Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10118 )Cerita Tali di Karama
Desa Karama di Kecamatan Tinambung, Polewali Mandar,
Sulawesi Barat, punya kisah tentang tali. Ini tentang limbah tali yang diolah kembali
menjadi tali baru dan sebagian besar dikerjakan kaum perempuan, yang sudah
dilakoni sebagian warga selama puluhan tahun. Konon, penamaan Paotere,
pelabuhan pendaratan ikan terbesar di Makassar, terinspirasi dari pekerja tali
ini. ”Otere bahasa Makassar yang berarti tali. Paotere adalah pembuat tali. Ini
merujuk pada pembuatan tali yang saat itu banyak dilakukan warga Tinambung di
Paotere. Dulu, mereka mengerjakan tali di sana. Lama kelamaan dibawa pulang dan
dikerjakan di kampung,” kata Ridwan Alimuddin, pegiat literasi yang juga
kelahiran Tinambung. Limbah tali yang diolah umumnya tali bekas kapal yang berasal
dari berbagai pelabuhan. Tali diurai untuk dipisahkan bagian yang rusak. Membuat
tali baru dilakukan dengan memilin bagian yang masih bagus menjadi untaian tali
kecil.
Selanjutnya tali kecil ini dipilin lagi dan disatukan hingga
menjadi tali berukuran besar. Pengerjaan ataupun alat yang digunakan sederhana.
Di Desa Karama, kaum perempuan berperan besar dalam usaha limbah tali ini.
Mereka bekerja berkelompok dengan jumlah 6-8 orang per kelompok, sejak pagi
hingga pukul 17.00, rata-rata setiap kelompok menyelesaikan belasan hingga puluhan
rol tali per hari. Satu rol berukuran panjang antara 80-100 meter. Umumnya
limbah tali didatangkan oleh juragan atau pemilik usaha tali. Mereka yang mengupah
para pekerja dan kemudian memasarkan tali baru yang dihasilkan. Tali dari limbah
ini dikirim ke berbagai daerah di Indonesia untuk kebutuhan rumpon serta peruntukan
lain. Upah pekerja tali umumnya Rp 50.000-75.000 per hari, bergantung berapa
rol yang diselesaikan. Bagi perempuan di Karama, upah ini sangat berharga untuk
membantu keuangan keluarga terutama saat suami-suami mereka melaut
berbulan-bulan ke pulau lain. (Yoga)
Menjaga Anggaran Alutsista
Penambahan pagu pinjaman luar negeri untuk belanja alat
utama sistem persenjataan atau alutsista sebesar 4,25 miliar USD memicu
sejumlah pertanyaan, misalnya, mengapa kenaikan pagu pinjaman luar negeri untuk
belanja alutsista periode 2020-2024 dari 20,75 miliar USD menjadi 25 miliar USD
terkesan tiba-tiba dan dilakukan pada tahun terakhir masa kerja kabinet
Indonesia Maju. Pemerintah memang telah menjelaskan, kebijakan itu diambil
karena ada gejolak harga alutsista secara global. Selain itu, kebijakan ini tak
mengubah pagu alokasi belanja alutsista dari pinjaman luar negeri periode
2020-2034 yang besarnya 55 miliar USD. Pasalnya, penambahan alokasi pinjaman 2020-2024
bersumber dari pagu pinjaman untuk 2025-2029 (Kompas, 30/11). Penjelasan itu
memunculkan pertanyaan baru, seperti sampai sejauh mana kemendesakan pengadaan
alutsista sehingga harus menambah pagu pinjaman dengan memakai alokasi tahun
berikutnya.
Lalu, bagaimana jika pemerintahan hasil Pemilu 2024 juga
menghadapi kemendesakan terkait alutsista, tetapi sebagian dari pagu pinjaman
sudah diambil pemerintahan saat ini. Terbatasnya keuangan negara membuat
anggaran untuk pertahanan dengan pengadaan alutsista di dalamnya saat ini masih 0,8 % dari PDB. Idealnya, anggaran
pertahanan adalah 2 % dari PDB. Kondisi itu membuat kekuatan pokok minimal
(minimum essential force/MEF) TNI AU baru mencapai 51,51 % pada awal 2023, TNI
AD sebesar 76,23 % dan TNI AL mencapai 59,69 % hingga 2021. Secara keseluruhan
pada 2021, MEF TNI sebesar 62,31 %. Padahal, dalam Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 ditargetkan mencapai 100 persen pada 2024 (Kompas.id,
8/3/2023). Dalam keadaan seperti ini, semua anggaran negara, termasuk untuk
belanja alutsista, semestinya digunakan sebaik-baiknya. Jangan sampai ada
penyelewengan yang membuat kita tak optimal mendapatkan alutsista. (Yoga)
Produsen Elektronik Lokal Belum Jadi Tuan di Negeri Sendiri
Pelaku industri barang elektronik merek lokal membutuhkan
dukungan agar bisa bersaing di sektor pasar barang elektronik dalam negeri. Dengan
masyarakat membeli dan menggunakan barang elektronik produk lokal turut mendorong
pertumbuhan pabrik lokal dan memperluas kapasitas atau menambah tenaga kerja
yang pada akhirnya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi. Direktur Operasional PT
Adi Pratama Indonesia Tri Isyanta mengatakan, saat ini pelaku industri barang
elektronik merek lokal hanya mendapatkan 2 % pasar barang elektronik dalam
negeri. Selebihnya masih dikuasai barang elektronik merek global atau asing. Tri
menambahkan, pelaku industri barang elektronik merek lokal membutuhkan dukungan
keberpihakan negara dan diberikan kesempatan lebih luas untuk meningkatkan volume
penjualannya.
”Beri kesempatan dan kepercayaan kepada merek lokal barang
elektronik ini. Kualitasnya bisa bersaing dengan merek global,” ujar Tri saat
ditemui di kantornya di Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (1/12). PT Adi
Pratama Indonesia merakit dan memproduksi berbagai barang elektronik, seperti
laptop, televisi, CCTV, dan interactive flat pannel (IFP). Dengan membeli dan
menggunakan produk elektronik merek lokal, lanjut Tri, bisa membantu pelaku
industri ini untuk terus bertumbuh. Melalui peningkatan kapasitas produksi dan bisnis,
pelaku industri merek lokal ini bisa berekspansi dan menambah serapan tenaga kerja
sehingga harapannya bisa mendorong perekonomian nasional. (Yoga)
Harga Pangan Masih Terus Meroket
Harga kebutuhan pokok masih melanjutkan tren kenaikan.
Sampai November 2023, komoditas pangan tetap menjadi penyumbang inflasi
terbesar, baik secara bulanan maupun tahunan. Fenomena ini diperkirakan bakal
berlangsung sampai tahun depan dan menggerus daya beli sebagian masyarakat.
Berdasarkan catatan BPS, per November 2023, inflasi bulanan dan tahunan masih
meningkat. Secara tahunan (year on year), tingkat inflasi mencapai 2,86 %, naik
dari posisi Oktober 2023 sebesar 2,56 %. Sementara inflasi bulanan (month to
month) tercatat sebesar 0,38 %, naik dari posisi Oktober 2023 sebesar 0,17 %.
Tingkat inflasi bulanan per November 2023 ini lebih tinggi ketimbang bulan sebelumnya
ataupun bulan yang sama tahun lalu.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud,
Jumat (1/12) mengatakan, berdasar kelompok pengeluarannya, inflasi bulanan dan
tahunan yang terbesar terjadi pada kelompok makanan-minuman dan tembakau. Kelompok
ini mengalami inflasi tahunan 6,71 % dan memberikan andil sebesar 1,72 %
terhadap inflasi umum. Sementara secara bulanan, kelompok ini mengalami inflasi
1,23 % dengan andil sebesar 0,32 % terhadap inflasi umum. Komoditas utama yang
menyebabkan inflasi pada November 2023 adalah cabai merah yang mengalami
inflasi bulanan 42,83 % dengan andil 0,16 % terhadap inflasi umum; cabai rawit
yang mengalami inflasi 43,27 % dengan andil 0,08 % terhadap inflasi umum; dan
bawang merah yang inflasinya 11,49 % dengan andil 0,03 %. (Yoga)
Jutaan Benur Ilegal Mengalir ke Vietnam
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebutkan,
kebutuhan benih bening lobster di Vietnam mencapai 600 juta ekor per tahun.
Seluruh kebutuhan itu dipenuhi oleh benih bening lobster ilegal hasil
selundupan dari Indonesia. Pengetatan patroli dan kerja sama industri tengah diupayakan
untuk menghentikan penyelundupan tersebut. Dirjen Pengawasan Sumber Daya
Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP Laksamana Muda Adin Nurawaluddin menyatakan,
larangan ekspor benih bening lobster atau benur belum berjalan optimal. Benur
diselundupkan melalui jalur darat, laut, dan udara, dan hingga kini terus berlangsung.
”Industri Vietnam mengakui semua benur berasal dari
Indonesia. Padahal, Indonesia tidak membolehkan ekspor benur. Jadi, bisa
disimpulkan, industri di Vietnam mendapatkan pasokan benur secara ilegal,” kata
Adin di Pangkalan PSDKP Batam, Kepulauan Riau, saat membuka Operasi
Terkoordinasi Pengawasan dan Penindakan Penyelundupan Benih Bening Lobster,
Jumat (1/12). Ia menambahkan, permintaan benur untuk industri pembesaran
lobster di Vietnam mencapai 600 juta ekor per tahun. Dengan asumsi penyelundup
benur mendapat keuntungan Rp 5.000 hingga Rp 50.000 per ekor benur, penyelundupan
itu menghilangkan potensi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang berkisar Rp
3 triliun hingga Rp 30 triliun per tahun. (Yoga)
LRT Jabodebek Beri Tarif Promo dan Tambah Rangkaian
Komitmen, Konsistensi, dan Keberlanjutan
Indonesia bercita-cita menjadi negara dengan pendapatan per kapita yang setara dengan negara maju, sehingga dapat keluar dari Middle Income Trap (MIT). Oleh karena itu, Indonesia perlu mengubah pendekatan dalam membangun masa depan, dari reformatif menjadi transformatif, melalui tiga area perubahan, yakni transformasi ekonomi, sosial, dan tata kelola.Cita-cita tersebut muncul dalam bentuk visi Indonesia Emas 2045 yang melalui sebuah koridor Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 yang telah disepakati sejak pertengahan 2023.Pada area transformasi ekonomi, pertumbuhan ekonomi di kisaran 5% yang saat ini telah digapai, masih perlu ditingkatkan. Dengan skenario transformatif, diperlukan rata-rata pertumbuhan sebesar 6% agar pada 2041 Indonesia dapat keluar MIT. Sementara itu, dengan skenario sangat optimistis, dibutuhkan rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 7% agar pada 2038 Indonesia dapat keluar MIT.Modal utama untuk menjadikan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi yang pantas diperhitungkan, yaitu pertama, Indonesia memiliki jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia dengan angkatan kerja sebesar 146,6 juta.
Modal kedua, yaitu optimalisasi peluang bonus demografi.
Ketiga, letak wilayah Indo ne sia yang strategis sangat menguntungkan dalam perdagang an internasional.
Keempat, melimpahnya sumber daya alam dengan kekayaan cadangan mineral yang sangat besar, di mana Indonesia menjadi peringkat pertama cadangan nikel (21 juta metric ton), bauksit peringkat ke-6 (1 miliar metric ton), tembaga peringkat ke-7 (24 juta metric ton), dan timah peringkat ke-1 (0,8 juta metric ton).
Visi Indonesia Emas 2045 yakni Negara Nusantara Berdaulat, Maju, dan Berkelanjutan hanya akan terwujud melalui kemajuan industri yang selaras dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat Indonesia. Harian ini, sebagai salah satu punggawa pilar demokrasi selain eksekutif, yudikatif, dan legislatif tentu saja mendorong pencapaian Indonesia Emas. Itu menjadi tugas utama.
Peningkatan pendapatan perkapita tentu perlu dikontribusi oleh industri manufaktur. Untuk meraih Visi Misi Indonesia Emas 2045, kontribusi industri manufaktur setidaknya harus mencapai 28% terhadap produk domestik bruto (PDB), dari posisi saat ini sekitar 18%.Industri manufaktur penting mengingat bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Dengan meningkatkan produktivitas dan daya saing industri manufaktur, Indonesia dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
BELANJA ALUTSISTA, Suharso: Tambahan Pinjaman dari Alokasi Periode 2025-2029
Menteri PPN / Kepala BBBN Suharso Monoarfa menegaskan,
secara umum tidak ada perubahan pagu alokasi belanja alat utama sistem persenjataan
atau alutsista yang berasal dari pinjaman luar negeri. Penambahan pagu alokasi
pinjaman 4,25 miliar USD untuk belanja alutsista periode 2020-2024 dari alokasi
tahun 2025-2029. Kenaikan alokasi pinjaman ini juga disebabkan adanya gejolak
harga alutsista secara global. ”Meski alokasi pinjaman luar negeri untuk
alutsista 2020-2024 naik, sampai akhir 2034 total alokasi
pinjamanluarnegeritidak berubah,” kata Suharso di Menara Bappenas, Jakarta,
Kamis (30/11). Sebelumnya, Menkeu Sri Mulyani menuturkan, alokasi pinjaman luar
negeri untuk belanja alutsista tahun 2020-2024 yang awalnya 20,75 miliar USD,
menjadi 25 miliar USD. Namun, pagu alokasi belanja alutsista dari pinjaman luar
negeri 2020-2034 tak berubah, yakni 55 miliar USD (Kompas, 30/11).
Menurut Suharso, penambahan pinjaman 2020-2024 bersumber
dari pagu pinjaman untuk 2025-2029. Pinjaman pengadaan alutsista pada
2020-2034, dialokasikan dalam tiga tahap. Adapun pembayaran pinjaman dilakukan bertahap
dengan rata-rata tenor di atas 10 tahun. ”Jadi, tidak ada kenaikan anggaran
untuk Kemhan secara mendadak. Perubahan alokasi juga dibutuhkan untuk
menyesuaikan dengan situasi dan gejolak harga alutsista global,” katanya. Anggaran
sektor pertahanan keamanan seluruhnya dari APBN yang terdiri dari rupiah murni,
pinjaman dalam negeri, dan pinjaman luar negeri. Penambahan alokasi pinjaman
untuk alutsista, menurut Suharso, akan digunakan untuk penguatan kebutuhan tiga
matra, yaitu darat, laut, dan udara. ”Jadi, Indonesia utang untuk membeli
alutsista, tetap harus mendapatkan keuntungan, yakni penguatan industri
pertahanan dalam negeri,” tambah Suharso. (Yoga)
Produksi Beras Turun akibat Iklim Ekstrem
Anomali iklim berupa El Nino dan La Nina di Samudra Pasifik
serta Dipol Samudra Hindia (Indian Ocean Dipole/IOD) dapat menurunkan produksi
beras nasional. Akibatnya, serapan cadangan beras pemerintah atau CBP produksi
dalam negeri menyusut. El Nino dan IOD positif memicu kekeringan berkepanjangan.
sebaliknya, La Nina dan IOD negatif cenderung
meningkatkan curah hujan di Indonesia. Sawah yang mengalami kekeringan dan
terendam banjir berisiko gagal panen. Pengadaan CBP ikut melorot karena produksi
berkurang. Secara historis, data pengadaan CBP dalam negeri dari Perum Bulog yang
diolah Kompas, selama sebulan hingga Kamis (30/11) menunjukkan penurunan
serapan ketika anomali iklim terjadi. Saat IOD positif pada 2015, pengadaan CBP
dari dalam negeri turun 16,3 % dibandingkan tahun sebelumnya dan berada pada
posisi 1,96 juta ton. Jumlah impor beras oleh Bulog pada 2015 pun me- lonjak
dua kali lipat menjadi 644.357 ton.
Pertengahan 2023, BMKG mengumumkan dampak El Nino dan IOD
positif secara berbarengan. BPS memperkirakan, produksi beras turun 2,05 % dari
31,54 juta ton pada 2022 menjadi 30,9 juta ton. Karena itu, Kepala Bapanas
Arief Prasetyo Adi menyebutkan, angka CBP sebaiknya sebesar 3 juta ton untuk
menstabilkan harga dan pasokan beras di pasar. Per 13 November 2023, pengadaan CBP
dari dalam negeri sekitar 912.500 ton. ”Dalam kondisi darurat, yang penting
barangnya (beras) ada dulu. prioritas
sumbernya dari dalam negeri. Apabila kurang dari kebutuhan, sumber pengadaan
dari luar negeri dengan mekanisme impor secara terukur,” tuturnya di Jakarta,
Senin (13/11). Kompas memproyeksikan, pengadaan CBP dalam negeri tanpa anomali
iklim sebesar 1,08 juta ton pada 2030 dan 643.284 ton pada 2045. Ketika IOD
positif terjadi, pengadaan CBP pada dua tahun tersebut masing- masing melorot
menjadi 854.294 ton dan 447.832 ton. Jika IOD negatif terjadi, pengadaan CBP
dapat berkurang menjadi 954.850 ton pada 2030 dan 535.177 ton (2045). Angka CBP
itu diperoleh dari pemodelan proyeksi produksi beras dalam negeri per tahun. (Yoga)
Maraton Pangan
Maraton gejolak dan pengendalian harga dan stok pangan
tengah terjadi. Kondisi itu akan berlanjut hingga tahun depan. Slogan Bapanas, ”petani
sejahtera, pedagang untung, dan masyarakat tersenyum”, akan terus diuji. Per akhir November 2023, lima dari 11
komoditas pangan pokok yang ditetapkan sebagai cadangan pangan pemerintah harganya
tinggi. Kelima komoditas itu adalah beras, cabai (merah dan rawit), bawang
merah, gula pasir, dan telur ayam ras. Berdasarkan Panel Harga Pangan Bapanas,
harga rata-rata nasional beras medium tertinggi terjadi pada Oktober 2023,
yakni Rp 13.210 per kg. Meskipun mulai turun, harga komoditas itu masih stabil tinggi
pada November 2023, rerata Rp 13.170 per kg. Harga itu masih di atas harga eceren
tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah berdasarkan zonasi, yakni Rp 10.900
per kg-Rp 11.800 per kg. Harga gula pasir yang naik berbarengan dengan beras masih
meroket, tak kunjung turun. Per 30 November 2023, harga rata-rata nasionalnya
tembus Rp 16.500 per kg. Harga gula pasir naik 13,7 % secara tahunan dan 12,12
% di atas harga acuan penjualan (HAP) di tingkat konsumen. Saat harga beras
masih stabil tinggi dan harga gula pasir terus menanjak, harga cabai merah,
cabai rawit, bawang merah, dan telur ayam ras naik. Harga cabai merah dan rawit
naik sejak September 2023, sedang harga bawang merah dan telur ayam ras naik
sejak Oktober 2023.
Kenaikan harga sejumlah pangan pokok itu akan terjadi akibat
sejumlah faktor, yaitu kenaikan biaya produksi dan faktor iklim yang
menyebabkan produksi berkurang. Maraton harga sejumlah pangan pokok tahun ini
akan berlanjut hingga tahun depan yang disebabkan empat faktor musiman, Pertama,
periode Natal dan Tahun Baru. Merujuk hasil survei Kemendag terhadap pelaku
usaha ritel, permintaan barang kebutuhan pokok pada Natal 2023 dan Tahun Baru 2024
diperkirakan naik rata-rata 8,8-22,6 %. Kedua, pemilu. Pemilu pada 2024 yang
akan berlangsung pada Februari akan mendongkrak permintaan dan berujung pada
kenaikan harga dan inflasi. Saat Pemilu 2019 yang berlangsung pada April,
misalnya, tingkat inflasi bulan tersebut 0,44 % secara bulanan dan 2,83 % secara
tahunan. Inflasi terjadi karena kenaikan
harga kelompok pengeluaran bahan makanan, yakni sebesar 1,45 %. Ketiga, pola
musiman kenaikan harga beras. Keempat, periode Ramadhan dan Lebaran. Ramadhan
dan Lebaran pada tahun ini akan berlangsung pada Maret dan April. Memasuki
Ramadhan hingga H+7 Lebaran, harga sejumlah pangan pokok biasanya naik sehingga
berimbas pada kenaikan inflasi. Keempat faktor musiman itu akan terjadi secara
berurutan mulai Januari hingga Agustus 2024. Jika El Nino kembali muncul pada
semester II-2024, kejadian kenaikan harga pangan pada semester II-2023 bisa
terulang. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









