Ekonomi
( 40600 )Tsunami Impor, ”Reseller” Marak
Hampir seluruh UMKM di lokapasar berstatus sebagai mitra penjual
alias reseller. Barang yang mereka jual, 90 % adalah produk impor. Jika
struktur ini dibiarkan, nilai ekonomi digital di Indonesia yang diproyeksi
mencapai 210 miliar USD atau Rp 3.323 triliun pada 2030 tidak akan memberikan
nilai tambah pada perekonomian nasional. Berdasarkan riset oleh Continuum Data
Indonesia dan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) 98,2 %
toko yang ada di lokapasar Indonesia adalah UMKM, dan hanya 6,28 % UMKM yang
melakukan aktivitas produksi. Mayoritas, 93,72 %, adalah UMKM sebagai mitra penjual
alias reseller. Berdasarkan data dari Google, Temasek, dan Bain yang diolah
Indef, sejak 2019 hingga proyeksi 2025, penopang pertumbuhan nilai ekonomi
digital di Indonesia adalah lokapasar dengan nilai 62 miliar USD atau Rp 984
triliun pada 2023.
Nilai ekonomi dari sektor lokapasar jauh di atas nilai
ekonomi dari sektor-sektor digital lain di pasar nasional, seperti transportasi
dan makanan, perjalanan dan pariwisata, serta media daring. Staf Khusus Menkop
UKM, Muhammad Riza Damanik, menilai data itu menunjukkan digitalisasi UMKM di
sektor produktif masih rendah. Jika kondisi ini tidak dibenahi, nilai pasar
ekonomi digital nasional yang besar tidak akan berdampak signifikan pada
pembukaan lapangan pekerjaan hingga penurunan angka kemiskinan dalam negeri. ”Digitalisasi
UMKM yang kami bayangkan dan tuju adalah UMKM tidak sekadar masuk dalam
lokapasar menjadi reseller, tetapi bagaimana UMKM bisa menjadi bagian dari
ekosistem produksi dalam negeri,” ujarnya dalam diskusi publik bertajuk
”Transformasi UMKM Menggenggam Peluang Digital di Tahun 2024” yang berlangsung
daring, Kamis (25/1).
Produk impor, yang kebanyakan berasal dari China, mendominasi
lokapasar Tanah Air karena adanya praktik predatory pricing yang menyebabkan
harga produk impor berada jauh di bawah harga produk lokal. Saat ini, terdapat
sejumlah strategi yang sedang dilakukan pemerintah untuk menggenjot kapasitas
dan jumlah UMKM di sektor produktif dalam rantai ekonomi digital nasional.
Salah satunya penguatan regulasi untuk menghilangkan praktik predatory pricing
lewat Permendag No 31 Tahun 2023 tentang Perizinan Berusaha, Periklanan,
Pembinaan, dan Pengawasan Pelaku Usaha dalam Perdagangan. (Yoga)
Dunia Usaha Akan Lebih Aktif Rekrut Karyawan
Sebanyak 45 % dari 1.180 orang perekrutan profesional yang
disurvei penyedia laman lowongan kerja Jobstreet by Seek meyakini aktivitas
perekrutan tenaga kerja pada paruh pertama 2024 lebih aktif dibandingkan tahun
sebelumnya. Perusahaan skala kecil dan menengah memimpin rencana perekrutan
pegawai tetap dan kontrak pada semester I-2024. ”Kepercayaan terhadap pasar
tenaga kerja masih tinggi. Iklim ekonomi di Indonesia dipandang masih
menjanjikan,” ujar Country Marketing Manager Jobstreet by Seek untuk Indonesia,
Sawitri, saat peluncuran laporan survei Rekrutmen, Kompensasi, dan Manfaat
2024, Kamis (25/1) di Jakarta. Survei Jobstreet by Seek dilakukan pada
September 2023. Jumlah responden yang mencapai 1.180 orang perekrutan profesional
itu datang dari perusahaan besar atau mempunyai 100 karyawan lebih (49 %), perusahaan
skala menengah atau memiliki 51-99 karyawan (16 %), dan perusahaan kecil atau
memiliki karyawan hingga 50 orang (35 %).
Latar belakang perusahaan responden beragam, dari manufaktur;
teknologi informasi, listrik, elektronik, dan telekomunikasi; serta ritel dan perdagangan.
Dilihat dari latar belakang sektornya, Sawitri menyebutkan, perusahaan yang
akan aktif merekrut berasal dari makanan dan minuman; manufaktur; ritel dan
penjualan; serta teknologi. Ada beberapa fungsi bidang pekerjaan yang tren jumlah
perekrutannya berkurang ataupun bertambah karena perusahaan selalu berusaha menyesuaikan
bisnis. ”Perekonomian Indonesia yang masih dipandang positif membuat sejumlah
perusahaan ingin bertumbuh pada 2024.
Jika ingin bertumbuh, perusahaan harus mempunyai aset sumber daya manusia,”
kata Sawitri. Sales Director Jobstreet by Seek untuk Indonesia, Wisnu Dharmawan,
mengatakan, jika pada paruh I-2024 terdapat 45 % yang percaya aktivitas
perekrutan lebih aktif, maka pada paruh II-2024 terdapat 44 % dari total
responden yang meyakini perekrutan lebih aktif. Ini berarti ada konsistensi kepercayaan
terhadap perekrutan yang lebih baik. (Yoga)
Perbankan Berpeluang Sesuaikan Bunga Kredit
Sebatik Miliki Dermaga Khusus
GAIRAH WARGA MANFAATKAN RUANG HIJAU DI MATARAM
Ruang terbuka hijau di Kota Mataram, NTB, kian menarik dan
menumbuhkan gairah positif warga untuk memanfaatkannya. Tidak hanya menjalankan
fungsi ekologis, ruang terbuka hijau yang terus dibenahi juga menjadi tempat
rekreasi dan edukasi, sekaligus menggerakkan ekonomi warga. Senin (5/1) pukul
11.30, Roni Irawan (28) dan putranya, Respan (4,5) nyaman bermain di kawasan
Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Selagalas, Kecamatan Sandubaya, Mataram, NTB, di
bawah deretan pepohonan rindang. Respan antusias mencoba alat bermain anak di
sana, mulai dari jungkat-jungkit, terowongan drum yang digandeng dengan dua
peluncur, hingga ayunan, diawasi Roni. Menurut Roni, keberadaan taman penting,
apalagi dilengkapi fasilitas bermain anak yang sulit ditemukan di tempat lain
selain sekolah, apalagi di Selagalas, fasilitas itu gratis.
Selain Selagalas, ada pula Taman Udayana di sisi utara kota,
Taman Sangkareang dan Taman Mayura di tengah, RTH Pagutan di selatan, serta
Taman Bawak Kokok Ampenan di sisi barat kota. Taman-taman kota itu tidak pernah
sepi pengunjung. Sepanjang hari selalu ada warga yang datang, baik pagi, siang,
sore, ataupun malam. Baik pada hari biasa maupun pada akhir pekan. Taman
Udayana merupakan RTH terbesar di Kota Mataram dengan luas 6,3 hektar. ”Saya
dulu sering ke Udayana, tetapi sejak Covid-19 sudah hampir tidak lagi. Sekarang
ke sini lagi, bersama anak-anak. Apalagi ada destinasi baru,” kata Elita
Nurmayana (36), warga Selaparang. Destinasi baru yang dimaksud Elita adalah
Destinasi Wisata Teras Udayana yang belum lama diresmikan Pemkot Mataram.
Tidak hanya Elita, warga lain juga penasaran untuk melihat Teras
Udayana. Setelah puas berfoto di area amfiteater, mereka bersantai di pinggir
kolam air mancur. Beberapa warga lain memilih duduk di bangku-bangku panjang di
bawah pohon sambal menyantap kuliner yang dijual pedagang kaki lima di sana.
Saat hari beranjak sore, semakin banyak orang datang. Keberadaan ruang terbuka hijau
turut menggerakkan ekonomi masyarakat. Di sana tersedia area bagi pedagang kaki
lima (PKL) untuk berjualan. Di Taman Udayana, misalnya, ada Diana (50) asal
Ampenan, yang sehari-hari berjualan siomay bersama suaminya. Saat ni omzetnya
Rp 500.000-Rp 600.000 per hari. ”Alhamdulillah. Semoga penataan Taman Udayana
terus dilakukan sehingga semakin ramai lagi,” kata Diana.
Pedagang di Taman Selagalas juga turut mendapat keuntungan
dari kunjungan warga ke taman tersebut. Hendi (36), warga Sayang-Sayang,
Cakranegara, mengatakan, setiap hari istrinya mendapat keuntungan Rp 70.000-Rp
80.000 dari jualan kelontong. Namun, khusus di akhir pekan seperti Sabtu-Minggu,
penghasilannya bisa di atas Rp 100.000. Menurut Nyoman, dampak itu yang juga
diharapkan pemerintah kota hadir dari penyediaan RTH, di samping manfaat lain
seperti sebagai ruang rekreasi, edukasi, dan fungsi ekologis untuk udara yang lebih
bersih dan hijau. Oleh karena itu, Wali Kota Mataram Mohan Roliskana juga
berkomitmen RTH harus tetap dipertahankan sesuai dengan regulasi. (Yoga)
Daya Saing Digital Indonesia Naik Paling Cepat
Kantongi Laba Rp 48,66 Triliun BCA Incar NIM 5,5%
Tiga Perusahaan Bidik IBST, Nilai Akuisisi Rp 11,4 Triliun
Paruh Kedua 2024 Investasi Akan Melesat
Select Hotels Group Bidik 50 Hotel di Indonesia
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









