Ekonomi
( 40465 )Banyak Karyawan Cari Pekerjaan Baru
Laporan survei LinkedIn dan Cencuswide menunjukkan banyak pekerja
yang berusaha mencari pekerjaan baru. Akan tetapi, mereka mengaku kesulitan
memenuhi kriteria yang dipersyaratkan perusahaan. Survei yang dilakukan LinkedIn
dan Cencuswide terhadap 1.004 pekerja di Indonesia menunjukkan 85 % pekerja
mengaku masih ingin mencari pekerjaan baru pada 2024 walaupun 2024 dibayang-bayangi
isu ketidakpastian ekonomi. Motivasi utamanya ada dua, yakni keseimbangan hidup
(42 %) dan kenaikan pendapatan (35 %). Survei yang dilakukan secara daring pada
24 November-15 Desember 2023, mayoritas diikuti responden berusia 18-42 tahun. Lebih
setengahnya bekerja di level manajer dan sisanya karyawan dan direktur.
Sebanyak 294 responden bekerja lebih dari 7 tahun, 280 orang
bekerja 3-4 tahun, 186 orang bekerja 1-2 tahun, 156 orang bekerja 5-6 tahun,
dan 88 orang bekerja kurang dari setahun. Lokasi terbanyak di Jakarta, Jabar,
dan Jatim. Sekjen Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia, Timboel Siregar, Senin (22/1)
di Jakarta mengatakan, sejak pandemi Covid-19, mencari pekerjaan baru relatif sulit.
Apabila ada pembukaan lowongan kerja, jumlahnya tidak sebanding dengan pencari kerja.
”Saat ini memang marak PHK, tetapi perusahaan tidak serta-merta mau merekrut
baru sebab ada faktor penghematan biaya. Lalu, ada kecenderungan perekrutan
berbasis relasi,” ujarnya.
Selain itu, isu ketidakpastian ekonomi semakin berkorelasi
dengan ketidakpastian hubungan kerja. Pola bekerja kontrak diperkirakan semakin
naik. Presiden Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia, Mirah Sumirah berpendapat,
di Indonesia masih ada masalah kurikulum pendidikan yang tak tersambung dengan
persyaratan keterampilan dunia industri. Di sisi lain, kualifikasi lowongan
kerja ada yang terlalu tinggi. Founder dan Managing Director Headhunter
Indonesia Haryo Suryosumarto mengatakan, 90 % pelamar yang melamar pekerjaan
tidak memenuhi kualifikasi yang dipersyaratkan oleh perusahaan. (Yoga)
”Greenflation” Tetap Perlu Diantisipasi
Ancaman kenaikan harga komoditas ataupun bahan pokok buntut aksi transisi ekonomi hijau atau greenflation masih jauh dari struktur ekonomi Indonesia yang berada di tahap awal peralihan dari sektor ekstraktif menuju sektor yang lebih berkelanjutan atau lebih hijau. Meski begitu, risiko ini tetap perlu diantisipasi sejalan dengan upaya Indonesia meningkatkan bauran energi terbarukan dalam bauran energi nasional. Secara sederhana, terminologi inflasi hijau (green inflation/greenflation), menurut Bank Eropa untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (EBRD), merupakan kenaikan biaya atau inflasi serta permasalahan rantai pasok untuk sejumlah komoditas dan barang, yang terjadi buntut dari proyek ramah lingkungan.
Istilah greenflation mengemuka dan jadi perbincangan publik setelah disinggung cawapres no urut 2, Gibran Rakabuming Raka, saat mengajukan pertanyaan ke cawapres no urut 3, Mahfud MD, dalam debat cawapres di Jakarta, Minggu (21/1) malam. Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies (CESS) Ali Ahmudi Achyak menilai, proses transisi truktur ekonomi Indonesia menuju ekonomi hijau masih berada di tahap awal. Secara ekonomi makro, fenomena inflasi hijau, seperti yang terjadi di negara-negara yang sudah mapan dalam transisi energi bersih, masih belum berisiko untuk Indonesia. Berbeda dari Brasil ataupun negara-negara Uni Eropa, proses transisi energi di Indonesia masih stagnan dalam dua dekade terakhir.
Sejak tahun 2005, Pemerintah Indonesia mencanangkan tingkat bauran energi terbarukan mencapai 25 % pada 2025, yang dipangkas menjadi 23 % pada 2025. Tahun ini, bauran energi terbarukan pada energi primer masih berada di angka 13,1 % sehingga target akan kembali direvisi. ”Walaupun masih jauh, bukan berarti tidak diantisipasi. Salah satu potensi greenflation yang paling dekat dengan Indonesia adalah inflasi yang dipicu mahalnya harga listrik yang bersumber dari energi terbarukan,” ujarnya di Jakarta, Senin (22/1).
Bedasar data CESS, tarif listrik dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Rp 1.037 per kilowatt jam (kWh). Semakin jauh dari kawasan perkotaan, tarif listrik dari energi alternatif semakin tinggi. Sedang tarif listrik yang diproduksi PLTU batubara, rata-rata Rp 700 per kWh. Secara hukum ekonomi, lanjut Ali, pelaku industri atau konsumen akan memilih harga yang lebih murah. (Yoga)
Para Puan Perajin Rotan Penjaga Rimba Kalumpang
Saat hutan kian menyusut, sekelompok perempuan Dayak di Kalteng terus mengasah kemampuan mengolah kekayaan alam. Lewat kriya rotan, tangan-tangan terampil mereka telaten menjaga masa depan. Jumat (12/1) pagi, Yaya (49) meniti jalan berlumpur menuju hutan di Desa Kalumpang, Kabupaten Kapuas, Kalteng. Yaya langsung memanen rotan tanpa sarung tangan, ia mengambil batang rotan yang berduri, lalu dibabat menggunakan parang. Hanya butuh 40 menit untuk mendapatkan 10 rotan yang bersih dari duri. Rotan yang diambil Yaya adalah jenis irit, panjangnya 10 meter. Diameternya 2-4 cm. Rotan jenis ini dikenal kuat dan cocok untuk beragam kerajinan tangan. ”Rotan ini nanti digunakan untuk bahan pembuatan tas, topi, hingga tikar,” kata Yaya.
Tak jauh dari rumah Yaya, Rusidah (48) tengah mengolah rotan menggunakan pisau, lalu membelah batang rotan menjadi 4-8 bagian. Proses ini disebut ngalingking dalam bahasa Dayak Ngaju. Proses berikutnya menjangat atau mengikis rotan yang sudah dibelah. Hasil kikisan itu nanti akan dianyam. Terlihat sederhana, tetapi butuh 1-2 minggu dari pengambilan rotan hingga menghasilkan rotan siap anyam. Untuk menganyam menjadi tas, butuh waktu setengah hari, sedangkan untuk meng-anyam menjadi tikar butuh waktu tiga hari. Hasil anyaman rotan dijual kepada pengumpul seharga Rp 60.000-Rp 100.000 untuk tas dan Rp 500.000-Rp 1 juta untuk tikar. Dalam sebulan, mereka bisa menghasilkan setidaknya 100 tas dan tikar.
Kerja bersama Yaya dan Rusidah adalah dua dari 30 ibu yang bergabung di Kelompok Tani Hurung Hapakat. Dalam Bahasa setempat, Hurung Hapakat artinya kerja bersama.Manajer Program Pantau Gambut Dimas Novian Hartono menjelaskan, kelompok ibu-ibu di Kalumpang merupakan komunitas yang selama ini hidup berdampingan dengan gambut. Sebagian besar kawasan di Kalumpang yang ditanam rotan adalah gambut. ”Rotan hasil hutan bukan kayu yang selama ini dijaga di Kalumpang, mereka menjaga hutan lewat rotan,” katanya. (Yoga)
KRIYA ROTAN, OBAT PELIPUR LARA PELADANG KALTENG
Inding (49) merapikan anyaman berbahan rotan di teras rumahnya, di Desa Kalumpang, Kabupaten Kapuas, Kalteng, Sabtu (13/1). Ia sibuk membuat tas rotan berbentuk tabung atau nama anjat dalam bahasa Dayak Ngaju, sementara anak dan cucu-cucunya memperhatikan dia. Inding tengah membuat anjat dengan gambar asai, anak lelaki yang berkacak pinggang. Asai merupakan sebutan bagi lelaki Dayak pemberani. Pola itu di kalangan perajin Dayak Nagju dikenal sebagai yang paling sulit lantaran polanya sangat berbeda dari pola umum yang biasanya bergambar daun, akar, atau tameng dengan sedikit sisi. Selain itu, semua kriya rotan dengan gambar asai biasanya dipakai untuk upacara adat tertentu. Pola asai dianggap sakral sehingga tak semua ibu-ibu bisa dan mau membuatnya. Inding biasa menyelesaikan dua tas dalam sehari.
Kriya rotan dijual ke pengumpul Rp 60.000-Rp 100.000 untuk tas, untuk tikar Rp 500.000-Rp 1 juta. Dalam sebulan, Inding menghasilkan 100 tas dengan berbagai pola dan jenis tas. Namun, berapa pun pesanan yang datang, ia bisa memenuhinya. Ada 30 ibu-ibu lain yang membuat kriya rotan. Mereka tergabung dalam Kelompok Tani Hurung Hapakat. Ketua Kelompok Hurung Hapakat, Rica Kusmirawaty mengungkapkan, dia dan ibu-ibu lain biasa membuat kriya saat musim hujan, karena hujan kerap memicu banjir yang membuat aktivitas warga di luar rumah terbatas. Juga menganyam rotan, lanjut Rica, merupakan cara ibu-ibu di Desa Kalumpang bertahan hidup. ”Ini untuk memenuhi kebutuhan hidup pascalarangan membakar. Kebijakan larangan membakar membuat runyam kehidupan mereka,” katanya. Sejak delapan tahun lalu, mereka tak lagi menyentuh ladangnya, karena mereka belum bisa mengolah ladang tanpa membakar.
”Dulu kami tidak pernah kurang beras. Hasil ladang cukup setahun, bahkan bisa untuk makan di tahun berikutnya atau dijual. Sayur-mayur, ikan, dan segalanya bisa kami dapatkan saat masih berladang,” tutur Rica. ”Kalau jual rotan aja enggak laku lagi, tetapi setelah jadi tas harganya berlipat. Makanya, kami belajar ke mana-mana agar ada kesempatan supaya tas rotan kami lebih baik lagi,” kata Rica. Gayung bersambut, harapan serupa diinginkan Pantau Gambut. Organisasi nonpemerintah yang berjejaring di Sembilan provinsi ini fokus pada riset serta advokasi dan kampanye untuk perlindungan dan keberlanjutan lahan gambut di Indonesia. Pada Senin (15/1) Pantau Gambut mengundang perwakilan Hurung Hapakat ke Palangkaraya, juga pejabat daerah dari Kapuas yang diajak memetakan masalah rotan dan mencari solusi atas tantangan tersebut.
Manajer Program Pantau Gambut Dimas Novian Hartono menjelaskan, rotan dipilih sebagai jalan untuk mengembangkan komunitas yang tinggal di atas lahan gambut. ”Tujuan besarnya, kami ingin membuat platform bersama dengan komunitas lalu nanti (kriya rotan) dihubungkan dengan investor, tentunya investor hijau,” ungkap Dimas. Ketua I Bidang Pengembangan Kerajinan Disperindag UMKM, dan Koperasi Kapuas Ferdinan Jumanto menjelaskan, pemda membuat ruang pamer milik Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) di Kapuas dan di Provinsi Kalteng. ”Jadi, nanti ibu-ibu bisa simpan hasil karyanya ditempat itu tanpa pungutan. Kalau terjual, uangnya kami transfer. Kalau ada program dan anggaran, biasanya juga kami beli dulu,” papar Ferdinan. (Yoga)
Bunga Deposito Naik, DPK Masih Tumbuh Melambat
Ekonomi Global Melambat Bakal Pengaruhi Cadev RI
Penjualan e-Commerce Melejit Ketika Hiburan
Digitalisasi Layanan Pelabuhan Kemenhub Catat PNBP Rp 2,9 Triliun
Baterai Nikel Terancam Besi Fosfat Sebelum Debat
Minim Dampak Ekonomi Penghiliran
Selain itu, tujuan utama penghiliran untuk menciptakan nilai tambah produk sumber daya alam masih berada pada tahap awal, yaitu produk turunan pertama dan kedua. “Memang betul ada kenaikan nilai ekspor, tapi penyebabnya, ya, karena biasanya ekspor bijih nikel sekarang produk turunan.”
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









