyarakat calon kelas menengah. Yang tergolong kelas menengah sebesar
21,01 juta orang (20,51 %) sedangkan yang kaya hanya 463.469 orang (0,45 %). Rentang
usia 17-40 tahun oleh KPU dikategorikan sebagai pemilih muda. Pemilih muda yang
masuk kelompok calon kelas menengah, ternyata pengeluarannya lebih besar dari
pendapatannya.
Mereka tak punya sisa gaji bahkan minus Rp 181.724 per kapita
per bulan. Sementara pemilih muda yang masuk kategori kelas menengah juga
pendapatannya minus Rp 65.529 per kapita per bulan. Angka-angka tersebut adalah
hasil pengolahan data mikro pengeluaran dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional
(Susenas) 2021 serta pendapatan dalam Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas)
2021. Berdasarkan data pengeluaran dan pendapatan itu, Bank Dunia mengelompokkan
menjadi calon kelas menengah (pengeluaran 1,5-3,5 kali lipat garis kemiskinan
per kapita per bulan) dan kelas menengah (3,5-17 kali lipat).
Ani (27), warga Kaltim, harus bekerja keras mencari tambahan
untuk mengumpulkan pundi-pundi uang di rekeningnya untuk kebutuhan hidup. Saat
ini, ia bekerja sebagai pekerja lepas di bidang fotografi, copy writer, dan
kreator konten. Dalam sebulan, pengeluarannya Rp 6 juta untuk menghidupi dua
anggota keluarga di rumah, dimana, 40 % atau Rp 2,4 juta digunakan untuk biaya
makan harian. Sementara biaya operasional listrik, air, dan internet Rp 800.000.
Dia juga bertekad mengumpulkan tabungan dana pendidikan untuk anaknya menggunakan
instrument investasi reksadana dengan besaran Rp 500.000-Rp 1 juta per bulan.
Nominalnya tak menentu bergantung jumlah proyek yang diterimanya bulan itu.
Jika butuh uang mendadak, dia biasanya pinjam uang ke teman dekat atau kantor
dan menghindari meminjam dari pinjaman daring.
Dedi Setiawan (30) warga Konawe Selatan, Sultra, setahun ini
bekerja sebagai pengontrol kualitas pengelasan di galangan kapal. Setelah
mendapat promosi jabatan, gaji Dedi naik Rp 300.000 menjadi Rp 3,2 juta per
bulan. Kenaikan gaji tersebut tidak serta-merta membuat Dedi bisa menyisihkan
gajinya untuk tabungan. Pengeluarannya untuk kebutuhan sehari-hari, susu, dan
popok untuk tiga anak balitanya serta cicilan perabot rumah mencapai Rp 3,5
juta per bulan. ”Ini belum bisa nabung. Hidup pas-pasan, ngepres banget, untuk
membayar pengeluaran sehari-hari dan biaya tak terduga,” kata Dedi, awal
Februari lalu. Untuk menutupi biaya pengeluarannya yang minus, Dedi bekerja
sampingan berjualan tas daring yang dijalankan istrinya. Istri Dedi memainkan
peran sebagai reseller tas berjenama Imori yang dibeli dari Batam, Kepri. ”Lumayan,
per bulan bisa menjual 10 tas seharga Rp 400.000 hingga Rp 500.000,” kata Dedi.
(Yoga)
Kelas Menengah Indonesia Sulit Menjadi Orang Kaya
Ada kesenjangan sisa gaji per bulan antara kelas menengah dan
kelas kaya usia produktif (15-64 tahun) pada tahun 2021. Sisa gaji warga kelas
atas Rp 1,59 juta per orang per bulan yang nilainya setara 3,64 kali lebih
besar dari warga kelas menengah. Dengan rata-rata sisa gaji kelas menengah pada
2021 senilai Rp 435.888 per bulan, tidak banyak uang yang bisa ditabung dan
diinvestasikan. Kondisi ini menyulitkan kelas menengah yang jumlahnya 38,5 juta
jiwa (20,7 % penduduk Indonesia) naik kelas menjadi orang kaya. Sebagai
gambaran, untuk membeli 1 gram emas senilai Rp 1,1 juta (Antam per 9 Februari
2024), kelas menengah dan kelas kaya membutuhkan waktu yang berbeda.
Warga kelas menengah perlu dua bulan untuk membeli 1 gram emas.
Adapun warga kaya hanya membutuhkan waktu 21 hari. Tim Jurnalisme Data Harian Kompas
menemukan fakta itu dari olahan data mikro Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas)
dan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS tahun 2012-2021. Sisa gaji
merupakan selisih pendapatan dengan pengeluaran rata-rata per orang per bulan
dari warga usia produktif usia 15-64 tahun. Pendapatan yang dimaksud berasal dari
pekerjaan utama warga.
Kelas menengah yang merujuk pada publikasi Bank Dunia
berjudul ”Aspiring Indonesia-Expanding The Middle Class (2019)”. Bank Dunia membagi
kelas menengah menjadi dua kelompok, yakni calon kelas menengah (aspiring
middle class) dan kelas menengah (middle class). Rentang pengeluaran kelas
menengah adalah 3,5 hingga 17 kali lipat garis kemiskinan per kapita per bulan.
Merujuk garis kemiskinan BPS (2021), rentang pengeluaran kelas menengah Rp 1,7
juta-Rp 8,2 juta per orang per bulan.
Rachmat Fadillah (43), pengojek daring di Tangsel, Banten,
menjadi bagian dari kelas menengah usia produktif. Rachmat harus bekerja dari
pukul 06.00 hingga tengah malam untuk menutupi kebutuhan harian. ”Akun saya lagi
’anyep’, nih, sulit dapat orderan,” kata bapak dua anak ini. Meski sudah
bekerja seharian, Rachmat baru mendapat uang Rp 150.000 setiap harinya. Jika
bekerja enam hari per minggu, ia bisa mendapatkan uang Rp 3,9 juta sebulan. Pendapatan
itu tidak bisa menutupi pengeluaran keluarganya sebesar Rp 6 juta per bulan kebutuhan
hidup sehari-hari dan membiayai kuliah anak pertamanya di Kota Bandung. (Yoga)
Aku Punya Tabungan, maka Aku Aman
Memiliki tabungan adalah sebuah keniscayaan. Namun, bukan
perkara mudah bagi sebagian kelas menengah menabung sisa gaji. Alih-alih
bersisa, pendapatan justru habis untuk menyambung hidup. Arin Setiawan (24),
buruh pabrik di Jayapura, Papua, menceritakan kesulitan itu. ”Sejak kecil, saya
terbiasa hidup hemat. Apalagi sekarang ada target ke depan, jadi harus bisa semakin
menahan diri untuk segala hal yang tidak terlalu penting,” ucapnya, Senin (29/1)
malam. Sederhana yang dimaksud tergambar pada minuman yang dipesannya,
secangkir cokelat seharga Rp 7.000. Ia pun memilih pakaian merek lokal dengan
harga terjangkau. Ia pun mengedit memakai ponsel bekasnya, untuk menunjang
pekerjaan, karena tidak memiliki laptop. Selesai SMA pada 2019, Arin lebih
banyak berkecimpung sebagai pekerja lepas di bidang videografi. Pertengahan 2023,
ia bekerja sebagai buruh pabrik dengan sumber penghasilan tetap dari Senin
hingga Jumat pukul 08.00-17.00. Hari Sabtu, ia masuk kantor setengah hari. Disela
waktu luangnya, dia manfaatkan untuk proyek videografi yang setiap bulan
mendapat satu atau dua garapan dengan pendapatan Rp 2 juta- Rp 5 juta.
Pengeluarannya berkisar Rp 1,7 juta-Rp 2 juta per bulan untuk
bayar indekos, makan, dan kebutuhan sehari-hari. Ia mengirimkan sebagian uang
untuk ibunya yang tinggal di kota lain. ”Saya berusaha menabung 40 %
pendapatan. Jika ada kebutuhan lain, saya menunda sehingga pengeluaran tetap
tidak lebih dari 60 %,” ujarnya. Arin yakin dengan cara tersebut akan
membawanya pada target tabungan rumah dan modal menikah. Stigma hidup boros,
kesulitan menabung, dan terjebak utang agaknya melekat pada kelompok kelas
menengah. Padahal, belum tentu gajinya digunakan untuk hal konsumtif. Merujuk
pada Bank Dunia, kelas menengah adalah mereka yang memiliki pengeluaran pada
rentang 3,5-17 kali lipat garis kemiskinan per kapita per bulan. Hitungan Kompas,
pengeluarannya Rp 1,7 juta-Rp 8,2 juta per kapita per bulan. Hidup di wilayah
Indonesia timur sering terdengar sulit.
Ria Tanlain (27), pengelola penginapan keluarga di Maluku
Tenggara. ”Setelah pindah (Maluku) malah lebih hemat, mungkin karena ini
tempatnya kecil dan tidak banyak apa-apa, jadi bisa menabung. Membeli barang
dari Pulau Jawa juga jarang karena mahal,” kata Ria yang pernah merantau enam
tahun di Surabaya. Untuk berhemat, dia juga jarang membeli makan di restoran,
tetapi memasak di rumah. Ia juga tak banyak bepergian ke luar kota. Ini sejalan
dengan pekerjaan tambahan yang dilakukannya sebagai ilustrator. Dengan
pendapatan Rp 7 juta per bulan, dia menyisihkan 45 % untuk investasi dan
tabungan. ”Menjaga tabungan penting karena bila ikut tren, tabungan setiap
tahun pasti habis,” kata Ria. Memiliki tabungan tak hanya membuat aman, tetapi
juga lebih tenang. (Yoga)
Manis Legit Kue Warisan Nenek
Berbekal resep dari nenek, sejumlah produsen kue tradisional
terus berinovasi agar bisa merebut lidah dan hati warga urban yang akrab dengan
roti dan aneka pastri. Mereka mempertahankan rasa dan memoles citra ke level
premium. Dengan cara itu, gerai kue tradisional eksis di mal, bandara, hingga
istana. Di kompleks ruko Villa Melati Mas, Serpong, Tangsel, Banten, Rabu (21/2)
sejumlah pekerja produsen dan toko kue tradisional Iki Koue Citarasa Nusantara mengirim
pesanan ke pelanggan penting. Kontainer plastik dan kardus berisi aneka kue
tradisional berpenampilan cantik dan menggugah selera dikirim untuk pelantikan
menteri baru di Istana Negara pagi itu.
Setiap hari, dapur Iki Koue menerima pesanan paling lambat
pukul 17.00 untuk diantarkan keesokan harinya, ujar Laura Wiramihardja, salah
satu pendiri sekaligus pemilik Dapur Iki Koue, yang bisa membuat 46 macam kue tradisional,
dari yang manis dan asin. Sampai yang dikukus, digoreng, atau dibuat bolu. Ada
juga aneka bubur tradisional ala jajanan pasar, yang bisa dikemas dalam mangkuk
plastik atau dalam paket besar di beberapa bejana tanah liat. Semua kue dan bubur
dibuat dengan resep dan cita rasa orisinal warisan keluarga. Rentang harganya mulai
Rp 5.000 hingga Rp 15.000 per potong atau sajian. Segmen pasar Iki Koue berkategori
premium sehingga harga menyesuaikan.
Iki Koue juga membuka gerai di salah satu mal eksklusif di
kawasan Senopati, Jakarta. Di sana pengunjung dapat menikmati menu inovatif,
aneka bubur jajanan pasar, yang ditempatkan di dalam wadah eksotik dari tanah
liat tadi. Para tamu dapat memilih sendiri topping tambahan meniru cara penyajian
produk yoghurt merek kekinian. Selain itu, penataan gerai yang cantik memungkinkan
para pembeli jika ingin berfoto dan mengunggahnya di akun media sosial mereka. Pendekatan-pendekatan
itu dilakukan terutama untuk menarik pembeli muda, yang dinilai mulai kurang
akrab dengan jajanan tradisional.
Monami Bakery juga tetap eksis di pasar kue tradisional kelas
premium sejak 1976, ketika gaya hidup ngemal menjangkiti warga Urban, Monami
juga masuk ke mal, dengan 38 gerai yang tersebar di mal, toko, dan bandara. Sandi
Gunawan dan istrinya, Florean Hadinata bilang, kunci keberhasilan usaha mereka
bertahan selama ini adalah selalu berusaha mempertahankan rasa otentik sesuai
warisan nenek dan membuat produk yang inovatif. Salah satunya, menggunakan santan
segar dari kelapa tua utuh. ”Bahkan, untuk membuat kue lumpur, kami masih menggunakan
arang untuk memanaskan bagian atas kue seperti cara nenek dulu. Kami akan terus
mempertahankan agar rasa kue dan kelumerannya sama seperti buatan beliau,” ucap
Florean. (Yoga)
Kenaikan Harga Beras Masih Bisa Berlanjut
Kenaikan harga beras diprediksi berlanjut setidaknya hingga
Maret 2024. Sebab, sejumlah sentra produksi belum memasuki musim panen raya.
Namun, pasokan beras dari Perum Bulog dinilai meredam kenaikan harga beras di
pasar. Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) BI mencatat, harga rata-rata
beras nasional pada Jumat (23/2) mencapai Rp 15.650 per kg, naik 5,4 % dibanding
satu bulan sebelumnya atau naik 14,2 % dibanding Januari 2023. Ketua Koperasi
Pasar Induk Beras Cipinang Zulkifli Rasyid berpendapat, kondisi cuaca yang
tidak pasti mengakibatkan panen tidak jelas. Area panen relatif masih terbatas
sehingga harga beras belum dapat dipastikan kembali ke harga normal.
”Harga beras dipastikan kembali normal jika sudah panen raya.
Untuk itu, tingginya harga beras masih akan berlangsung hingga pertengahan atau
akhir Maret (2024),” katanya, Sabtu (24/2). BPS memperkirakan produksi beras
pada Maret 2024 mencapai 3,51 juta ton. Kendati neraca bulanan mulai surplus, volume
produksi pada Maret tahun ini lebih rendah dari realisasi produksi beras pada Maret
2023 yang mencapai 5,13 juta ton. Surplus beras pada Maret 2024 diperkirakan 970.000
ton atau lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada Maret 2023 yang mencapai
2,59 juta ton (Kompas.id, 19/2/2024).
Menurut Direktur Serealia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan
Kementan Mohammad Ismail Wahab, meski tidak setinggi Maret tahun lalu, panen
pada Maret tahun ini akan berdampak terhadap penurunan harga beras. Pada Maret
2024, produksi gabah kering giling (GKG) diperkirakan 6,1 juta ton atau turun
2,82 juta ton dari produksi Maret 2023 di 8,92 juta ton. Akan tetapi, angka produksi itu lebih tinggi
dari produksi GKG pada Januari dan Februari 2024, masing-masing 1,58 juta ton
dan 2,42 juta ton. Kendati harga masih tinggi, kata Mentan Zulkifli Hasan, stok
beras untuk kebutuhan warga Jakarta masih aman. Ia memastikan pasokan beras
dari Perum Bulog dapat meredam kenaikan harga beras di Ibu Kota. (Yoga)
Golkar Ingatkan Parpol Lain, Posisi Menteri Terbatas
Sejalan dengan keinginan calon presiden Prabowo Subianto
bahwa semua unsur akan dirangkul, Partai Golkar pun terbuka jika ada partai
politik lain yang ingin bergabung dalam koalisi pendukung calon presiden-calon wakil
presiden Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Meski demikian, Partai Golkar
juga mengingatkan agar parpol yang akan ikut bergabung tak memaksakan jumlah
dan posisi menteri tertentu dalam kabinet Prabowo-Gibran. Hal itu, disampaikan
Wakil Ketua Umum Partai Golkar Firman Soebagyo saat dihubungi dari Jakarta,
Sabtu (24/2).
Menurut dia, dengan semakin banyak unsur yang bergabung dalam
koalisi pendukung Prabowo-Gibran, Koalisi Indonesia Maju (KIM), artinya semua
pihak harus menyadari ada keterbatasan posisi di kabinet nanti. Sejak
didaftarkan sebagai kandidat Pilpres 2024, Prabowo-Gibran didukung sembilan
parpol di KIM, yakni Partai Gerindra, Demokrat, Partai Golkar, PAN, PSI, PBB,
Partai Gelora, Partai Garuda, dan Partai Prima. Namun, beberapa hari setelah
pemungutan suara Pemilu 2024 usai, Presiden Jokowi yang juga ayah Gibran memanggil
Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh untuk menemuinya di Istana Merdeka,
Jakarta. Dalam kontestasi pilpres, Nasdem merupakan partai pendukung
capres-cawapres Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar.
Sehari setelah pertemuan itu, Presiden mengungkap pertemuannya
dengan Paloh sebagai pertemuan politik. Presiden pun tak menampik saat ditanya apakah
ia menjembatani hubungan Partai Nasdem dengan Prabowo (Kompas.id, 19/2). Ketua
Dewan Pakar PAN Dradjad Wibowo mengakui, untuk memperkuat koalisi parpol
pendukung pemerintah ke depan, ada upaya melobi dari pihak Prabowo-Gibran ke
parpol pengusung Anies-Muhaimin ataupun Ganjar Pranowo-Mahfud MD agar masuk
dalam barisan koalisi (Kompas, 23/2). Firman menekankan, pembagian ”kue”
kekuasaan tidak selalu di kementerian. Mereka bisa berpartisipasi melalui
legislatif, dunia usaha, atau bahkan di sektor yudikatif. (Yoga)
Eskalator Stasiun Manggarai dan Kisah ”Boncos” Pengguna Angkutan Umum
Eskalator yang mati di Stasiun Manggarai, Jaksel, sore itu
tiba-tiba bergerak sendiri, membuat calon penumpang yang menaiki tangga
berjalan itu terkejut. Apalagi eskalator itu bergerak turun, berlawanan arah
dengan langkah mereka. Dalam video di kanal Youtube Kompas TV dan media sosial
lain, terekam kepanikan orang-orang, mereka berteriak, dan ada yang terjatuh. Siaran
pers resmi dari PT KAI Commuter Indonesia (KCI) pada Kamis (22/2) menyatakan,
insiden itu terjadi pada Rabu (21/2) pukul 18.06 di eskalator menuju peron 11 dan
12. Tidak ada korban jiwa dan luka. Petugas di stasiun sigap menolong mereka
yang jatuh. Kejadian itu menambah panjang daftar berbagai gangguan fasilitas di
stasiun kereta komuter di Jabodetabek.
Dengan berbagai kekurangannya, kualitas layanan angkutan umum
kereta komuter Jabodetabek dan jaringan bus Transjakarta diakui membaik berkali
lipat dibandingkan 10-20 tahun lalu. Bangunan stasiun dan halte saat ini sudah
sangat bagus. Armada bus atau rangkaian kereta dalam kondisi di atas lumayan. Pembangunan
angkutan umum terbukti sukses menarik pekerja kerah biru yang masuk kelas
ekonomi menengah menjadi pengguna setia. Para pekerja ini mendominasi jumlah
penduduk Jabodetabek yang menembus 30 juta jiwa. Mereka datang dari banyak
daerah untuk mengejar rezeki di aglomerasi urban terbesar di Indonesia
sekaligus pusat ekonomi.
Bepergian dengan KRL dan bus Transjakarta yang memiliki jalur
khusus dipastikan memangkas waktu perjalanan. Walaupun berdiri sepanjang waktu
dan berdesakan, sebagian pengguna menyebutkan bahwa naik angkutan umum tak
selelah mengendarai sepeda motor berjam-jam di tengah kepadatan lalu lintas dan
terpaan asap kendaraan bermotor, juga kebisingan. Daya tarik lain beralih naik angkutan
umum adalah biaya bisa ditekan dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi,
khususnya mobil. Meskipun demikian, menggunakan angkutan umum tidak sehemat dan
seefektif yang dibayangkan, karena cakupan layanan dan integrasi antarmoda
belum maksimal. Akibatnya, pengguna tetap harus memakai kendaraan pribadi atau
angkutan daring untuk mengakses angkutan umum terdekat.
Hasil survei Dewan Transportasi Kota Jakarta pada 2021,
sebanyak 62,6 % pengguna transportasi umum di Jakarta harus merogoh kocek Rp
500.000 per bulan. Kemudian 25,7 % mengeluarkan Rp 500.000-Rp 1 juta per bulan.
Sebanyak 7,2 % lainnya mengeluarkan Rp 1 juta-Rp 2 juta per bulan dan 4,9 %
merogoh Rp 2 juta. Biaya untuk transportasi umum itu di luar biaya transportasi
pribadi, termasuk kendaraan pribadi, ojek daring atau ojek pangkalan, dan
taksi. Jika setiap pengguna angkutan umum juga memakai kendaraan pribadi, total
pengeluaran pada 80 % responden berkisar Rp 1 juta-Rp 2 juta per bulan. Dengan
kenaikan harga BBM dan tarif dasar ojek daring dan taksi daring, pada 2024 ini
total biaya transportasi di Jakarta pun dipastikan naik. Angka itu terbilang
besar mengingat UMP DKI Jakarta dan kota sekitarnya pada 2024 rata-rata Rp 5
juta per bulan. Rasanya makin boncos alias terus rugi dan tak terlihat segera
ada solusi yang diidamkan. (Yoga)
Belanja Menengah-Atas Turun, Ritel Modern Berinovasi
Masyarakat ekonomi menengah atas masih menjadi penopang utama
konsumsi produk ritel meskipun kontribusinya melambat di tengah ketidakpastian
ekonomi. Untuk menggairahkan daya beli mereka, ritel modern pun berinovasi. Ekonom
senior Indef, Aviliani, menjelaskan, 80 % pertumbuhan konsumsi di dalam negeri
mayoritas dikontribusi 40 % total penduduk Indonesia berkategori ekonomi
menengah dan 20 % masyarakat ekonomi teratas. Kontribusi setiap kategori pada
konsumsi adalah 35 % dan 45 %. ”Sektor ritel sekarang sudah tumbuh hampir sama
sebelum masa pandemi Covid-19 karena sejak pandemi dinyatakan selesai, demand
(permintaan) kembali, terlihat dari pertumbuhan konsumsi sudah 55 % dari PDB,
investasi sudah 30 % ,” ujarnya dalam bincang santai bertajuk ”Geliat Ekonomi
dan Ritel Pascapemilu di Indonesia” di Jakarta, Jumat (23/2).
Namun, kemampuan belanja masyarakat kalangan menengah dan
teratas terus menurun pada 2023. Data BPS menunjukkan, sepanjang 2023, pertumbuhan
konsumsi hanya 4,82 %, lebih rendah dari 2022 sebesar 4,94 % yang menjadi titik
balik pemulihan ekonomi pascapandemi.Laju konsumsi itu juga jauh di bawah
pertumbuhan ekonomi nasional yang menyentuh 5,04 %. Direktur SOGO Indonesia
Handaka Santosa, mengungkapkan, masyarakat ekonomi menengah dan atas yang menyukai
produk impor terbebani biaya belanja tinggi karena adanya pajak impor. Pajak yang
dimaksud seperti bea masuk. Pada kategori pakaian jadi, tarif pajak berkisar 20
% hingga maksimal 94 % dari harga per unit produk. Pajak pengamanan produk impor
itu berlaku sejak akhir 2021.
Guna menarik minat masyarakat mampu berbelanja produk-produk
di dalam negeri, sejumlah peritel berinovasi pada tahun ini. Salah satunya dengan
menambah koleksi produk bermerek di outlet-outlet mereka di kota-kota
Indonesia. Contohnya, di penghujung Februari 2024, SOGO membawakan koleksi
produk merek ternama, seperti Ted Baker, Max & CO, Christy, Roncato, Kent
& Crew, United Colors of Benetton, Airceloom, Von Dutch, danToms &
Asana. Produk premium karya lokal juga diperbanyak dan dijajarkan dengan merek
internasional untuk memberi lebih banyak pilihan kepada setiap pengunjung. Inovasi
lain adalah dengan mencampurkan kategori produk dalam satu lantai. Sebagai
contoh, gerai produk kecantikan bersanding dengan gerai kopi. Lalu, di lantai
dua, yang didominasi produk pakaian wanita, diisi juga dengan kedai minuman
pada salah satu sudutnya. (Yoga)
PR Mengatasi Pengangguran
Masih tingginya tingkat pengangguran terbuka nasional menunjukkan
beratnya pekerjaan rumah dan tantangan kita dalam mengatasi problem
pengangguran. Menurut BPS, jumlah angkatan kerja nasional kita per Agustus 2023
sebanyak 147,71 juta orang, meningkat 3,99 juta dibandingkan Agustus 2022
(Kompas, 23/2). Sementara angka tingkat pengangguran terbuka 5,32 %, turun 0,54
% dibandingkan Agustus 2022. Meski tingkat pengangguran terbuka dua tahun
terakhir terus menurun, angkanya masih sangat besar, yakni 7,8 juta orang. Tingkat
pengangguran terbuka (TPT) 5,32 % saat ini juga masih jauh di atas target Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024, yakni 3,6-4,3 %. Pemerintah
menargetkan TPT turun menjadi 4,74 % per Agustus 2024 dan 4,26 % per Agustus
2025.
Tingginya TPT menunjukkan penciptaan lapangan kerja tak bisa
mengimbangi laju pertumbuhan angkatan kerja (AK). Sulitnya menekan pengangguran
juga terkait problem pemerataan kesempatan dan peningkatan kualitas pendidikan.
Percepatan penurunan tingkat pengangguran hanya bisa dicapai melalui akselerasi
pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Dalam hal ini, selain meningkatkan kualitas AK
(melalui pendidikan dan pelatihan), mendorong sektor-sektor ekonomi dengan efek
pengganda besar juga penting untuk perluasan lapangan kerja, khususnya di
sektor formal. Penciptaan lapangan kerja merupakan isu krusial karena penduduk
usia kerja menyumbang 69,3 % populasi. Ini kekuatan penting bonus demografi
untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Ironisnya, AK kita didominasi pekerja tak
terampil, dengan pendidikan SD ke bawah 39,76 %, SMP 18,24 %, SMA 19,18 %.
Kondisi ini menyebabkan mereka tak siap masuk pasar kerja
dengan upah layak sehingga sebagian besar terserap di sektor informal (59,11 %).
Tantangan yang kita hadapi dalam penciptaan lapangan kerja antara lain terus menurunnya
kemampuan perekonomian dalam menciptakan lapangan kerja baru karena investasi yang
ada lebih banyak padat modal. Problem lain, ada mismatch antara lulusan dan kebutuhan
industri. Upaya menjembatani melalui sekolah kejuruan dan vokasi guna mencetak lulusan
siap kerja justru ikut menyumbang angka pengangguran karena kompetensi lulusan
belum sesuai harapan. Bagaimana kita mampu membaca dan beradaptasi dengan kebutuhan
dan tuntutan baru ini akan menjadi kunci dalam menjawab pekerjaan rumah
mengatasi pengangguran. (Yoga)
Alasan Pemerintah ”Kebelet” Gabung Klub Negara-negara Maju
Pemerintah lewat Kemenko Bidang Perekonomian mengklaim bahwa
Indonesia tinggal selangkah lagi bergabung menjadi anggota Organisasi untuk
Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi atau OECD. Klaim ini muncul berlandaskan
fakta bahwa pada Rabu (21/2) Dewan OECD telah memutuskan untuk membuka diskusi
aksesi dengan Indonesia. Pemerintah tampak begitu ”kebelet” untuk menjadi anggota
klub negara-negara maju dunia ini. Pada Juli 2023, arahan untuk menjadi anggota
OECD datang dari Presiden Jokowi. Pada Agustus, Presiden bertemu Sekjen OECD
Mathias Cormann di Jakarta. Lalu, pada September 2023, dilakukan pertemuan
Dewan OECD, sebagai badan pengambil keputusan tertinggi di organisasi, untuk
membahas rencana Indonesia.
Intensi untuk bergabung dengan keanggotaan OECD juga tertuang
dalam surat Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto kepada Sekjen ECD
Mathias Cormann sebagai tindak lanjut arahan Presiden Jokowi. Dewan OECD telah membuka
diskusi aksesi dengan Indonesia, mengikuti penilaian oleh anggota OECD
berdasarkan Evidence-based Framework for the Consideration of Prospective
Members. Keputusan ini menjadi kelanjutan dari peningkatan keterlibatan dan kerja
sama Indonesia sebagai salah satu negara mitra utama OECD sejak 2007.
Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies
(CSIS) Yose Rizal Damuri mengatakan, Dewan OECD akan mengeluarkan Peta Jalan
Aksesi berisi hal-hal yang harus diperbaiki Indonesia agar sesuai dengan
standar OECD. Indonesia baru resmi diterima menjadi anggota OECD hanya saat
Peta Jalan Aksesi ini benar-benar telah terimplementasi. ”Diperlukan reformasi
besar untuk menyelaraskan UU, kebijakan, dan praktik yang sesuai dengan standar
OECD, termasuk sistem perdagangan, finansial, pajak, ketenagakerjaan, peradilan,
hingga tata kelola BUMN,” ujarnya saat dihubungi, Jumat (23/2). Dimana Kolombia,
butuh waktu 7 tahun untuk menjadi anggota OECD. Jika disetujui menjadi anggota
OECD, Indonesia akan menjadi negara Asia Tenggara pertama dan negara Asia ketiga
yang bergabung dengan organisasi yang sering disebut sebagai ”klub negara maju”
itu. (Yoga)









