Ekonomi
( 40478 )Ribuan Rekening Penampung Dana Gelap Kampanye
Bom Waktu Bernama TikTok Shop
Mengejar Peluang Cuan Sebelum Tutup Tahun
Masih ada dua pekan lagi sebelum tahun berganti. Investor masih berkesempatan menjaring cuan dan menunggangi potensi kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di sisa tahun.
Akhir pekan lalu, IHSG bertengger di level 7.190,98 atau posisi tertinggi sepanjang tahun ini. Jika dihitung sejak awal 2023, IHSG menguat sebesar 4,97%, level penguatan tertinggi nomor dua kawasan ASEAN. Nikkei menjadi jawara di Asia.
Serbuan investasi Berkshire Hathaway, kendaraan investasi Warren Buffett, ke Jepang, menambah daya tarik bursa saham Jepang di mata investor global.
Financial Expert
Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih mengamati, penguatan IHSG didorong katalis global yang relatif kondusif. Ratih menyoroti bank sentral negara maju mulai menahan suku bunga, bahkan berpotensi memangkas suku bunga tahun depan.
Investor asing kembali ke pasar ekuitas domestik, menyusul sinyal
dovish
bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve yang berpotensi memangkas suku bunga 75 basis poin (bps) pada tahun depan.
Head of Investment Information
Mirae Asset Sekuritas Martha Christina sepakat, IHSG berpeluang menguat. Tapi, Martha memperkirakan penguatan IHSG sudah terbatas. Dua pekan terakhir ini sudah minim sentimen yang bisa mendongkrak pasar.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana turut memperhitungkan, IHSG menuju 7.200-7.250 di akhir tahun. Sentimen pengiringnya adalah rilis data ekonomi di AS dan China, serta arah suku bunga acuan dalam RDG BI.
Senior Equity Analyst
Phillip Sekuritas Indonesia, Helen Vincentia menambahkan, pergerakan harga komoditas dunia di akhir tahun turut menjadi katalis penting bagi IHSG. Selain itu, investor memperhatikan perkembangan politik dalam negeri pada masa kampanye pemilu.
Helen melihat, saham di sektor infrastruktur, properti dan bank masih punya prospek apik. Pilihan Helen adalah PGEO, CTRA, SMRA, serta empat bank
big caps
BBCA, BBRI, BMRI dan BBNI. Helen juga melirik saham ASII.
Martha turut melirik saham bank dan sektor infrastruktur. Ia menyematkan strategi
buy
atau
hold
saham BBCA, BMRI, TLKM dan JSMR.
Secara teknikal, Herditya menyodorkan tiga saham. Meliputi ANTM, ERAA, dan ITMG. Sedangkan Ratih menyoroti
capital inflow
mengalir, sehingga berpotensi
window dressing
pada
big caps
akan terakselerasi.
Bansos Makin Besar Tanda Populasi Miskin Masih Ada
Program perlindungan sosial (perlinsos) menjadi salah satu andalan pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam menjaga daya beli masyarakat. Tak heran, setiap tahun, anggaran perlinsos hampir selalu naik.
Pada era Jokowi, total anggaran perlinsos yang dikucurkan mencapai Rp 3.669,43 triliun sejak tahun 2015 hingga 2024 mendatang. Anggaran perlinsos era Jokowi adalah anggaran perlinsos yang melalui belanja pemerintah pusat juga transfer ke daerah.
Dari anggaran itu, Jokowi menurunkan angka kemiskinan dari 2015 sebesar 11,13% menjadi 9,36% di 2023. Tahun depan, pemerintah optimistis kemiskinan kembali turun ke angka 6%-7%.
Sebagai perbandingan, di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), duit bantuan sosial (bansos) sejak 2004 hingga 2014 mencapai Rp 606 triliun yang berasal dari belanja pemerintah pusat.
Dari anggaran itu, era SBY menurunkan kemiskinan dari 16,66% pada 2004 menjadi 10,96% di 2014. Sementara rerata inflasi pada periode itu 7,48% dengan rerata pertumbuhan ekonomi 5,7%.
Sedangkan perlinsos era Jokowi dinilai efektif menekan inflasi. Rerata inflasi selama Jokowi menjabat sebagai Presiden mencapai 3,08%.
Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, program perlinsos era Jokowi lebih efektif lantaran program yang disalurkan lebih banyak. Hal ini sejalan pendapatan negara yang lebih besar saat era Jokowi dibanding SBY.
Saham-Saham Blue Chip Yang Sip
Saham-saham emiten papan atas alias
blue chip
mulai kembali bangkit. Hal itu tercermin dari pergerakan indeks paling likuid di Bursa Efek Indonesia (BEI), yakn indeks LQ45.
Sepanjang tahun ini, indeks LQ45 menguat 2,22% ke level 957,97 per Jumat (15/12). Namun laju indeks LQ45 masih di bawah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sepanjang tahun ini menguat 4,97%.
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menjelaskan ada beberapa faktor yang menyebabkan laju IHSG lebih tinggi ketimbang LQ45.
Terlihat dari pergerakan saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang melesat hingga puluhan persen sejak listing di bursa. Apalagi BREN sudah melesat 848,72% ke level Rp 7.400. Walhasil, kapitalisasi pasar BREN sempat nyaris menyalip BBCA. Nico mengatakan, dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua di BEI, BREN mampu menyetir pergerakan IHSG dan saham-saham penggerak itu yang tidak ada di LQ45.
"Saat ini pasar lebih sehat karena memegang
blue chip
," kata Adi Wicaksono, Retail Analyst Maybank Sekuritas.
Robertus Hardy,
Head of Research
Mirae Asset Sekuritas melihat, IHSG berpeluang mengalami
window dressing
atau
Santa Claus Rally
terutama pada beberapa saham blue chip. Dan saat ini masih ada sejumlah saham unggulan yang masih memiliki valuasi cukup menarik untuk dilirik.
Saham pilihan Nico yakni BBCA, target Rp 10.327, BBRI di Rp 6.350 dam BBNI di Rp 5.751. Sementara target BMRI di Rp 6.802, AMRT di Rp 3.389, INDF di Rp 8.178 dan ICBP Rp 13.620.
Ekonomi Jadi Kunci Emiten Multisektor
Ekonomi yang tumbuh menjadi barometer emiten multisektor bisa melaju. Ekonomi 2024 yang bisa tumbuh menjadi katalis penting bagi emiten multisektor.
Tira Ardianti, Kepala Hubungan Investor PT Astra International Tbk (ASII) menyatakan, Grup Astra memiliki berbagai bisnis yang kinerja dan prospeknya dipengaruhi berbagai faktor. Salah satunya pertumbuhan ekonomi.
"Kami berharap, ekonomi Indonesia bertumbuh dengan baik pada 2024 yang bisa mendukung kinerja bisnis Astra," katanya kepada KONTAN, Minggu (17/12).
Tira menyebutkan, selama ini ASII sudah melakukan beberapa aksi korporasi. Seperti melakukan akuisisi Bank Jasa Jakarta untuk mendukung ekosistem jasa keuangan dengan layanan digital yang disebut Bank Saqu.
"Kami senantiasa menjajaki peluag-peluang bisnis untuk memperkuat dan keberlanjutan bisnis Astra," tambahnya.
Tak mau ketinggalan, PT Bakrie & Brother Tbk (BNBR) bersiap mengembangkan unit-unit usahanya di tahun 2024. Seperti di industri komponen otomotif, industri baju, konstruksi bangunan ramah lingkungan.
"Hingga pengembangan sektor energi baru terbarukan termasuk elektrifikasi transportasi," kata Direktur BNBR, Roy Hendrajanto M. Sakti ke KONTAN (15/12).
Head Customer Literation and Education
Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi melihat, kinerja emiten holding pada tahun 2024 justru tumbuh melambat. Penyebabnya harga komoditas energi moderat. Kondisi ini mempengaruhi lini sektor pertambangan.
Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Division
, Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi Riawan sependapat sentimen domestik dan global bisa mempengaruhi kinerja emiten multisektor.
Ia merekomendasikan
buy
ASII di Rp 8.000, ABMM di harga Rp 2.500-Rp 3.000 dan BMTR di harga Rp 1.000-Rp 1.200.Oktavianus hanya merekomendasikan
buy
ASII di harga Rp 6.350.
Window Dressing & Isu Merger Menyetir Saham BUMN Karya
Saham sejumlah emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) karya masih fluktuatif. Menurut data RTI, saham PT Adhi Karya Tbk (ADHI) naik 4,85% pada hari Kamis lalu dibandingkan sehari sebelumnya. Meski pada Jumat (15/12) turun lagi 1,73% ke Rp 340 per saham.
Saham PT PP Tbk (PTPP) juga naik 4,85% pada hari Kamis lalu. Lalu melorot 1,85% pada Jumat (15/12) ke Rp 530 per saham. Saham PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) juga tercatat naik 24,10% pada perdagangan Kamis (14/12), sebelum turun 0,83% ke posisi Rp 240 pada Jumat lalu. Pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy melihat, kinerja saham BUMN karya pada akhir tahun kemungkinan disebabkan
window dressing.
Kinerja BUMN Karya dalam waktu dekat juga berpeluang positif lantaran ada Penyertaan Modal Negara (PMN). Berkat injeksi negara, arus kas mereka sedikit membaik.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menambahkan, kenaikan harga saham emiten BUMN karya juga didorong oleh spekulasi merger antar BUMN karya.
Meski begitu, Azis menilai kinerja emiten BUMN Karya pada tahun depan masih tertekan. Apalagi liabilitas emiten pelat merah itu masih tinggi. Alhasil, Azis dan Budi belum memberikan rekomendasi ataupun proyeksi terhadap saham BUMN karya.
Sektor Saham Barang Baku Masih Jitu
Emiten sektor barang baku menantikan prospek perekonomian yang lebih baik di tahun 2024. Perputaran roda ekonomi diharapkan meningkatkan lagi pemintaan bahan-bahan mentah. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer mengamati, sampai saat ini masih belum ada sentimen benar-bener kuat dalam menopang kinerja emiten barang baku, terutama emiten tambang logam. Seperti diketahui, industri logam masih menunggu pemulihan ekonomi China yang relatif lambat sehingga berdampak pada rantai industri manufaktur. Sebagai salah satu konsumen terbesar, permintaan China berdampak bagi tingkat harga komoditas tambang semacam nikel, tembaga dan timah. Situasi ini ikut menahan ketertarikan investor terhadap saham-saham yang ada di sektor barang baku seperti saham tambang logam seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Timah Tbk (TINS). Namun, Miftahul mencermati bahwa saham sektor barang baku tak sepenuhnya suram. Ada segmen bisnis yang dinilai punya kinerja apik seperti pada emiten semen.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi menilai, penurunan harga komoditas yang masih terjadi akan berdampak pada kinerja emiten pertambangan logam. Harga nikel global kemungkinan akan tetap tertekan pada tahun 2024 - 2025 karena melimpahnya pasokan, terutama dari Indonesia akibat peningkatan kapasitas smelter nikel di Indonesia. Saat ini, Samuel Sekuritas menyukai emas sejalan dengan sikap The Fed yang kurang
hawkish
dan akan berefek pada pelemahan dollar AS. Ketidakpastian global setelah perang Israel-Hamas mungkin juga akan mendorong investor untuk beralih ke aset
safe haven
seperti emas.
Di sisi lain, kondisi manufaktur Indonesia saat ini terpantau sedikit membaik pada November 2023, setelah dua bulan berturut-turut melemah. Meningkatnya aktivitas manufaktur artinya bisa mengangkat permintaan barang baku.
S&P Global mencatat,
Purchasing Manager's Index
(PMI) Manufaktur Indonesia pada November 2023 berada di level 51,7. Angka ini naik 0,2 poin dibandingkan dengan Oktober 2023 yaitu 51,5. Secara teknikal, analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengamati, pergerakan sektor saham barang baku yang tercermin dari IDX Basic Materials masih berada pada fase
uptrend
di tahun ini. Meskipun terjadi koreksi pada semester pertama 2023.
Sebagai informasi, sektor saham barang baku terdiri dari perusahaan yang menjual produk atau jasa yang nantinya digunakan industri lain sebagai bahan baku untuk memproduksi barang jadi. Contohnya, perusahaan yang memproduksi barang kimia, material konstruksi, kemasan, wadah, pertambangan logam atau mineral non-energi, serta produk kayu dan kertas.
Menurut Herditya, emiten sektor ini yang dapat dicermati adalah ANTM, MDKA, serta SMGR. Sedangkan Miftahul merekomendasikan beli SMGR dan INTP dengan target harga masing-masing di Rp 8.000 dan Rp 12.905.
Selisih Yield Melebar, Dana Asing Berpeluang Masuk Lagi
Pasar obligasi diperkirakan masih memberi
return
menarik pada tahun depan. Apalagi, belakangan ini selisih (
spread
) imbal hasil atau
yield
SUN tenor 10 tahun dengan US Treasury 10 tahun kian melebar. Hal ini diharapkan kembali mendorong minat asing masuk ke pasar surat utang Indonesia.
Pada akhir November 2023,
yield
SUN 10 tahun di level 6,63% dan
yield
US Treasury 10 tahun di 4,33%. Sehingga
spread yield
keduanya sebesar 230 basis poin (bps).
Sementara itu, per 14 Desember 2023,
yield spread
antara SUN dengan US Treasury 10 tahun membesar menjadi 271 bps.
Fixed Income Analyst
Pefindo, Ahmad Nasrudin mengatakan, pada saat US Treasury turun,
yield
SUN 10 tahun justru naik.
Dengan selisih
yield
domestik dengan pasar Amerika Serikat (AS) itu, Ahmad memperkirakan, pasar surat utang domestik bakal menarik minat investor. Sebab imbal hasil pasar domestik menjadi lebih tinggi.
Katalis lain yang akan mendorong asing masuk ke Indonesia adalah peringkat
sovereign
yang bertahan di level
investment grade
dan dukungan kebijakan makroekonomi yang
prudent.
Kendati masih banyak ketidakpastian, Ahmad memprediksi, pasar obligasi domestik berpeluang memberikan
return
antara 6%-9% di tahun depan. Dari indeks ALBI, pasar domestik memberikan pengembalian 7,3% sejak awal tahun hingga 30 November 2023. Persentase ini merupakan yang tertinggi di antara beberapa negara Asia seperti Filipina sebesar 6,9%, India 6,7%, dan Malaysia 5,6%.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, ketidakpastian pada pasar keuangan Indonesia akan tetap ada terutama terkait pemilu 2024. Sehingga, Bank Indonesia (BI) tidak akan buru-buru memotong suku bunga acuan tahun depan.
Simpanan Nasabah Tajir Melesat
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat simpanan nasabah di
tier
kisaran Rp 2 miliar-Rp 5 miliar meningkat. Peningkatan di
tier
ini paling tinggi dibanding
tier
lain. Kenaikan ini menunjukkan nasabah perusahaan dan nasabah perorangan tajir memilih memperbesar simpanan di bank. Kondisi ini juga berdampak bagi bisnis
wealth management
perbankan.
Perbankan mencatat tren positif pada dana kelolaan
wealth management
per November 2023. Bank Mandiri Tbk (BMRI) misalnya, mencatat pertumbuhan total
asset under management
(AUM)
wealth management
mencapai hampir 20% secara, menjadi sekitar Rp 130 triliun per November 2023.
SVP
Wealth Management
Bank Mandiri Sista Pravesthi mengatakan, era suku bunga tinggi memberi imbal hasil menarik di kelas aset pendapatan tetap. Ini membuat banyak investor tertarik berinvestasi di kelas aset ini.
Sista merinci, nasabah
wealth management
Bank Mandiri cenderung menaruh dana di obligasi dan reksadana pasar uang. "Terlebih, menjelang tahun politik, nasabah cenderung memilih produk investasi yang aman dan tidak terlalu fluktuatif," terangnya.
Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatat, jelang akhir tahun, aliran dana di segmen
wealth management
lebih banyak masuk ke produk
funding. Alhasil ini membuat komposisi dana pihak ketiga (DPK) BNI meningkat.
"Pemilu yang akan berlangsung di Februari 2024 juga berdampak pada penambahan porsi dana likuid nasabah di perbankan," kata Henny Eugenia,
General Manager
Divisi
Wealth Management
BNI.
Direktur Bisnis Konsumer Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBR) Handayani juga mengatakan, bisnis
wealth management
BRI menunjukkan pertumbuhan yang positif, baik dari sisi DPK maupun investasi dan
bancassurance.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









