;
Kategori

Ekonomi

( 40600 )

INKP Tertekan Harga Pulp Global

23 Feb 2024
Kinerja emiten kertas dari Grup Sinarmas yakni, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) diproyeksi tumbuh positif. Selain prospek pemulihan harga pulp di pasar global, rencana pabrik INKP untuk ekspansi bakal mendorong pertumbuhan kinerja ke depan. Analis Ciptadana Sekuritas Asia, M. Gibran menjelaskan, harga pulp kraft turun tajam di tahun 2023. Dari level US$ 8.660 per ton pada September 2022, menjadi US$ 4.974 per ton pada April 2023. Namun ada momentum kenaikan di awal tahun dengan diperdagangkan di harga sekitar US$ 5.620 per ton. Gibran menuturkan, pulihnya harga pulp and paper di tahun ini, diperkirakan akan didorong oleh pertumbuhan ekonomi di Asia, terutama Tiongkok. Selain itu, ada kebijakan pengadaan barang ramah lingkungan di Tokyo, dan penutupan beberapa pabrik pulp dan kertas di Amerika Utara dan Australia. INKP juga tengah berencana membangun pabrik kertas baru yang canggih di Karawang, Jawa Barat dengan total kapasitasnya mencapai hingga 3,9 juta ton per tahun. Dengan saldo kas yang masih cukup solid yakni US$ 1,5 miliar hingga kuartal III-2023, Gibran memperkirakan INKP akan membiayai rencana investasi sebesar US$ 3,6 miliar untuk pabrik yang berlokasi di Karawang itu, melalui kombinasi obligasi atau pinjaman dan kas internal. "Dengan pulihnya harga pulp dan kertas serta tambahan kapasitas produksi dari pabrik baru, kami memperkirakan INKP akan mencapai pertumbuhan pendapatan sebesar 11,6% year on year (yoy) pada 2024 menjadi US$ 3,6 miliar dan naik 27,2% yoymenjadi US$ 4 miliar pada 2025," imbuh Gibran. Meski begitu, analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menilai, penjualan masih berpotensi turun 5% di 2024, mengingat saat ini ekonomi China belum pulih benar dan harga pulp yang masih turun. Sementara Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi menuturkan, secara valuasi INKP saat ini cukup atraktif. Rasio price earning (PE) berada di kisaran 6,5 kali dan PBV 0,46 kali, relatif rendah jika dibandingkan dengan rata-rata lima tahun terakhir. Dengan outlook yang cenderung positif untuk jangka panjang dengan pertumbuhan dari pabrik baru, Reza melihat INKP menarik untuk dikoleksi jangka panjang dengan target harga Rp 11.000 per saham.

Grahaprima Suksesmandiri Bidik Kenaikan Kinerja di 2024

23 Feb 2024
PT Grahaprima Suksesmandiri Tbk (GTRA) atau GrahaTrans menargetkan pendapatan minimal  Rp 418 miliar dan laba bersih Rp 40 miliar sepanjang 2024. Sebagai gambaran, emiten logistik ini membukukan pendapatan Rp 238,73 miliar per September 2023. Pencapaian itu naik 53,01% secara tahunan. Di sisi bottom line, GTRA mencetak laba bersih senilai Rp 17,53 miliar. Direktur Keuangan Grahaprima Suksesmandiri, Yohana Puspita menjelaskan, pertumbuhan pendapatan atau omzet tahun ini bakal ditopang penambahan armada pada 2023. Ronny Senjaya, Direktur Utama Grahaprima Suksesmandiri menimpali, secara historis, GTRA melakukan penambahan truk rata-rata 200 unit setiap tahunnya. Tahun lalu, GTRA menambah 170 unit truk. Saat ini GTRA memiliki lebih dari 1.000 armada yang terdiri dari berbagai tipe. Sejalan dengan penambahan truk, GTRA dalam tahap proses pembangunan pool dan bengkel yang berlokasi di Delta Mas, Cikarang. Bangunan itu berdiri di atas tanah seluas 3 hektare. Ronny berharap, fasiitas tersebut bisa meningkatkan utilitas armada GTRA. Pada akhir perdagangan Kamis (22/2), harga saham GTRA melejit 8,55% ke Rp 127 per saham. Sebulan terakhir GTRA telah terjun 46,64%, sementara secara year to date (ytd) GTRA tergerus 60,80%. "Dalam satu, dua bulan terakhir ada penurunan saham. Kami dari manajemen fokus dari sisi kinerja, sedangkan pergerakan harga saham kami serahkan kepada mekanisme pasar," tuturnya. Secara teknikal, Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas bilang, pelemahan GTRA sudah terbatas. Rekomendasi jangka pendek add, support Rp 109, resistance di Rp 150. 

Duet Adik Bungsu Grup Bakrie Melaju

23 Feb 2024
Barisan saham emiten terafiliasi Grup Bakrie menyala lagi. Motor penggeraknya dua emiten anyar, yakni PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) dan PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII). VKTR ngebut dengan penguatan empat hari beruntun. Harga saham emiten di bisnis kendaraan listrik dan komponen suku cadang ini melejit 17,33% ke level Rp 176 per saham Kamis (22/2). Emiten bungsu dari Grup Bakrie, ALII juga melaju kencang dengan penguatan lima hari berturut-turut. Harga saham emiten jasa pengangkutan laut ini lanjut menguat 9,4% ke posisi Rp 815 per saham kemarin. Dibandingkan dengan harga penawaran saat initial public offering (IPO) 7 Februari 2024, harga ALII sudah melejit 199,63%. Saham-saham terafiliasi Grup Bakrie lain juga menyala pada perdagangan Kamis (22/2). Namun, momentum ini tak mampu membangunkan seluruh saham terafiliasi Grup Bakrie. Lantaran masih banyak saham yang berstatus saham gocap. Yaitu saham yang terjerat notasi khusus dari BEI. Seperti BTEL, VIVA, MDIA, ELTY dan  JGLE. Pendiri dan CEO Finvesol Consulting, Fendi Susiyanto mengamati, ada katalis bervariasi dalam lonjakan saham terafiliasi Grup Bakrie. Dia memandang kemenangan Prabowo - Gibran dalam hitung cepat Pemilihan Presiden (Pilpres) menjadi bagian dari sentimen positif Grup Bakrie. Hal ini lantaran sang pendiri Aburizal Bakrie menjadi salah satu pendukung pasangan capres-cawapres tersebut. Pengamat Pasar Modal & Pendiri WH-Project, William Hartanto menambahkan, pendongkrak saham VKTR juga datang dari kemitraan dengan PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS).   Mereka berupaya  meningkatkan inovasi dan mempercepat adopsi kendaraan listrik komersial. Equity Sales Jasa Utama Capital Sekuritas, Alfredo Gusvirli menambahkan, untuk  ALII, terpapar sentimen positif sebagai saham yang baru IPO. Return-nya masih cukup signifikan. Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menyematkan trading buy ALII (support Rp 690, resistance Rp 865), BUMI (support Rp 85, resistance Rp 91) dan UNSP (support Rp 105, resistance Rp 110). 

Penerimaan Pajak Turun di Awal 2024

23 Feb 2024
Kinerja penerimaan pajak di awal tahun melorot setelah melampaui target dalam beberapa tahun terakhir. Kementerian Keuangan (Kemkeu) mencatat, realisasi penerimaan pajak pada Januari 2024 sebesar Rp 149,25 triliun. Angka ini setara 7,50% target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024 sebesar Rp 1.989 triliun. Sayangnya, realisasi penerimaan pajak tersebut terkontraksi 8% year-on-year (yoy). Padahal di Januari 2023, realisasi penerimaan pajak masih mampu tumbuh 6,4% yoy. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai, penerimaan pajak masih cukup positif. "Meskipun kita tahu bahwa tahun 2021 dan 2022 pertumbuhan penerimaan pajak kita sangat tinggi, jadi kita bicara tentang baseline yang tinggi," ujar dia, Kamis (22/2). Sri Mulyani memerinci, realisasi penerimaan pajak penghasilan (PPh) nonmigas tercatat Rp 83,69 triliun atau 7,87% dari target. Ini menjadi penyumbang terbesar penerimaan pajak Januari 2024. Disusul, realisasi penerimaan pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) per 31 Januari 2024 yang tercatat sebesar Rp 57,76 triliun atau 7,12% dari target. Jenis pajak dengan kontribusi terbesar kedua adalah PPh Pasal 21. Dengan sumbangsih 18,9% dari penerimaan pajak, jenis pajak ini berhasil terkumpul Rp 28,3 triliun. Sri Mulyani bilang, penerimaan PPh 21 sejalan dengan perbaikan utilisasi dan upah tenaga kerja. Pengamat Pajak Center of Indonesia Taxation Analysis (CITA) Fajry Akbar melihat, kontraksi penerimaan pajak di awal tahun tak hanya perkara tingginya basis di Januari 2023, melainkan juga indikasi perlambatan konsumsi masyarakat.

Tangkap Peluang Investasi 2204, Bank Mandiri gelar Mandiri Investment Forum

22 Feb 2024

Menyambut positivisme tahun ini, Bank Mandiri bersama anak perusahaan Mandiri Sekuritas akan kembali menggelar Mandiri Investment Forum (MIF) 2024. Forum investasi tahunan terbesar ini akan berlangsung 5 hari, 4-8 Maret 2024. Rangkaian acaranya terdiri atas: Macro Day, Investmen Day, Site Visit dan Corporate Day. Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri Eka Fitria menjelaskan, MIF 2024 menjadi penyelenggaraan ke 13 dari wujud konsistensi Bank Mandiri mendorong keran investasi di Indonesia dengan melibatkan ragam investor dan pembicara terkemuka dari dalam dan luar negeri.

Mengusung tema  "Thriving Through Transition," Forum investasi bertaraf internasional ini membahas isu-isu strategis terkait proyek ekonomi Indonesia di tengah tahun pemilu global (superelection year). "MIF kali ini membahas sumber-sumber pertumbuhan penting bagi Indonesia, diantaranya sektor manufaktur dan pertanian," kata Eka di Jakarta, Rabu (21/2). Untuk MIF 2024, Mandiri Sekuritas melalui Site Visit dan Corporate Day akan menghadirkan 200 investor dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Hongkong, negara-negara Eropa dan AS. (Yoga)

Kejar Aset Kelolaan, Manajer Investasi Bidik Investor Ritel

22 Feb 2024
Sejumlah manajer investasi (MI) terus menggenjot dana kelolaan alias Asset Under Management (AUM) di tahun ini. Memperbesar pasar ritel akan menjadi fokus MI untuk menumbuhkan AUM. Putut Endro Andanawarih, Direktur Investasi BNI Asset Management (BNI AM) menargetkan bisa berada di posisi lima besar MI berdasarkan besaran AUM di tahun ini. Pada tahun 2023, BNI AM berada di urutan keenam dengan total dana kelolaan sebanyak Rp 31,7 triliun. Strategi BNI AM salah satunya fokus menyasar pasar ritel. Investor ritel berkontribusi cukup besar dari sisi pendapatan. "Walaupun memang dari sisi dana kelolaannya, investor ritel lebih kecil ketimbang investor institusi," kata dia, Senin (20/2). Saat ini jumlah investor ritel BNI AM sekitar 400.000. Tahun lalu BNI AM menambah empat Agen Penjual Efek Reksa Dana (Aperd) baru, yakni Bahana Sekuritas, Mandiri Sekuritas, Sayakaya, dan Buka Investasi Bersama (BIB). Sementara BRI Manajemen Investasi (BRI-MI) berada pada posisi empat MI berdasarkan AUM reksadana per 31 Januari 2024 dengan pangsa pasar 6,1%. Peningkatan AUM ditopang oleh pertumbuhan AUM investor ritel 60,80% year on year (yoy) menjadi Rp 6,33 triliun dari sebesar Rp 3,94 triliun. Ira Irmalia Sjam, Plt Direktur Utama BRI-MI mengatakan, sinergi dengan Bank BRI menjadi salah satu faktor utama dalam peningkatan investor ritel BRI-MI.

Biaya Kredit Diproyeksi Turun, Positif Buat Laba

22 Feb 2024
Perbankan optimistis biaya kredit tahun ini akan melanjutkan tren penurunan. Meski outstanding kredit restrukturisasi Covid-19 masih terbilang besar, namun para bankir yakin akan terjadi soft landing saat relaksasi restrukturisasi berakhir pada 31 Maret 2024. Optimisme tersebut seiring dengan semakin berkurangnya jumlah kredit berisiko alias loan at risk (LAR). Berdasarkan data OJK, jumlah restrukturisasi Covid-19 pada akhir 2023 masih ada Rp 265,7 triliun, tetapi sudah berkurang signifikan dari Rp 469 triliun pada 2022. Adapun LAR industri perbankan menyusut ke level 10,94% di 2023 dari 14,05% pada 2022. Tahun lalu, bank-bank menengah dan besar kompak mencatat penurunan biaya kredit. BCA misalnya mencatat penurunan dari 0,7% pada 2022 jadi 0,3% pada 2023. Lalu Bank Mandiri susut dari 1,4% ke 0,85%, BNI turun dari 1,9% jadi 1,4%, BRI turun dari 2,55% jadi 2,38%, BTN susut dari 1,4% ke 1,2%, dan CIMB Niaga turun dari 1,85% jadi 1,03%. Direktur Manajemen Risiko Bank BTN Setiyo Wibowo mengatakan, penurunan biaya kredit terjadi karena kualitas kredit baru lebih baik, jumlah kredit restrukturisasi Covid-19 turun, serta rasio LAR dan non performing loan (NPL) susut. "Kami akan menjaga biaya kredit bertahan di level 1,1%-1,2% tahun ini," ucap Setiyo, Rabu (21/2). Sekretaris Perusahaan BRI Agusta Hendy Bernadi mengatakan, pihaknya terus berupaya menurunkan LAR sebelum berubah jadi NPL. Sementara mengantisipasi berakhirnya relaksasi, BRI sudah melakukan downgrade terhadap kredit yang dinilai tak dapat diselamatkan sebagai bagian dari strategi soft landing. Restrukturisasi Covid-19 Bank CIMB Niaga juga tersisa kecil dan diperkirakan tak akan memberatkan NPL. Bank ini menargetkan biaya kredit di 1,0%-1,1%. “Sejak tahun lalu, kami fokus pada perbaikan kualitas aset sebagai persiapan pertumbuhan kredit,” kata Lani Darmawan, Presiden Direktur CIMB Niaga. OJK juga memandang perbankan sudah siap menghadapi berakhirnya relaksasi restrukturisasi Covid-19, tercermin dari tingkat pencadangan masing-masing bank. “Jadi seharusnya tak ada isu lagi terkait itu,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae.

Modal Ventura Bakal Kerek Pembiayaan

22 Feb 2024
Sejumlah perusahaan modal ventura akan menambah pembiayaan investasi pada tahun ini. Meski di tahun 2023, berdasarkan data OJK, pembiayaan modal ventura pada Desember 2023 turun sebesar 3,74% secara tahunan menjadi Rp 17,34 triliun. Salah satu pemain modal modal ventura, AC Ventures, menyebutkan, hingga saat ini telah berinvestasi ke lebih dari 120 bisnis yang tersebar di sektor fintech, e-commerce, logistik, MSME tech, digital enablers, hingga climate tech. Founder & Managing Partner AC Ventures Adrian Li mengatakan, pada awal tahun ini, AC Ventures melakukan penutupan terakhir dana investasi kelima, ACV Capital V L.P. (ACV Fund V) dengan nilai total US$ 210 juta, termasuk dana ko-investasi. Di tahun ini, Adrian berencana menambah sekitar 25 perusahaan lagi ke dalam portofolio perusahaan pada tahun ini. "Dana tersebut sudah mulai diinvestasikan ke sejumlah perusahaan, seperti produsen kendaraan listrik, Indonesia Maka Motors, startup pertanian berkelanjutan Koltiva, serta Simplus, dan Supermom," ungkap dia kepada KONTAN, beberapa waktu lalu.Adrian menambahkan, AC Ventures secara strategis tidak mengucurkan modal untuk memenuhi kuota investasi. Namun, fokus mengidentifikasi peluang terbaik dan menjanjikan. Genjot investasiAC Ventures akan berfokus pada tiga sektor penting, yakni climate tech, fintech atau teknologi penyedia layanan untuk UMKM, serta industri yang berorientasi konsumen. BNI Modal Ventura juga berencana menggenjot penyaluran pembiayaan di tahun ini. CEO BNI Ventures Eddi Danusaputro mengatakan, pihaknya akan menambah dua hingga empat investasi baru. Eddi menerangkan berdasarkan jumlah investasi, BNI Ventures sudah investasi di dua startup per akhir 2023. Perusahaan modal ventura PT Mitra Bisnis Keluarga Ventura (MBK) juga menargetkan pendanaan pada tahun ini bisa mencapai Rp 10 triliun. Meski MBK Ventura menyebut, penyaluran pembiayaan pada Januari 2024 nilainya hampir sama seperti periode yang sama tahun lalu. Untuk mendorong investasi, perusahaan ini akan menambah kantor cabang. Ini karena MBK menerapkan metode serupa Grameen Bank dan fokus di pendanaan modal kerja untuk ibu-ibu non bankable. 

WAIT AND SEE SUKU BUNGA BI

22 Feb 2024

Bank sentral menunjukkan gelagat dilematik. Ruang pelonggaran suku bunga acuan yang menjanjikan rupanya tidak terlalu leluasa dilakukan karena adanya gejolak global dan risiko di dalam negeri. Dari global, bayangan gelap muncul dari The Federal Reserve (The Fed) yang menganulir sinyal percepatan penurunan suku bunga acuan dari level 5,25%—5,5% pada awal paruh kedua 2024 karena inflasi Amerika Serikat (AS) yang kembali tinggi. Belum lagi resesi di Jepang dan Inggris, yang akan mempengaruhi prospek perekonomian dunia, tidak terkecuali Indonesia. Situasinya pun masih diperparah dengan belum adanya tanda-tanda merenggangnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur. Sejumlah faktor global yang berisiko melahirkan krisis energi dan pangan, pelemahan rupiah, serta penurunan inflasi barang impor. Apalagi menjelang Ramadhan, permintaan selalu meningkat dan secara historis mendorong inflasi, salah satu tolok ukur Bank Indonesia (BI) dalam mendorong arah bunga acuan. 

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) kemarin, Rabu (21/2), Gubernur BI Perry Warjiyo, tak memungkiri adanya dinamika baru dari eksternal yang turut mempengaruhi kebijakan domestik. Untuk saat ini, otoritas moneter mempertahankan BI-Rate sebesar 6,00%, dan memberikan sinyal pelonggaran baru akan dilakukan pada semester II/2024. Perry menambahkan, yang ditayangkan di pasar keuangan dunia saat ini masih cenderung tinggi, akibat berlanjutnya eskalasi ketegangan geopolitik. Hal itu kemudian mempengaruhi rantai pasok global yang kemudian memicu peningkatan harga komoditas pangan dan energi, serta menahan laju penurunan inflasi. Berbagai kondisi itulah yang pada akhirnya mendorong bank sentral untuk 'wait and see' soal acuan suku bunga, setidaknya hingga ancaman dari sisi inflasi, The Fed, serta stabilitas rupiah tetap terjaga. Dalam kaitan rupiah, bank sentral akan mengoptimalkan instrumen moneter yang telah tersedia. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, mengatakan dampak dari suku bunga tinggi pun cukup menyakitkan ekonomi, terefleksi dari resesi yang terjadi di Inggris dan Jepang. "Ini tantangan untuk lingkungan global kita semuanya," katanya. Stagnasi suku bunga acuan di level 6% memang memberikan ruang bagi pemerintah dan BI untuk melakukan manuver guna menciptakan stabilitas harga dan ekspektasi inflasi. 

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan kalangan berusaha bahkan tidak lagi memiliki ekspektasi soal relaksasi suku bunga. Shinta menjelaskan, suku bunga di level 6% menjadi tidak ideal bagi pengusaha karena menjadi beban pembiayaan yang tinggi. Dampaknya, pertumbuhan kinerja usaha menjadi tidak kondusif. Fakultas Ekonomi dan Asosiasi Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia Ryan Kiryanto, memandang keputusan BI merupakan langkah preemptive sekaligus antisipatif untuk mendukung stabilitas guna mengendalikan inflasi dan rupiah. Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David Sumual, menambahkan sejatinya pemerintah dan BI telah mengeluarkan banyak stimulus untuk merangsang perekonomian.

Panjang Sabar Suku Bunga Turun

22 Feb 2024

Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,25%—5,5% dalam pertemuan perdana 30—31 Januari 2024. Kebijakan mempertahankan suku bunga acuan ini diambil oleh anggota komite dengan suara bulat. Gubernur The Fed Jerome Powell, dalam pidatonya usai rapat FOMC, menyatakan membuka ruang penurunan suku bunga pada 2024, tetapi kecil kemungkinan bakal dilakukan pada pertemuan FOMC kedua pada 19—20 Maret. Sebagai catatan, pertemuan FOMC dilakukan sebanyak delapan kali pada tahun ini untuk mengevaluasi kondisi ekonomi, memutuskan kebijakan moneter, dan menentukan suku bunga acuan. FOMC Meeting pada 2024 menjadi perhatian dunia karena perekonomian global tengah menanti sinyal dan kabar baik menyangkut sinyal berakhirnya tren suku bunga tinggi di AS yang bertahan di level tinggi sejak 26 Juli 2023. Selain itu, ada sejumlah data yang menjadi pertimbangan keputusan kebijakan moneter Federal Reserve, di antaranya produk domestik bruto (PDB), pengeluaran konsumen, dan produksi industri. Tentu saja, peristiwa-peristiwa besar seperti krisis keuangan, pandemi global hingga krisis geopolitik juga menjadi pertimbangan. Sebagai catatan, inflasi di AS mulai mendingin, dari 7% pada 2021 menjadi 6,5% pada 2022 dan kemudian turun lagi menjadi 3,4% pada 2023. Namun, merujuk pada data inflasi AS sepanjang 2013—2020 yang berkisar 0,7% hingga 2,3%; tentu saja inflasi 2023 belum cukup ideal. Persoalannya adalah inflasi di AS pada Januari 2024 tercatat 3,1%; lebih tinggi dari proyeksi di level 2,9%. Artinya, laju inflasi belum mereda seperti yang diharapkan. Pada saat bersamaan, Indonesia bakal memasuki bulan Ramadan pada Maret, yang biasanya diikuti dengan kenaikan sejumlah komoditas pangan sehingga berpotensi memacu laju inflasi nasional. Menjelang pekan terakhir Februari 2024 saja, sejumlah komoditas pangan di beberapa daerah terpantau naik. Memanasnya laju inflasi, baik di AS maupun nasional tentu bisa menjadi bola liar jika tidak terkendali. Pada saat bersamaan, perekonomian pun harus lebih banyak bersabar menanti penurunan suku bunga.