;
Kategori

Ekonomi

( 40600 )

Ongkos Piknik Terdampak Dollar AS

31 Oct 2023

Pelemahan nilai rupiah mulai berimbas pada industri pariwisata, terutama tarif tiket pesawat dan paket wisata perjalanan internasional. Di sektor domestik, meskipun harga tiket pesawat terpengaruh, biaya langsung dan akomodasi dalam negeri masih terjaga. Mengacu pada data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), Senin (30/10) nilai tukar rupiah terpantau Rp 15.916 per dollar AS atau sedikit menguat dari Jumat (27/10) yang senilai Rp 15.941 per dollar AS. Budi Kusumaningsih (50), pemilik Shakuntala Wisata, di Yogyakarta, mengatakan, unit usaha wisatanya cukup terpengaruh. Harga kebutuhan pokok yang makin mahal menurunkan minat rekreasi masyarakat sehingga beberapa program yang sudah terencana jadi tertunda. Kondisi global turut berpengaruh pada usahanya.

”Untuk periode tahun depan, Holyland (wisata rohani ke Tanah Suci) ditunda karena ketegangan Israel dengan Palestina yang saya piker masih akan berlangsung,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Senin.  Pelaku usaha dari Ascenta Tour, Timoti Tirta (32), mengatakan, wisatawan yang akan bepergian ke luar negeri biasanya telah membeli tiket jauh hari sebelum keberangkatan. Alhasil, akomodasi dan pesawat sudah terbayar lunas, tak terimbas kenaikan dollar AS. ”Tetapi, efeknya ketika di negara tujuan kalau belum menukar uang saat ini. Jadi, ketika mereka sedang jalan-jalan, nah, mungkin akan terasa saat di lapangan,” ujarnya. (Yoga)

Pinang Lampung Diekspor ke Arab Saudi

31 Oct 2023
PT Badan Usaha Milik Rakyat BiMU Lampung resmi mengekspor 18 ton pinang belah senilai Rp 542,9 juta asal Lampung ke Arab Saudi. Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan melepas ekspor komoditas tersebut di Bandar Lampung, Senin (30/10/2023). Ia mendorong petani terus meningkatkan kualitas komoditas pertanian sehingga bisa menembus pasar ekspor. Menurut Zulkifli, ada sejumlah negara yang bisa dibidik sebagai tujuan ekspor, antara lain Bangladesh, Pakistan, dan Thailand. (Yoga)

KETEGANGAN TIMUR TENGAH RENTAN MELEMAHKAN EKONOMI ASIA PASIFIK

31 Oct 2023

Konflik bersenjata antara Hamas dan Israel dikhawatirkan memicu konflik lebih luas yang berisiko meningkatkan kerawanan di Timur Tengah. Terlibatnya sejumlah negara rentan menimbulkan konflik yang dapat mengganggu distribusi minyak ke seluruh dunia. Gangguan terutama bisa terjadi jika konflik tersebut memicu perseteruan antar negara-negara Arab yang pada akhirnya mendorong ketegangan di Teluk Persia, Teluk Oman, dan di sekitar Laut Mediterania Timur. Aksi blokade laut dapat saja terjadi ketika sejumlah negara menggunakan kekuatan geopolitiknya untuk membela kubu yang mereka dukung.Kekhawatiran ini didasarkan pada hubungan diplomatik sejumlah negara Arab yang dekat dengan AS. Beberapa negara Arab kini berdamai dengan Israel seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, Maroko, Jordania, dan Mesir. Bahkan, Arab Saudi, pemimpin negara-negara kawasan Teluk, juga semakin dekat dengan upaya pemulihan hubungan diplomatik dengan Israel.

Ketegangan di Teluk Persia dan Teluk Oman berpotensi mengakibatkan distribusi energi dari negara Kuwait, Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Oman, Irak, dan Iran terganggu sehingga memicu lonjakan harga energi. Gangguan di perairan Mediterania Timur juga dapat memicu kenaikan harga distribusi barang dan jasa dari Eropa ke Timur Tengah. Rute melewati Terusan Suez di Mesir menjadi lebih mahal. Sikap negara-negara Arab yang tidak solid dapat memunculkan konflik kepentingan. Hal inilah yang sangat rawan memicu ketegangan lebih luas dan berimbas pada distribusi minyak bumi beserta produk-produk turunannya secara global. Apabila hal ini terjadi, gejolak ekonomi muncul karena harga minyak bumi melambung. Biaya pengiriman barang dan  jasa semakin mahal sehingga rentan menggerus keuangan negara-negara importir minyak demi menambal subsidi. (Yoga)

Bank Besar Pecahkan Rekor Laba Jumbo Lagi

31 Oct 2023
Bank besar di Tanah Air masih berpesta laba dengan menorehkan rekor baru. Keuntungan yang dihasilkan kelompok bank modal inti (KBMI) 4 hingga kuartal III 2023 masih gemuk. Tiga bank terbesar kompak mencetak pertumbuhan laba bersih dua digit yang gemoy selama sembilan bulan pertama tahun ini. Menyusul Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Central Asia (BBCA), Bank Mandiri (BMRI) meraup untung Rp 39,1 triliun!  Angka ini melenting 27,4% secara tahunan atau year on year (YoY). Meski bukan penghasil laba terbesar, namun performa pertumbuhan Bank Mandiri nampaknya paling apik dibanding dua bank lain. Laba bersih Bank Mandiri konsisten tumbuh dari kuartal ke kuartal sepanjang tahun ini.  BRI mencetak laba tertinggi, yakni Rp 43,9 triliun. Namun, pertumbuhannya paling tipis dari bank besar lain, hanya naik 12,4% secara tahunan. Perinciannya, Rp 15,5 triliun diperoleh di kuartal I, Rp 13,9 triliun pada periode April-Juni dan Rp 14,5 triliun pada Juli-September. Mirip dengan Bank Mandiri, kinerja BCA secara kuartal konsisten naik. Labanya dalam sembilan bulan mencapai Rp 36,4 triliun, tumbuh 25,8%. Sebesar Rp 11,5 triliun didapat di kuartal pertama, Rp 12,7 triliun di triwulan II, lalu Rp 12,2 triliun di kuartal III. Sedang laba BRI tumbuh lebih tipis karena biaya provisi naik 1,8%. Adapun pendapatan BRI mencapai Rp 134,8 triliun, tumbuh 8,5%. Untuk ekspansi, Bank Mandiri, BRI, BCA sama-sama kuat dan berhasil tumbuh melampaui target. Masing-masing tumbuh 12,7%, 12,5% dan 12,3%. Ketiganya sama-sama memasang target pertumbuhan kredit di kisaran 10%-12%. Pengamat Pasar Modal Budi Frensidy, pencapaian laba bersih bank-bank besar tersebut membuat saham-saham mereka kayak dikoleksi. Penilaian Budi, BBRI dan BBNI menjadi saham paling menarik. Valuasi kedua saham bank itu murah. Ditambah lagi, adanya kenaikan earning per share alias laba per saham. Analis Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani menilai, hasil kinerja kuartal III membuktikan bahwa bank-bank KBMI 4 masih memiliki konsistensi dalam mencetak pertumbuhan laba. Selain itu, kualitas aset bank pada kelompok tersebut terjaga baik.

Biaya Kredit Perbankan Semakin Melandai

31 Oct 2023
Kualitas kredit perbankan di Tanah Air semakin membaik. Hal ini tercermin dari biaya kredit atau cost of credit (CoC) di sejumlah bank yang mulai melandai. Salah satu contoh, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Per September 2023, CoC Bank Mandiri secara konsolidasi turun 50 basis poin (bps) menjadi 0,96%. Pada September 2022, rasio biaya kredit emiten bank dengan kode saham BMRI itu masih berada di level 1,46%. Rendahnya biaya kredit tersebut, menjadi salah satu penopang pertumbuhan laba Bank Mandiri di sepanjang sembilan bulan tahun ini. Per September 2023, laba BMRI melesat 27,4% secara tahunan menjadi Rp 39,1 triliun. Direktur Manajemen Risiko Bank Mandiri Ahmad Siddik Badruddin mengatakan, hingga September 2023, Bank Mandiri mencatat perbaikan asset quality indicators antara lain, rasio non performing loan (NPL) turun 75 bps menjadi 1,49%. Melihat pencapaian tersebut, BMRI merevisi target CoC di akhir tahun ini menjadi 1,1% dari sebelumnya 1,1% hingga 1,3%. "Kami melihat dan memproyeksikan bahwa tren perbaikan kualitas kredit akan terus berlanjut sampai akhir tahun 2023 dan stabil di 2024 mendatang," papar Siddik. Bank pelat merah lain yang juga mencatat penurunan biaya kredit adalah PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN). Hingga semester pertama tahun 2023, CoC BTN turun 19 bps menjadi 1,29%. Sampai akhir tahun ini, BTN akan menjaga CoC di level 1,28%, turun dari tahun lalu yang berada di posisi 1,39%. Direktur Manajemen Risiko BTN, Setiyo Wibowo mengatakan, target penurunan CoC sejalan dengan potensi melandainya NPL. BTN akan menjaga perbaikan NPL di sekitar 3,2%-3,3%. Penurunan CoC juga mendongkrak laba CIMB. Per September 2023, bank yang melantai di BEI dengan kode saham BNGA ini meraup laba bersih Rp 6,3 triliun, naik 25,8% secara tahunan.

Kinerja Emiten Asuransi Naik

31 Oct 2023
Emiten asuransi mulai merilis laporan keuangan untuk sembilan bulan pertama tahun 2023. Dari 10 emiten yang sudah merilis kinerja, sebagian besar masih mencetak pertumbuhan pendapatan premi dan laba bersih. Hanya ada dua perusahaan yang tidak mencatatkan kenaikan premi bruto, yakni PT Asuransi Harta Aman Pratama Tbk (AHAP) dan PT Asuransi Bintang Tbk (ASBI). Berdasarkan data OJK, industri asuransi mencatatkan total pendapatan premi Rp 228,51 triliun atau turun 1,57% year on year (YoY). Emiten asuransi juga terlihat mampu mencetak kenaikan laba bersih. Hanya ada tiga emiten yang mencatat penurunan kinerja di laba bersih. Presiden Direktur Tugu Insurance Tatang Nurhidayat mengatakan, pertumbuhan kinerja keuangan anak perusahaan PT Pertamina ini berkat membaiknya ekonomi Indonesia dan penerapan prinsip kehati-hatian baik dari aspek underwriting maupun dalam pengelolaan investasi. Adapun pendapatan premi tumbuh 15,36% menjadi Rp 5,45 triliun. Kata Tatang,  pertumbuhan pendapatan premi ini ditopang lini bisnis fire, engineering, marine hull dan offshore. Direktur Keuangan & Layanan Korporat Tugu Insurance Emil Hakim menambahkan, pencapaian TUGU telah sesuai target. "Dengan ekuitas ini, tingkat kesehatan Tugu semakin membaik, dengan perolehan RBC 569,8%, jauh di atas ketentuan OJK. 

UPAYA EKSTRA DULANG LABA

31 Oct 2023

Mata investor saham sedang tertuju pada rapor keuangan emiten-emiten per 9 bulan 2023. Apalagi, korporasi tengah berjibaku mencetak pertumbuhan laba di tengah berbagai tantangan ekonomi seperti kenaikan suku bunga, penurunan harga komoditas, maupun krisis geopolitik. Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, sebanyak 79 dan 162 emiten membukukan pertumbuhan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sepanjang Januari-September 2023. Adapun, 9 emiten berbalik mendulang laba, 54 emiten mengalami penurunan laba bersih, 9 emiten membukukan penurunan rugi bersih, dan 3 emiten ruginya meningkat secara tahunan per 30 September 2023. Laba bersih yang lebih tebal a.l. dibukukan oleh emiten di sektor perbankan, properti, transportasi, komponen otomotif, pengelola rumah sakit, rokok, dan barang konsumsi. Di sektor perbankan, laba bersih BMRI tumbuh 27,36% year-on-year (YoY) menjadi Rp39,1 triliun sepanjang 9 bulan 2023. Adapun, GGRM membukukan lompatan laba bersih 197,62% secara tahunan menjadi Rp4,45 triliun pada periode tersebut. Kontras, emiten teknologi GOTO dan BUKA masih bergelut dengan rugi bersih per 30 September 2023 berturut-turut Rp9,54 triliun dan Rp776,22 miliar. Namun, kerugian GOTO menyusut 53% dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp20,32 triliun. Patrick Walujo, Direktur Utama Grup GoTo, mengatakan sinergi ekosistem yang makin kuat menjadi keunggulan perusahaan di tengah kompetisi yang kian ketat.

Terpisah, Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) Darmawan Junaidi mengatakan perseroan terus berfokus dalam peningkatan pelayanan dengan memberikan solusi keuangan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan nasabah untuk mendorong pertumbuhan bisnis. Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Sigit Prastowo menambahkan kinerja laba bersih bank juga terdorong oleh kinerja pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang naik 10,8% yoy menjadi Rp24,55 triliun pada kuartal III/2023. Adapun, Sekretaris Perusahaan PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) Syarif Faisal Alkadrie melaporkan produk emas menjadi kontributor terbesar penjualan Antam dengan proporsi 62% atau Rp19,29 triliun. Faktanya, dalam sebulan terakhir, IHSG tercatat merosot 3,24% dan parkir di level 6.735,89 pada akhir perdagangan kemarin, Senin (30/10). Hal itu sejalan dengan arus modal keluar asing yang mencatat net sell Rp11,97 triliun secara year-to-date. Presiden Direktur Kiwoom Sekuritas Indonesia Changkun Shin menilai kinerja emiten per kuartal III/2023 bervariasi, tetapi rapor emiten blue chips mayoritas tumbuh positif. Meski demikian, daya dorong sentimen positif itu disebut tidak begitu kuat terhadap IHSG mengingat pasar cenderung wait and see menanti keputusan suku bunga The Fed dalam FOMC 31 Oktober-1 November 2023.

Fenomenal ! Bank Mandiri Cetak Rekor Bank Pertama dengan Aset Tembus Rp2.007 Triliun

31 Oct 2023

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. mencatatkan kinerja keuangan impresif pada kuartal III/2023. Emiten berkode BMRI ini berhasil menorehkan rekor sebagai bank pertama di Indonesia dengan total aset konsolidasi menembus Rp2.007 triliun per September 2023 atau tumbuh 9,11% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY).Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengatakan bahwa kenaikan total aset turut didorong oleh laju pertumbuhan kredit serta dana pihak ketiga (DPK). Bank Mandiri berhasil menyalurkan kredit secara konsolidasi senilai Rp1.315,92 triliun per September 2023 dari posisi setahun sebelumnya senilai Rp1.167,51 triliun atau tumbuh 12,71% secara YoY. Selaras dengan pertumbuhan kedua segmen tersebut, kredit Bank Mandiri di segmen mikro turut mencatatkan realisasi positif dengan pertumbuhan 10,09% YoY dari Rp146,6 triliun pada September 2022 menjadi Rp161,4 triliun pada akhir September 2023. Di samping itu, daya beli masyarakat yang masih solid turut mendukung pertumbuhan kredit konsumer Bank Mandiri sebesar 12,04% YoY menjadi Rp109,3 triliun di kuartal III/2023. Kredit korporasi Bank Mandiri tetap menjadi penyumbang portofolio kredit terbesar perseroan dengan realisasi mencapai Rp449 triliun atau tumbuh 9,55% secara YoY. Pertumbuhan kredit ini beriringan dengan kinerja keuangan perseroan yang makin solid, tecermin dari laba bersih Bank Mandiri secara konsolidasi yang melesat 27,4% YoY menjadi Rp39,1 triliun hingga September 2023.

TATA KELOLA PERTAMBANGAN : ARAL MENGGANJAL DIVESTASI INCO

31 Oct 2023

Pemerintah belum juga bisa memberikan kepastian mengenai keputusan divestasi saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) sebagai salah satu syarat perpanjangan kontrak, meski Presiden Joko Widodo telah berpesan untuk diselesaikan secepatnya dengan jalan keluar yang menguntungkan semua pihak. Hingga kini, proses pembahasan divestasi saham INCO masih berjalan di internal pemerintah dengan melibatkan perseroan dan PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID yang bakal melaksanakan proses tersebut. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, negosiasi sisa kewajiban divestasi saham INCO masih berlangsung alot, meski Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyetujui rencana pengembangan seluruh wilayah atau RPSW perusahaan. “Sedang diskusi terus. alot,” katanya saat ditemui, Senin (30/10). Pada kesempatan berbeda, Erick juga mengaku bahwa pihaknya masih terus mempelajari untung-rugi dari rencana divestasi saham INCO. Dirinya tidak ingin Indonesia mendapatkan manfaat yang kurang optimal dari proses yang menjadi salah satu syarat perpanjangan kontrak tersebut.Hal tersebut menjadi salah satu landasan bagi pemerintah agar proses divestasi INCO dilakukan dengan setengah hati. Sementara itu, Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan, proses pelepasan saham INCO kepada pihak Indonesia sebagai syarat peralihan status izin tambang kontrak karya (KK) menjadi izin usaha pertambangan khusus (IUPK) sudah masuk tahap finalisasi di Kementerian BUMN. Hal-hal terkait dengan perpanjangan izin konsesi tambang INCO yang menjadi kewenangan Kementerian ESDM pun diklaim telah diselesaikan. Arifin menyebut, perpanjangan kontrak INCO bakal diberikan setelah proses divestasi sahamnya rampung. Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia juga memastikan pemerintah bakal memperpanjang kontrak tambang INCO dengan menyetujui konversi kontrak lama menjadi IUPK. Beberapa persyaratan yang dimaksud oleh Bahlil di antaranya adalah kewajiban sisa divestasi kepada MIND ID, serta penciutan lahan atau relinquishment sebagian blok konsesi yang dianggap tidak dikembangkan oleh INCO selama masa konsesi.

Merger & Akuisisi Injak Rem Menjelang Pemilu

30 Oct 2023
Memasuki tahun politik, aksi merger dan akuisisi (M&A) mulai injak rem  dan melambat. Banyak perusahaan menepi dan tak melanjutkan aksi itu sembari menanti nahkoda baru Indonesia hasil pemilihan umum (Pemilu) 2024. Sikap menahan diri melakukan merger dan akuisisi ini setidaknya terlihat dari pemberitahuan merger dan akuisisi yang didaftarkan di Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Sampai kuartal III-2023, hanya ada 106 M&A, turun dibandingkan periode sama tahun lalu sebanyak lebih dari 300 notifikasi. Kepala Biro Humas dan Kerja Sama KPPU Deswin Nur menyatakan, aksi merger dan akuisisi berpeluang naik lagi di akhir tahun ini, meski pemilu mulai berjalan. "Pemilu tidak menjadi penghalang aksi merger dan akuisisi, terutama sektor yang teregulasi." ungkap Deswin, akhir pekan lalu. Namun bagi Nailul Huda, Peneliti Ekonomi Digital Institue for Development of Economics and Finance (Indef) menilai, agenda Pemilu 2024 menjadi pertimbangan pebisnis melakukan aksi merger dan akuisisi. Mereka cenderung wait and see, termasuk menunggu kebijakan pemerintahan baru usai pemilu. "Sektor yang mungkin sering terlibat aksi merger dan akuisisi adalah sektor yang di-endorse  pemerintah," kata Huda ke KONTAN, akhir pekan lalu.