Ekonomi
( 40733 )TRANSPORTASI, Proyek Banyak, Ekosistem Lemah
Pemerintah dalam beberapa tahun terakhir banyak membangun proyek transportasi. Sejumlah manfaat telah dirasakan masyarakat. Namun, ada pekerjaan rumah yang belum tuntas. Ekosistem perairan Indonesia dalam jaringan internasional masih lemah. Pengajar maritim ITS Surabaya, Saut Gurning, di Jakarta, Kamis (21/12) berpendapat, konektivitas laut Indonesia selama sembilan tahun terakhir membaik. Konsep tol laut patut diapresiasi seiring dengan pembangunan infrastruktur pelabuhan serta trayek perintis yang bertambah. Angka kargo logistik Indonesia juga meningkat, dari 1,4 miliar-1,5 miliar ton pada 2014, kemudian kini naik menjadi 2,2 miliar-2,3 miliar ton. Indonesia cenderung menikmati dan memanfaatkan pelaku usaha domestik sehingga daya ungkit logistik serta penerimaan lebih baik, tetapi tak merata. Meski demikian, Saut mengingatkan, ekosistem perairan Indonesia dalam skala internasional masih lemah.
Galangan kapal atau tempat memperbaiki serta memproduksi kapal Indonesia masih minim. Akibatnya, banyak impor komponen, produksi kapal, serta perbaikannya dari luar negeri. Performa logistik Indonesia masih berfluktuasi, kurang progresif dibandingkan dengan Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Filipina. Sebab, pertumbuhan ekosistem ini masih berekspansi pada pasar domestik. Anggota Ombudsman periode 2016-2021 yang membidangi transportasi, informasi, telekomunikasi, dan lingkungan hidup, Alvin Lie, mengemukakan bahwa banyak pembangunan yang patut diapresiasi. Namun, ia juga memberi catatan. Salah satunya, transportasi perairan. Alvin berpendapat, masih terjadi dualisme pengelolaan transportasi perairan. Satu pihak adalah Ditjen Perhubungan Laut. Satu pihak lagi adalah Direktorat Transportasi Sungai, Danau, dan Penyeberangan di bawah Ditjen Perhubungan Darat. Tumpang tindih ini mengakibatkan standardisasi aspek keselamatan menjadi berbeda-beda. Demikian pula dengan aspek administrasi serta surat izin berlayar. (Yoga)
Kepiting Sultra Berpotensi Diekspor
DKI Kaji Penundaan Biaya Sewa Rusun
Menuju Bank Syariah Besar Kedua
Tumbuh Berlipat Perbankan Syariah nasional
Kurang Agresif Merangkul Pekerja Informal
Bunga Acuan Tetap 6% Antisipasi Risiko Inflasi
Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI (BI rate) sebesar 6,00%. Adapun kalangan ekonom menilai hal ini untuk mengantisipasi adanya risiko dari inflasi dalam negeri dan berkurangnya surplus perdagangan. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 20-21 Desember 2023 tersebut, BI juga menahan suku bunga deposit facility sebesar 5,25%, dan suku bunga lending facility 6,75% dalam. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, keputusan mempertahankan BI rate pada level 6% konsisten dengan fokus kebijakan moneter yang prostabilitas yaitu untuk penguatan stabilitas nilai tukar rupiah serta langkah pre-emptive dan forward looking untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5 pada 2024. "Sementara itu, kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap pro growth untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," kata Perry Warjiyo. (Yetede)
Toyota dan Daihatsu Tegaskan Produk di Indonesia Aman
Menhub Minta Beri Perhatian Khusus untuk Perjalanan Wisata
BP Tapera Kelola Dana Rp7,73 Triliun
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









