Bunga Naik, Pedang Mata Dua
Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 6% pada 19 Oktober 2023 lalu. Analis memandang keputusan bank sentral itu akan menjadi pedang bermata dua, terutama bagi emiten sektor perbankan dengan produk yang sensitif terhadap kenaikan bunga. Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus mengatakan, pada dasarnya kenaikan bunga acuan BI akan meningkatkan net interest margin (NIM) perbankan. Namun, di sisi lain, kenaikan bunga acuan juga berpotensi membuat penyaluran kredit berkurang akibat tingginya bunga pinjaman. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta bilang, akan ada potensi kenaikan non performing loan (NPL) di tengah tingginya suku bunga. Karenanya, kedua analis sepakat bahwa kinerja emiten perbankan masih cukup baik di di kuartal IV ini. Nafan bilang, katalis pendorongnya adalah stabilitas perekonomian domestik yang bisa mendorong pertumbuhan konsumsi. Menurut Nafan, meski ekonomi global masih diselimuti ketidakpastian, tetapi fokus ekspor dari Indonesia ke negara-negara yang memiliki fundamental makro ekonomi yang relatif solid dan menunjukan pemulihan, seperti India, China, dan AS. Menilik hasil survei permintaan dan penawaran pembiayaan perbankan yang dirilis BI, saldo bersih tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru pada September 2023 mencapai 92,6%. Angka itu lebih tinggi dari SBT Agustus di 2023 sebesar 86,2%. Adapun kenaikan berasal berasal dari kredit investasi dan kredit konsumsi. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano mencatat total kredit secara agregat untuk bank saja tumbuh 11% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 3.502 triliun di bulan Agustus. Secara bulanan, hanya Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang melaporkan pertumbuhan kredit yang sedikit lebih lambat yaitu 10,1% yoy dari bulan sebelumnya 10,4%. "Sementara itu, bank-bank BUMN melaporkan pertumbuhan kredit yang lebih cepat, seperti Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dari 11,2% ke 11,9%. Lalu, Bank Mandiri Tbk (BMRI) dari 10,2% ke 12,3%, dan Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dari 6,9% menjadi 8,5%," terang Victor dalam riset yang dirilis Senin (2/10).
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023