Ekonomi
( 40498 )Mudah Menemukan Barang Impor Murah di E-Dagang
Konsumen Indonesia dengan
mudah menemukan produk impor di lokapasar. Di lokapasar, harga produk impor
asal China jauh lebih murah dibandingkan produk buatan lokal. Produk perawatan
rambut perempuan seperti hairmask buatan lokal dihargai Rp 22.000 untuk kemasan
200 gram di lokapasar Shopee. Sementara itu, produk sejenis milik pelaku usaha
asal Guangdong, China, dijual seharga Rp 38.800 untuk kemasan ukuran 500 gram. Artinya,
harga produk impor asal China tersebut hanya 70 % dari harga local alias lebih
murah Rp 16.200 untuk bobot 500 gram. Produk kosmetik impor asal China salah
satu yang membanjiri Indonesia lewat lokapasar. Fitriani (30), warga asal Kota Tangerang,
Banten, mengaku sering mendapat rekomendasi kosmetik impor saat berbelanja di
lokapasar. Dia mengatakan, kosmetik impor itu harganya lebih murah ketimbang
kos metik lokal yang kerap dia beli.”Beberapa produk yang impor memang harganya
murah,” kata Fitriani, Rabu (25/10). Barang impor murah yang memadati lokapasar
membuat pelaku UMKM kesulitan bersaing dari sisi harga.
Irsyad, pemilik jenama
Tara Indonesia yang salah satu produknya adalah daster border, menilai, saat
ini daster bordir impor dengan harga jauh lebih murah telah membanjiri
lokapasar. Sebagai gambaran, Irsyad selama ini menjual daster border sekitar Rp
150.000. Sementara daster bordir impor yang beredar di pasaran dijual seharga Rp
40.000. Menurut dia, harga tersebut terlalu murah karena di bawah ongkos
produksinya. Apalagi, daster yang dia jual dibordir secara manual. Guna mangatasi
membanjirnya impor barang ke platform e-dagang, pemerintah melalui Kemenkeu
menerbitkan Permenkeu (PMK) No 96 Tahun 2023 tentang Ketentuan Kepabeanan,
Cukai, dan Pajak atas Impor dan Ekspor Barang Kiriman. Regulasi ini berlaku sejak
17 Oktober 2023 guna menggantikan PMK No 199/PMK.010/2019. ”Aturan ini
bertujuan menekan impor barang kiriman de gan memperketat pengawasan barang yang masuk,” ujar Staf Khusus
Menkeu Bidang Komunikasi Strategis Yustinus Prastowo. (Yoga)
Insentif Pajak Bakal Gairahkan Pasar Properti
Pelaku pasar properti
menyambut positif rencana pemerintah menggulirkan insentif properti. Relaksasi
itu berupa PPN yang akan ditanggung pemerintah untuk pembelian rumah di bawah
Rp 2 miliar, serta subsidi biaya administrasi sebesar Rp 4 juta untuk rumah
masyarakat berpenghasilan rendah. Pemerintah berencana menanggung 100 % PPN untuk
pembelian rumah seharga di bawah Rp 2 miliar sampai Juni 2024, lalu untuk Juni-Desember
2024 diberikan 50 %. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Real
Estat Indonesia (DPP REI) Joko Suranto mengemukakan, kebijakan PPN yang
ditanggung pemerintah (PPNDTP) untuk pembelian rumah dapat menggerakkan dan menumbuhkan
industri properti.
Pertumbuhan industri properti
menjadi penggerak ekonomi nasional karena memberikan multiefek terhadap pengembangan 185 industri
terkait properti, mulai dari bahan bangunan sampai peralatan rumah tangga.
Selain itu, juga menyerap lapangan kerja. ”(Pihak) yang menerima insentif PPN
ini konsumen, bukan developer. Tujuannya untuk menggerakkan, memudahkan, dan
meringankan konsumen dalam menjangkau rumah,” kata Joko, saat dihubungi di
Jakarta, Rabu (25/10). Menurut Joko, pasar residensial saat ini didominasi kebutuhan
rumah dengan harga di bawah Rp 2 miliar, yakni 40 % dari total pasar. Dari
hasil kajian REI, penyerapan rumah seharga Rp 400 juta per unit mampu
menciptakan kapitalisasi pasar senilai Rp 9,35 triliun, serta dampak ekonomi Rp
1,79 triliun. Jika serapan rumah didorong hingga seharga Rp 2 miliar lewat
stimulus PPNDTP, potensi penambahan kapitalisasi pasar ditaksir Rp 20 triliun. (Yoga)
Likuiditas Mengetat, Perbankan Optimistis Target Kredit Tetap Tercapai
Kenaikan suku bunga acuan
berpotensi mengakibatkan pengetatan likuiditas industri perbankan. Meski
demikian, sejumlah bank besar optimistis penyaluran kredit dapat terus bertumbuh
hingga akhir tahun didukung permodalan yang kuat. Sebelumnya, BI mengumumkan kenaikan
suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6 % karena ketidakpastian global
yang terus meningkat hingga mengakibatkan nilai tukar rupiah dalam beberapa
waktu terakhir terdepresiasi mendekati Rp 16.000 per dollar AS. Dirut BRI Sunarso
mengatakan, keputusan BI untuk menaikkan suku bunga acuan tersebut akan
berdampak pada pengetatan likuiditas perbankan. Meski begitu, sampai saat ini
kinerja BRI masih positif yang ditunjukkan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga
(DPK), likuiditas yang memadai, dan permodalan yang kuat.
”Pertumbuhan DPK BRI
hingga kuartal III-2023 tercatat 13,21 persen secara tahunan menjadi Rp
1.290,29 triliun. Jumlahnya jauh di atas pertumbuhan DPK industri perbankan
yang pada Agustus 2023 tercatat 6,24 % secara tahunan. Kemudian, LDR (loan to
deposit ratio) BRI terjaga di level 87,76 %, jauh di atas ketentuan regulator,”
katanya dalamkonferensi pers Pemaparan Kinerja BRI Kuartal III-2023 secara
virtual, Rabu (25/10). Di sisi lain, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR)
BRI tercatat sebesar 27,48 %. Dengan likuiditas yang memadai dan permodalan
yang kuat tersebut, Sunarso optimistis BRI mampu mengantisipasi berbagai risiko
dalam tiga bulan ke depan sekaligus mendorong pertumbuhan BRI melalui
penyediaan jasa layanan keuangan serta pembiayaan dan pemberdayaan UMKM. (Yoga)
Bantalan Ekonomi Digelontorkan
Pemerintah mengeluarkan
tiga paket kebijakan pada akhir tahun 2023 untuk melindungi perekonomian dari
berbagai dampak guncangan global dan siklus El Nino. Paket kebijakan difokuskan
untuk menjaga daya beli masyarakat, memperkuat UMKM, dan meningkatkan
keterjangkauan hunian. ”APBN terus memosisikan sebagai instrumen yang responsif
dan cukup fleksibel untuk bisa menjaga masyarakat dan perekonomian kita dari ketidakpastian
dan guncangan global,” ujar Menkeu Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita,
Rabu (25/10/2023). Kemenkeu sedikitnya menyiapkan tambahan anggaran Rp 13,62
triliun untuk implementasi ketiga paket kebijakan. Paket kebijakan pertama
berupa penebalan bansos untuk memitigasi dampak El Nino guna menjaga daya beli
masyarakat. Awalnya pemerintah hanya merencanakan bansos beras pada
Maret-November dengan anggaran yang telah ditetapkan sebesar Rp 15,9 triliun.
Sebagai penebalan, anggaran
ditambahkan sebesar Rp 2,67 triliun agar program ini dapat berlanjut hingga Desember
2023. Penebalan bansos itu dengan memperpanjang pemberian bansos beras yang
sudah ada, yakni 10 kg per keluarga penerima manfaat (KPM). Pemerintah telah
mengalkulasi akan ada 21,3 juta KPM hingga Desember 2023. Pemerintah juga memberikan
bantuan langsung tunai sebesar Rp 7,52 triliun yang akan disalurkan kepada 18,8
juta KPM pada periode November hingga Desember 2023. Untuk paket kebijakan
kedua, pemerintah akan melakukan penguatan UMKM untuk menopang pertumbuhan ekonomi
ditengah suku bunga yang tinggi dengan melakukan percepatan penyaluran subsidi
kredit usaha rakyat (KUR) yang dianggarkan sebesar Rp 297 triliun. Paket
kebijakan ketiga berupa penguatan sektor strategis untuk menopang pertumbuhan
di sektor perumahan. Pemerintah akan menanggung PPN pembelian rumah dengan
harga sampai Rp 2 miliar. Berdasarkan kalkulasi Kemenkeu, ketiga paket
kebijakan ini dapat menggenjot pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV-2023,
hingga mencapai 5,06 %. (Yoga)
Perbankan Paling Banyak Terbitkan Surat Utang
OJK Dorong Perencanaan Keuangan sejak Dini
RI Anut Kebijakan Investasi Nonblok
Kredit Tumbuh 12,35%, BRI Semakin Kuat, Selama 9 Bulan Cetak Laba Rp 44,21 Triliun
Investasi Hijau Dongkrak Saham Astra dan Barito Renewables
Smelter Baru Freeport di JIIPE Gresik Siap Beroperasi Mei 2024
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









