Ekonomi
( 40600 )Bekas Tambang Berpotensi Ekonomi
Sektor swasta dinilai punya peran penting untuk menjaga
stabilitas ekonomi masyarakat di daerah yang terdampak berakhirnya tambang
batubara. Visi masyarakat yang selama ini bergantung pada aktivitas
pertambangan batubara perlu diperluas agar transisi ekonomi berjalan mulus. Program
Manajer Ekonomi Hijau Institute for Essential Services Reform (IESR) Wira A Swadana
mengatakan, terdapat sejumlah kondisi di daerah penghasil batubara yang berpotensi
memberikan kontribusi signifikan terhadap transisi ekonomi dari batubara,
terkait transisi mata pencarian masyarakat yang sebelumnya amat bergantung pada
aktivitas pertambangan. Kelompok masyarakat ini perlu diarahkan untuk dapat
menangkap peluang ekonomi di luar tambang, seperti pertanian, kehutanan, atau UMKM.
”Agar transisi ekonomi masyarakat berjalan mulus, dibutuhkan
inisiatif perusahaan tambang batubara untuk mendiversifikasi bisnis di luar sektor
batubara,” ujar Wira dalam diskusi ”Mengidentifikasi Peran Sektor Swasta dalam
Pemberdayaan Sosial-Ekonomi Masyarakat” di Jakarta, Rabu (24/1). Sebab, sektor
swasta umumnya memiliki sumber daya yang lebih besar dibandingkan pemerintah
dan masyarakat. Contoh, PT Kideco melalui perusahaan saudaranya, Indika Nature,
saat ini sedang mengerjakan beberapa proyek energy terbarukan di Kabupaten Paser,
Kaltim. Pada saat yang sama, PT Kideco juga telah menginisiasi proyek
pariwisata hijau, seperti Samurangau Ecopark, seluas 105 hektar. Di luar itu,
program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari perusahaan tambang batubara
dapat menjadi sumber pendanaan untuk pemberdayaan masyarakat karena potensi nilai
dananya yang terus berkembang dan keinginan perusahaan untuk berusaha mencakup
setiap aspek kehidupan masyarakat. (Yoga)
Belut Hidup dan Ruminer Masuki Pasar Ekspor
Pasar Sembako Murah di 267 Kelurahan
Rusun Baru bagi Warga Kampung Bayam
Restrukturisasi Bukan Solusi Emiten BUMN Karya
Masih Berpotensi, Dibayangi Ekosistem
Dolar AS Makin Perkasa, Mata Uang Global Tertekan
AKRA Tertahan di Tahun Politik
Restrukturisasi Lancar, Beban Cadangan Berkurang
JALAN TERJAL MENDULANG MODAL
Pemerintah kembali menghela napas lega. Setelah konsolidasi fiskal berjalan sesuai jalur dan normalisasi inflasi terealisasi, kini giliran penanaman modal yang berhasil menembus angka sasaran. Kemarin, Rabu (24/1), Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengumumkan realisasi investasi pada 2023 senilai Rp1.418,9 triliun atau 101% dari target. Apalagi, secara historis, pertumbuhan ekonomi pada tahun digelarnya pemilihan umum (pemilu) selalu turun yang dipicu perlambatan investasi, salah satu mesin utama pendorong produk domestik bruto (PDB). Selain target investasi yang disusun moderat, berbagai siasat juga disiapkan untuk menguatkan magnet penggaet pemodal. Investasi pada tahun ini ditargetkan Rp1.650 triliun, hanya naik 16,28% dibandingkan dengan realisasi tahun lalu. Faktanya, capaian pada 2023 tumbuh lebih tinggi, yakni 17,53%. Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, mengatakan ada tiga sektor usaha yang akan menjadi fokus penarik investor pada tahun ini, yakni infrastruktur, jasa, serta penghiliran sumber daya alam (SDA). Agenda politik memang menjadi salah satu tantangan yang dihadapi pemerintah untuk dapat memacu aliran modal. Namun, ada pula faktor klise yang juga butuh penanganan yakni kemudahan perizinan, sinkronisasi regulasi, pengadaan lahan, hingga ketenagakerjaan. Kalangan pelaku usaha pun meminta pemerintah agar lebih serius memperbaiki ekosistem investasi. Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Sarman Simanjorang, mengatakan selain memperbaiki perizinan berusaha, pemerintah juga perlu menyusun kebijakan yang berkesinambungan. Pasalnya, memasuki kuartal IV/2024, Indonesia mulai dipimpin oleh pemerintahan baru sehingga investor pun mengharapkan adanya jaminan keberlanjutan proyek dan regulasi. Ketua Umum Kadin DKI Jakarta Diana Dewi, menambahkan apabila pemerintah gagal menjaga stabilitas politik, target investasi pada tahun ini perlu direvisi. Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet, mengatakan kunci dari daya tarik investasi ada pada pertumbuhan ekonomi. Artinya, pemerintah harus menjaga ekonomi tahun ini tumbuh minimal setara dengan realisasi tahun lalu.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









