;

Ironi Seumur Hidup ”Menumpang”

Ironi Seumur Hidup ”Menumpang”

Orang Rimba selayaknya hidup di dalam rimba hutan. Namun, kini ruang hidup yang terus beririsan dengan korporasi memaksa mereka ”menumpang” di dalam kebun sawit warga atau perusahaan. Terpal dan kulit kayu menjadi atap dan alas tidur keluarga Ngada (30) di bawah pepohonan sawit, Jumat (24/11). Ngada adalah salah satu anggota komunitas Orang Rimba di Jambi. Dengan ruang hidup yang menyempit, ia terpaksa menumpang tinggal di dalam kebun sawit warga atau perusahaan. Saat hujan menerjang, seperti Jumat itu, Ngada harus melindungi kedua anaknya, meringkuk bersama di atas susunan batang kayu. Kehidupan yang sama juga dijalaninya sejak lahir. Sedari kecil hingga dewasa, ia tinggal di dalam sudung, tempat tinggal darurat dari atap terpal. Lantainya dijalin dari kulit-kulit kayu. Sudung tak memiliki dinding. Di masa lalu, sudung hanya dibangun saat komunitas menjalankan tradisi melangun, yakni meninggalkan tempat lama karena kedukaan. Ngada masih ingat cerita sang ayah, Temenggung Minan, yang merupakan pimpinan rombong di wilayah Pamenang, Merangin, Jambi. Para orangtua masih sempat merasakan nyamannya kehidupan dalam rimba. Membangun pondok kayu di bawah pohon-pohon rindang. Ada satu masa ayahnya membawa seluruh anggota rombong pindah ke wilayah itu. Mereka lalu membangun sudung di kebun sawit yang dikelola warga dusun.

Ngada menjadi generasi baru yang tak pernah mencicipi hidup dalam rimba. Sang ayah, Minan, mengenang pembangunan besar-besaran di wilayah itu pada 1990-an. Dalam sekejap, wilayah itu berubah menjadi jalur lintas yang penuh permukiman, jalan lintas, hamparan kebun, dan pabrik. ”Kami dianggap seperti tidak ada. Tempat tinggal kami tiba-tiba jadi kebun orang,” ujarnya. Di tengah perubahan, Orang Rimba yang hidupnya berkelana menjadi serba sulit. Tradisi mengumpul, berburu, dan meramu juga tak mudah dijalankan. Kerap mereka mengumpulkan buah-buahan di satu tempat, lalu diusir warga. Tak jarang pula diusir petugas kebun perusahaan. ”Dibilangnya kami mencuri,” ucapnya. Padahal, lanjut Minan, di situlah dulunya buah-buahan diwariskan dari zaman nenek moyang mereka. Data Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi menyebut, ruang hidup Orang Rimba seluruhnya 130.000 hektar, hanya sebagian wilayah berhasil dikukuhkan sebagai ruang hidup Orang Rimba, yakni Taman Nasional Bukit Duabelas seluas 60.000 hektar tahun 2000. Wilayah Orang Rimba di luar taman nasional dibangun pesat dalam 30 tahun terakhir. Di luar taman nasional, Orang Rimba kehilangan sumber pangan, sumber obat-obatan, air bersih, hingga tempat-tempat ritual. Mereka pun mencoba bertahan hidup darurat di tengah perkebunan hingga di tepi-tepi jalan trans. Jumlah warga mencapai 1.000 jiwa dalam kondisi ”menumpang” dan kerap terusir, termasuk kelompok Minan. Kehilangan sumber pangan membuat kerap Orang Rimba ditemui menjadi pengemis di jalanan. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :