Krisis Produktivitas Tengah Melanda
Sepertinya tidak ada sebuah generasi yang tertimpa tekanan
bertubi-tubi seperti sekarang ini. Mereka mengalami disrupsi digital, pandemi
Covid-19, krisis iklim, tekanan ekonomi, dan, khusus di Indonesia, berhadapan
dengan dinamika politik yang aneh. Respons mereka mulai terasa di dunia kerja.
Persoalan yang muncul adalah tuntutan keluwesan dalam dunia kerja. Silang
pendapat soal ini kemudian memunculkan krisis produktivitas. Nike, Apple,
Goldman Sachs, dan Zoom adalah contoh sejumlah perusahaan yang mewajibkan
karyawannya untuk kembali masuk ke kantor setelah pandemi usai. Raksasa pakaian
olahraga Nike baru-baru ini memberi tahu karyawannya bahwa mulai Januari 2024,
mereka akan diminta untuk datang ke kantor pusat perusahaan empat hari dalam sepekan.
Perusahaan tersebut, dalam sebuah pernyataan, menyatakan bahwa ”ada kekuatan
dan energi yang muncul dari kerja sama secara langsung”. Sebuah dorongan yang valid.
Namun, beberapa karyawan khawatir bahwa kebijakan ini akan mengurangi
fleksibilitas.
Krisis kemudian muncul karena tidak sedikit di antara
manajemen dan karyawan tidak mencapai titik temu. Manajemen menuduh karyawan
ingin tetap kerja santai, sedangkan karyawan melihat bahwa upaya manajemen ke
cara-cara lama sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan sekarang. Mereka juga berargumen
bahwa lebih penting hasil kerja dibanding sekadar wajib masuk ke kantor.
Masalah selanjutnya adalah krisis produktivitas yang menimpa perusahaan.
Sejumlah urusan dan target bisnis perusahaan tidak bisa tercapai karena masalah
ini. Ekonom Mike Walden dari North Carolina State University mengatakan, salah
satu ukuran perekonomian yang kurang dihargai adalah produktivitas pekerja yang
mengukur seberapa banyak yang dicapai seorang pekerja. Pekerja yang lebih
produktif akan lebih bernilai bagi bisnis dan biasanya, dibayar lebih tinggi,
baik dalam bentuk upah maupun tunjangan. Inilah sebabnya mengapa peringatan baru-baru
ini dibunyikan ketika angka-angka Pemerintah AS menunjukkan produktivitas
pekerja menurun.
Pada pertengahan 2021 dan pertengahan 2023, produktivitas
pekerja turun 2 %, yang belum pernah terjadi dalam tujuh dekade terakhir. Kondisi
seperti ini yang menyebabkan perusahaan mencari cara untuk menaikkan
produktivitas pekerja. Salah satu penulis di Fast Company menyebutkan, solusi permasalahan
krisis produktivitas bukan pada meminta
karyawan untuk datang ke kantor semata, melainkan pada apa yang bisa memotivasi
karyawan bisa kerja produktif dan datang ke kantor apabila masalahnya adalah
soal karyawan yang tidak datang ke kantor. Keluwesan di dunia kerja sepertinya
dibutuhkan. Insentif yang cukup mungkin perlu dipertimbangkan. Meski demikian,
perlu upaya lebih. Berbagai cara perlu dicoba. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023