Safe Haven dan Minyak Menjadi Andalan
Kondisi geopolitik dan suku bunga tinggi menyebabkan aset safe haven dan komoditas yang meningkat tahun ini diprediksi bertahan pada level tinggi di 2024. Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin menilai, emas masih menjadi favorit ketika prospek suku bunga Amerika Serikat (AS) mulai meredup di tahun 2024. Penurunan prospek suku bunga acuan The Federal Reserve (Fed) ini seiring dengan potensi penurunan laju inflasi AS. Selain itu, kondisi global yang tengah diwarnai sejumlah konflik turut mempengaruhi harga emas. Harga emas berjangka pada Jumat (26/10) di level US$ 1.998,5 atau naik 0,2% dalam sepekan. Kenaikan harga emas juga akan memberi dorongan bagi perak menguji area atas, yakni US$ 24.200-US$ 25.000 per ons troi. Akhir pekan lalu perak tutup di US$ 22.887 per ons troi. "Kedua logam mulia ini sangat menarik menjadi alat instrumen investasi dengan kondisi saat ini dan ke depan," kata dia. Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo memprediksi, harga emas akan diperdagangkan pada level US$ 2.004,22 per ons troi pada akhir 2023. Di tengah konflik geopolitik di Timur Tengah, Sutopo melihat dolar AS juga ikut menguat sebagai aset lindung nilai untuk mengurangi risiko. Namun, Head of Industry and Regional Research Bank Mandiri, Dendi Ramdani justru melihat harga-harga komoditas di tahun 2024 akan terkoreksi karena masih dalam proses normalisasi harga. Ia memprediksi, batubara, minyak, crude palm oil (CPO), dan emas akan menuju ke harga fundamentalnya.
Tags :
#PortofolioPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023