Energi Surya di Sumsel Diharapkan Tumbuh dari Atap-atap
Realisasi pemanfaatan energi surya di Indonesia,termasuk di
Sumsel, masih jauh dibandingkan potensinya. Sejumlah tantangan masih mendera,
seperti keterbatasan lahan dan investasi yang relatif belum menguntungkan.
Namun, pembangkitlistrik tenaga surya atau PLTS diharapkan tumbuh setidaknya
dari atap-atap untuk kebutuhan kelistrikan mandiri. Berdasarkan data Dinas ESDM
Sumsel, kapasitas terpasang energi surya di Sumsel saat ini sebesar 7,75 megawatt-peak
(MWp). Jumlah tersebut masih jauh di bawah potensi energi surya di Sumsel yang
sebesar 17.233 MWp.
PLTS di kompleks Jakabaring Sport City, Palembang, dengan
kapasitas terpasang 2 MWp, menjadi salah satu proyek yang menopang realisasi energi
surya di Sumsel. PLTS yang terhubung dengan jaringan PLN atau on grid itu mulai
beroperasi pada 2018 atau bersamaan dengan penyelenggaraan Asian Games 2018 di
Jakarta dan Palembang. Ali Kartili, Manajer Operasi PT Sumsel Energi Gemilang (SEG)
BUMD Sumsel yang juga operator PLTS Jakabaring, di Palembang, Selasa (27/2) mengatakan,
proyek itu lebih bersifat prestise untuk Asian Games 2018. Proyek itu juga hasil
dari joint crediting mechanism (JCM) antara Indonesia dan Jepang dalam
pembangunan rendah karbon untuk pencegahan perubahan iklim.
”Proyek ini tidak menguntungkan karena tarif (harga jual listrik
ke PLN) yang hanya Rp 889 per kWh (kilowatt jam). Kami perkirakan BEP (break
even point/titik impas) setelah 17 tahun (sejak awal operasi). Ini lebih pada keuntungan
ekologi,” ujar Ali di sela-sela kunjungan peserta Jelajah Energi Sumsel yang
digelar Institute for Essential Services Reform (IESR). Kendati tidak ekonomis,
pihaknya meyakini bisa mengoperasikan PLTS hingga mencapai BEP. Namun, di sisi
lain,Ali berharap ada perbaikan tarif PLTS, misalnya jadi di atas Rp 1.000 per
kWh, agar lebih menguntungkan. Tarif yang ideal, bagaimanapun, diperlukan oleh
pelaku usaha. (Yoga)
GoTo Andalkan Layanan ”On-Demand” dan Tekfin
Lini bisnis layanan on-demand dan teknologi finansial menjadi
andalan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) dalam memperluas jangkauan dan
monetisasi pasar selama 2024. Kedua lini bisnis ini juga dianggap bisa membantu
perseroan mengejar laba. Direktur/Presiden Teknologi Finansial GoTo Hans Patuwo
saat sesi paparan publik, Rabu (28/2) di Jakarta, mengatakan, laporan riset E-Conomy
SEA2023 yang dirilis Google,Temasek, dan Bain & Company menunjukkan, layanan
on-demand, seperti transportasi dan pengantaran makanan, di Indonesia
diprediksi akan tumbuh sekitar 20 miliar USD pada 2030. Industri layanan
pembayaran digital diperkirakan tumbuh 760 miliar USD dan pembukuan pinjaman
digital tumbuh 40 miliar USD pada 2030. ”Riset itu menggambarkan potensi bisnis
yang besar bagi segmen on-demand dan teknologi finansial,” ujarnya.
Menurut Hans, pada triwulan IV-2023, adjusted EBITDA, atau
laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi yang disesuaikan, pada
GoTo positif. Nilai adjusted EBITDA GoTo terus membaik dalam tujuh triwulan
terakhir. Untuk memperkuat kinerja, GoTo menyusun strategi guna mencapai
adjusted EBITDA grup positif tahun 2024. Pilar pertamanya adalah meningkatkan
frekuensi pelanggan lamaserta terus memperluas jangkauan pasar, melalui
produk-produk yang menjangkau konsumen dengan karakteristik suka
memprioritaskan harga, seperti GoCar hemat, GoFood hemat, dan aplikasi GoPay. Pilar
keduanya, meningkatkan monetisasi melalui produk teknologi finansial yang mampu
menghasilkan take rate atau komisi lebih tinggi, seperti GoPayLater, GoPay
Pinjam, dan GoPay Tabungan yang bekerja sama dengan Bank Jago. Di luar kedua
pilar itu, perseroan juga berkomitmen disiplin mengelola beban usaha yang
mencakup beban infrastruktur dan pengembangan teknologi informasi, beban
operasional tetap, serta insentif dan promosi. (Yoga)
Kisah ”Padi Lesus” di Tengah Limbung Beras
Belum makan kalau belum ketemu nasi masih jadi prinsip
sebagian besar masyarakat. Buktinya, kelangkaan gabah karena keterbatasan
produksi yang menaikkan harga beras belakangan ini membuat geger masyarakat.
Namun, situasi tersebut tidak banyak memengaruhi penikmat ataupun petani beras organik,
yakni beras dari padi yang diklaim tahan lesus atau puting beliung dan bebas
zat kimia. Hal ini diakui Bibong Widyarti, perempuan yang pernah memperkenalkan
beras organik Indonesia ke Konferensi Perubahan Iklim COP28 di Dubai, awal
Desember 2023. ”Beras organik tetap laku, petani juga masih bisa menyimpan stok
gabah untuk konsumsi pribadi,” ujar pegiat produk organik dari Yayasan Alifa
dan Rumah Organik ini, beberapa waktu lalu.
Beras yang dijual pelaku usaha organik lebih mahal daripada
beras konvensional. Saat ini, harga beras organik ada di kisaran Rp 35.000 per
kg, dua kali lipat lebih dari harga beras konvensional. Per Rabu (28/2) data
Badan Pangan Nasional menunjukkan rata-rata harga beras premium Rp 16.410 per kg
dan beras medium Rp 14.300 per kg. Harga beras organik itu bukan hanya layak
untuk menutup biaya produksi petani, melainkan juga untuk menjamin kualitas
beras yang dinikmati konsumen. Kualitas produk pun dipatenkan dengan sertifikasi
Lembaga Sertifikasi Pangan Organik (LSPO) yang diakui oleh negara atau
Penjaminan Organik Berbasis Komunitas (Participatory Guarantee System/PGS).
”Ada sistem kebersamaan dari kami, petani produsen dengan konsumen, karena yang
dijual value dan kualitas,” ujarnya. (Yoga)









