;
Kategori

Sosial, Budaya, dan Demografi

( 10118 )

Hutan Adat dalam Sengkarut Izin dan Iklim

12 Dec 2023
Hutan adat menghadapi kondisi memprihatinkan dari konflik agraria hingga perubahan iklim yang mengganggu ekosistem. Penetapan status hutan adat dan penguatan kelembagaan masyarakat adat jadi solusi mengatasi permasalahan tersebut. Liputan Kompas pada lima wilayah di Pulau Kalimantan dan Sumatera, November-Desember 2023, menemukan hutan di sebagian wilayah adat mengalami dampak deforestasi dan perubahan iklim. Di Kampung Mului, Kabupaten Paser, Kaltim, dua tahun terakhir lebih sering diguyur hujan. Hama walang sangit berkembang pesat dan menyerang padi gunung. ”Ndak bisa kami usir itu walang sangit. Sekarang saja kami sudah beli beras buat jaga-jaga kalau beras dari ladang habis,” kata Sri Edan (38), Senin (20/11). Tahun ini, ia hanya menanam 0,5 hektar padi gunung untuk memenuhi kebutuhan empat anggota keluarga. Oleh karena walang sangit begitu banyak, hasil panen padi anjlok. 

Di Sumut, kebergantungan masyarakat pada tanaman kemenyan terhadang ekspansi monokultur. Produktivitas pohon kemenyan juga anjlok akibat kekeringan dan polusi bahan kimia untuk pengusir hama. ”Padahal, ini sumber kehidupan untuk kami dan anak cucu,” kata Mangapul Samosir (68), Ketua Masyarakat Adat Simenak Henak, Kabupaten Humbang Hasundutan. Penetapan status hutan adat menjadi poin krusial. Wilayah-wilayah adat perlu didukung penegakan hukum hingga peningkatan kapasitas pengelolaan hutannya. Organisasi Madani Berkelanjutan mencatat, sampai 2021, ada 90 juta hektar hutan alam, termasuk yang ada di wilayah adat.

27 juta hektar hutan alam tumpang tindih dengan perizinan eksplorasi hutan, seperti perkebunan sawit, hutan tanaman industri, hingga pertambangan minyak serta gas bumi, mineral, dan batubara. Paling banyak izin pemanfaatan kayu, 14 juta hektar. Hasil studi Aliansi Masyarakat Adat Nusantara AMAN pada enam wilayah adat menunjukkan bahwa nilai ekonomi pengelolaan sumber daya alam lestari mencapai Rp 159,21 miliar per tahun. Adapun nilai ekonomi dari jasa lingkungan menghasilkan Rp 170,77 miliar per tahun. Nilai ekonomi wilayah adat tersebut lebih tinggi dari produk domestik regional bruto (PDRB) di daerah. Ia pun menemukan skema perhutanan sosial di luar hutan hak justru merampas sekitar 250.000 hektar hutan adat. (Yoga)

Saring Sampah Dulang Manfaat

12 Dec 2023

Agus (54) memilah sampah plastik dari cacahan sampah kayu yang digerakkan oleh sabuk pemindah  (conveyor belt) di tempat penyaringan sampah Sungai Ciliwung di TB Simatupang, Jaksel, Senin (11/12). Sampah harus dipilah karena akan diolah menjadi pupuk kompos dan bahan bakar alternatif. Sampah yang dicacah bersumber dari hulu Sungai Ciliwung yang berasal dari Depok dan Bogor. Dalam sehari, ada 8 ton sampah yang terangkut, 70 % di antaranya merupakan sampah organik berupa kayu dan bambu. Ada 40 petugas lain yang turut memilah sampah. Selain sampah plastik, ada beberapa jenis sampah yang tidak boleh ikut dicacah, antara lain sampah besi, baja, paku, dan batang kayu yang terlalu besar.

”Proses pemilahan harus dilakukan seketat mungkin agar sampah yang dikelola bisa berfungsi dengan baik,” kata Agus yang juga koordinator tim pemilah. Pemilahan menjadi bagian penting karena hasilnya dijadikan pupuk kompos dan bahan bakar alternatif (refuse derived fuel/RDF). Hasil pupuk kompos disalurkan ke warga sekitar tempat penyaringan, kelurahan hingga ke kecamatan yang ada di Jakarta, diantaranya Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Pondok Kopi, Jaktim. Pupuk digunakan untuk menanam tanaman di RPTRA ini. Dari pupuk itu tumbuh berbagai tanaman, seperti cabai, terung, anggur, pepaya, dan sejumlah tanaman sayur lain. ”Hasil panen dijual ke masyarakat dengan harga lebih murah dari harga pasar,” kata Kasi Bidang Ekonomi Pembangunan Kelurahan Pondok Kopi Asti Sitorus.  (Yoga)

PLN ELECTRIC RUN 2023, Simbol Kebanggaan Lomba Lari Indonesia

11 Dec 2023

Menyelamatkan Bumi bisa dilakukan dalam banyak cara, bahkan dengan aktivitas sederhana seperti berlari. Kesadaran itu yang ditanamkan pada ribuan peserta PLN Electric Run 2023 di Scientia Square Park, Gading Serpong, Tangerang, Banten, Minggu (10/12). PLN Electric Run jadi simbol kebanggaan lomba lari Indonesia karena merupakan satu dari sedikit ajang lari yang mengombinasikan unsur kesehatan jasmani dengan aksi penyelamatan lingkungan. Selain berlari, peserta juga diajak menyerahkan sampah barang-barang elektronik mi-liknya untuk didaur ulang. PLN Electric Run menyedot antusiasme 5.000 peserta. Menurut hasil penghitungan jarak yang ditempuh para peserta dari tiga kategori lomba, yaitu 5 km, 10 km, dan setengah maraton (21,097 km), mereka setidaknya bisa mengurangi hingga 11.808 kg emisi karbon yang dihasilkan dari kegiatan berkendara.

Melalui cara ini, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) hendak membangun kesadaran betapa banyaknya emisi karbon yang bisa dikurangi jika setiap orang melakukan mobilitas dengan bergerak alih-alih menggunakan kendaraan yang berbahan bakar fosil. Selain menghelat ajang lari ramah lingkungan, sejak tiga tahun lalu PLN juga menghapus 13 gigawatt pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dalam fase perencanaan. Langkah itu diambil demi menghindari emisi karbon sebesar 1,8 miliar ton selama 25 tahun. “PLN sedang berupaya mendinginkan Bumi. Maka, dalam hal ini setiap peserta yang berlari nanti kita takar seberapa banyak mereka bisa mengurangi emisi gas rumah kaca. Inilah kontribusi PLN untuk generasi di masa depan, bukan hanya saat ini,” ujar Dirut PT PLN Darmawan Prasodjo. Dari konversi 11.808 kg emisi karbon yang dapat dikurangi 5.000 pelari itu menghasilkan biaya Rp 150 juta yang akan digunakan PLN untuk pemasangan instalasi listrik baru di wilayah terpencil di Jabar dan Banten yang membutuhkan. Melihat antusiasme  peserta dan dampak penyelamatan Bumi yang ditimbulkan, Darmawan optimistis untuk melanjutkan PLN Electric Run pada tahun-tahun mendatang. (Yoga)

HARI ANTIKORUPSI SEDUNIA, Upaya Pemberantasan Korupsi Dinilai Melemah

11 Dec 2023

Pemberantasan korupsi dinilai melemah. Kondisi ini diperburuk dengan terlibatnya sejumlah pejabat publik dalam kasus korupsi. Yang terbaru, bekas Wamenkumham Edward Omar Sharif Hiariej yang ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka korupsi. Demikian disampaikan oleh Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Agus Sunaryanto dalam diskusi memperingati Hari Anti-Korupsi dan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional dengan tema ”Kemunduran Demokrasi dan Pembajakan Konstitusi” di Jakarta, Minggu (10/12).  Menurut Agus, pemberantasan korupsi sudah mulai meredup pasca revisi UU KPK pada 2019.

”Setelah revisi, jumlah kasus yang ditangani oleh KPK menurun. Termasuk jumlah tersangka menurun. Problematika yang terjadi di internal KPK telah berpengaruh pada akselerasi pemberantasan korupsi oleh KPK. Apalagi, sejumlah pimpinan KPK terlibat dalam pelanggaran kode etik yang semakin menunjukkan integritas yang menurun,” katanya. Ia juga menyoroti vonis hukuman untuk koruptor hanya berkisar tiga sampai empat tahun, tidak cukup untuk memutuskan mata rantai korupsi. ”Bagaimana kalau kita bisa menjelaskan bahwa kejahatan luar biasa, seperti korupsi, jika kondisi rata-rata (hukuman) Cuma tiga tahun. Inilah yang menunjukkan situasi pemberantasan korupsi di Indonesia tidak baik,” ujarnya. Tak hanya hukuman yang berat, perlu ada upaya pemiskinan dan perampasan aset koruptor. Sayangnya, dalam konteks ini, pemerintah dan DPR tak kunjung mengesahkan RUU Perampasan Aset. Padahal, UU itu merupakan mandat dari Konvensi PBB tentang Antikorupsi. (Yoga)

KKP Akan Bangun 12 Proyek Tambak Udang

11 Dec 2023

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan menambah pembangunan tambak udang modern berbasis kawasan di sejumlah wilayah Indonesia. Pada 2024, sejumlah 12 kawasan tambak udang modern akan dibangun dengan tujuan meningkatkan produksi udang nasional. Jubir Menteri KP, Wahyu Muryadi, saat dihubungi, Minggu (10/12) mengatakan, anggaran proyek pembangunan tambak budidaya udang modern terpadu di Waingapu, Sumba Timur, NTT, mencapai 500 juta USD atau Rp 7,8 triliun. Adapun proyek pembangunan tambak udang modern di 11 lokasi lain merupakan bagian dari lima komponen program Bank PembangunanAsia (ADB) untuk meningkatkan produktivitas udang nasional melalui proyek pengembangan infrastruktur budidaya udang (IISAP). Anggarannya mencapai Rp 1,3 triliun. Menteri KP Sakti Wahyu Trenggono dalam Rakornas Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi di Labuan Bajo, NTT, Kamis (7/12), mengatakan, pihaknya menggencarkan pembangunan tambak-tambak udang modern dan ramah lingkungan guna meningkatkan produksi nasional.

Pada 2024, KKP menargetkan produksi udang nasional sebanyak 2 juta ton. Sejalan dengan itu, tambak udang modern terbesar menurut rencana dibangun di Waingapu di lahan seluas 1.800 hektar. Proyek yang katanya akan terintegrasi mulai dari hulu hingga hilir ini akan ditopang pembangunan faktor pendukung. Misalnya, infrastruktur pelabuhan, perumahan, air bersih, dan sistem penerangan. Selain di Waingapu, pembangunan tambak udang modern juga akan dilakukan di 11 lokasi lain, yakni Aceh, Lampung, Jembrana, dan Sulsel. Proses konstruksi direncanakan berjalan mulai triwulan I-2024. Dari data KKP, total pagu alokasi anggaran Ditjen Perikanan Budidaya KKP pada 2024 untuk seluruh program pengelolaan kelautan dan perikanan tercatat Rp 826,6 miliar. ”Untuk itu, saya minta dukungan dari kementerian/lembaga lainnya karena akan ada pertumbuhan ekonomi baru di situ. Ribuan tenaga kerja akan hadir di situ, tentu juga akan butuh perumahan, pelabuhan, air bersih, listrik, dan sebagainya,” ujar Trenggono dalam keterangan pers. (Yoga)

Perusahaan Asuransi Evaluasi Produk ”Unitlink”

11 Dec 2023
Perusahaan asuransi jiwa mengevaluasi produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi atau dikenal dengan istilah unitlink. Langkah ini menindaklanjuti Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 5 Tahun 2022 tentang Produk Asuransi yang Dikaitkan dengan Investasi (PAYDI). Direktur Utama PT Perta Life Insurance Hanindio W Hadi, Minggu (10/12/2023), mengatakan, pihaknya tengah memoratorium penjualan produk unitlink. Presiden Direktur Chubb Life Indonesia Kumaran Chinan mengatakan tidak keberatan menyesuaikan diri dengan regulasi OJK. (Yoga)

Ironi Seumur Hidup ”Menumpang”

11 Dec 2023

Orang Rimba selayaknya hidup di dalam rimba hutan. Namun, kini ruang hidup yang terus beririsan dengan korporasi memaksa mereka ”menumpang” di dalam kebun sawit warga atau perusahaan. Terpal dan kulit kayu menjadi atap dan alas tidur keluarga Ngada (30) di bawah pepohonan sawit, Jumat (24/11). Ngada adalah salah satu anggota komunitas Orang Rimba di Jambi. Dengan ruang hidup yang menyempit, ia terpaksa menumpang tinggal di dalam kebun sawit warga atau perusahaan. Saat hujan menerjang, seperti Jumat itu, Ngada harus melindungi kedua anaknya, meringkuk bersama di atas susunan batang kayu. Kehidupan yang sama juga dijalaninya sejak lahir. Sedari kecil hingga dewasa, ia tinggal di dalam sudung, tempat tinggal darurat dari atap terpal. Lantainya dijalin dari kulit-kulit kayu. Sudung tak memiliki dinding. Di masa lalu, sudung hanya dibangun saat komunitas menjalankan tradisi melangun, yakni meninggalkan tempat lama karena kedukaan. Ngada masih ingat cerita sang ayah, Temenggung Minan, yang merupakan pimpinan rombong di wilayah Pamenang, Merangin, Jambi. Para orangtua masih sempat merasakan nyamannya kehidupan dalam rimba. Membangun pondok kayu di bawah pohon-pohon rindang. Ada satu masa ayahnya membawa seluruh anggota rombong pindah ke wilayah itu. Mereka lalu membangun sudung di kebun sawit yang dikelola warga dusun.

Ngada menjadi generasi baru yang tak pernah mencicipi hidup dalam rimba. Sang ayah, Minan, mengenang pembangunan besar-besaran di wilayah itu pada 1990-an. Dalam sekejap, wilayah itu berubah menjadi jalur lintas yang penuh permukiman, jalan lintas, hamparan kebun, dan pabrik. ”Kami dianggap seperti tidak ada. Tempat tinggal kami tiba-tiba jadi kebun orang,” ujarnya. Di tengah perubahan, Orang Rimba yang hidupnya berkelana menjadi serba sulit. Tradisi mengumpul, berburu, dan meramu juga tak mudah dijalankan. Kerap mereka mengumpulkan buah-buahan di satu tempat, lalu diusir warga. Tak jarang pula diusir petugas kebun perusahaan. ”Dibilangnya kami mencuri,” ucapnya. Padahal, lanjut Minan, di situlah dulunya buah-buahan diwariskan dari zaman nenek moyang mereka. Data Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi menyebut, ruang hidup Orang Rimba seluruhnya 130.000 hektar, hanya sebagian wilayah berhasil dikukuhkan sebagai ruang hidup Orang Rimba, yakni Taman Nasional Bukit Duabelas seluas 60.000 hektar tahun 2000. Wilayah Orang Rimba di luar taman nasional dibangun pesat dalam 30 tahun terakhir. Di luar taman nasional, Orang Rimba kehilangan sumber pangan, sumber obat-obatan, air bersih, hingga tempat-tempat ritual. Mereka pun mencoba bertahan hidup darurat di tengah perkebunan hingga di tepi-tepi jalan trans. Jumlah warga mencapai 1.000 jiwa dalam kondisi ”menumpang” dan kerap terusir, termasuk kelompok Minan. Kehilangan sumber pangan membuat kerap Orang Rimba ditemui menjadi pengemis di jalanan. (Yoga)

MINGGU PAGI DI KAMPUNG JAJANAN OSING KEMIREN

11 Dec 2023

Di sepanjang Gang Lurung Cilik, Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jatim, tak jauh dari balai desa, ibu-ibu penjaja makanan dan pengunjung sama-sama menebar bahagia. Saling sapa dan  tersenyum ramah, berbalut canda. Di kanan-kiri gang, deretan lapak kuliner berjajar rapi di sepanjang gang yang memiliki lebar 2 meter. Dagangan dipajang di atas meja lapak dengan sederhana. Ada yang menuliskan nama jualannya di atas kertas, dan ada yang lebih memilih menjelaskan langsung saat ada pembeli mendekat. Ibu-ibu penjual di pasar jajanan Kampung Osing Kemiren pun melayani pembeli dengan berdandan rapi, mengenakan kebaya warna hitam, dan kain batik sebagai bawahan. Sangat memikat hati. Desa Kemiren adalah salah satu desa wisata adat di Indonesia.

”Silakan, ada pecel pithik (pecel ayam), ada semanggi, ada kue apem gula aren juga,” sambut Raja Onah alias Mak Onah (53), warga Desa Kemiren, yang menjadi salah satu penjual di pasar jajanan Osing, Minggu (19/11). Mak Onah memiliki banyak pelanggan, hampir tiap hari Minggu, pelanggannya menyempatkan datang dari pelosok Banyuwangi atau bahkan dari luar kota. Salah satu pengunjung, Didik Enggot (60), warga yang rumahnya di selatan Banyuwangi, daerah Bangorejo, berboncengan motor dengan istrinya sejauh 50 km, untuk menikmati kuliner Osing di Desa Kemiren. Didik bercerita bahwa dia sudah sering memesan pecel pithik pada Mak Onah. Selain harga terjangkau, masakan Mak Onah dinilainya cocok di lidah. Sebelum pulang, Didik meminta jajanan tradisional seperti apem gula aren, cucur, dan serabi untuk dibungkus sebagai buah tangan untuk keluarganya di rumah. Setidaknya Didik menghabiskan uang sekitar Rp 100.000. Belum dia membeli es dan camilan di lapak lain.

Dedi Wahyu Hernanda (30), pengarah pasar Kampung Osing, bercerita bahwa pasar tersebut mulai muncul tahun 2018, diinisiasi Kementerian Pariwisata. ”Awalnya hanya berjualan makanan, kemudian tahun 2019 kami tambah dengan spot hiburan atau budaya seperti angklung paglak dan lesung, serta yang instagramable sehingga pengunjung lebih bersemangat datang,” kata Dedi. Selain orang berjualan, memang ada sekelompok pemusik memainkan alat musik lesung untuk menghibur para pengunjung di pasar jajanan tersebut. Di pasar jajanan kampong Osing, setidaknya ada 20 penjual jajanan dan 23 penjual nasi. Pendapatan total dalam sehari (selama lebih kurang 4 jam) bisa mencapai sekitar Rp 70 juta. Dedi mengatakan, pasar tersebut sebenarnya dibuat untuk memberikan pemasukan tambahan bagi warga Kemiren yang sehari hari bertani. Namun, lama-lama pasar itu justru menjadi pasar wisata. Pedagang jajanan dibebani pajak Rp 5.000 dan pedagang nasi terkena pajak Rp 10.000 per jualan. Dari uang pajak itu, dalam setahun, kami akan sumbangkan 50 % untuk Bumdes (badan usaha milik desa),” kata Dedi. Sisanya, dana kas akan digunakan untuk operasional pasar tersebut. (Yoga)

Tantangan Globalisasi di Tahun 2024

11 Dec 2023
Menjelang akhir tahun 2023 yang diwarani oleh berbagai tantangan, sebuah kajian menarik  mengungkapkan bahwa mata-rantai pasok dunia  (global value chains) ternyata tetap berkembang di tahun 2022 walaupun terjadi  disrupsi karena efek lanjutan dari perang dagang, Covid-19 dan perang di Ukraina. Namun, disrupsi yang terjadi  juga menyingkap kerawanan mata rantai-pasok dunia selama ini, yakni konsentrasi  maupun ketergantungan yang berlebihan pada satu negara  tau  kelompok negara atas produk-produk tertentu, yang belakangan di perparah ketegangan geo politik di beberapa kawasan. Hal diatas diungkap oleh kajian kolaboratif antara Bank Perdagangan Luar Negeri Jepang, Universitas Bisnis dan Ekonomi Internasional Beijing dan Organisasi Perdagangan Dunia yang dirilis pertengahan November lalu. (Yetede)  

Kereta Cepat Whoosh Telah Layani 718 Ribu Penumpang

11 Dec 2023
JAKARTA,ID-PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mencatat, sejak dioperasikan pada Oktober 2023, jumlah penumpang kereta cepat Whoosh telah mencapai 718.507 orang Desember 2023. Rinciannya, 14.399 orang merupakan penumpang premium economy class. General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa dalam keterangannya di jakarta, Minggu, (10/12/2023) mengatakan, untuk melayani peuluhan ribu penumpang setiap hari, KCIC terus menghadirkan berbagai fasilitas yang nyaman di stasiun Halim, Padalarang, dan Tegalluar. "Kenyamanan, keamanan, dan efisiensi perjalanan menjadi hal yang paling dicari penumpang. Untuk itu, fasilitas yang disediakan disetiap stasiun Kereta Cepat Whoosh merupakan fasilitas yang kami rancang agar mampu memenuhi kebutuhan tersebut," ucap Eva. (Yetede)