;

Deindustrialisasi Hambat Kelas Menengah ”Naik Kelas”

Deindustrialisasi Hambat
Kelas Menengah ”Naik Kelas”

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira di Jakarta, Selasa (27/2) berpendapat, tantangan yang menyulitkan mobilitas sosial kelas menengah menjadi kaya bersifat struktural. Situasi ini terbentuk karena kurangnya kebijakan industri atau reformasi struktural dalam ekonomi. Deindustrialisasi dini yang berlangsung selama 15 tahun terakhir menyebabkan pendapatan kelas menengah kurang optimal. ”Selain itu, porsi kelas menengah yang cukup besar di sektor informal membuat pendapatan sulit meningkat signifikan. Pekerja sektor informal juga rentan terdampak volatilitas ekonomi karena kurangnya jaring pengaman sosial,” ujarnya. Sesuai data mikro Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS tahun 2012-2021 yang diolah Tim Jurnalisme Data Harian Kompas menunjukkan, ada kesenjangan sisa gaji per bulan antara kelas menengah dan kelas kaya usia produktif (15-64 tahun) pada tahun 2021.

Sisa gaji warga kelas atas Rp 1,59 juta per orang per bulan nilainya setara 3,64 kali lebih besar dari warga kelas menengah. Dengan rata-rata sisa gaji kelas menengah pada 2021 senilai Rp 435.888 per bulan, tidak banyak uang yang bisa ditabung dan diinvestasikan. Kondisi ini menyulitkan kelas menengah yang jumlahnya 38,5 juta jiwa (20,7 5 penduduk Indonesia) naik kelas menjadi orang kaya. Menurut Bhima, solusi mengatasi tantangan tersebut adalah kembali ke kebijakan industrialisasi, salah satunya dengan mengarahkan hilirisasi sumber daya alam dengan pemenuhan industri barang jadi dalam negeri. ”Selain memperkuat industrialisasi, upaya memperbesar sektor formal bisa didorong dengan keberpihakan pengadaan barang jasa di tingkat pemerintah daerah,” katanya. (Yoga) 

Download Aplikasi Labirin :