Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10118 )Kualitas Hidup Pekerja Dikhawatirkan Menurun
Dalam kurun waktu lima tahun terakhir atau mulai dari 2018,
kenaikan upah minimum provinsi (UMP) relatif tidak terlalu signifikan. Fenomena
ini dikhawatirkan berpotensi mengurangi kualitas hidup pekerja di tengah
tingginya biaya hidup akibat inflasi. Berdasarkan data Direjen Pembinaan
Hubungan Industrial dan Jamsostek Kemenaker, nilai rata-rata UMP secara
nasional tahun 2018 yaitu Rp 2.268.874,19 per bulan, lalu naik menjadi Rp 2.455.662,23 (2019) dan
di 2020 tercatat sebesar Rp 2.673.371,36. Adapun pada 2021 dan 2022 masing-masing
sebesar Rp 2.687.723,69 dan Rp 2.725.504,94. Kemudian, pada 2023, nilai
rata-rata UMP nasional mencapai Rp 2.923.309,40. Aktivis buruh Kokom Komalawati
saat dihubungi pada Kamis (30/11) mengatakan, pada saat PP No 78 Tahun 2015
tentang Pengupahan ditetapkan, kenaikan upah minimum berkisar 6-11,5 %. Kenaikan
upah minimum mulai tidak tinggi berlangsung pada periode 2021-2022. Bahkan, ada
daerah yang tidak menikmati kenaikan upah minimum kabupaten/kota (UMK) di periode
tersebut, seperti di Kabupaten Tangerang, Banten.
Kokom, yang terlibat dalam Komite Hidup Layak, menyampaikan,
sesuai survei dan diskusi terfokus bersama 181 responden pekerja, rata-rata
biaya pengeluaran rumah tangga per bulan sebesar Rp 3.428.186,69, dengan
tanggungan hidup sebanyak 2,7 orang per rumah tangga. Sebanyak 181 responden itu
disurvei pada 18 September-18 Oktober 2023 ditiga kota dan delapan kabupaten di
empat provinsi, yaitu Jabar, Jateng, Banten, dan Sulteng. Responden berlatar
belakang pekerja di sektor manufaktur, ojek daring, pertambangan, dan perkebunan.
”Hal yang mengkhawatirkan adalah potensi kualitas hidup pekerja menurun (akibat
kenaikan upah minimum yang tidak signifikan tersebut),” kata Kokom. Presiden
Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menambahkan, sejak UU
Cipta Kerja berlaku, kenaikan upah minimum tidak signifikan. ”Pada tahun 2021,
ada UMP yang kenaikannya nol % dan tidak lebih dari 1,8 %. Tahun 2022 pun
kondisinya mirip,” ujar Said. (Yoga)
Nilai Tambah Sektor Jasa Domestik Masih Rendah
Sektor jasa yang mendominasi perekonomian nasional masih
kurang memberikan nilai tambah. Hal ini menjadi tantangan dalam menggaet aliran
investasi asing yang kerap menargetkan sektor-sektor penyumbang besar PDB
Indonesia. Menkeu Sri Mulyani dalam Indonesia-EU Investment Summit 2023, di
Jakarta, Kamis (30/11) mengatakan, saat ini sektor jasa di Indonesia masih
kesulitan untuk berkembang menjadi sektor yang bernilai tambah tinggi. ”Dominasi
sektor jasa pada perekonomian membuat Indonesia terlihat seperti negara
berpendapatan tinggi. Padahal, berdasarkan
komposisi perekonomiannya, sektor jasa atau informal bernilai tambah rendah,”
ujarnya. Berdasarkan struktur ekonomi
Indonesia, dominasi sektor jasa terhadap PDB mencapai 54,4 %.
Angka ini mengungguli sektor manufaktur dan pertanian yang
dalam struktur PDB masing-masing sebesar 20,5 % dan 12,3 %. Ketergantungan
Indonesia yang tinggi pada sektor jasa juga terlihat dari struktur pertumbuhan
ekonomi nasional pada triwulan III-2023 yang tumbuh 4,94 % secara tahunan. Dilihat
berdasarkan lapangan usahanya, empat besar pertumbuhan tertinggi ada di sektor
jasa, yakni transportasi dan pergudangan yang tumbuh 14,74 % secara tahunan, sektor
jasa lainnya 11,14 %, jasa perusahaan 9,37 %, serta informasi dan komunikasi
8,52 %. Sri Mulyani menekankan perlunya transformasi agar sektor jasa dapat
memberikan nilai tambah dan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. (Yoga)
TEMPE, MEMBALIK NASIB PENGIMPOR KEDELAI
Tidak pernah terbayang oleh Cucup Ruhiyat, usaha pembuatan
tempe tradisional yang digelutinya sekarang menjelma menjadi industri skala
ekspor bervolume puluhan ton per bulan. Bahkan, salah satu pasarnya adalah AS,
negara asal kedelai yang mereka impor untuk bahan baku tempe. Dengan merek
dagang Azaki, tempe beku produksi Rumah Tempe Azaki itu telah menembus pasar di
empat negara. Selain AS, Azaki sudah merambah konsumen di Jepang, Korsel, dan
Taiwan. ”Tanggal 30 November nanti, kami ekspor 3 ton tempe ke pasar baru, Hong
Kong,” ujar Cucup yang juga menjabat Direktur Utama Rumah Tempe Azaki saat
dihubungi, Senin (27/11). Melalui pabrik di Bogor, Jabar, Rumah Tempe Azaki menapaki
cerita sukses ekspor tempe sejak 2021. Total ekspornya kini mencapai 40-50 ton
setiap bulan. Ini sekaligus menjadi pabrik tempe terbesar di dunia, dengan
kapasitas produksi 135 ton per bulan.
Cucup pun tengah membidik sejumlah negara lain untuk pemasaran
produknya, antara lain China dan India. Selain itu, perusahaannya juga
mengembangkan produk lain untuk diekspor, yakni keripik tempe. Di tengah masih
bergantungnya Indonesia pada impor kedelai, ekspor tempe yang dilakukan Azaki
menjadi salah satu ”obat penawar”. Bahan baku yang diimpor diberi nilai tambah,
kemudian diekspor. Berdasarkan data BPS, pada 2022, volume impor kedelai
sebesar 2,3 juta ton. Dari jumlah itu, 1,9 juta ton (83 %) berasal dari AS. Adapun
produksi kedelai dalam negeri hanya sekitar 300.000 ton. Melalui ekspor tempe,
kedelai jadi pengungkit nilai tambah yang akan dinikmati di dalam negeri. Cucup
menjelaskan, profit ekspor bisa 2-3 kali lipat lebih besar daripada penjualan di
dalam negeri. Keuntungan lain bagi perekonomian nasional adalah penyerapan
tenaga kerja dan perputaran uang dari rantai produksi. (Yoga)
Tantangan Baru Insentif Pajak Jokowi
Kabar baik datang dari Kementerian Keuangan. Pemerintah akhirnya memastikan tetap berlanjutnya insentif pemotongan pajak penghasilan (PPh) perusahaan yakni tax holiday dan tax allowance pada tahun depan. Pemerintah mempertahankan jumlah penerima manfaat belanja perpajakan tersebut, yakni 18 sektor. Di antaranya, pertanian, pertambangan, manufaktur, konstruksi, real estate, informasi dan komunikasi hingga pendidikan. Tax holiday adalah insentif berbentuk pembebasan beban PPh badan atau berupa pengurangan tarif PPh badan bagi perusahaan yang menanamkan modal asing ke Indonesia dalam jangka waktu tertentu. Indonesia pertama kali memperkenalkan tax holiday PPh badan pada 1967 lewat UU No. 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing. Namun, tiga tahun kemudian aturan itu dicabut lewat UU No. 11/1970. Pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tax holiday kembali dihidupkan, yakni pada 2007. Namun, ketentuan teknis aturan tersebut baru dikeluarkan pada 2011 yang berlaku hingga sekarang. Pemerintah Joko Widodo beberapa kali melakukan revisi tax holiday. Revisi pertama dilakukan pada 2015 melalui PP No. 18/2015. Revisi ini mengubah beberapa ketentuan, seperti menambahkan jenis industri yang mendapatkan tax holiday dari 6 menjadi 8 sektor. Kemudian, menurunkan nilai investasi minimal dari Rp1 triliun menjadi Rp500 miliar. Selain itu, memberikan fleksibilitas jangka waktu pemberian tax holiday dari 10 tahun menjadi 5 tahun hingga 15 tahun. Lamanya relaksasi tergantung pada besaran investasi. Pada 2016 kembali diubah dengan menambahkan jenis industri yang mendapat tax holiday menjadi 17 sektor. Bahkan, nilai investasi minimal pun dipangkas menjadi Rp100 miliar, serta fleksibilitas jangka waktu pemberian tax holiday menjadi 5 tahun hingga 20 tahun. Pada 2018, penerima tax holiday ditambah menjadi 18 sektor. Pada 2020 kembali direvisi yang mengatur lebih rinci mengenai kriteria, jenis, proses, dan pengawasan pemberian tax holiday di Indonesia. Rapor positif penerimaan pajak dalam dua tahun terakhir sehingga tax ratio menyentuh 10,4%. Namun, angka itu masih jauh dibandingkan dengan negara tetangga, Vietnam 22,7%, Kamboja 20,2%, dan Thailand 16,5%. Satu sisi, insentif pajak ini mampu menarik investasi besar-besaran pada era Jokowi. Tercatat bahwa investasi pada 2022 melesat menjadi 1.207,2 triliun, naik dari Rp463 triliun kala Jokowi baru menjabat pada 2014. Pada tahun ini target investasi pun dipasang Rp1.400 triliun. Penerima insentif tax holiday pun melesat menjadi 34 wajib pajak. Di sisi lain, insentif PPh badan itu memiliki risiko tidak kecil. Dalam laporan terbaru UNCTAD menuliskan implementasi global minimum tax akan diberlakukan pada tahun depan, apabila insentif PPh badan tetap diberikan bakal memicu sengketa investasi.
Bansos & Stabilisasi Harga Beras
Efektivitas Bansos dalam Stabilisasi Harga Beras Dengan dalih menstabilkan harga beras dan mengendalikan inflasi, bantuan sosial (bansos) beras terus digenjot. Tidak tanggung-tanggung, setelah periode pertama pada Maret—Mei 2023, bansos yang kembali dikucurkan sejak September 2023 lalu bakal diperpanjang hingga Maret 2024. Artinya, tahun 2023 ini bansos dikucurkan selama 7 bulan. Sedangkan tahun depan, untuk sementara, 3 bulan. Pertanyaannya, efektifkah bansos beras dalam menstabilkan harga beras, termasuk mengendalikan laju inflasi? Bansos menyasar 21,35 juta keluarga. Mereka menerima 10 kilogram beras per bulan. Saat dikucurkan pada Maret—Mei, penyalurannya molor sampai Juni 2023. Saat itu bansos beras cukup efektif menahan kenaikan harga beras. Hal itu tecermin dari rata-rata perubahan harga beras Maret—Juni 2023 yang rendah: 0,44%. Bandingkan dengan rerata- perubahan harga beras 4 bulan sebelum bansos (November 2022—Februari 2023) yang sebesar 1,67%. Selama 4 bulan penyaluran harga beras tertahan Rp12.864—Rp12.942/kg. Bahkan, harga beras sempat turun: dari Rp12.915/kg di April ke Rp12.889/kg di Mei. Efektivitas juga tampak pada pengendalian inflasi. Pada Maret—April beras masih menyumbang inflasi dengan andil masing-masing 0,02%. Akan tetapi pada Mei—Juni beras tidak jadi penyumbang inflasi. Bagaimana ini bisa dijelaskan? Dengan bansos beras 10 kg per bulan, keluarga penerima bantuan terlindungi dari gejolak harga beras di pasar. Cakupan sasaran yang relatif besar, 21,35 juta keluarga, bansos beras memengaruhi keseimbangan harga beras di pasar dari sisi permintaan (demand side) dan sisi penawaran (supply side). Dari sisi penawaran ditandai dengan berkurangnya permintaan keluarga penerima bantuan terhadap beras yang dijual di pasar. Ini membuat tekanan permintaan beras di pasar berkurang, sehingga gejolak atau kenaikan harga beras lebih terkendali. Efektivitas bansos dalam menstabilkan harga beras dan mengendalikan inflasi menurun pada penyaluran periode kedua. Karena tidak ada bansos beras, Juli—Agustus harga beras naik. Pada September 2023, kenaikan harga beras tetap tak tertahan meskipun pada bulan itu ada penyaluran bansos beras. Demikian pula pada Oktober: harga beras kembali naik, bahkan menyentuh Rp14.244/kg atau lebih tinggi dari bulan sebelumnya (Rp13.882/kg). Dalam 2 bulan itu, rerata perubahan harga beras sebesar 4,16%. Warga miskin jadi kian miskin. Mereka yang hanya beberapa jengkal di atas garis kemiskinan terancam jadi orang miskin baru. Ini karena porsi belanja beras warga miskin amat besar. Pada September—Oktober 2023, beras menjadi penyumbang inflasi terbesar untuk kategori harga pangan (volatile foods). Pada September, inflasi beras mencapai 0,19% secara bulanan dan 2,28% secara tahunan. Andil beras terhadap inflasi bulanan dan tahunan masing-masing 0,18% dan 0,55%. Hal ini mengerek andil beras pada inflasi: 5,61% secara bulanan dan 18,44% secara tahunan. Ini andil inflasi beras tertinggi sejak 2014. Di Oktober 2023, inflasi beras mencapai 1,72% dengan andil sebesar 0,06%. Secara akumulatif, selama 2023 beras menyumbang andil inflasi terbesar: 0,49%. Secara teoritis, efektivitas bansos beras akan tetap terjaga apabila volume beras dilipatgandakan. Misal, menjadi dua kali lipat atau 20 kg/bulan/keluarga. Dengan cara itu akan ada suntikan beras 427.000 ton atau 17% dari konsumsi bulanan. Masalahnya, kalau ini dilakukan, cadangan beras pemerintah (CBP) yang ada di Bulog bakal terkuras kian deras. Padahal, stok CBP terus menipis bukan hanya digunakan buat bansos beras, tetapi juga untuk operasi pasar bernama stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP).
Iklim Ekstrem Bebani Warga Miskin Lima Kali Lipat
Anomali iklim berimbas pada beratnya beban warga miskin
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pengeluaran warga miskin di desa atau di
kota rata-rata naik 82 % pada tahun 2030 hingga 578 % pada 2045. Tim Jurnalisme
Data Harian Kompas selama sebulan hingga Rabu (29/11) memproyeksikan peningkatan pengeluaran warga untuk membeli pangan,
listrik, dan air bersih jika terjadi anomali iklim, seperti El Nino, La Nina,
serta Dipol Samudra Hindia (Indian Ocean Dipole/IOD) positif dan negative hingga
2045. Hasilnya, semua anomali iklim semakin membebani warga miskin. Tahun ini,
BMKG mengumumkan iklim El Nino dan IOD positif terjadi bersamaan sehingga curah
hujan berkurang di sejumlah wilayah Indonesia. Sebelumnya, pada 2022,
diidentifikasi terjadi La Nina dan IOD negatif sehingga curah hujan bertambah.
Hasil perkiraan Kompas, akibat perubahan iklim dari basah
(2022) ke kering (2023), pengeluaran warga miskin kota untuk membeli beras naik
29 % menjadi Rp 135.271 per kapita per bulan. Begitu pun warga miskin desa yang
harus membelanjakan uang Rp 137.449 per kapita per bulan, naik 16 % dari tahun
2022. Selama 22 tahun ke depan, Indonesia akan mengalami anomali iklim yang
makin ekstrem. Hal itu akan berdampak semakin tingginya pengeluaran beras warga
miskin. Jika pada 2045 terjadi El Nino dan IOD positif bersamaan, seperti tahun
2023, pengeluaran bulanan warga miskin kota untuk membeli beras akan naik jadi
Rp 174.725 per kapita. Adapun pengeluaran warga miskin desa Rp 177.118 per
kapita. Apabila terjadi La Nina, belanja bulanan warga miskin desa untuk
membeli beras menjadi Rp 147.844 per kapita. Adapun pengeluaran bulanan warga
miskin kota pada 2045 menjadi Rp 179.303 per kapita.
Kenaikan pengeluaran beras dan air pada tahun ini dialami Kartika
(29), warga Kalibaru, Jakut. Tahun lalu, ia bisa membeli beras Rp 7.000 per
liter, tetapi tahun ini harga beras melonjak menjadi Rp 11.000-Rp 12.000 per
liter. Pengeluaran untuk mengakses air bersih Kartika juga naik dua kali lipat.
Pada 2022, Rp 300.000 per bulan. Namun, tahun ini, saat musim kemarau berkepanjangan,
uang yang dikeluarkan jadi dua kali lipat, yakni Rp 600.000 per bulan. Pengeluaran
warga miskin diambil dari beberapa komoditas yang memberikan andil garis
kemiskinan, seperti beras, gula, air, dan listrik. Data ini merujuk pada
publikasi ”Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia, Survei Sosial Ekonomi
Nasional, BPS Periode September 2011-2022”. Data itu dikalikan dengan sumbangan
(persentase) komoditas beras, listrik, gula, dan air terhadap garis kemiskinan.
(Yoga)
Anomali Iklim Menyedot Dana Negara
Garis kemiskinan berpotensi terus naik seiring terjadinya
anomali iklim yang makin ekstrem. Kondisi ini menuntut tersedianya anggaran
perlindungan sosial yang adaptif untuk menekan angka kemiskinan akibat perubahan
iklim. Anomali iklim yang dimaksud berupa El Nino, La Nina, dan Dipol Samudra
Hindia (Indian Ocean Dipole/IOD). Proyeksi Tim Jurnalisme Data Kompas, iklim La
Nina atau IOD negatif yang berpotensi meningkatkan curah hujan membuat
kebutuhan warga miskin lebih tinggi dibandingkan saat terjadi iklim El Nino ataupun
IOD positif yang mengurangi curah hujan. Pada 2030, jika terjadi La Nina, garis
kemiskinan menjadi Rp 742.222 per orang per bulan atau naik 39 % dibandingkan
garis kemiskinan nasional 2022 dari olahan data BPS senilai Rp 535.547 per
kapita per bulan. Garis kemiskinan yang dimaksud adalah pengeluaran minimum
seseorang untuk memenuhi kebutuhan pokok per bulan.
Anggaran perlindungan sosial (perlinsos) diperkirakan naik
hampir dua kali lipat dari tahun 2022 menjadi Rp 485,8 miliar. Jika pada 2030 terjadi
La Nina dan IOD negatif secara bersamaan, garis kemiskinan berpotensi naik 32 % dari tahun 2022 menjadi
Rp 711.059 per kapita per bulan. Peningkatan pengeluaran ini membuat alokasi
anggaran perlinsos juga akan naik menjadi Rp 457,4 miliar. Anggaran perlinsos
diproyeksikan dari data historis APBN 2005-2022. Proyeksi tersebut merupakan
hasil analisis menggunakan metode regresi linier. Adapun data yang dipakai merujuk
pada anggaran perlinsos dan garis kemiskinan nasional selama 2005-2022. Laporan
Bank Dunia bertajuk ”Poverty and Shared Pros- perity 2020” menyebutkan, secara
global, diperkirakan 1,47 miliar orang tinggal di daerah dengan rawan banjir
tinggi. Sekitar separuhnya termasuk golongan miskin. (Yoga)
BELANJA ALUTSISTA Penambahan Pinjaman Rp 61,7 Triliun Bisa Picu Kecurigaan Publik
Alokasi belanja alat utama sistem persenjataan atau
alutsista yang berasal dari pinjaman luar negeri untuk 2024 ditambah hingga
mencapai lebih dari 4 miliar USD atau Rp 61,7 triliun. Penambahan dinilai
tiba-tiba dan dilakukan saat Menhan Prabowo Subianto maju di Pemilihan Presiden
2024 sehingga bisa menuai kecurigaan publik bahwa uang akan digunakan untuk
pemenangan pemilu. Pada Selasa (28/11) sore, Prabowo Subianto, Kapolri Jenderal
(Pol) Listyo Sigit Prabowo, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, dan Menkeu
Sri Mulyani mengikuti rapat tertutup di Istana Kepresidenan Bogor. Dalam rapat
yang dipimpin Presiden Jokowi itu dibahas soal anggaran untuk pembangunan
sistem pertahanan.
Sri Mulyani di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (29/11),
menjelaskan, pertemuan tersebut membahas belanja alutsista yang menggunakan
pinjaman luar negeri. Alokasi untuk sektor pertahanan keamanan selama ini
terdiri dari dua sumber, yakni APBN dan pinjaman luar negeri. Alokasi belanja
sektor pertahanan keamanan dalam daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA) tahun
anggaran 2024 yang dibagikan Presiden Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Rabu
pagi, senilai Rp 331,9 triliun. Sumber lainnya adalah pinjaman luar negeri.
”Untuk (periode) tahun 2020-2024, waktu itu sudah disetujui Bapak Presiden (alokasi) 20,75 miliar USD. Nah,
kemarin, karena ada beberapa perubahan, maka alokasi untuk 2024 menjadi 25
miliar USD.,” ujarnya kepada wartawan.
Kendati periode rencana strategis 2020-2024 mendapat kenaikan alokasi
pinjaman luar negeri, alokasi sampai akhir 2034, menurut Sri, tak berubah,
tetap seperti yang diputuskan oleh Presiden, yakni 55 miliar USD. (Yoga)
Realisasi Anggaran Pemda Baru 64 Persen
Presiden Jokowi kembali mengingatkan agar anggaran negara
digunakan secepatnya. Hingga kini, serapan anggaran pemda ataupun pemerintah pusat
masih rendah. Realisasi anggaran belanja daerah sampai akhir November baru 64 %.
Adapun realisasi belanja pemerintah pusat sebesar 74 %. Presiden Jokowi
menyebutkan kedua angka tersebut dalam penyerahan daftar isian pelaksanaan anggaran
(DIPA) dan alokasi dana transfer ke daerah untuk tahun anggaran 2024 di Istana
Negara, Jakarta, Rabu (29/11). Hadir dalam acara itu secara luring para menteri
Kabinet Indonesia Bersatu, kepala lembaga, dan beberapa gubernur. Selain itu,
hadir pula sejumlah kepala daerah secara daring.
Dengan serapan anggaran yang masih rendah di pengujung tahun
anggaran, belanja akan dilakukan secara besar-besaran di akhir tahun. ”Artinya,
ada tiga minggu ini akan keluar uang bertriliun-triliun rupiah dan ini kita
ulang-ulang terus setiap tahun,” kata Presiden. Presiden sempat mengeluhkan
keinginannya untuk mengubah lambannya realisasi serapan anggaran pemerintah.
Namun, hal ini masih saja berulang. Selain itu, dipesankan pula agar anggaran
digunakan secara disiplin, teliti, tepat sasaran, serta mengedepankan transparansi
dan akuntabilitas. Terkait rendahnya serapan anggaran di pengujung tahun,
Menkeu Sri Mulyani mengatakan, monitoring tetap dilakukan Kemenkeu bersama
Kemendagri. ”Mendagri tadi juga lapor bahwa beliau selama minggu ini akan
intensif memonitor daerah bottleneck-nya apa (yang menyebabkan serapan anggaran
rendah),” ujarnya. (Yoga)
Krisis Produktivitas Tengah Melanda
Sepertinya tidak ada sebuah generasi yang tertimpa tekanan
bertubi-tubi seperti sekarang ini. Mereka mengalami disrupsi digital, pandemi
Covid-19, krisis iklim, tekanan ekonomi, dan, khusus di Indonesia, berhadapan
dengan dinamika politik yang aneh. Respons mereka mulai terasa di dunia kerja.
Persoalan yang muncul adalah tuntutan keluwesan dalam dunia kerja. Silang
pendapat soal ini kemudian memunculkan krisis produktivitas. Nike, Apple,
Goldman Sachs, dan Zoom adalah contoh sejumlah perusahaan yang mewajibkan
karyawannya untuk kembali masuk ke kantor setelah pandemi usai. Raksasa pakaian
olahraga Nike baru-baru ini memberi tahu karyawannya bahwa mulai Januari 2024,
mereka akan diminta untuk datang ke kantor pusat perusahaan empat hari dalam sepekan.
Perusahaan tersebut, dalam sebuah pernyataan, menyatakan bahwa ”ada kekuatan
dan energi yang muncul dari kerja sama secara langsung”. Sebuah dorongan yang valid.
Namun, beberapa karyawan khawatir bahwa kebijakan ini akan mengurangi
fleksibilitas.
Krisis kemudian muncul karena tidak sedikit di antara
manajemen dan karyawan tidak mencapai titik temu. Manajemen menuduh karyawan
ingin tetap kerja santai, sedangkan karyawan melihat bahwa upaya manajemen ke
cara-cara lama sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan sekarang. Mereka juga berargumen
bahwa lebih penting hasil kerja dibanding sekadar wajib masuk ke kantor.
Masalah selanjutnya adalah krisis produktivitas yang menimpa perusahaan.
Sejumlah urusan dan target bisnis perusahaan tidak bisa tercapai karena masalah
ini. Ekonom Mike Walden dari North Carolina State University mengatakan, salah
satu ukuran perekonomian yang kurang dihargai adalah produktivitas pekerja yang
mengukur seberapa banyak yang dicapai seorang pekerja. Pekerja yang lebih
produktif akan lebih bernilai bagi bisnis dan biasanya, dibayar lebih tinggi,
baik dalam bentuk upah maupun tunjangan. Inilah sebabnya mengapa peringatan baru-baru
ini dibunyikan ketika angka-angka Pemerintah AS menunjukkan produktivitas
pekerja menurun.
Pada pertengahan 2021 dan pertengahan 2023, produktivitas
pekerja turun 2 %, yang belum pernah terjadi dalam tujuh dekade terakhir. Kondisi
seperti ini yang menyebabkan perusahaan mencari cara untuk menaikkan
produktivitas pekerja. Salah satu penulis di Fast Company menyebutkan, solusi permasalahan
krisis produktivitas bukan pada meminta
karyawan untuk datang ke kantor semata, melainkan pada apa yang bisa memotivasi
karyawan bisa kerja produktif dan datang ke kantor apabila masalahnya adalah
soal karyawan yang tidak datang ke kantor. Keluwesan di dunia kerja sepertinya
dibutuhkan. Insentif yang cukup mungkin perlu dipertimbangkan. Meski demikian,
perlu upaya lebih. Berbagai cara perlu dicoba. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









