;
Kategori

Ekonomi

( 40733 )

Menjadi Tua Sebelum Kaya

02 Nov 2023

Tulisan di The Economist bertajuk ”Poor Asian Countries Face An Ageing Crisis”, 12 Oktober 2023, menyebutkan, penduduk Sri Lanka, Thailand, Vietnam, dan negara-negara lain di Asia menjadi tua sebelum menjadi kaya. Untuk memahami potensi buruknya masalah ini, The Economist memberikan ilustrasi perbandingan transformasi yang terjadi di Thailand dengan negara-negara lain yang terkenal dengan populasinya yang mulai menua. Antara tahun 2002 dan 2021, jumlah penduduk Thailand berusia 65 tahun ke atas meningkat dari 7 % jadi 14 %. Transisi yang sama memakan waktu 24 tahun bagi Jepang, AS 72 tahun, dan Perancis 115 tahun. Tidak seperti negara-negara tersebut, Thailand menjadi tua sebelum menjadi kaya. PDB per kapita Thailand pada 2021 adalah 7.000 USD.

Ketika populasi Jepang memiliki usia yang sama, pada tahun 1994, PDB per kapita mereka hampir lima kali lipat lebih tinggi. Permasalahan yang terjadi di Thailand itu menggaris bawahi bahwa tren regional memiliki signifikansi ekonomi dan sosial yang sangat besar. Kekayaan orang Vietnam sekitar setengah kekayaan orang Thailand. Penduduk Vietnam dan Thailand mungkin hanya butuh waktu sekitar 17 tahun untuk berubah dari ”menua” menjadi ”tua”. Di negara-negara yang penuaannya memakan waktu lebih lama, seperti Indonesia (26 tahun) dan Filipina (37 tahun), tingkat pendapatannya bakal jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Asia Tenggara sebagai suatu kawasan akan ”menua” pada 2042. Kecepatan transisi demografi Asia merupakan konsekuensi dari perkembangan masyarakatnya. (Yoga) 

Inflasi Jakarta Kembali Sentuh 2 Persen

02 Nov 2023
Badan Pusat Statistik DKI Jakarta merilis inflasi tahunan Jakarta menyentuh 2,08 persen, Rabu (1/11/2023). Angka itu naik dibandingkan dengan inflasi Oktober 2023, yaitu 1,89 persen. BPS mencatat, kenaikan harga sejumlah komoditas menyumbang inflasi. Koordinator Fungsi Statistik Distribusi BPS DKI Jakarta Feri Prasetyo Nugroho menyebutkan, Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat 2,32 poin menjadi 113,76. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan Oktober 2022, yaitu 111,44. (Yoga)

PELUANG BISNIS, Sektor Tertentu Berpeluang Melonjak karena Pemilu 2024

02 Nov 2023

Bisnis sektor percetakan, periklanan, media, transportasi, logistik, makanan dan minuman, serta garmen berpeluang melonjak karena penyelenggaraan pemilu. Masifnya belanja iklan dan kampanye dari ribuan calon anggota legislatif, calon kepala daerah, bahkan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden bisa melambungkan omzet usaha mereka. Pada ujungnya, belanja ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Dihubungi pada Rabu (1/11) Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual mengatakan, penyelenggaraan pemilu akan mendorong belanja jumbo berbagai aktivitas politik para calon yang berkompetisi. Selain pemilihan presiden, mengutip data Litbang Kompas, tercatat ada 541 daerah, baik provinsi, kabupaten, maupun kota, yang akan menggelar pilkada pada November 2024. Tahun depan juga akan ada ribuan calon yang berkompetisi di pemilu legislatif. Artinya, akan ada ribuan calon yang melakukan  aktivitas politik sehingga mendorong gelontoran belanja iklan dan kampanye.

Untuk penyelenggaraan pemilu, Komisi II DPR juga sudah menetapkan anggaran penyelenggaraan pemilu bagi KPU sebesar Rp 27,39 triliun dan Bawaslu sebesar Rp 11,6 triliun (Kompas, 12/9). Belanja jumbo ini akan tersalurkan ke sektor-sektor ekonomi, antara lain percetakan, periklanan, media, transportasi, logistik, makanan dan minuman, serta garmen. ”Ini akan mendorong sektor-sektor ekonomi itu mencatat kinerja yang lebih tinggi dibandingkan periode-periode sebe- lumnya,” ujar David. Lonjakan pendapatan di sektor-sektor tersebut diperkirakan mulai terjadi saat masa kampanye, yakni 28 November 2023-10 Februari 2024. Apabila terjadi putaran kedua pemilu presiden, kampanye berikutnya dijadwalkan pada 2-22 Juni 2024. Itu belum termasuk kegiatan pemilihan kepala daerah pada November 2024. Peningkatan jumlah uang beredar terkait belanja pemilu itu akan mendorong pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi dalam negeri. Gelontoran dana yang besar itu akan merangsang pertumbuhan ekonomi tahun ini dan tahun depan. (Yoga)

Harga Pangan Melonjak, Inflasi Terdongkrak

02 Nov 2023
JAKARTA,ID-Harga pangan melonjak pada Oktober 2023, terlihat pada inflasi kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau sebesar 5,4%, tertinggi dibandingkan kelompok lainnya. Imbasnya, inflasi pada Oktober 2023 terdongkrak menjadi 2,5% secara tahunan (year on year/yoy), dibandingkan September sebesar 2,28%. Berdasarkan data  Badan Pusat Statistik (BPS), kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil inflasi  terbesar pada Oktober 2023, yakni 1,39, diikuti perawatan pribadi  dan jasa lainnya sebesar 0,23%, penyediaan makanan dan minuman/restauran sebesar 0,2%. Seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi pada bulan lalu. Subkelompok makanan, minuman dan tembakau yang inflasi tahunan tertinggi adalah rokok dan tembakau sebesar 94% dan teredah minuman yang tidak ralkohol sebesar 2,19%. Kenaikan harga pangan kini meluas, bukan hanya beras, melainkan ke bebrapa komoditas. Ini terlihat pada besarnya sumbangan inflasi makanan ke inflasi keseluruhan. (Yetede)

Jumlah Wisman Menurun, Promosi Pariwisata Perlu Ditingkatkan

02 Nov 2023
JAKARTA,ID-Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisatawan mencanegara (wisman) mencapai 1,52,76% dibandingkan bulan yang sama pada tahun yang lalu year on year (yoy) Berkaitan itu,  pemerintah perlu meningkatkan promosi pariwisata Indonesia di berbagai negara. Wisman yang berkunjung ke Indonesia pada September 2023 didominasi oleh wisman yang berasal dari Malaysia sebanyak 152,2 ribu (14,22%) dan Singapura 114,7 ribu (10,72%).  Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini penurunan jumlah wisman secara  bulanan terjadi karena penurunan jumlah   sebesar 12,92% dari Malaysia. Pada saat yang sama liburan musim panas di negara-negara Eropa sudah berakhir. "Secara historis, menurunnya wisman ini kan berlanjut sampai bulan November. Nanti juga terlihat kunjungan wisman akan mengalami peningkatan di saat Liburan Natal dan Tahun Baru," jelas Pudji Isminarti dalam konferensi BPS secara hibrida d Kantor BPS, Jakarta, Rabu (1/11/2023). (Yetede)

Manufaktur Kena Hantaman Bertubi-tubi

02 Nov 2023
JAKARTA,ID-Laju industri manufaktur mengalami hantaman bertubi-tubi menjelang akhir tahun, di mana S&P Global melaporkan Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke posisi 51,5 pada Oktober diandingkan 52,3 pada September 2023. Angka ini merupakan laju paling lambat sejak Mei dan melanjutkan  penurunan selama 2 bulan berturut-turut. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani mengungkapkan, masalah utama industri  manufaktur nasional pada saat ini adalah penggelembungan beban overhead cost usaha. Ini karena peningkatan beban impor bahan baku/penolong yang disebabkan pelemahan rupiah. "Faktor regulasi seperti kebijakan neraca perdagangan dan pengetatan impor turut  menambah beban pengetatan impor turut menambah beban penciptaan produktivitas sektor manufaktur, meskipun outlook daya beli dan konsumsi pasar masih relatf stabil," ucap dia kepada Investor Daily, Jakarta, Rabu (1/11/2023). (Yetede)

Ekspansi Gerai Sokong Kinerja ACES

01 Nov 2023
Kinerja PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) diprediksi terus melaju hingga pengujung 2023. Ekspansi gerai dan tawaran  promosi akhir tahun bakal menjadi pendorongnya. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Ruth Yesika Simak mengatakan, ACES mampu mempertahankan pertumbuhan Same-Store Sales Growth (SSSG) yang kuat pada September 2023, mencapai 10,9% secara year on year (yoy). Angka itu naik signifikan dibandingkan September 2022 yang minus 3,6% yoy. Lebih rinci, SSSG di wilayah luar Jawa tumbuh 16,3% pada September 2023. Di luar Jakarta, SSSG pasar di Jawa tumbuh 8,7%. Sementara Jakarta mengalami pertumbuhan SSSG 7,7% yoy. Yesika menilai, pertumbuhan SSSG tersebut didukung oleh ekspansi ACES ke kota-kota tier-2 dan tier-3, selaras dengan pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah tersebut. Selain itu, karena tingginya jumlah pengunjung di bulan September yang memiliki libur akhir pekan yang panjang dan liburan sekolah. Yesika memproyeksi di kuartal IV ACES akan menghasilkan pendapatan yang lebih kuat dengan berbagai diskon khusus akhir tahun. Namun, Yesika juga melihat depresiasi rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) berpotensi berdampak pada margin ACES di masa depan. Yesika memproyeksi pendapatan ACES bisa tumbuh 12% menjadi Rp 7,59 triliun dan laba bersih naik 11% ke Rp 737 miliar di 2023. Pertumbuhan kinerja terdorong perbaikan pendapatan dan efisiensi. Juga penambahan toko baru dan peningkatan SSSG. Research Analyst Erdikha Elit Sekuritas Ika Baby Fransiska mengatakan, selama sembilan bulan 2023 ACES membuka sembilan gerai baru dengan tujuh gerai di luar Jawa dan dua gerai di Jawa. "Ini sejalan dengan target perseroan yang akan membuka 10-15 gerai tiap tahun," ujar Ika, Selasa (31/10). Head Of Research Mega Capital Sekuritas Cheril Tanuwijaya menambahkan, kuatnya SSSG ACES juga didorong dari ketahanan daya beli masyarakat kelas menengah atas.

Pendapatan Berulang Topang Pengembang

01 Nov 2023
Kinerja sektor properti sejauh ini terbilang masih cukup terjaga. Kondisi ini tercermin dari kinerja keuangan per 30 September 2023 sejumlah emiten properti. Misalnya PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mencatatkan pendapatan Rp 5,08 triliun hingga kuartal III 2023. Realisasi tersebut naik 20,6% dari periode yang sama lalu, yaitu Rp 4,21 triliun. Sedangkan dari sisi laba, SMRA   mencetak kenaikan laba hingga 110,8% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 653,02 miliar. PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) juga  mencatatkan pendapatan bersih per 30 September 2023 sebesar Rp 4,57 triliun, naik 1,65% dari periode di tahun sebelumnya yang sebesar Rp 4,49 triliun. Dari pendapataan tersebut, yang berasal dari pendapatan berulang sebesar Rp 3,42 triliun, naik 22,7% secara tahunan. "Berdasarkan per segmen, pendapatan PWON terbagi retail leasing 51%, hotel dan serviced apartment 19%, office leasing 5%, kondominium 11%, landed houses sales 12%, dan office sales 2%,” papar Direktur dan Sekretaris Perusahaan PWON Minarto Basuki, Senin (30/10). Untuk menjaga kinerja, sejauh ini PWON sudah menyerap belanja  modal sebesar Rp 1,44 triliun. Belanja modal tersebut digunakan untuk  membiayai pembangunan Pakuwon Mall Bekasi dan Pakuwon City Mall, renovasi Pakuwon Mall Jogja dan Solo Baru, pembelian hotel Four Points by Sheraton Bali, serta lahan di Semarang dan Batam. Emiten lain yakni PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) berhasil memperbaiki kinerja keuangannya. LPKR berbalik meraih laba bersih sebesar Rp 787,79 miliar hingga 30 September 2023. LPKR meraup pendapatan senilai Rp 12,43 triliun dalam sembilan bulan 2023, naik 17,93% secara tahunan. Analis Henan Putihrai Sekuritas Jono Syafei mengatakan, kinerja SMRA dan PWON hingga kuartal III 2023 ini didorong dari pendapatan berulang yang kuat, terutama dari mal.

Kinerja Terus Tumbuh, BSI Dorong Peningkatan Market Share Bank Syariah

01 Nov 2023

Peningkatan pangsa pasar pembiayaan PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) hingga kuartal III/2023 mendorong pertumbuhan laba perseroan pada periode tersebut. Emiten dengan kode saham BRIS ini mampu mencatatkan per tumbuhan pangsa pasar pembiayaan sebesar 3,26% pada kuartal III/2023 secara tahunan (year-on-year/YoY). Pencapaian ini merupakan sinyal positif di tengah peningkatan market shareindustri perbankan syariah di Indonesia sebesar 7%.Pada kuartal III/2023, perseroan sukses mencetak laba sebesar Rp4,2 triliun atau naik 31,04% YoY. Salah satu penopang dari pertumbuhan laba yang pesat tersebut adalah meningkatnya volume pembiayaan yang mampu mendorong pendapatan margin bagi hasil tumbuh 15,74% YoY. Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan bahwa kinerja yang tangguh ini menunjukkan bahwa BSI resiliencedan mampu membuktikan diri sebagai bank syariah yang memberikan kontribusi economic value yang sangat baik, di samping penciptaan social valueyang terus dilakukan untuk kemaslahatan umat. Dia memandang bahwa sektor keuangan syariah, khususnya perbankan syariah, memiliki ciri khas dan keunikan produk yang relatif tahan terhadap goncangan ekonomi. Padahal, kondisi makro ekonomi dan situasi global yang tidak menentu saat ini menjadi tantangan tersendiri, termasuk bagi perbankan syariah. Oleh karena itu, BSI telah menyiapkan sejumlah strategi fokus pada pembiayaan yang sehat dan orientasi jangka panjang, akselerasi business process, dan disiplin dalam monitoring kualitas pembiayaan.

Generasi Z Tunggu Arah Industrialisasi

01 Nov 2023

Bonus demografi atau dominasi penduduk berusia produktif, yang puncaknya diperkirakan pada 2030, menjadi faktor krusial dalam mewujudkan Indonesia maju pada 2045. Namun, kesiapan kapasitasnya harus disiapkan sejak dini. Segala upaya perlu diawali dengan menentukan arah industrialisasi yang diambil Indonesia. Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Yogyakarta, Amirullah Setya Hardi, Senin (30/10) mengatakan, Indonesia tidak akan kekurangan jumlah sumber daya manusia (SDM) sampai dengan 2035. Tantangannya adalah pada kualitas dan kompetensinya. Menyiapkan SDM di bidang industri, menurut Amirullah, harus spesifik dan tidak bisa seketika. Untuk itu, kesiapan generasi Z mengisi kebutuhan industri harus dipastikan sejak dini.

”Perguruan tinggi dengan berbagai level pendidikannya akan bisa (turut menyiapkan). Namun, yang terjadi di Indonesia selama ini, kurikulumnya lebih banyak trial and error. Dicoba, tidak cocok, kemudian diubah lagi. Ke depan harus terintegrasi dengan kebutuhannya. Di industri, yang paling kentara ialah kebutuhan untuk sertifikasinya,” ujar Amirullah. Oleh sebab itu, perlu desain tepat mengenai pendidikan hingga sertifikasi dalam menyiapkan kebutuhan SDM industri. Ia mencontohkan, lulusan perguruan tinggi akan kalah bersaing dengan lulusan sekolah teknik yang memiliki sertifikat juru las. Sejalan dengan itu, Amirullah menekankan, penting untuk menentukan arah industrialisasi Indonesia. Ini akan mendasari upaya peningkatan kontribusi industri manufaktur terhadap PDB yang saat ini masih 18,25 % total perekonomian nasional. Idealnya 28-30 % terhadap PDB. (Yoga)