Beban Ganda Industrialisasi
Indonesia butuh industri
manufaktur yang tangguh untuk naik kelas menjadi negara maju. Namun, tantangan
untuk menghidupkan sektor pengolahan semakin berat di tengah gejala
deindustrialisasi dini dan ketidakpastian ekonomi dunia yang menjadi-jadi.
Pelaku industri dan pemerintah harus sama-sama memutar otak untuk menjaga
momentum pertumbuhan. Gejala deindustrialisasi dini, yang bisa dilihat lewat
menurunnya kontribusi industri manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional,
mulai terlihat sejak tahun 2002 dan semakin signifikan sejak 2009. Sebagai
perbandingan, pada 2008 porsi industri pengolahan nonmigas terhadap PDB nasional
masih 27,8 %. Sejak tahun 2010, kontribusinya turun ke 22 %, dan selama lima
tahun terakhir selalu bertengger di bawah 20 %. Terakhir, pada triwulan II-2023,
industri manufaktur hanya mampu menyumbang 18,25 % dari total perekonomian
nasional. Di luar persoalan struktural yang terjadi, perekonomian dunia juga
semakin tidak pasti. Akibat berbagai
faktor global, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS melemah hingga nyaris
menyentuh Rp 16.000 per dollar AS, berdampak pada kenaikan beban biaya produksi
bagi industri.
Melemahnya ekonomi
sejumlah negara maju juga membuat lesu ekspor manufaktur. Menurut Ketua Umum
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani, di tengah iklim
perekonomian global dan domestik yang sama-sama tidak kondusif itu, tidak heran
apabila ekspansi industri manufaktur nasionnasional cenderung jalan di tempat. Meskipun
kinerja sektor pengolahan masih di zona ekspansif, seperti ditunjukkan data
Indeks Kepercayaan Industri (IKI) dan Purchasing Managers’ Index (PMI)
Manufaktur Indonesia. ”Masih ada ekspansi dunia usaha, tetapi ekspansinya lebih
moderat, tidak eksponensial (konsisten tumbuh semakin tinggi),” kata Shinta,
Kamis (26/10). Dari dalam negeri, problem inefisiensi iklim usaha yang tak
kunjung diatasi membuat kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB terus
menurun. Investasi di sektor manufaktur menurun akibat iklim investasi yang
kurang bersahabat sehingga memperburuk gejala deindustrialisasi dini. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023