Ekonomi
( 40498 )Terumbu Karang Bontang Datangkan Ketenangan hingga Cuan
Yusta (36), warga Kelurahan
Bontang Kuala, Kecamatan Bontang Utara, Kota Bontang, Kaltim, memperlihatkan daftar berisi 17 orang di
telepon genggamnya, semuanya warga Bontang Kuala yang pernah dan masih aktif
melakukan pengeboman terumbu karang. ”Sebanyak 12 orang di antaranya sudah
bergabung dengan kami. Masih ada lima lagi yang tengah dibujuk untuk meninggalkan
bom dan racun ikan,” kata Yusta, kini sebagai Ketua Kelompok Konservasi Terumbu
Karang Bontang Kuala (Karaka), Sabtu (21/10). Anggota Karaka, semua warga
Bontang Kuala yang aktif merawat terumbu karang di Tobok Batang. Letaknya di Selat
Makassar, berjarak 2 kilometer dari rumah mereka. Sebelum membentuk Karaka, semua
anggota mencari ikan dengan bom. Aktivitas yang dilakukan secara turun-temurun
itu belakangan membuat mereka berhadapan dengan hukum karena merusak ekosistem
laut. Setelah paham bom menghancurkan masa depan, mereka berubah.
Mereka merasakan sendiri
kerusakan terumbu karang akibat bom, sejalan dengan semakin sulitnya nelayan
mencari ikan. Tak jarang nelayan Bontang harus melaut hingga Kutai Timur,
sekitar 1 jam dari Bontang, atau setara 20 liter solar. Untuk menghemat ongkos,
mereka menginap dan meninggalkan keluarga ketimbang pergi-pulang. ”Jauh-jauh
melaut hanya dapat Rp 2 juta per minggu. Sampai di rumah, setelah dipotong ongkos
solar dan makan, tinggal Rp 200.000,” katanya. ”Konservasi terumbu karang
menjadi jembatan mengerjakan berbagai hal baru. Kami ingin terus belajar agar
semakin banyak membuka peluang baru berkelanjutan,” katanya. Salah satu anggota
Karaka, Said Ahmad Rafi (33), merasakan kegiatan pelestarian terumbu karang
sebagai terapi lepas dari trauma. Saat masih mengebom ikan, hidupnya tidak
tenang karena khawatir ditangkap aparat. Kini, ia aktif mengonservasi terumbu
karang dan menjadi pencari lobster. ”Semoga (terumbu karang yang dikonservasi)
bisa menjadi rumah bagi ikan. Bila makin banyak ikan, yang untung nelayan
juga,” katanya. (Yoga)
Dunia Baru: Ekonomi Kawan atau Lawan
Mekanisme pasar sebagai
rezim yang berlaku selama ini di bawah bayang-bayang menguatnya fragmentasi.
Kini ”rezim kawan atau lawan” mulai mendikte perekonomian. Fragmentasi sebagai ”pandemi”
mulai muncul ke permukaan sejak 2020. Ini, misalnya, terdokumentasikan
eksplisit dalam pidato yang dikemukakan Presiden Sidang Majelis Umum PBB Ke-74
Tijjani Muhammad Bande di New York, AS, 10 Juni 2020. Dalam pidato berjudul ”Multilateralisme
di Dunia yang Terfragmentasi”, Bande menyatakan, dunia semakin terpolarisasi.
”Ketegangan dan konflik geopolitik terus memengaruhi berbagai belahan dunia,”
katanya. Perang Ukraina-Rusia yang meletup pada Februari 2022 dan terus berkepanjangan
menjadi tangga eskalasi fragmentasi dunia. Demikian pula dengan perang hegemoni
antara AS dan China.
”Dunia terfragmentasi. Dulu,
kalau bicara misalnya perdagangan dan investasi, mekanisme pasar yang berlaku. Tapi,
sekarang tidak lagi,” kata pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, Agustinus Prasetyantoko, di ruang
kerjanya, di Jakarta, Kamis (26/10). Dalam mekanisme pasar, investasi akan
mencari lokasi aman dan paling menguntungkan. Perdagangan juga akan terjadi
dalam kemitraan yang paling menguntungkan. Namun, dengan menguatnya
fragmentasi, faktor geopolitik mendikte investasi dan perdagangan. Ini,
misalnya, terjadi ketika sejumlah perusahaan hengkang dari suatu negara karena
persoalan geopolitik. Semua negara juga cenderung protektif. (Yoga)
Nilai Tukar Rupiah Kembali Tertekan
Reklamasi Jadi Bagian Perencanaan Tambang
Digitalisasi Dorong Ekonomi Syariah
Teknologi digital dinilai
akan menjadi penggerak utama ekonomi keuangan syariah nasional di kancah
global. Sebagai bentuk adaptasi ekonomi keuangan syariah atas perkembangan
teknologi, pemerintah meluncurkan aplikasi Satu Wakaf Indonesia. Hal ini
mengemuka dalam pembukaan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-10 tahun
2023 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Kamis (26/10). Hadir dalam
acara tersebut, antara lain, Wapres Ma’ruf Amin, Gubernur BI Perry Warjiyo,
serta Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. Wapres Amin menuturkan, penerapan
teknologi dan digitalisasi menjadi prasyarat bagi kesuksesan semua sector potensial.
Teknologi transversal, yang merujuk pada teknologi yang dapat diterapkan secara
lintas sektor, dinilai akan menjadi penggerak utama pertumbuhan global di masa
depan.
Tanpa inisiatif strategis
untuk mempercepat implementasi teknologi transversal, Indonesia diperkirakan
tidak akan optimal dalam pencapaian target pertumbuhan ekonomi pada 2045. ”Saya
juga meyakini ekonomi dan keuangan syariah sebagai potensi luar biasa yang
dimiliki Indonesia untuk menerbangkan ekonomi nasional,” kata Wapres Amin saat
memberikan sambutan. Pada perhelatan ISEF kali ini, Wapres Amin menyampaikan
sejumlah pesan kepada semua pegiat ekonomi syariah. Pertama, meningkatkan dan
memperluas pemanfaatan digitalisasi dan inovasi digital sebagai penggerak utama
akselerasi pengembangan ekonomi syariah yang akan meningkatkan efisiensi dan
produktivitas industri halal. Kedua, Wapres meminta peningkatan literasi dan inklusi
ekonomi serta keuangan syariah setidaknya mencapai 50 %. Hal ini dinilai akan berkorelasi
dengan meluasnya pangsa pasar ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Ketiga,
menjaga dan mengawal bersama konsistensi dan keberlanjutan program ekonomi dan
keuangan syariah hingga masa mendatang. (Yoga)
Insentif Properti Genjot Ekonomi hingga 2024
10 Saham Sektor Otomotif yang Terdaftar di BEI
Membidik Lonjakan Penjualan Hunian Komersial
Belum Pulih dari Efek Pandemi
Masih Tetap Mekar Meski Sedikit Melambat
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









