;

2023, Perbankan Kantongi Laba Rp 243 Triliun

Yuniati Turjandini 26 Feb 2024 Investor Daily (H)
Industri perbankan  sepanjang 2023 telah membukukan laba bersih mencapai Rp243,33 triliun. Capaian tersebut meningkat 21,57% dibandingkan dengan laba periode 2022 senilai Rp 201,82 triliun. Setelah beberapa bulan pertumbuhan laba perbankan mengalami perlambatan, per Desember 2023 laba kembali tumbuh tinggi 20,57% secara year on year (yoy). Dimana, per November  2023 laba tumbuh 18,15% (yoy) dan Oktober tumbuh 18,45% (yoy). Terlihat di akhir tahun perbankan mulai ngegas menumbuhkan cuan. Berdasarkan data Statistik Perbangkan Indonesia (SPI) yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), laba bersih perbankan pada 2023 didukung oleh pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar Rp 529,66 triliun, tumbuh 8,57% (yoy). Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) perbankan juga meningkat di akhir tahun menjadi 4,81% dibandingkan 2022 di level 4,71%. (Yetede)

IHSG Cenderung Menguat, Pemodal Cermati Data Global

Yuniati Turjandini 26 Feb 2024 Investor Daily (H)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat (mixed to higher) pada pekan terakhir Februari 2024. Pergerakan indeks  akan cenderung dipengaruhi sentimen dari pasar global, dimana beberapa data ekonomi AS dan Eropa bakal dirilis pekan ini. "IHSG masih relatively mixed to higher dengan kisaran pergerakan disupport 7.267-7.235 dan resistance 7.307-7.371," kata Senior Investment Information-Retail Business Mirea Asset Sekuritas Muhammad Mafan Aji Gusta Utama kepada Investor Daily, Minggu (25/2/2024). Sepanjang pekan lalu, IHSG naik 0,55% ke posisi 7.295. Nafan mengatakan, IHSG secara teknikal masih bertahan di atas MA20 dan minor uptrend, sehingga IHSG masih menyimpan potensi penguatan. (Yetede)

Muhammad Redho, Komitmen Perajin Sasirangan

Yoga 26 Feb 2024 Kompas (H)

Muhammad Redho (62) konsisten mengembangkan wastra sasirangan dengan pewarna alami. Tumbuhan untuk bahan pewarna alami kain khas suku Banjar itu juga ia budidayakan. Satu demi satu perajin sasirangan mengikuti jejaknya. Aneka tanaman menghijaukan Kampung Biru di tepian Sungai Martapura, Kota Banjarmasin, Kalsel, Kamis (22/2). Redho menghijaukan lingkungan sekitar Pojok Kreatif Wisata Kampung Biru di Kelurahan Melayu, sejak dipercaya sebagai Sekretaris Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Biru pada 2018. Di Kampung Biru semua rumah bercat biru. ”Semua tanaman yang ada di sini adalah bahan pewarna alami kain sasirangan,” katanya. Sasirangan berasal dari kata menyirang yang berarti ’menjelujur’ atau menjahit jarang-jarang.

Prosesnya dimulai dari pembuatan motif pada kain, dijelujur, diikat dengan tali, dan dicelupkan ke pewarna. Setelah itu, ikatan dan jahitan dilepas, dicuci, lalu dikeringkan.”Di Kampung Biru, pengunjung bisa belajar membuat kain sasirangan pewarna alami dan belajar berkebun tanaman yang menghasilkan pewarna alami,” kata Redho. Sejak 2009, ia konsisten memproduksi dan menjual kain sasirangan berpewarna alami dengan jenama Assalam Sasirangan. Berbekal ilmu dari pelatihan batik di Pulau Jawa oleh mentor dari Yogyakarta, ia berupaya mengembangkan sasirangan berpewarna alami yang saat itu pangsa pasarnya kurang menjanjikan. Waktu itu harga kain sasirangan berpewarna alami minimal Rp 150.000 per potong, sedangkan sasirangan berpewarna sintetis seharga Rp 100.000 per potong.

Dengan harga lebih murah dan warna lebih cerah, permintaan pasar lokal untuk kain sasirangan berpewarna sintetis lebih besar. Bekerja sama dengan Museum Lambung Mangkurat, Redho mendapat kesempatan mengikuti pameran dan peragaan busana sasirangan berpewarna alami di Museum Serawak, Kuching, Sarawak, Malaysia, pada 2011. Setelah itu, ia langsung memproduksi sasirangan berpewarna alami dalam jumlah banyak untuk seragam para guru SMA Negeri 2 Banjarmasin. Lambatlaun, pesanan hampir tak pernah putus. ”Saya pernah dapat order 300 lembar sasirangan warna alam dan mengerjakannya dalam waktu tiga bulan.” Redho rutin menjadi narasumber pelatihan sasirangan berpewarna alami di lingkungan Dinas P&K Kalsel dan Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin. Ia juga beberapa kali diminta menjadi instruktur pelatihan sasirangan berpewarna alam di sejumlah kabupaten atau kota. (Yoga) 

Menjaga Jejak Kejayaan Pertanian dan Kelautan di Pulau Obi

Yoga 26 Feb 2024 Kompas

Hilirisasi nikel mengubah lanskap kehidupan warga Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Daerah yang semula bergantung pada perkebunan kelapa, rempah-rempah, dan hasil laut kini berkembang menjadi sentra hilirisasi nikel. Namun, pertanian dan kelautan tetaplah sektor menjanjikan bagi masa depan warga Pulau Obi yang harus dipertahankan. Jejak-jejak kejayaan komoditas kelapa di pulau itu nyata terlihat di Desa Buton, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara. Di sepanjang jalan, barisan pohon kelapa mendominasi. Umumnya, pohon-pohonnya sudah tua, tak terawat, daunnya banyak yang kering, dan buahnya dibiarkan jatuh berserakan. Dulunya, kelapa menjadi tumpuan kehidupan warga Desa Buton. Daging kelapa dikeringkan menjadi kopra dikirim ke Makassar, Sulsel, sebelum diekspor ke berbagai negara tujuan.

Sayang, harga kopra jatuh dalam dua tahun terakhir dari Rp 7.000 per kg menjadi Rp 5.000-Rp 6.500 per kg. Situasi ini, menurut Ketua BUMDes Batu Putih, Mahfud Lohor (42), membuat banyak warga tidak lagi bergantung pada kopra. Anjloknya harga kopra dari Rp 7.000 per kilogram (kg) menjadi Rp 5.000-Rp 6.500 per Pada 2022, keadaan mulai berubah saat ia dan beberapa petani lain diajak Harita Nickel mengembangkan komoditas pertanian, seperti semangka dan padi lewat program Sentra Ketahanan Pangan Obi (Sentani). Kelapa yang berserakan di bawah pohon dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk organik, khususnya untuk semangka. Mahfud tidak menyangka, air kelapa yang selama ini untuk melepas dahaga bisa pula menyuburkan tanaman.

Mahfud dan petani lain membuka lahan semangka seluas 3 hektar. Dalam meracik pupuk organik, para petani menggunakan air kelapa sebagai bahan dasar, dicampur krimer kental manis, air tempe, dan gula pasir. Hasilnya, semangka terasa manis. Dari lahan 3 hektar, para petani di BUMDes Batu Putih bisa menghasilkan satu ton semangka. Hasilnya dijual ke Harita Nickel untuk dikonsumsi para karyawan. Selain semangka, Program Sentani Harita Nickel juga membina warga menanam padi, yang menghasilkan gabah kering panen (KGP) hingga 4,5 ton per hektar setiap musim panen dari 10 hektar sawah. Peningkatan produktivitas ini juga membuat jumlah petani di BUMDes Batu Putih bertambah, dari 10 petani menjadi 30 petani. Beras hasil panen nantinya juga dijual ke perusahaan sebagai konsumsi karyawan.

Di Desa Kawasi, yang berbatasan dengan kawasan pertambangan Harita Nickel, kelompok perempuan juga dibantu mengembangkan usaha keripik pisang dan umbi-umbian. Mereka juga memproduksi abon ikan tuna, minyak kelapa, dan sambal roa dalam kemasan. ”Produk yang paling dicari adalah keripik pisang. Kami awalnya tidak mengira kalau keripik pisang dikemas dan dipasarkan seperti ini,” ujar Suryani, yang akrab dipanggil Mama Cahya, penggerak kelompok perempuan di Kawasi. Anggota kelompoknya pun berkembang dari Sembilan orangmenjadi 19 orang. Usaha kelompok keripik ini beromzet hingga Rp 24 juta per bulan sehingga sangat membantu menambah penghasilan anggotanya, yang sebagian besar keluarga nelayan. Selain nikel, sektor pertanian dan perikanan yang menghidupi warga dapat kembali menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan ekonomi Maluku Utara. (Yoga) 

BERAS, Kendati Harga Naik, Warga Tak Perlu Panik

Yoga 26 Feb 2024 Kompas

Warga diimbau tenang dan tidak panik di tengah kenaikan harga beras, pemerintah menjamin persediaan beras telah dipersiapkan dengan baik sejak jauh-jauh hari. Warga juga diminta tidak khawatir kekurangan pasokan. Panel Harga Pangan Bapanas, Minggu (25/2) mencatat, rata-rata harga beras premium di DKI Jakarta Rp 16.770 per kg. Beras medium rata-rata Rp 14.870 per kg. Harga rata-rata beras premium secara nasional Rp 16.300 per kg dengan harga tertinggi di Papua Pegunungan, Rp 24.000 per kg. Adapun harga rata-rata nasional beras medium Rp 14.250 per kg dengan harga tertinggi di Papua Pegunungan Rp 22.000 per kg. Tingginya harga beras membuat Ratna Fitriyah (38) warga Jaksel, rela berjalan lebih jauh untuk mendapatkan harga beras lebih murah.

Sabtu (24/2), ia membeli beras medium program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) seharga Rp 53.000 per kemasan 5 kg di kantor Kecamatan Pasar Minggu (25/2) Jaksel. ”Kalau ada promo atau subsidi beras, saya ke sana. Meski persediaan beras masih ada, harus beli biar dapat harga yang lebih murah,” katanya. Ia berharap program subsidi beras terus diadakan mengingat bulan Ramadhan segera tiba. Triana (33), warga Jaktim, mengaku sempat panik akibat hilangnya beras premium di ritel-ritel modern be- berapa hari lalu. ”Di loka pasar, harga beras premium Rp 88.000 per 5 kg. Saya beli 10 kg karena takut kehabisan,” ujarnya. Anita (35), warga Jakpus, tak mampu lagi membeli sekarung beras seberat 25 kg.

Ia kini membeli beras satu liter per hari untuk menyiasati tingginya harga bahan pokok itu. ”Dari bulan Januari, saya jadi ngirit dan ngurangin porsi beras. Kami keberatan, semua harga serba naik, tidak hanya beras,” katanya. Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi mengimbau masyarakat tidak terpengaruh kecenderungan panic buying, terutama dalam pembelian beras. Per 19 Februari 2024, total stok beras secara nasional yang dikelola oleh Bulog, 1,4 juta ton. Penyerapan beras yang bersumber dari petani dalam negeri tahun ini realisasinya menyentuh 107.000 ton. Pada Maret 2024, Arief memproyeksikan akan terjadi panen 3,5 juta ton beras. Proyeksi ini diharapkan menambah pasokan yang cukup signifikan dan membantu menekan harga beras di pasaran. Meski demikian, penurunan harga beras akan bertahap. (Yoga) 

Pasar Kuliner Desa di Lombok

Yoga 26 Feb 2024 Kompas
Warga memadati Pasar Kuliner Maiq Meres yang digelar setiap akhir pekan mulai pukul 06.00 sampai 08.00 Wita di Dusun Kuang Jukut, Desa Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Minggu (25/2/2024) pagi. Selain memperkenalkan berbagai makanan tradisional Lombok yang dijual selama pasar berlangsung, kegiatan yang diinisiasi pemerintah desa Pringgarata tersebut turut menggerakkan perekonomian warga setempat.  (Yoga)

Waktunya Singkong Meredam Hegemoni Beras

Yoga 26 Feb 2024 Kompas

Setiap harga beras naik, kelimpungan melanda warga seantero negeri, jika tak cepat ditangani, dapat mengganggu perekonomian nasional. Selama beras masih memegang hegemoni mutlak dalam asupan karbohidrat masyarakat, selama itu pula komoditas tersebut akan rentan memunculkan prahara. Pada 2023, produksi beras 30,89 juta ton, menurun dari produksi pada 2022 di 31,54 juta ton. Adapun kebutuhan rata-rata bulanan beras 2,6 juta ton (Kompas, 14/2). Ketika suplai sulit mengejar permintaan, solusi yang bisa ditempuh adalah memangkas permintaan. Salah satu caranya adalah melalui diversifikasi sumber karbohidrat masyarakat sehingga mengurangi ketergantungan pada beras. Dekan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM Eni Harmayani mengatakan, kenaikan harga beras saat ini perlu digunakan sebagai momentum untuk mengembangkan diversifikasi pangan lokal sumber karbohidrat. Apalagi, Indonesia memiliki banyak alternatif pengganti beras sebagai bahan pangan sumber karbohidrat, di antaranya singkong, jagung, ubi jalar, sorgum, talas, kentang, ketan, sukun, dan pisang.

”Semua itu relatif mudah tumbuh dan dibudidayakan di negara kita,” ujar Eni, Jumat (23/2). Akan tetapi, masalah terbesarnya, masyarakat sudah terbiasa mengonsumsi nasi tiga kali sehari. Ungkapan ”belum makan kalau belum kena nasi” masih menjadi moto hidup banyak orang. Padahal, diversifikasi sumber karbohidrat juga penting bagi tubuh manusia. Menggantungkan asupan karbohidrat pada satu sumber saja dalam jangka panjang dapat menimbulkan risiko penyakit degeneratif, seperti diabetes. Perhitungan sederhananya, jika setiap orang mengganti satu porsi makan nasinya per hari dengan sumber karbohidrat lain, kebutuhan beras nasional dapat dipangkas sepertiga atau 33 %. Surplus beras itu dapat diekspor, yang akan menguntungkan petani sekaligus menambah devisa negara.

Adapun masyarakat DIY (Yogayakarta) sudah sejak lama mengenal pangan-pangan pokok selain beras, terutama yang berbahan singkong. Selain langsung digoreng, direbus, atau dikukus, singkong di DIY juga bisa diolah lebih lanjut menjadi makanan pokok berupa tiwul, gogik, sawut, atau growol. Bahkan, umbi-umbian itu dapat pula dibuat menjadi mi yang disebut mi lethek. Kota Yogyakarta pun memiliki pasar khusus yang menjajakan singkong dan ubi jalar, yakni Pasar Telo Karangkajen di Kelurahan Brontokusuman, Kecamatan Mergangsan. Telo, yang merupakan simpul distribusi kedua komoditas palawija tersebut ke sejumlah pasar lain di Kota Yogyakarta, Bantul, dan Sleman. Menurut Sudras (42), pedagang di Pasar Telo Karangkajen, saat ini dia bisa menjual 1,5 ton singkong per hari, naik dari biasanya 1 ton per hari. Jumlah itu meningkat sejak Desember saat harga beras mulai bergejolak. (Yoga) 

Romansa dan Cerita Rupiah di Batas Negara

Yoga 26 Feb 2024 Kompas

Rombongan Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2024 tiba di terminal penumpang Pelabuhan Kelas III Sungai Nyamuk, Pulau Sebatik, Nunukan, Kaltara, Sabtu (24/2) setelah menempuh 10 jam perjalanan dari Dermaga Pangkalan Utama TNI AL XIII Tarakan. Rombongan ERB 2024 terdiri dari pegawai BI, prajurit TNI AL, dan anggota Baznas. Misinya, memberi layanan penukaran uang rupiah dan layanan kesehatan, juga menyalurkan bantuan program sosial kepada masyarakat yang tinggal di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Harian Kompas dan beberapa media lain bergabung dalam rombongan ini. Warung Muliyati (48) hanya berjarak 10 langkah dari Patok Perbatasan Indonesia-Malaysia (PB-02) Sebatik. Meski Muliyati mengantongi identitas warga negara Indonesia, warungnya terletak di luar patok perbatasan atau berdiri di wilayah negeri jiran. Warung yang diba ngun Muliyati pada Juni 2023 itu kerap disambangi pelancong yang tergugah untuk melihat batas negara sekaligus mengunjungi Wisata Rumah Dua Negara.

”Di sini, orang bisa membayar pakai dua mata uang, ringgit dan rupiah, ada juga yang pakai QRIS. Tapi, paling banyak pembayaran pakai rupiah,” katanya. Peredaran kedua mata uang itu menjadi fenomena yang wajar mengingat kehidupan masyarakat di wilayah perbatasan hanya dibatasi garis imajiner yang memisahkan teritori dua negara. Beberapa meter dari patok perbatasan, sejumlah prajurit TNI selalu mencatat lalu lalang warga lintas negara. Barang dagangan di warung Muliyati yang banyak diminati pembeli adalah ragam produk minuman saset buatan Malaysia. Kehidupan di perbatasan tidak hanya berkait urusan ekonomi bagi Muliyati, tetapi juga menyangkut urusan keluarga. Muliyati menikah dengan warga negara Malaysia dan dikaruniai enam anak. ”Saya orang Indonesia, tetapi menikah dengan orang Malaysia. Anak saya Malaysia semua. Tapi, saya tetap cinta Indonesia,” imbuhnya.

Sugianto (66) pemilik kebun sawit di Desa Aji Kuning, Kabupaten Nunukan, menceritakan, tak sedikit orang Malaysia yang tinggal di perbatasan membeli hasil kebun sawitnya. Kendati demikian, Sugianto yang kerap singgah di warung Muliyati untuk sekadar menikmati secangkir kopi masih menyimpan uang rupiah dalam jumlah lebih banyak ketimbang ringgit. Ringgit yang ia terima akan ditukarkan dengan rupiah di bank atau digunakan untuk membeli kebutuhan pokok di kota Tawau, Sabah, Malaysia, yang terpisah perairan laut dengan Pulau Sebatik, karena lebih dekat dan harga barang-barang kebutuhan pokok di Tawau pun lebih murah ketimbang di kota terdekat di wilayah Indonesia. Harga 10 kg beras, 27 ringgit 60 sen atau Rp 90.000. Sementara beras domestik Rp 130.000 per 10 kg. Harga minyak goreng di Malaysia Rp 16.000 per liter. Sementara minyak goreng dalam negeri Rp 20.000 per liter. (Yoga) 

Dapur Umum Jadi Andalan Mahasiswa AS

Yoga 26 Feb 2024 Kompas

Susah sekali menjadi mahasiswa di AS. Tidak hanya terlilit utang pinjaman kuliah, sekarang banyak mahasiswa yang kesulitan membeli makanan. Saking tidak punya uang untuk memasak sendiri atau makan di kantin, mereka mengandalkan dapur umum gratis. Karenanya, Universitas West Virginia menambah dapur umum mereka. Dilaporkan oleh surat kabar lokal, Dominion Post, Jumat (23/2) di perguruan tinggi itu kini ada dapur umum di tiga lokasi. Sejak tahun 2010, masalah kesulitan membeli makanan di kalangan mahasiswa telah menjadi perhatian.

”Dulu, mahasiswa selalu bercanda, makanan pokoknya mi instan. Sekarang, untuk membeli mi saja tidak bisa,” kata Sydni Vega, Asisten Pengawas Keterlibatan dan Kepemimpinan Mahasiswa Universitas West Virginia. Ia bertanggung jawab atas operasionalisasi dapur umum di sana. Selama periode 2022-2023, ada 1.000 mahasiswa yang bergantung pada dapur umum ini. Menurut angket Universitas West Virginia, uang kuliah yang terus naik, disertai meningkatnya harga sewa kamar indekos ataupun asrama mengakibatkan uang mahasiswa terkuras. Selain itu, mereka juga masih harus membeli peralatan kuliah, seperti alat tulis, komputer, dan penunjang lain. Makanan bergizi semakin tergeser dari daftar prioritas.

”Kesulitan membeli makanan membuat mahasiswa sakit, tidak produktif, depresi, serta berdampak buruk pada kehidupan akademis dan sosial mereka,” demikian tulis laporan angket tersebut. Media CBS edisi Rabu (21/2) menerbitkan laporan hasil penelitian Universitas Temple bersama Universitas California Davis, menemukan, di AS, satu dari tiga mahasiswa kelaparan. Mulai dari kampus besar dan elite sampai kampus kecil, semua mengalami kasus kesulitan membeli makanan. Setiap hari mahasiswa yang tidak memiliki uang ini mengantre di dapur umum untuk makan.

Dapur umum mengandalkan sumbangan dari masyarakat lokal. Sejumlah kampus dan asrama mengembangkan lahan pertanian sendiri, termasuk pertanian hidroponik. Hasil panennya disumbangkan ke dapur umum. Kegiatan memasak dan pelayanannya dikelola unit kerja mahasiswa. ”Setiap hari saya mengantre 90 menit supaya dapat kursi di dapur umum,” kata Erin Cashin, mahasiswa tingkat akhir di UC Davis. Ia bahkan mengatur jadwal kuliahnya sedemikian rupa agar bisa memastikan memperoleh makanan di dapur umum. (Yoga) 

Gaji ”Ngepas”, Anak Muda Jungkir Balik Mengelola Keuangan

Yoga 26 Feb 2024 Kompas

Sebagian besar kelas menengah usia 17-40 tahun jumpalitan mengatur pengeluaran. Salah satu caranya dengan menambah pekerjaan lantaran sisa gajinya kurang dari nol alias minus untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari 102,48 juta penduduk usia 17-40 tahun, sebanyak 48,49 juta orang atau 47,32 % tergolong dalam masyarakat calon kelas menengah. Yang tergolong kelas menengah sebesar 21,01 juta orang (20,51 %) sedangkan yang kaya hanya 463.469 orang (0,45 %). Rentang usia 17-40 tahun oleh KPU dikategorikan sebagai pemilih muda. Pemilih muda yang masuk kelompok calon kelas menengah, ternyata pengeluarannya lebih besar dari pendapatannya.

Mereka tak punya sisa gaji bahkan minus Rp 181.724 per kapita per bulan. Sementara pemilih muda yang masuk kategori kelas menengah juga pendapatannya minus Rp 65.529 per kapita per bulan. Angka-angka tersebut adalah hasil pengolahan data mikro pengeluaran dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2021 serta pendapatan dalam Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2021. Berdasarkan data pengeluaran dan pendapatan itu, Bank Dunia mengelompokkan menjadi calon kelas menengah (pengeluaran 1,5-3,5 kali lipat garis kemiskinan per kapita per bulan) dan kelas menengah (3,5-17 kali lipat).

Ani (27), warga Kaltim, harus bekerja keras mencari tambahan untuk mengumpulkan pundi-pundi uang di rekeningnya untuk kebutuhan hidup. Saat ini, ia bekerja sebagai pekerja lepas di bidang fotografi, copy writer, dan kreator konten. Dalam sebulan, pengeluarannya Rp 6 juta untuk menghidupi dua anggota keluarga di rumah, dimana, 40 % atau Rp 2,4 juta digunakan untuk biaya makan harian. Sementara biaya operasional listrik, air, dan internet Rp 800.000. Dia juga bertekad mengumpulkan tabungan dana pendidikan untuk anaknya menggunakan instrument investasi reksadana dengan besaran Rp 500.000-Rp 1 juta per bulan. Nominalnya tak menentu bergantung jumlah proyek yang diterimanya bulan itu. Jika butuh uang mendadak, dia biasanya pinjam uang ke teman dekat atau kantor dan menghindari meminjam dari pinjaman daring.

Dedi Setiawan (30) warga Konawe Selatan, Sultra, setahun ini bekerja sebagai pengontrol kualitas pengelasan di galangan kapal. Setelah mendapat promosi jabatan, gaji Dedi naik Rp 300.000 menjadi Rp 3,2 juta per bulan. Kenaikan gaji tersebut tidak serta-merta membuat Dedi bisa menyisihkan gajinya untuk tabungan. Pengeluarannya untuk kebutuhan sehari-hari, susu, dan popok untuk tiga anak balitanya serta cicilan perabot rumah mencapai Rp 3,5 juta per bulan. ”Ini belum bisa nabung. Hidup pas-pasan, ngepres banget, untuk membayar pengeluaran sehari-hari dan biaya tak terduga,” kata Dedi, awal Februari lalu. Untuk menutupi biaya pengeluarannya yang minus, Dedi bekerja sampingan berjualan tas daring yang dijalankan istrinya. Istri Dedi memainkan peran sebagai reseller tas berjenama Imori yang dibeli dari Batam, Kepri. ”Lumayan, per bulan bisa menjual 10 tas seharga Rp 400.000 hingga Rp 500.000,” kata Dedi. (Yoga) 

Pilihan Editor