Ekonomi
( 40465 )Distribusi Pupuk Subsidi Picu Krisis Beras
Presiden Jokowi Harap Investasi Masuk Kembali
Seusai hari pencoblosan Pemilu 2024, Presiden Jokowi mengharapkan
arus modal kembali masuk sehingga mampu membuat iklim investasi semakin lebih baik.
”Banyak pelaku bisnis yang kemarin masih menunggu pemilu. Wait and see karena
agak khawatir dengan politik yang memanas menjelang pelaksanaan pemilu. Tetapi,
sekarang, alhamdulillah, pemilu berjalan dengan lancar, masyarakat berbondong-bondong
ke TPS juga dengan riang gembira,” kata Presiden saat memberikan sambutan pada
Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2024 di Jakarta, Selasa (20/2).
Dengan terjaganya stabilitas politik dalam negeri, Presiden berharap para
investor kembali masuk sehingga iklim investasi dapat menggeliat lagi. Selain kondisi
politik, industri jasa ke uangan dalam negeri juga turut menunjukkan daya tahan
di tengah perlambatan ekonomi global.
Pada industri perbankan, permodalan tetap terjaga 27,69 %
atau diatas negara-negara tetangga di ASEAN. Kredit perbankan juga tumbuh
hingga 10,38 % secara tahunan atau melebihi level prapandemi. Ekonomi Indonesia
selama 2023 mampu tumbuh 5,05 % secara tahunan dengan inflasi 2,57 %. Pada
periode sama, cadangan devisa tercatat 145 miliar USD dan neraca perdagangan mencatatkan
surplus 36 miliar USD atau Rp 570 triliun. Transaksi berjalan surplus 0,16 %. Dengan
berbagai catatan positif tersebut, Presiden optimistis terhadap laju pertumbuhan
ekonomi nasional pada 2024. Kendati demikian, ia mengingatkan kepada semua pihak
di industri jasa keuangan untuk tetap waspada dan berhati-hati terhadap
pergerakan ekonomi global dan disrupsi teknologi. (Yoga)
Mandiri Pangan ala Suku Boti
Harga beras di seluruh wilayah Indonesia meroket sebulan
terakhir. Di Kota Kupang, NTT, harganya Rp 17.000 per kg untuk beras medium.
Harga termurah Rp 14.000 per kg dengan kondisi beras yang tak layak dikonsumsi
manusia. Selain berkutu, beras paling murah itu juga banyak kerikil dan beraroma
tidak sedap. Menurut data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, konsumsi
beras NTT sebanyak 117,189 kg per kapita per tahun. Angka tersebut berada di
atas rata-rata nasional, sedangkan produksi beras setempat masih jauh dari
total kebutuhan. Pada tahun 2022, produksi beras di NTT hanya 430.948,5 ton,
jauh di bawah kebutuhan setempat yang mencapai 642.367,53 ton. Perum Bulog
sebagai penyalur beras pemerintah pun tak bisa berbuat banyak. Operasi pasar
yang diklaim dapat mengatasi kenaikan harga beras seakan sia-sia..
Di tengah gonjang-ganjing harga beras, ada kelompok masyarakat
yang tidak terdampak karena memiliki kemandirian pangan lokal. Salah satunya
adalah kemandirian pangan suku Boti di Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Komunitas adat itu berada 150 km timur laut dari Kota Kupang. Pada Agustus
2023, ketika musim kemarau panjang, persediaan makanan di komunitas yang
dipimpin Usif (Raja) Namah Benu itu cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Suku
Boti yang menganut kepercayaan lokal Halaika terdiri atas 76 keluarga dengan
jumlah anggota 329 jiwa. Makanan di lumbung mereka tersedia sepanjang tahun karena
mereka mempraktikkan pangan beragam dalam sistem pertanian lahan kering yang
mengandalkan hujan. Dalam satu areal lahan, mereka menanam padi, jagung, umbi-umbian,
pisang, dan kacang-kacangan. Setelah padi habis, mereka punya cadangan jagung
dan makanan lain.
Kala itu Usif Namah mengatakan, sepanjang komunitas suku Boti
ada, nyaris tidak ada cerita mengalami kelaparan. Padahal, wilayah sekitar dan
NTT pada umumnya pernah mengalami kelaparan selama beberapa kali dalam kurun waktu
60 tahun terakhir. Di luar itu, rawan pangan terjadi hampir setiap tahun di
NTT. ”Kami tidak kelaparan karena kami punya banyak jenis makanan,” ucapnya. Kelimpahan
makanan itu yang menjadi alasan bagi komunitas suku Boti menolak menerima
bantuan sosial berupa beras untuk warga miskin (raskin) dari pemerintah. Usif
Namah juga mengajarkan rakyatnya agar tidak bermental pemalas dengan menunggu
bantuan pemerintah. ”Kami tanamkan kepada mereka kerja keras. Kerja baru bisa
makan. Makanya, anak-anak semenjak kecil selalu kami ajak ke kebun untuk melihat
orangtuanya bekerja,” ujarnya. (Yoga)
Daya Tarik Mandalika Menjadi Magnet Pariwisata NTB
Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika di Kuta, Pujut, Lombok
Tengah, NTB, semakin menjadi magnet bagi pariwisata daerah setempat sekaligus NTB.
Namun, penambahan paket wisata harus terus dilakukan untuk memberi banyak
pengalaman baru bagi wisatawan yang datang. Sepanjang Februari 2024, kawasan
Mandalika masih ramai dikunjungi wisatawan, terutama pada akhir pekan. Wisatawan
domestik dan mancanegara terlihat menyebar ke berbagai area di kawasan Mandalika.
Selain di area sirkuit, kawasan pantai menjadi favorit, seperti Pantai Kuta
Mandalika.
”Mandalika saat ini menjadi magnet wisatawan yang berkunjung ke Lombok. Khususnya sirkuit, baik
itu yang ingin masuk ke dalam maupun cukup di area luar sirkuit,” kata pemandu
wisata dari Himpunan Pramuwisata Indonesia DPC Lombok Tengah, Hanatan Sugiono,
saat dihubungi dari Mataram, Selasa (20/2). Menurut Hanatan, awal bulan ini,
wisatawan yang datang ke Lombok terpantau ramai. Dalam sehari pernah ada tujuh bus
wisatawan yang datang via Bandara Lombok. Belum lagi wisatawan yang datang
dengan kapal dari Pelabuhan Lembar di Lombok Barat. Kunjungan ke Mandalika sampai
saat ini, lanjut Hanatan, masih menjadi bagian dari paket wisata yang
ditawarkan agen wisata ke wisatawan untuk dikunjungi. ”Selain ke Mandalika,
biasanya juga ada paket wisata ke Gili dan tur di kota,” kata Hanatan.
Daya tarik Mandalika secara langsung tidak hanya berdampak
pada usaha jasa pariwisata, seperti perjalanan wisata dan akomodasi, tetapi
juga UMKM di Mandalika. Edi Suharto (58), juru parker sekaligus penyedia
penyewaan toilet di Mandalika, mengatakan, di hari normal, ia mendapat
pendapatan Rp 150.000. ”Jika libur panjang, terutama Sabtu dan Minggu, sehari, bisa
sampai Rp 300.000,” kata Edi yang sudah sejak dua tahun terakhir berada di
Mandalika. Menurut Edi, Pantai Kuta Mandalika yang berada di sisi barat KEK
Mandalika menjadi salah satu favorit wisatawan. Ada berbagai aktivitas yang
bisa mereka lakukan dari bersantai di pantai hingga berenang, berkeliling
kawasan dengan berjalan kaki atau menyewa sepeda listrik. (Yoga)
Menggendong Problem Beras
Tahun ini, beban pemerintah menggendong problem beras bertambah
berat. Di tengah kenaikan harga sejumlah pangan pokok lain, persoalan beras
justru semakin pelik. Harganya makin melambung, jenis premium sulit didapat,
dan produksi dihantui perubahan cuaca. Perubahan cuaca akibat El Nino menjadi
sumber utama produksi beras. Musim paceklik beras bertambah panjang dari enam
bulan pada 2022/2023 menjadi delapan bulan pada 2023/2024. Puncak panen raya
padi mundur dari biasanya Maret menjadi April. Musim hujan tahun ini juga
diperkirakan berlangsung singkat, hanya selama Januari-Maret. Fenomena cuaca
itu menyebabkan musim hujan di Indonesia tidak merata. Ada daerah yang
frekuensi dan curah hujannya tinggi, serta ada pula yang sedang, bahkan rendah sekali.
Tidak mengherankan jika ada sejumlah daerah yang kebanjiran dan ada yang belum
tanam padi.
BNPB merilis, pada 2024, sejumlah pemda terdampak banjir
mengusulkan bantuan stimulan akibat puso terhadap lahan seluas 26.995,94 hektar
(ha) dengan petani sebanyak 35.500 orang. Khusus Jateng, luas lahan pertanian
yang gagal panen 16.321 ha dengan petani terdampak 6.439 orang. Kementan
menyebut areal persawahan yang belum ditanami padi atau bera per Februari 2024
seluas 2,67 juta ha. Dari jumlah itu, 2 juta ha sama sekali belum diolah dan
belum diolah, sedang 670.000 ha dalam tahap pengairan dan pengolahan. Faktor-faktor
itulah yang membuat harga beras semakin membubung tinggi pada tahun ini.
Apalagi, hal itu terjadi menjelang Ramadhan-Lebaran, periode ketika permintaan
terhadap sejumlah pangan pokok, termasuk beras, biasanya meningkat.
Berdasarkan Panel Harga Bapanas, per 20 Februari 2024, harga
rerata nasional beras medium Rp 14.110 per kg, naik 5,67 % secara bulanan dan
16,65 % secara tahunan. Kementan tengah berupaya mengakselerasi percepatan tanam
hingga 2 juta ha pada Februari-Maret 2023. Upaya itu akan dilakukan baik di
areal persawahan yang masih bera maupun yang bekas kebanjiran. Direktur
Serealia Direjen Tanaman Pangan Kementan Mohammad Ismail Wahab mengungkapkan,
pada Februari 2024, Kementan menargetkan menanam padi seluas 2 juta ha. Namun,
realisasinya hingga pertengahan bulan baru 576.000 ha. Dalam Rakor Pengendalian
Inflasi Daerah, Senin (19/2) Kantor Staf Presiden (KSP) menyampaikan,
tantangannya tidak hanya perubahan cuaca, tetapi juga infrastruktur. Berdasarkan
verifikasi lapangan tim KSP pekan lalu di Kabupaten Bogor, Sukabumi, Majalengka,
Jabar, terjadi kekurangan pasokan air sehingga ada daerah yang sudah mengolah
lahan dan ada daerah yang sama sekali belum melakukan hal itu. Sementara di
Sumedang, banjir melanda sejumlah daerah sehingga menyebabkan gagal panen atau
puso. (Yoga)
Sistem Rantai Dingin Jadi Hambatan
Minimnya efektivitas program tol laut menjadi salah satu
sumber tidak optimalnya pemanfaatan sektor perikanan laut. Upaya mengoptimalkan
sektor perikanan terganjal oleh masalah sistem rantai dingin hingga logistik. Deputi
I Kantor Staf Presiden (KSP) Bidang Infrastruktur, Energi, dan Investasi Febry
Calvin Tetelepta mengemukakan, tidak optimalnya ekonomi perikanan laut
disebabkan lemahnya infrastruktur logistik dan ekonomi antarpulau. Kesimpulan itu
diperoleh dari penelusuran tim KSP di pulau-pulau kecil dan terluar Indonesia tahun
2023. Dari hasil pantauan trayek transportasi laut barang, trayek barang dari
Indonesia bagian barat ke timur umumnya penuh, tetapi sebaliknya trayek dari
timur ke barat minim muatan bahkan kosong. Pemda dinilai belum memaksimalkan tol
laut untuk mendukung keunggulan komparatif daerah sehingga kapal bisa kembali
ke barat membawa penuh angkutan.
”Kita lihat tol laut itu jaringannya ke timur sangat baik, tetapi
kapal kembali (ke barat) dalam kondisi kosong. Muatan balik tidak imbang. Pemda
tidak memaksimalkan fasilitas tol laut dengan baik sehingga harga-harga tetap
semakin mahal,” ujarnya dalam Forum Hukum Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)
yang digelar KKP secara hibrida, Selasa (20/2). Febry menambahkan, ketimpangan
bongkar dan muatan balik tol laut membuat subsidi besar yang digelontorkan
pemerintah menjadi tidak efektif. Kondisi itu diperparah dengan minimnya
ketersediaan kontainer berpendingin (reefer container). Data kontainer berpendingin
milik Pelni tahun 2022, menunjukkan, total produksi perikanan yang mencapai
16.920 ton hanya ditangani kapal tol laut berkapasitas 846 TEUs.1TEUs setara
dengan 10-12 ton barang. Hambatan logistik itu dinilai mengganggu pengembangan
usaha perikanan nasional. (Yoga)
Ekonomi Remang-remang
Menyingkap tabir ekonomi remang-remang dapat menambah penerimaan
negara. Langkah ini bisa dipilih ketimbang menaikkan pendapatan tidak kena
pajak. APBN yang tangguh dan berdaya tahan berperan strategis dalam menghadapi
berbagai situasi, seperti pandemi dan guncangan perekonomian global. Tak
terkecuali APBN 2024, yang meliputi pendapatan negara Rp 2.802,3 triliun dan
belanja negara Rp 3.325,1 triliun. Isu yang kerap mencuat ke permukaan adalah penerimaan
perpajakan sebagai bagian pendapatan negara. Tahun ini, penerimaan perpajakan,
yang terdiri dari penerimaan pajak serta kepabeanan dan cukai, ditargetkan Rp 2.309,9
triliun. Jumlah itu diproyeksikan tumbuh 9 % dibanding 2023. Adapun rasionya
terhadap PDB 10,12 %. Meski demikian, tak bisa dimungkiri, ada kegiatan ekonomi
”di bawah tanah” yang belum tercatat sebagai penyumbang pajak.
Kegiatan yang disebut shadow economy atau ekonomi remang-remang
itu sesungguhnya ada, tetapi tidak terdata dalam perekonomian dan tidak dikenai
pajak. Publikasi Dana Moneter Internasional (IMF) pada 2002 menyebutkan,
ekonomi remang-remang meliputi aktivitas ilegal serta pendapatan tak dilaporkan
dari produksi barang dan jasa legal dari transaksi moneter dan barter. IMF menekankan,
aktivitas yang juga disebut sebagai ekonomi parallel tersebut dapat memberi gambaran
statistik yang keliru, misalnya dari sisi pendapatan, konsumsi, dan angkatan
kerja. Akibatnya, kebijakan yang disusun pun menjadi tidak tepat. Dalam laporan
yang dipublikasikan IMF pada 2010 disebutkan, dari 162 negara di dunia,
persentase ekonomi remang-remang terhadap PDB pada 2007 sebesar 31 %. Kesadaran
perihal aktivitas ini juga diungkapkan dalam Nota Keuangan Rencana APBN 2024.
Disebutkan, peningkatan ekonomi remang-remang merupakan
konsekuensi perubahan struktur perekonomian yang mengarah pada digitalisasi dan
sektor informal. Proses bisnis yang semakin mudah dan sederhana, yang tidak
dibarengi kesiapan sistem perpajakan dalam menangkap aktivitas ekonomi digital,
akan meningkatkan potensi menghindari kewajiban perpajakan. Akibatnya,
penerimaan perpajakan tak optimal. Padahal, potensi sektor informal dan ekonomi
digital di Indonesia cukup besar. Berdasarkan data BPS, pada Agustus 2023,
sekitar 59,11 % penduduk bekerja di Indonesia bekerja di sektor informal.
Sementara E-conomy SEA yang dirilis Google, Temasek, dan Bain & Company
menunjukkan, gross merchandise value (GMV) terus meningkat. GMV, yang
menunjukkan nilai transaksi barang, diprediksi mencapai 109 miliar USD pada
2025 atau tumbuh 15 % dibandingkan dengan 2023. (Yoga)
10 Tahun Standar Pelayanan Tak Berubah
Taktik Baru Setelah Usai Pesta Politik
Bank Syariah Swasta Jumbo Bersiap Muncul
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









