Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10113 )Permintaan Pekerja Teknologi Masih Tinggi
KONFLIK LAHAN DI MAIWA RAMPAS KEHIDUPAN WARGA
Konflik lahan di Kecamatan Maiwa, Kabupaten Enrekang, Sulsel,
telah berlangsung dua dekade. Warga berusaha mempertahankan ruang hidup dan penghidupannya,
sementara di sisi lain ada klaim pengelolaan dari BUMN. Kelindan persoalan menjadi
runyam karena perubahan sikap pemda setempat. Ketidakpastian akan ruang hidup
dan penghidupan itu dialami Ruding (80) warga Desa Batu Mila, Kecamatan Maiwa,
Kabupaten Enrekang, yang separuh hidupnya selalu berhadapan dengan konflik dan
ancaman bencana. ”Saya kembali ke Enrekang tahun 1999, karena program Bupati Enrekang
untuk warga tak mampu menggarap lahan yang ditelantarkan PTPN (PT Perkebunan Nusantara)
di Maiwa dan saya ikut. Ternyata di sini pun berkonflik,” katanya saat ditemui di
Desa Batu Mila, Selasa (9/1). Dia tak bisa melupakan peristiwa tahun 2022 ketika
buldoser PTPN XIV dibantu pasukan Brimob meratakan kebunnya. Seluruh kebun yang
ditanami durian, rambutan, merica, pala, hingga kakao rata dengan tanah. Tahir
(50) ingat betul ketika buldoser datang. Ia sedang memanen lada di kebun. Hari yang
seharusnya menjadi saat gembira, berubah menjadi duka.
”Sekarang saya tanam jagung. Itu pun di sekitar kampung saja dan
tak banyak. Ada juga padi ladang. Untuk keperluan makan saja. Selebihnya saya
jadi buruh tani,” kata bapak empat anak ini. Sebagai buruh tani, Tahir kerap
bekerja menanam jagung dengan upah Rp 50.000 untuk setiap kg benih yang ditanam.
Sekali musim tanam, hanya 3 kg yang ditanam karena banyak warga lain yang jadi buruh.
Panggilan kerja menanam jagungpun hanya sekali dalam empat bulan. Ibrahim (50)
dan banyak peternak lain di desa itu harus menyaksikan ternak sapi mereka mati.
”Setelah kebun diratakan, rumput-rumput disiram racun. Sapi saya banyak yang
mati dengan mulut berbusa. Ada yang kakinya ditebas dan tubuhnya dilukai. Entah
oleh siapa,” katanya. Ruding, Tahir, dan Ibrahim hanya tiga dari ratusan
keluarga yang menghadapi konflik lahan dengan PTPN XIV. Hidup mereka kini
diliputi rasa khawatir. Setiap saat waswas jika buldoser akan datang.
”Kebun sudah habis, tinggal rumah yang belum diratakan. Kalau
harus keluar, kami mau ke mana dan bekerja apa?” kata Efendi (60), penyadap
nira dan pembuat gula aren di wilayah itu. Konflik antara warga dan PTPN XIV
sebenarnya sudah berlangsung lama. Namun, menjadi ramai sejak dua tahun lalu. Konflik
bermula saat lahan seluas 5.230 hektar masuk dalam kawasan HGU Bina Multi
Ternak (BMT). Lahan itu terhampar di tiga kabupaten di Sulsel, yakni Enrekang,
Pinrang, dan Sidrap. Namun, sebagian besar lahan berada di Enrekang yang meliputi
dua kecamatan, yaitu Maiwa dan Cendana. Saat ini, lahan bekas HGU PT BMT itu
tinggal 3.265 hektar setelah sebagian di antaranya dijadikan kebun raya dan
bumi perkemahan. Pada tahun 1996, kepemilikan lahan berganti dan HGU atas lahan
itu berpindah ke PTPN XIV.
Setelah satu dekade vakum, pada 2016, PTPN kembali masuk dan
memulai aktivitas penanaman sawit. Zulfikar menambahkan, bupati saat itu,
Muslimin Bando, pernah mengeluarkan larangan karena HGU PTPN sudah habis dan belum
diperpanjang. ”Awalnya tak ada tindakan penggusuran. Namun, pascapandemi
Covid-19, pihak PTPN mulai mengusir warga. Puncaknya saat mereka meratakan
kebun warga,” kata Zul- fikar. Aksi unjuk rasa yang dilakukan warga berakhir
dengan sejumlah petani luka tertembak. Beberapa di antaranya ditangkap.
Penggusuran oleh PTPN dengan dalih land cleaning dilakukan setelah bupati yang
semula menolak berubah sikap dan mengeluarkan surat rekomendasi untuk mengurus perpanjangan
HGU pada 2020. ”Rekomendasi ini menjadi dasar PTPN menggusur warga. Padahal,
sebenarnya kegiatan mereka pun ilegal karena melakukan aktivitas penanaman di
lahan yang HGU-nya sudah habis sejak 2003. (Yoga)
Ahmad Junaidy, Mental Besi Pengolah Ulin
Ahmad Junaidy (43) berkreasi dengan limbah kayu ulin atau kayu besi (Eusideroxylon zwageri), menghasilkan aneka perabot dapur yang disukai konsumen di Indonesia hingga mancanegara. Perabot yang terbuat dari limbah kayu ulin yang baru selesai dibuat di rumah produksi Osan Indonesia di Gambut, Kabupaten Banjar, Kalsel, Sabtu (13/1) ditumpuk di sebuah meja. ”Semua terbuat dari kayu ulin. Bisa dikatakan dibuat dari limbah kayu ulin karena menggunakan potongan-potongan kayu ulin yang panjangnya kurang dari 1 meter,” kata Ahmad Junaidy alias Odi, pemilik UMKM Osan Indonesia. Odi mulai mengolah limbah kayu ulin menjadi barang kerajinan pada 2017. Saat itu, di depan tempat kerjanya ada usaha mebel yang memproduksi kusen pintu dan jendela dari bahan kayu ulin. Sisa potongan kayu ulin ukuran 30-35 cm kerap dibuang meski masih bagus.
Odi langsung berpikir untuk membuat barang kerajinan dari limbah kayu ulin. Odi kemudian mencari inspirasi di aplikasi Pinterest. Ia menemukan contoh talenan yang bagus dan sangat ergonomis. ”Dari situ, saya langsung berpikir untuk bikin talenan dari limbah kayu ulin,” katanya. Begitu satu talenan selesai dibuat, ia mengunggah fotonya di Facebook. Teman-temannya di media sosial memberikan tanggapan positif. Hampir semua bilang,talenan yang kini diberi nama Susan Series itu bagus. Talenan Susan Series ditawarkan Rp 35.000 per buah, yang langsung protes perajin lain karena harganya terlalu murah. Akhirnya, harga jual secara bertahap dinaikkan hingga sekarang menjadi Rp 85.000 per buah.
”Setelah promosi di media sosial dan ikut pameran UMKM di Banjarbaru pada Oktober 2017, orderan terus masuk dan bertambah. Dalam sehari saya pernah bikin 30 talenan,” ungkapnya. Pada 2019, ia mulai membangun gudang atau tempat produksi di Gambut, tepatnya di Jalan Ahmad Yani Kilometer 11,8. Odi juga merekrut tenaga kerja. Dua pekerja tetap dan satu pekerja lepas. Sejak 2019, produksi talenan kayu ulin dilakukan setiap hari. Model talenannya pun semakin beragam hingga 22 model. ”Kami memproduksi 500 talenan sebulan. Untuk spatula dan sumpit, bisa sampai 1.000 buah per bulan, dengan omzet rata-rata Rp 15 juta sampai Rp 20 juta per bulan, dengan keuntungan 30-40 %,” katanya. Sejak 2021, Osan Indonesia digandeng BI sebagai UMKM mitra dan binaan Kantor Perwakilan BI Kalsel. Sejak saat itu, Osan men- dapat dukungan dan binaan dari BI sehingga bisa memasarkan produknya ke luar negeri, yaitu ke Jepang. (Yoga)
Kerbau Rawa Pampangan, Pemantik Pelestarian Lingkungan
Tradisi beternak kerbau rawa (B bubalis carabauesis) di Sumsel
bertahan sejak era kerajaan hingga kini di sejumlah desa di Kecamatan Pampangan,
Ogan Komering Ilir. Kesadaran masyarakat untuk melestarikan lingkungan pun
terbangun demi menjaga habitat rumpun kerbau lokal asli Indonesia tersebut.
Kamis (7/12/2023) Paisol (44) beranjak dari rumahnya di Desa Bangsal,
Pampangan, menuju kompleks kandang di Pulau Tapus denan perahu ketek menyusuri Sungai
Lubuk Sekayan. Ia memiliki 50 ekor kerbau rawa ternak di kandang. Paisol
membersihkan kotoran di kandang dengan menumpuknya di pundak sejumlah kerbau. ”Nanti,
kotoran itu jatuh di sungai dan padangan (hamparan rumput liar) yang menjadi pupuk
alami untuk menyuburkan rerumputan,” ujar Paisol. Setelah itu, barulah Paisol membuka
pintu kandang. Kerbau-kerbau itu pun lekas menuju padangan yang menjadi sumber
pakan mereka sehari-hari.
”Kerbau rawa Pampangan suka sekali berenang. Kalau musim
banjir (semua padangan tergenang air biasanya selama Januari-Maret), mereka bisa
berenang berjam-jam dan menyelam untuk memakan rerumputan di dasar air,” ujar M
Ali Hanapiah, Sekretaris Desa Bangsal, yang mendampingi Kompas dan Pantau
Gambut, organisasi nonpemerintah yang berfokus pada riset dan advokasi
keberlanjutan lahan gambut di Indonesia. Kerbau rawa mudah diternakkan, cukup
dilepaskan pada pukul 06.00-07.00 dan mereka akan keluar untuk mencari pakan di
lingkungan sekitar. Menjelang petang, kerbau itu kembali ke kandang. Kerbau
rawa identik dengan Pampangan karena mereka bagian tak terpisahkan dari rantai
kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Susu kerbau menjadi sumber
pendapatan harian peternak. Peternak bisa mendapatkan sekitar 1 liter susu per
ekor per hari.
Susu dihargai Rp 20.000 per liter. Susu itu laku dijual
karena ada perajin atau pembuat gulo puan yang membutuhkannya. Gulo puan adalah
produk turunan susu kerbau yang menjadi komoditas unggulan Desa Kuro dan Desa Bangsal,
dua desa paling tua di Pampangan, yang konon ada sejak era Kesultanan Palembang
Darussalam abad XVII- XIX. Gulo puan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda
Indonesia pada 2021. Dari pelatihan yang diberikan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove
serta Universitas Sriwijaya pada 2020, kelompok peternak mampu mengolah kotoran
kerbau menjadi pupuk organik yang teruji bisa membantu mengoptimalkan
pertumbuhan tanaman hortikultura. Karena belum memiliki izin jual, pupuk itu
diberikan gratis kepada warga. Keunikan kerbau rawa dan keindahan alam di
Pampangan juga menarik minat wisatawan dalam beberapa tahun terakhir. ”Kami
melihat pariwisata bisa menjadi sumber pendapatan masa depan di sini,” kata
Kades Bangsal Angkut, Join. (Yoga)
Indikator: Prabowo Gibran Unggul Head to Head Lawan Dua Paslon
Penangkapan Palti dan Bahaya UU ITE
BENCANA BANJIR Kondisi Warga Memprihatinkan
Kondisi korban banjir di bantaran Sungai/Batang Merao, Kota
Sungai Penuh, Jambi, memprihatinkan. Sementara, pemkot sudah mengakhiri masa
tanggap darurat meski beberapa titik permukiman dan jalan masih tergenang
banjir. Di dua desa Kecamatan Hamparan Rawang, yaitu Tanjung Muda dan Tanjung,
Sabtu (20/1) ratusan rumah di bantaran Batang Merao masih digenangi air atau
tertutup lumpur. Meski menyusut, ketinggian air ada yang lebih dari 1 meter. ”Sekarang,
kedalaman air di halaman 1,5 meter, di dalam rumah 80 cm,” kata Ritawati (63),
warga Desa Tanjung Muda. Sebelumnya, ketinggian maksimal banjir di halaman
rumah Ritawati mencapai 2,5 meter. Ritawati bersama suami, anak, dan dua
cucunya mengungsi di SD 033/XI Tanjung Muda sejak banjir pada 31 Desember 2023.
Selain mereka, ada 24 keluarga lainnya yang mengungsi.
Di beberapa titik Desa Tanjung Muda dan Desa Tanjung, air Batang
Merao yang keruh mengandung lumpur meluap ke jalan inspeksi dan mengalir
menggenangi rumah-rumah di bawahnya. Muka air sungai lebih tinggi 2-3 meter
dibandingkan rumah warga. Selain air, lumpur menutupi beberapa titik jalan
sehingga tidak bisa dilewati kendaraan. Ada pula warga yang mendirikan tenda
terpal atau pondok pengungsian di jalan inspeksi depan rumah mereka. Beberapa tenda
berdekatan dengan kandang-kadang sapi darurat. ”Kalau dipikirkan, tidak bisa
tidur kami karena bau tahi dan kencing sapi. Tetapi bagaimana lagi,terpaksa
kami ’tidur’ sama sapi,” kata Haliman (70), warga Desa Tanjung.
Warga terdampak banjir mendapat bantuan sembako, layanan
kesehatan, dan obat meski dalam jumlah terbatas. Namun, warga kesulitan
mengakses air bersih dan listrik. Meski sejumlah titik permukiman dan jalan
masih tergenang air, Pemerintah Kota Sungai Penuh mengakhiri masa tanggap
darurat bencana sejak 14 Januari lalu. Selama 15 Januari-15 April, penanganan
bencana banjir dan longsor memasuki masa transisi atau pemulihan. Kadis Kominfo
Kota Sungai Penuh Josrizal Helman mengatakan, situasi banjir di kota ini sudah jauh
lebih baik. ”Secara umum, aktivitas hampir normal, kecuali beberapa desa yang
masih sama kondisinya karena cekungan, rendah, masih ada yang rumahnya terendam
setinggi 1 meter. Sungai Penuh beberapa hari ini tidak ada hujan tetapi kawasan
itu masih tergenang,” kata Josrizal. (Yoga)
Blusuk-blusuk Memburu Uduk
Meski bertempat di jalan sempit yang hanya bisa dilalui sepeda
motor, Nasi Uduk Bu Amah yang buka mulai pukul 15.30 di Kelurahan Pekojan,
Kecamatan Tambora, Jakbar, Jalan Pengukiran II, mampu melintas zaman hingga
nyaris enam dekade. Pelanggan tidak hanya berblusuk-blusuk untuk memboyong
sajian utama yang tandas dalam puluhan menit, tetapi juga terpikat bawang
goreng hingga sambal kacangnya. Wiwin (47) sibuk melayani pengunjung sembari
mencatat pesanan yang sudah diambil, didampingi Yeny Lestari (43) yang membungkus
nasi dan lauk-pauk. Di gang sebelah warung itu, Murdjaiti (67) alias Ijah menggoreng
ayam dengan minyak menggelegak dan lidah api menari-nari menjilati wajan.
Baru pukul 16.10, ia berseru memberi tahu Wiwin dan Yeny lauk
mulai habis, 20 menit berselang, 150 porsi sudah ludes. Hingga pukul 17.00, pelanggan
masih saja berdatangan yang terpaksa gigit jari. Kalaupun masih tersedia, nasi
uduk dan lauk-pauknya hanya bisa dibungkus. Tak terlihat pengunjung yang
mengeluhkan ketiadaan meja dan kursi untuk bersantap. Pembelipun mafhum,
mengingat mereka tak segan berburu Nasi Uduk Bu Amah sampai blusukan, memang
menggamblangkan kelezatannya yang bikin lidah bergoyang. Bulir-bulir nasi
sungguh kaya santan dengan aromanya yang sudah merebak sebelum dikunyah. Ayam
goreng pun terkunyah gurih dilumuri aneka bumbu yang amat meresap. Tahu, hati,
ampela,tempe, sampai-sampai sambal kacang dan bawang goreng yang begitu krispi
pun tak kalah sedap.
Bukan hari itu saja Nasi Uduk Bu Amah tandas kurang dari satu
jam. Paling lambat, Ijah sudah menutup warungnya pada pukul 18.00. ”Sudah biasa
konsumen tanya atau pesan lewat telepon. Hari ini, order yang paling banyak 70
porsi,” ujar Ijah. Jika pesanan sudah sangat banyak, ia malah tak menerimanya
lagi sejak pukul 13.00. Mereka yang langsung datang pada sore hari tak
kebagian. Ijah menyebut beberapa pesohor yang kerap mengecap masakannya.
Seporsi nasi uduk dibanderol Rp 10.000, ayam Rp 30.000, tahu Rp 5.000, hati
atau ampela Rp 2.500, dan tempeRp 2.500. Jika dihendaki, pesanan bisa saja
diambil pada pagi atau siang hari. Nasi Uduk Bu Amah tutup setiap hari Minggu. (Yoga)
Potensi Gesekan Semakin Besar
Bawaslu memperkirakan potensi pelanggaran membesar setelah kampanye
terbuka dimulai. Kampanye negatif, kampanye hitam, dan hoaks harus pula
diwaspadai. Potensi gesekan antarmasyarakat, khususnya para pendukung kandidat
dan partai politik peserta Pemilu 2024, semakin besar setelah kampanye terbuka
dimulai pada Minggu (21/1). Masyarakat diharap menahan diri, tak saling
menghujat atau menghina hanya karena perbedaan pilihan politik. Situasi kondusif
perlu dijaga agar pesta demokrasi lima tahunan berjalan damai dan berkualitas.
Berdasarkan jadwal dan tahapan yang disusun KPU, kampanye rapat umum akan
digelar 21 hari, pada 21 Januari-7 Februari 2024. KPU mengatur jadwal kampanye
terbuka dalam tiga zonasi untuk mencegah persinggungan antar kandidat.
Paslon capres-cawapres no urut 1, Anies Baswedan-Muhaimin
Iskandar, serta partai parpol pendukung dijadwalkan memulai kampanye terbuka di
zona A yang terdiri atas 13 provinsi. Capres-cawapres no urut 2, Prabowo Subianto-Gibran
Rakabuming Raka dan parpol pendukung berkampanye di zona B (13 provinsi).
Pasangan capres-cawapres no urut 3, Ganjar Pranowo-Mahfud MD, beserta parpol
pendukung mengawali kampanye terbuka di zona C (12 provinsi). Anggota Bawaslu,
Lolly Suhenti, Sabtu (20/1), mengungkapkan, potensi gangguan keamanan dan
ketertiban membesar setelah kampanye terbuka dimulai.
Kampanye yang digelar melebihi waktu yang telah ditetapkan
oleh KPU, yakni pukul 09.00-18.00, bisa menjadi salah satu penyebab munculnya
gangguan keamanan dan ketertiban. Potensi pelanggaran yang juga diperkirakan
akan masif terjadi mendekati pemungutan suara adalah praktik politik uang. Ada
pula potensi pelanggaran berupa pejabat negara yang berkampanye tanpa cuti di
luar tanggungan. Bawaslu, ujar Lolly, berkomunikasi dan berkoordinasi dengan
peserta pemilu, pemda, dan kepolisian untuk bersama-sama mengawasi kampanye
terbuka. Khusus kepada peserta pemilu, Bawaslu mengingatkan larangan-larangan
dalam penyelenggaraan rapat umum. Semua peserta pemilu diharapkan menaatinya
karena setiap pelanggaran memiliki konsekuensi hukum. (Yoga)
Little Bangkok, yang Baru di Tanah Abang
Keluhan sejumlah pedagang di Pasar Tanah Abang di Jakpus karena
sepinya pengunjung dan minimnya pembeli membuat pengelola berinovasi untuk mendongkrak
keramaian di pusat grosir tekstil tersebut. Sejumlah usaha dilakukan, salah
satunya dengan membuka Little Bangkok. Pusat perbelanjaan fashion modern yang
berlokasi di Jembatan Metro Tanah Abang (JMTA) Lantai 1 diresmikan pada Senin
(15/1). Kawasan ini penghubung antara Metro Tanah Abang dan Pasar Tanah Abang
Blok B. Saat memasuki area Little Bangkok, pengunjung disambut hiasan
bertuliskan ”Welcome, Little Bangkok”. Seluruh toko di sana bertemakan open store.
Pembeli bisa memegang langsung barang dagangan. Setiap toko memiliki ciri khas
produk yang dijual, mulai dari pakaian kasual seperti kemeja dan kaus, hingga gaun
pesta. Dengan luas 10.000 meter persegi, tempat yang buka setiap hari mulai
pukul 07.00 hingga pukul 16.00 ini memiliki desain interior yang modern.
Banyaknya lampu di sepanjang koridor dan di dalam toko
membuat area ini terlihat sangat cerah dan nyaman untuk dikunjungi. Salah satu
pasar yang menjadi kiblat Little Bangkok ialah Pasar Pratunam di Bangkok, Thailand,
yang dikenal dengan beragam toko yang menjual pakaian terkini dengan harga
terjangkau. Pembeli juga bisa menawar sehingga harga yang didapat menjadi lebih
murah. Warga Jakarta Utara, Debora Alitha (22), tertarik berbelanja dengan
konsep baru di Little Bangkok. Sebelumnya, ia juga pernah mengunjungi Pasar
Pratunam tahun lalu sehingga ia tahu konsep dan atmosfer belanja di sana. ”Saya
juga sudah tahu beberapa store di sini yang sebelumnya hanya ada di Shopee dan
Tiktok Shop. Makanya saya sangat antusias untuk datang. Harganya juga tidak terlalu
mahal, makanya saya sampai kalap membeli tujuh baju,” kata Debora. Leila (33),
bahkan mengunggah tayangan langsung (live) untuk mengenalkan Little Bangkok di
media sosialnya.
Saat melakukan live, pengunjung yang datang di area Little
Bangkok sangat ramai. Alhasil, ia kesulitan berpindah dari satu toko ke toko
lainnya. ”Konsepnya open store. Jadi, pengunjung bisa masuk dan pegang langsung
barangnya. Bisa ambil foto atau video juga, bahkan bisa melakukan live di
Tik-tok, Instagram, dan Shopee,” kata Leila. Leila mengatakan, hadirnya Little
Bangkok sangat membantu para jasa titip dan reseller untuk berjualan tanpa modal.
Seorang pedagang di Little Bangkok, Maria, merasa senang dengan adanya tempat belanja
dengan gaya baru ini di Pasar Tanah Abang. Ia pun tak mau ketinggalan dengan
membuka satu gerai di sana. ”Produk yang saya jual buatan lokal yang semua
modelnya terinspirasi dari Bangkok. Di sini saya menjual celana jins, rok jins,
hot pants, lalu ada juga celana pendek,” ujarnya. Maria menjual produknyadengan harga mulai
dari Rp 87.000 untuk satu rok jins dan Rp 97.000 untuk satu celana jeans. Dalam
sehari, omzetnya Rp 5 juta hingga Rp 20 juta. Di sana, pembeli juga bisa melakukan
transaksi tunai maupun non-tunai. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









