Masih Berpotensi, Dibayangi Ekosistem
Tahun ini bakal menjadi tantangan bagi emiten nikel. Harga komoditas logam dasar ini terus tertekan sepanjang 2024. Dikutip dari Bloomberg, harga nikel di London Metal Exchange (LME) kontrak 3 bulan berada di level US$ 16.306 per ton Selasa (23/1). Harga nikel sempat melemah ke level terendah sejak tahun 2021, pada Senin (22/1) yakni di US$ 16.007 per ton. Anjloknya harga nikel mulai berdampak pada operasional perusahaan nikel global.
Perusahaan Wyloo Metals milik pengusaha Andrew Forrest menutup operasinya di Australia Barat. Wyloo adalah sumber utama bagi smelter nikel yakni BHP yang ada di Kambalda. "Biaya telah meningkat tajam dan terus naik sementara harga jual turun seiring dengan masuknya pasokan baru ke pasar," kata Presiden BHP Nickel West Asset, Jessica Farrell. Sejumlah analis sepakat, harga nikel masih akan berat ke depan.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rizkia Darmawan menilai, harga nikel sulit kembali ke harga puncak di level US$ 30.000 per ton tahun ini. Naiknya produksi nikel Indonesia menghambat pergerakan harga nikel. Mirae Asset juga mencermati adanya potensi peralihan industri baterai kendaraan listrik ke baterai lithium ferro-phosphate (LFP). Ini karena baterai jenis ini diklaim memiliki keunggulan dibandingkan nickel manganese cobalt (NMC).
Kepala Riset RHB Sekuritas Indonesia, Andrey Wijaya menilai, sektor nikel masih dibayangi risiko dari sisi makroekonomi. Misalnya potensi pemulihan ekonomi China yang lebih lambat. Tapi sentimen ini bisa diimbangi dari ekspektasi depresiasi nilai tukar dolar AS di akhir 2024, yang bisa berdampak langsung pada harga komoditas.
Secara teknikal, analis Kanaka Hita Solvera William Wibowo menilai, saham ANTM, INCO, dan NKCL terkonfirmasi sedang downtrend. Mirae Asset Sekuritas menyematkan rating netral untuk sektor nikel Indonesia. Mirae Asset menyukai saham ANTM karena transformasi bisnisnya menjadi produsen baterai kendaraan listrik berbasis nikel yang terintegrasi. Emiten pelat merah ini juga memiliki kebijakan dividen yang besar, minimal dividen payout ratio (DPR) 30%.
Postingan Terkait
KETIKA PERAK TAK LAGI SEKADAR LOGAM
02 Feb 2026
Optimalkan Kekuatan Ekonomi Domestik
30 Jun 2025
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
30 Jun 2025
Proyek Hilirisasi US6 Miliar Segera meluncur
25 Jun 2025
Perang Global Picu Lonjakan Utang
25 Jun 2025
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
24 Jun 2025
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
24 Jun 2025
Kenaikan Harga Minyak Dongkrak Saham Energi
23 Jun 2025
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023