Ekonomi
( 40498 )Bisnis Pemuda Bontang: Tak Melulu lewat Aplikasi
Pukul 07.00 Wita, Erwin
Fishtcal (28) sudah datang ke Kompleks Koperasi Karyawan Pupuk Kaltim Kota Bontang,
Kaltim menyetor sejumlah uang kepada seseorang, Selasa (13/6). Erwin adalah
salah satu kurir Bonjek, kependekan dari Bontang Ojek, bisnis ojek daring yang
diinisiasi pemuda di Kota Bontang. Sebagai kurir, tugas Erwin mengantarkan
pesanan makanan atau barang yang dibeli konsumen melalui Bonjek. Kebanyakan
konsumen membayar tunai langsung kepada kurir. Beberapa lewat transfer ke
rekening. Bonjek menggunakan aplikasi percakapan yang banyak digunakan oleh
jutaan warga di Indonesia, yakni Whatsapp. Sistem kerja Bonjek sederhana. Saat ada
konsumen ingin membeli makanan, misalnya, ia cukup mengirim pesan ke Bonjek
melalui Whatsapp. Pesan itu berformat nama pemesan beserta detail pesanan
makanan, lengkap dengan restoran atau kios yang diinginkan. Lokasi pemesan dan lokasi
restoran diisi dengan titik koordinat Google Maps.
Customer service Bonjek meneruskan
ke grup Whatsapp yang berisi 32 kurir Bonjek. Kurir yang menerima pesanan itu, mengirim
stiker ”Saya Ambil”. Setelah selesai, ia mengirim stiker ”Pesanan Selesai”. Dengan
sistem seperti itu, ia mesti menyetor sejumlah uang bagi hasil yang diterima
dari hasil kerja hari sebelumnya. Ia juga menerima uang pengganti yang ia
talangi pada hari sebelumnya.”Sehari minimal bisa mengantar makanan 15 kali.
Biaya ongkos kirim minimal Rp 11.000. Terkadang, saya juga dapat uang tip dari konsumen,” kata
Erwin. Dari uang tip dan bagi hasil jasa kurir Bonjek, ia bisa mendapat hampir
Rp 5 juta sebulan, di atas upah minimum Kota Bontang yang Rp 3,4 juta per
bulan. Bonjek lahir berkat Kahar Muzakir (30), pemuda asal Kelurahan Loktuan,
Bontang Utara, Kota Bontang.
Lulusan Fisioterapi
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, itu kembali ke Bontang
pada 2018 setelah menjalankan bisnis dan berkuliah di Surabaya. Inisiasi Bonjek
disulut rasa heran Kahar akan tingginya angka pengangguran di Bontang. Data BPS
menunjukkan, dari 180.000 warga Bontang, angka penganggurannya 8.000 orang. Terdorong
untuk membantu menekan angka pengangguran, ia awalnya membangun bisnis kuliner
bersama sejumlah kenalan. Seluruh proses pemesanan itu dilakukan melalui
aplikasi Whatsapp dan ternyata pengguna jasa mereka terus tumbuh. Apa yang dilakukan
Kahar dan timnya mendapat dukungan dari PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT). Melalui
pembinaan PKT, terbentuklah lokapasar Borneo Online Store atau Borneos.co.
Portal itu memberikan kemudahan bagi pelaku UMKM untuk menjual produknya. Saat
ada pembeli, pemesanan dilakukan melalui Whatsapp dan Bonjek yang
mengantarkannya. (Yoga)
Sistem Logistik Ikan Perlu Diperkuat
Sekretaris Asosiasi Tuna
Indonesia (Astuin) Jakarta Muhammad Bilahmar mengemukakan, persoalan utama
dalam logistik perikanan adalah konektivitas antarpulau yang masih sulit dan
keterbatasan fasilitas pelabuhan. Hal itu menyebabkan kapal pengangkutan ikan
tidak bisa merapat ke dermaga sehingga menghambat aktivitas bongkar muat. Dicontohkan,
di Pelabuhan Pomako, Mimika, Papua, pengangkutan ikan dilakukan dengan
memindahkan ikan dari kapal ke kontainer terapung di atas tongkang. Tongkang
itu selanjutnya membawa container ke kapal niaga ataupun kapal penumpang.
Sementara itu, unit pengolahan
di pelabuhan perikanan dapat beroperasi lebih efektif jika kapasitas dan
fasilitas pelabuhan memadai untuk menampung ikan. Selain itu, dibutuhkan
konektivitas dengan kapal-kapal pengangkut ikan ke sentra-sentra nelayan di
daerah kepulauan kecil. ”Logistik perlu diatur sesuai dengan kapasitas
pengolahan ikan. Penunjang utama adalah gudang berpendingin,” katanya, saat
dihubungi, pada Jumat (27/10/2023) di Jakarta. (Yoga)
CIMB Niaga Raih Laba Rp 6,3 Triliun
Batam Ekspor Listrik ke Singapura
Kepala Daerah Diminta Redam Inflasi
Lima Evaluasi untuk Keuangan yang Sehat
Mengukur kesehatan keuangan
rumah tangga menjadi sangat penting,terutama di masa penuh dinamika seperti saat ini. Patut dipahami, hidup manusia
terus berjalan terlepas seperti apa kondisi perekonomian. Tanpa harus melakukan
perhitungan yang rumit ala perencana keuangan, sebenarnya setiap rumah tangga
dapat menggunakan beberapa indikator untuk mengetahui seberapa sehat
keuangannya. Ada lima indikator untuk tahu seberapa sehat keuangan rumah tangga
kita. Pertama, evaluasi kondisi kehidupan. Kestabilan pemasukan sebagai sumber
daya rumah tangga adalah salah satu factor penentu kesehatan keuangan. Kedua,
evaluasi komitmen pembayaran pinjaman. Pinjaman yang sehat adalah bilamana
jumlah seluruh cicilan pinjaman hanya maksimal 1/3 penghasilan bulanan.
Ketiga, evaluasi
pengeluaran bulanan. Secara umum, keuangan rumah tangga tergolong baik apabila
dapat menyisihkan penghasilan di awal untuk dana darurat, tabungan, atau untuk investasi.
Keempat, jumlah dana darurat. Pahami bahwa dana darurat berbeda dengan tabungan.
Momen saat ada saudara membutuhkan
bantuan atau pun adanya musibah finansial yang harus ikut ditanggung oleh rumah
tangga pribadi, maka dana darurat akan menjadi jalan keluarnya. Kelima,
evaluasi jumlah aset. Menyisihkan penghasilan untuk ditabung dan diinvestasikan
adalah hal penting untuk membentuk asset, untuk memenuhi berbagai kebutuhan
hidup di masa depan yang nilainya akan meningkat karena adanya tingkat inflasi.
Langkah berikutnya adalah tidak bergantung pada pinjaman untuk membiayai keperluan
hidup sehari-hari dan menyisihkan sebagian penghasilan untuk dana darurat dan
investasi masa depan. (Yoga)
NILAI TAMBAH LIMBAH KAYU DI SENTRA PRODUKSI PERAHU PULAU SEWANGI
Limbah kayu dari sisa produksi
perahu di Desa Pulau Sewangi, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Kalsel,
kini diolah menjadi kriya kayu. Pemanfaatan di sentra produksi perahu atau
jukung ini berpotensi menambah pendapatan warga di kawasan Geopark Meratus.
Yunus (37), warga Pulau Sewangi, duduk beralaskan sandal di halaman balai desa,
Senin (23/10) siang. Dengan hati-hati, ia memahat sepotong kayu untuk membentuk
miniatur perahu atau jukung. ”Rasanya lebih rumit bikin miniatur daripada bikin
jukungnya sendiri,” ujar perajin jukung itu sambil tertawa. Syarifuddin alias
Anang (51), perajin jukung lainnya, yang juga duduk memahat berhadapan dengan
Yunus, menimpali, ”Benar, ini sudah tiga hari belum jadi juga.”
Senin itu adalah hari
ketiga bagi Yunus, Anang, dan kawan-kawan mengikuti pelatihan pembuatan produk
geopark di Balai Desa Pulau Sewangi. Dalam pelatihan itu, mereka diajarkan
membuat aneka produk kriya kayu dengan memanfaatkan limbah kayu dari sisa
produksi perahu. Pelatihan diadakan Badan Pengelola Geopark Meratus bekerja
sama dengan Kantor Perwakilan BI Provinsi Kalsel pada 21-23 Oktober dan 28
Oktober 2023. Warga setempat dilatih membuat produk geopark karena Pulau
Sewangi sudah ditetapkan sebagai salah satu situs dari Geopark Meratus.
”Limbah kayu seperti ini
tidak ada harganya. Kalau ada yang memerlukan untuk kayu bakar atau urukan,
kami biasanya memberikan secara cuma-cuma,” kata yunus. Selama ini, limbah kayu
dari sisa produksi perahu tidak dimanfaatkan karena warga setempat memang hanya
berfokus pada produksi dan perbaikan perahu. Jukung tersebut dijual mulai dari
harga Rp 4 juta hingga Rp 30 juta per buah, tergantung ukuran. Kebanyakan
jukung dari Pulau Sewangi dijual ke daerah Tabunganen dan Marabahan, Kabupaten
Barito Kuala, serta Aluh Aluh, Kabupaten. Sekdes Desa Pulau Sewangi Syarifah
Zakiah Mabrurah menuturkan, pelatihan pembuatan produk geopark baru kali ini
diadakan. Kegiatan ini sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat desa setempat setelah
Pulau Sewangi ditetapkan sebagai salah satu situs Geopark Meratus. (Yoga)
Investasi Reforestasi Bakal Diminati Investor
Unjuk Produk di Japan Mobility Show 2023
Bos Garuda Pastikan Merger Citilink dan Pelita Air Tuntas Desember
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









