Iklim Ekstrem Bebani Warga Miskin Lima Kali Lipat
Anomali iklim berimbas pada beratnya beban warga miskin
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pengeluaran warga miskin di desa atau di
kota rata-rata naik 82 % pada tahun 2030 hingga 578 % pada 2045. Tim Jurnalisme
Data Harian Kompas selama sebulan hingga Rabu (29/11) memproyeksikan peningkatan pengeluaran warga untuk membeli pangan,
listrik, dan air bersih jika terjadi anomali iklim, seperti El Nino, La Nina,
serta Dipol Samudra Hindia (Indian Ocean Dipole/IOD) positif dan negative hingga
2045. Hasilnya, semua anomali iklim semakin membebani warga miskin. Tahun ini,
BMKG mengumumkan iklim El Nino dan IOD positif terjadi bersamaan sehingga curah
hujan berkurang di sejumlah wilayah Indonesia. Sebelumnya, pada 2022,
diidentifikasi terjadi La Nina dan IOD negatif sehingga curah hujan bertambah.
Hasil perkiraan Kompas, akibat perubahan iklim dari basah
(2022) ke kering (2023), pengeluaran warga miskin kota untuk membeli beras naik
29 % menjadi Rp 135.271 per kapita per bulan. Begitu pun warga miskin desa yang
harus membelanjakan uang Rp 137.449 per kapita per bulan, naik 16 % dari tahun
2022. Selama 22 tahun ke depan, Indonesia akan mengalami anomali iklim yang
makin ekstrem. Hal itu akan berdampak semakin tingginya pengeluaran beras warga
miskin. Jika pada 2045 terjadi El Nino dan IOD positif bersamaan, seperti tahun
2023, pengeluaran bulanan warga miskin kota untuk membeli beras akan naik jadi
Rp 174.725 per kapita. Adapun pengeluaran warga miskin desa Rp 177.118 per
kapita. Apabila terjadi La Nina, belanja bulanan warga miskin desa untuk
membeli beras menjadi Rp 147.844 per kapita. Adapun pengeluaran bulanan warga
miskin kota pada 2045 menjadi Rp 179.303 per kapita.
Kenaikan pengeluaran beras dan air pada tahun ini dialami Kartika
(29), warga Kalibaru, Jakut. Tahun lalu, ia bisa membeli beras Rp 7.000 per
liter, tetapi tahun ini harga beras melonjak menjadi Rp 11.000-Rp 12.000 per
liter. Pengeluaran untuk mengakses air bersih Kartika juga naik dua kali lipat.
Pada 2022, Rp 300.000 per bulan. Namun, tahun ini, saat musim kemarau berkepanjangan,
uang yang dikeluarkan jadi dua kali lipat, yakni Rp 600.000 per bulan. Pengeluaran
warga miskin diambil dari beberapa komoditas yang memberikan andil garis
kemiskinan, seperti beras, gula, air, dan listrik. Data ini merujuk pada
publikasi ”Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia, Survei Sosial Ekonomi
Nasional, BPS Periode September 2011-2022”. Data itu dikalikan dengan sumbangan
(persentase) komoditas beras, listrik, gula, dan air terhadap garis kemiskinan.
(Yoga)
Postingan Terkait
Regulasi Perumahan perlu direformasi
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Aturan Baru Jadi Tantangan Industri
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023