Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10113 )”Pesta Rasa” di Ujung Lidah Bersama RujakNatsepa dan Ikan Asar Pantai Maluku
Pantai Natsepa berada di kawasan Suli, Kabupaten Maluku
Tengah, terkenal sebagai tujuan wisata. Sepanjang jalan dekat pantai ini,
berdiri puluhan kios, menawarkan buah dan kudapan rujak Natsepa yang jadi
kudapan wajib dinikmati di pinggir pantai. Rujak natsepa berisi potongan nanas,
mangga, jambu diguyur saus kacang yang dicampur gula aren, tapi ada yang beda
dengan rujak ini. Pada Rabu (20/12) Ellen Sitanala (42), salah satu penjual,
mengatakan, pembeda utama rujak asal Maluku ini adalah buah tomi-tomi (Flacourtia
inermis) atau lobi-lobi. Rasa kecut dari tomi-tomi menambah kekayaaan rasa
rujak natsepa. Rasa manis mangga ditambah rasa asam tomi-tomi bikin mata ”merem
melek”. Rujak Natsepa juga menggunakan pala dan cengkeh di dalam sambal. Ivona
Tanlain (26), pengunjung Pantai Natsepa asal Langgur, Maluku Tenggara,
menjelaskan, rujak natsepa menjadi salah satu kesukaanya karena berbeda dengan
rujak lain yang hanya mengandalkan manis dan pedas saja. Harganya terjangkau di
kisaran Rp 20.000-Rp 30.000 per porsi. Ke Pantai Natsepa, pelancong bisa
menggunakan transportasi umum atau daring, dari Bandara Internasional Pattimura
dapat ditempuh dalam 20-30 menit.
Selain mencicipi kudapan, Ikan asar jadi favorit di Ambon.
Makanan berbahan dasar ikan cakalang atau tuna ini merupakan ikan yang diasap hingga
kering di atas kayu bakar selama 2-3 jam. Lamanya proses pengasapan untuk
menurunkan kadar air sehingga tekstur ikan menjadi kering tetapi tetap empuk di
bagian dalam. Penjual ikan asar, Stela Sopacua (45), menyebut, kadar air yang
hilang dari ikan membuat makanan ini bisa bertahan 3-4 hari atau bisa lebih
lama apabila disimpan di lemari pendingin. Makanan ini lezat disantap langsung.
Pengunjung juga bisa hanya membeli sambal atau bumbu lainnya. ”Dimakan langsung
sudah enak, tanpa bahan pengawet,” ucap Stela yang berjualan di kawasan Pusat
Oleh-oleh Galala, Ambon, Maluku. Harga ikan asar bervariasi sesuai ukuran dan harga
beli ikan di pasar. Jika ikan sedang murah, satu ikan Asar dijual mulai Rp 90.000
hingga Rp 100.000 per porsi, atau Rp 30.000 per potong. Wisatawan bisa membeli ikan
asar di Pusat Oleh-oleh Galala, Ambon, ataupun di kawasan Batu Meja, Ambon.
Jarak tempuh dari tengah Kota Ambon ke dua lokasi ini hanya 5-10 menit. Ikan
ini jadi oleh-oleh karena bisa bertahan beberapa hari. (Yoga)
”Sek-sek”... Kami Hidup dan Berguru dari Tenun
Tenun tidak hanya menopang ekonomi, tetapi juga jadi
pegangan hidup warga Pringgasela Selatan. Pada motif indahnya tersirat pesan
kehidupan yang berharga. Tonggak budaya itu terus diwariskan secara
turun-temurun dan dijaga bersama-sama. Kalimat ”Mun Ndek Ta Belajar Lekan
Nengka, Punah Tenun Ta” (jika tidak belajar dari sekarang, punah tenun kita)
tertulis pada spanduk di dinding rumah di Dusun Gubuk Lauk, Desa Pringgasela
Selatan, Kabupaten Lombok Timur, NTB, Minggu (17/12). Di bawahnya, Halwa (10) dan
belasan anak perempuan antusias belajar menenun. Suara ”sek-sek” yang terdengar
saat Halwa mengentakkan belida bercampur riuh suara anak-anak. Ada yang
berdiskusi dengan teman, bertanya kepada guru, hingga mencoba berbagai proses
menenun. Para guru yang juga petenun senior dengan sabar mendampingi, jika ada
kesalahan, mereka memberi solusi dan menunjukkan teknik yang benar. Sekolah
tenun itu diinisiasi oleh Kelompok Nina Penenun (perempuan petenun) sejak 2017.
”Tak mungkin orang-orang tua yang umurnya sudah 60-70 tahun
terus kita harapkan untuk menenun. Jadi, kalau bukan dari kita yang regenerasi,
tenun ini tidak ada yang meneruskan, pasti akan punah,” kata Sri Hartini (45),
Kepala Sekolah sekaligus Ketua Kelompok Nina Penenun Pringgasela Selatan. Saat ini,
sudah ada 25 siswa di Sekolah Tenun Kelompok Nina Penenun. Mereka adalah
anak-anak Pringgasela Selatan yang rata-rata masih duduk di bangku SD hingga
SMP. Sekolah tenun berlangsung dua kali seminggu dari pukul 14.00 sampai 17.00.
Saat ini, ada 700 petenun di desa yang berada 40 km timur Mataram, ibu kota
NTB, itu. ”Saya sedang menenun ragi (motif) Bayanan,” kata Raehan (48), warga
Gubuk Lauk, Pringgasela Selatan, Selasa siang.
Selain menenun sendiri, petenun di Pringgasela Selatan mulai
tergabung dalam Kelompok Nina Penenun yang dibentuk sejak 2017. Berkat kelompok
ini, mereka semakin mendapat akses ke pasar sehingga produk mereka semakin
bernilai. Sebelumnya, mereka harus melepas tenunnya dengan harga murah karena
kebutuhan hidup. Bahkan sampai terjerat rentenir. Harga tenun bisa jatuh hingga
Rp 150.000 per lembar. Kini, tenun mereka bernilai Rp 400.000 hingga jutaan
rupiah per lembar. Pesan kehidupan yang tergambar di motif tenun Pringgasela
Selatan adalah warisan berharga yang harus dijaga, sama seperti menjaga tenun
itu sendiri. Ini adalah ikhtiar agar tenun Pringgasela Selatan yang menjadi
sumber ekonomi dan pegangan hidup tidak punah. Dari tenun, mereka hidup dan
berguru. (Yoga)
Bersama Menjaga Perayaan Natal
Berbagai organisasi kemasyarakatan dilibatkan menjaga
keamanan perayaan Natal. Kolaborasi diperkuat untuk kenyamanan dan perayaan
Natal 2023. Di Gereja Katedral, persiapan perayaan Natal mendekati final, Sabtu
(23/12). Ruang utama gereja telah disterilkan. Pengunjung atau turis tidak
diizinkan masuk gereja. Aparat gabungan dari Mabes Polri, Polres Metro Jakpus,
dan Polsek Sawah Besar mulai berjaga. Dua anjing pelacak dikerahkan menyisir kompleks
Gereja Katedral dan sekitarnya. Posko pengamanan Natal dibangun tepat di depan gerbang
utama Masjid Istiqlal. Titik terluar pengamanan berada di jalan-jalan utama sekitar
Gereja Katedral. Aparat kepolisian bersiaga bersama TNI dibantu petugas Satpol
PP DKI Jakarta. Pengamanan Gereja Katedral juga melibatkan pengurus Masjid
Istiqlal. Kepala Bidang Ri’ayah Masjid Istiqlal Ismail Cawidu menuturkan, lahan
parkir Masjid Istiqlal juga bakal disiapkan untuk menampung kendaraan jemaat gereja.
Selanjutnya, jemaat akan dibantu oleh petugas keamanan gabungan untuk
menyeberang jalan. Setidaknya 700 mobil bisa ditampung.
Tidak hanya pengurus masjid, Banser Nahdlatul Ulama (NU)
hingga pemuda karang taruna pun ikut menjaga. Kepala Satuan Koordinasi Nasional
Banser NU Hasan Basri Sagala mengatakan, Banser menyiapkan 10.000 personel
untuk mengamankan tempat-tempat ibadah. Ia yakin jumlah itu bakal bertambah. mengamati
potensi gangguan sekaligus berkoordinasi dengan polisi, TNI, dan organisasi kemasyarakatan
(ormas) lain. ”Kalau terdapat kemungkinan pertikaian atau kerusuhan, tentu jadi
pertimbanganuntuk menurunkan personel,” kata Hasan. Menurut Ketua Umum Karang
Taruna Nasional Didik Mukrianto, para personel karang taruna di Indonesia dilibatkan
dalam pengamanan perayaan Natal di semua daerah di Indonesia. Dengan kesadarannya,
lanjut Didik, karang taruna selalu hadir dan berpartisipasi untuk menjaga
kelancaran ibadah.
Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI)
Pendeta Gomar Gultom mengungkapkan, gambaran toleransi dalam mengamankan Natal
merupakan keindahan yang berlanjut. Hal itu sesuai dengan tema Natal 2023,
yakni ”Kemuliaan bagi Allah dan Damai Sejahtera di Bumi”. Menurut Gomar,
partisipasi sejumlah ormas dalam perayaan Natal merupakan wujud toleransi yang
nyata. ”Peristiwa Natal sebenarnya mengajarkan kepada kita untuk menjalin dan merekatkan
hubungan dengan orang lain, termasuk juga dengan umat beragama lain,” ucap Gomar.
Di Gereja Katedral, perayaan misa malam Natal 2023 akan diselenggarakan pada
Minggu (24/12) dan digelar tiga sesi, yaitu pukul 16.30, 19.00, dan 21.30. Jemaat
bisa mengikuti misa di Gereja Katedral dalam dua bagian, yaitu mengikuti misa di
dalam gedung utama gereja serta di luar gedung. Umat pun harus registrasi
secara daring untuk duduk di dalam gedung gereja. (Yoga)
Cawapres Minim Terobosan Naikkan Penerimaan Negara
Ketiga cawapres beradu gagasan dan memaparkan janji-janji program
pembangunan dalam debat presidensial kedua yang digelar Jumat (22/12) malam.
Akan tetapi, belum ada yang mampu menawarkan terobosan strategifiskal untuk meningkatkan
penerimaan negara guna mendanai dan merealisasikan berbagai kebijakan itu. Secara
umum, debat presidensial kedua yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC),
Senayan, Jakarta, itu mengangkat delapan tema, yaitu ekonomi kerakyatan,
ekonomi digital, keuangan, investasi dan pajak, perdagangan, pengelolaan
APBN/APBD, infrastruktur, dan perkotaan. Menurut Dekan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis UI Teguh Dartanto, Jumat, dari berbagai isu yang mengemuka, belum ada
cawapres yang mampu menjabarkan strategi detail dan terobosan untuk membiayai janji-janji
program dan kebijakan yang mereka tawarkan. Taktik mengerek penerimaan negara
muncul beberapa kali dalam debat, tetapi tidak dielaborasi secara lebih rinci.
”Belum ada kandidat yang bisa menjelaskan secara clear dan
strategis cara membiayai program dan kebijakan mereka. Padahal, semua program
dan kebijakan pembangunan yang mereka janjikan itu perlu didukung dengan
pendanaan yang memadai,” kataTeguh. Jika diperhatikan,hampir semua pertanyaan
yang dirumuskan oleh tim panelis sebenarnya mengungkit tentang strategi fiskal
yang bakal ditempuh kandidat untuk mengatasi bermacam-macam masalah yang ada di
masyarakat. Misalnya, pada sesi kedua dan ketiga mengenai strategi pembiayaan
untuk pembangunan infrastruktur fisik, sosial, dan pengembangan SDM. Ada pula
pertanyaan tentang strategi fiskal untuk mengatasi problem kompleks di kawasan
perkotaan, seperti isu kawasan kumuh, sampah, dan transportasi publik. Cawapres
nomor urut 2, Gibran Rakabuming Raka, menjawab dirinya dan Prabowo Subianto
juga menargetkan kenaikan rasio pajak (tax ratio) demi mengerek penerimaan negara.
Namun, Gibran tidak menjelaskan secara detail bagaimana cara menaikkan rasio pajak
tersebut.
Di sisi lain, cawapres nomor urut 1, Muhaimin Iskandar, juga
tidak mengelaborasi strategi fiskal untuk mengatasi masalah kompleks di
perkotaan. Ia hanya menyebutkan bahwa dalam mengelola fiskal, pemerintah perlu
pintar-pintar menerapkan skala prioritas. ”Kita juga perlu melibatkan investor swasta
dan memberikan mereka kepercayaan,” ujar Muhaimin. Jawaban-jawaban ”populis”
untuk menaikkan penerimaan negara juga terlontar. Misalnya, ketika Muhaimin
menyatakan ingin menaikkan tarif pajak orang kaya dan menurunkan tariff pajak
kelas menengah, tanpa mengelaborasinya lebih lanjut. Adapun cawapres nomor urut
3, Mahfud MD, nyaris tidak menjelaskan strateginya untuk mengerek penerimaan
negara. Ia lebih banyak bertanya tentang isu tersebut ke lawan debatnya serta lebih
banyak fokus pada isu korupsi yang menghambat pengelolaan keuangan negara dan
menghalangi masuknya investasi ke Indonesia. (Yoga)
Racikan Kekinian demi Eksistensi Jamu
Beragam inovasi lahir dari para produsen jamu di Kabupaten
Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lewat kreativitas, mereka membuat jamu
tradisional tetap relevan dengan zaman. Untuk mempertahankan eksistensi jamu
tradisional, para pelaku usaha jamu di Desa Bokoharjo, Sleman, menginisiasi pemasaran
secara daring dan meracik jamu kekinian yang menyasar anak muda. Inovasi antara
lain dilakukan oleh Sri Slamet (68) yang merintis usaha jamu Bu Slamet sejak
tahun 1971. Mengelola usaha jamu bersama lima anaknya, perempuan itu
memanfaatkan momentum pandemi Covid-19 untuk mengembangkan usahanya. Sejak tiga
tahun lalu, ia membuat produk baru yang disebut empon-empon anti-corona. Produk itu laku keras
karena banyak warga yang mengonsumsi minuman berbahan empon-empon untuk menjaga
kesehatan saat pandemi. Bahkan, pembelinya juga dari luar negeri.
”Kami pun terkejut ketika menerima permintaan racikan empon-empon
anti-corona dari Korea dan Malaysia,” ujar Drajat Wiranto (49), anak tertua Bu
Slamet, ditemui di sela-sela Festival Sewu Bakul Jamu di kompleks Candi Banyunibo,
Desa Bokoharjo, Selasa (19/12). Inovasi juga dilakukan dalam proses produksi
lebih dari 20 jenis jamu, salah satunya penggunaan mesin penggiling mekanis
berbahan batu sejak lima tahun silam. Mesin itu dibuat atas saran sejumlah mahasiswa
yang menjalankan KKN di desanya. Meski begitu, Bu Slamet juga masih berjualan
jamu di Pasar Prambanan. Bahkan, tidak jarang Bu Slamet diminta pembeli untuk
mencekoki jamu ke anak yang susah makan. Produsen jamu lain di Desa Bokoharjo,
Sri Sudaryanti (56), juga berinovasi dengan memproduksi jamu menggunakan mesin
penggiling untuk menggiling rempah menjadi serat halus. Namun, untuk proses
selanjutnya, masih secara tradisional, memakai wajan besar yang dipanaskan di
atas tungku kayu bakar. ”Proses memasak dilakukan manual karena ada saatnya
racikan rempah harus dimasak dengan api kecil dan adakalanya menggunakan api besar,
tidak bisa tergantikan mesin,” katanya. Sejak tahun 2002 Sri memproduksi jamu
berupa empon-empon bubuk yang siap dikonsumsi dengan diseduh air panas. Hingga
kini dia memproduksi tujuh jenis empon-empon bubuk, misalnya jahe, temulawak,
dan kunir putih. (Yoga)
Warga Kendari Sulit Mendapatkan Pertalite
Polemik di Kampung Susun Bayam
Sebagian keluarga yang digusur dari Kampung Bayam memilih
bertahan di Kampung Susun Bayam, Jakarta International Stadium (JIS), Jakut. Mereka
kukuh menghuni kampung susun sebagaimana janji ketika penggusuran. Hingga kini
belum ada titik temu antara sebagian warga dan PT Jakarta Propertindo (Perseroda)
sebagai pengelola. Situasi ini berpotensi jadi masalah hukum. Spanduk berisi
protes warga terpampang di salah satu sisi Kampung Susun Bayam, Selasa (19/12)
siang. Mereka mempertanyakan mengapa tidak kunjung menjadi penghuni kampung
susun yang sah. Mereka juga meminta intimidasi dihentikan. Siang itu, Junaidi
(48), salah satu warga, memperlihatkan kamar berukuran 8 x 7 meter yang dia
tempati di Kampung Susun Bayam, terdiri dari ruang tamu, dua kamar, dapur, dan kamar
mandi. Dia menempati kamar itu sejak 29 November 2023 kendati belum mendapat
kunci. ”Sebenarnya, kami dijanjikan untuk bisa menempati rumah susun ini pada 1
Januari 2023. Namun, sampai sekarang, kami tidak boleh menempatinya tanpa
alasan yang jelas,” kata Junaidi.
Junaidi tidak sendiri, ada 44 keluarga dengan jumlah 100
orang yang tinggal di lantai dua Kampung Susun Bayam di Tanjung Priok, Jakut.
Sebanyak 60 keluarga lain masih tinggal di hunian sementara dan 35 keluarga sudah
direlokasi ke Rusun Nagrak di Cilincing, Jakut. Keluarga yang bertahan di lantai
dua Kampung Susun Bayam itu tinggal dengan fasilitas seadanya. Tidak ada listrik
ataupun air yang memadai. Untuk memenuhi kebutuhan listrik, warga menggunakan
genset, dengan solar Rp 80.000 per hari sebagai bahan bakar, dari uang
patungan. Untuk air, warga memanfaatkan keran yang masih berfungsi. Warga memanfaatkan
lahan di sekitar Kampung Susun Bayam untuk ditanami kacang, bayam, kangkung,
dan timun suri. ”Kami tanami itu untuk persiapan puasa (Ramadhan mendatang),”
kata Cecep, warga lain yang bertahan di Kampung Susun Bayam. Bertani sudah jadi
aktivitas Cecep dan warga sebelum penggusuran. Mereka menggantungkan hidup dari
sayur-mayur dan budidaya ikan dengan pendapatan Rp 3 juta-Rp 5 juta per bulan. (Yoga)
”Financial Check Up” di Akhir Tahun
Sebelum tahun 2023 berakhir, perlu dilakukan financial check
up atau pengecekan kondisi keuangan pribadi untuk melihat efektivitas strategi
pengelolaan keuangan yang telah dilakukan dan posisi aset serta utang yang
dimiliki untuk menyusun strategi perencanaan keuangan di tahun 2024, termasuk
mengubah portofolio investasi jika dibutuhkan. Beberapa hal yang perlu
perhatikan : 1. Menetapkan tujuan keuangan untuk menentukan strategi pengelolaan
keuangan yang akan digunakan, jangka waktu, dan sebagai tolok ukur efektivitas
langkah yang dilakukan.
2. Cek arus kas, pemasukan dan pengeluaran di tahun berjalan
untuk menilai kembali apakah penggunaan dana di tahun berjalan sudah sesuai tujuan
investasi atau terjadi pengeluaran yang tidak tepat sasaran. 3. Evaluasi utang,
termasuk evaluasi jenis utang, dana yang dibutuhkan, dan jangka waktu
pelunasan. Pembayaran utang, khususnya utang berbunga tinggi akan mengurangi
beban keuangan di masa mendatang. 4. Pastikan memiliki dana darurat dan
asuransi. 5. Evaluasi aset dan instrumen investasi untuk mengetahui total
kekayaan yang dimiliki. (Yoga)
MEWAKILI KASIH NATAL LEWAT ”GIFT BOX”
Di Manado, Natal tak hanya dirayakan pada 25 Desember,
tetapi juga sepanjang bulan itu. Jalanan yang semarak oleh kelap-kelip lampu
hias mendadak macet setiap hari, orang dari segala penjuru tumpah ruah untuk belanja,
dari baju, kue, hingga kado natal. Bersama ingar-bingar itu tumbuh tren memberi
semacam hamper atau kotak berisi aneka hadiah untuk saudara, teman, atau
kekasih. Peluang pasar ini segera ditangkap para pengusaha mikro yang merintis
bisnis kreatifnya dari rumah atau bahkan indekos. Ketiadaan toko fisik tak
menjadi masalah selama ada media sosial. Christy Natalia (29) salah satunya. Empat
tahun lalu, ia mulai merintis usaha cendera mata bernama Unboxingme.id. Produk
utamanya adalah plakat akrilik yang kian diminati sebagai bentuk ucapan selamat
atas ulang tahun, kelulusan, hingga kelanggengan hubungan asmara orang-orang
terkasih. Menariknya, bisnis tersebut dijalankan dari kamar kosnya di bilangan
Sario Kotabaru. Etalase Unboxingme.id sepenuhnya digital dalam bentuk akun
Instagram, Facebook, Tiktok, dan Whatsapp Business.
Siapa pun dapat melihat produknya langsung dari genggaman
tangan. ”Memang, selama ini banyak yang tanya, ’Ada tokonya enggak?’ Soalnya,
mereka mau lihat langsung. Tapi, memang enggak ada. Biasanya, saya langsung arahkan
ke Instagram karena semua (produk) ada fotonya,” kata lulusan Ilmu Manajemen Universitas
Klabat, Minahasa Utara, itu. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Desember ini
Christy membuka pesanan kotak hadiah (gift box) bertema Natal. Dengan harga
promosi Rp 95.000, setiap kotak umumnya berisi empat barang, misalnya boneka
beruang bertopi sinterklas, mug bertuliskan ”Merry Christmas”, serta dua
stoples kue kering. Ada pula paket yang berisi plakat akrilik bertuliskan ”Merry
Christmas” dan nama penerima, satu stoples kukis, sebuah termos, dan sekotak
alat makan. ”Tapi, bisa juga sesuai request (permintaan) customer (pelanggan).
Kalau mau tambah satu barang, harga mengikuti,” kata Christy. Dua pekan menjelang
25 Desember, pesanan datang bertubi-tubi. ”Dimasa biasa, (omzet) Rp 5 juta-Rp
10 juta per bulan. Kalau sekarang (Natal), sih, pasti lumayan, kisaran Rp 25
juta per bulan,” ujarnya. (Yoga)
PERSOALAN GURU, Capres dan Cawapres Belum Mampu Beri Solusi
Persoalan guru di Indonesia meliputi berbagai aspek, seperti
kesejahteraan guru yang sangat rendah, kompetensi guru yang masih rendah,
rekrutmen dan distribusi guru yang masih amburadul, perlindungan guru yang
minim, serta buruknya pengembangan karier guru. Sayangnya, visi dan misi para
calon presiden dan calon wakil presiden dinilai belum mampu memberi solusi
komprehensif terhadap ragam persoalan pendidikan dan guru di Tanah Air. ”Isi
visi-misi dan program para capres dan
cawapres masih bersifat populis serta belum menyentuh akar masalah
pendidikan dan guru,” kata Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru
(P2G) Satriwan Salim, Jumat (22/12) di Jakarta.
Iman Zanatul Haeri, Kepala Bidang Advokasi Guru P2G,
menyebutkan, dari kajian P2G, pasangan calon nomor urut 1, Anies Baswedan dan
Muhaimin Iskandar (Amin), ingin menuntaskan rekrutmen guru ASN, namun, solusi
yang ditawarkan pasangan ini masih mengambang. P2G ingin kepastian agar
pasangan Amin berkomitmen membuka kembali rekrutmen guru PNS, bukan PPPK
(pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja) saja. Slogan ”perubahan” yang
diusung pasangan ini justru tidak menawarkan perubahan sama sekali dalam hal
rekrutmen guru, kesejahteraan, peningkatan kompetensi, ataupun rekrutmen dan
distribusi. Pasangan calon nomor urut 2, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming
Raka, berjanji menambah tunjangan guru sebesar Rp 2 juta per bulan, yang akan
menyedot APBN Rp 79,2 triliun per tahun.
Menurut Iman, Prabowo-Gibran tidak memberi solusi secara
komprehensif terkait lima isu fundamental terkait guru. Sementara, pasangan calon
nomor urut 3, Ganjar Pranowo dan Mahfud MD, diapresiasi karena rencana mereka
menetapkan gaji guru Rp 20 juta per bulan. Namun, dalam kalkulasi riil P2G, wacana
ini tidak realistis karena Rp 20 juta jika dikalikan 3,3 juta guru setara Rp 66
triliun per bulan. Negara harus menyiapkan anggaran besar Rp 792 triliun (belum
ditambah gaji ke-13 dan tunjangan hari raya per tahun) khusus untuk gaji guru.
Hal ini melampaui alokasi 20 % APBN untuk fungsi pendidikan. ”P2G menilai janji
ketiga pasangan capres-cawapres masih solusi yang parsial dan bersifat populis
semata. Belum memandang dan menawarkan solusi komprehensif sebagai satu sistem pendidikan
nasional,” paparnya. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









