Ekonomi
( 40465 )VinFast dan Keberanian Vietnam Mendobrak Panggung Otomotif
VinFast, pemain baru dalam pasar otomotif global dan produsen
kendaraan listrik asal Vietnam, Kamis (15/2) mengumumkan pencapaiannya. Mereka telah
mengirimkan 35.000 kendaraan listrik ke konsumen global. Wakil CEO Penjualan
dan Pemasaran VinFast Tran Mai Hoa menyebut, perbedaan
kecepatan adopsi teknologi kendaraan listrik di setiap negara berdampak pada
penjualan mereka. Selain memasarkan produknya di Vietnam, VinFast memasukkan AS
sebagai pasar asing pertama incaran mereka. Setahun setelah VinFast berdiri
tahun 2017, manajemen memutuskan mengembangkan sayap dengan mendirikan pabrik
di AS. Dana 4 miliar USD telah disiapkan pendiri VinFast, Pham Nhat Vuong, direncanakan
berproduksi tahun 2025. Untuk sementara waktu, semua model yang ada di pasar AS
dikirim dari pabrik utama VinFast di Vietnam. Untuk memuluskan niatnya menjadi
salah satu pemain otomotif global, VinFast juga berencana mengembangkan sayapnya
di India dan Indonesia.
VinFast telah mempersiapkan dana 1,2 miliar USD untuk membangun pabrik di Indonesia, untuk pasar India, VinFast menyiapkan dana 2 miliar USD, termasuk untuk pembangunan pabrik berkapasitas produksi 150.000 unit per tahun. Meski keberuntungan belum berpihak dalam hal penjualan, VinFast telah membuat para pesaingnya terbelalak. Valuasi mereka setelah perdagangan saham perdana di bursa Nasdaq, Agustus 2023, menembus 190 miliar USD, melebihi valuasi perusahaan otomotif legendaris, seperti Volkswagen, Ford, atau General Motors, yang angka penjualannya sudah menembus jutaan unit. VinFast hanyalah satu dari puluhan bisnis di bawah payung Vingroup yang didirikan Pham Nhat Vuong. Pham semula menemukan jalannya dengan membuat mi instan di Ukraina yang diberi nama Mivina. Tahun 2010, perusahaan itu diakuisisi Nestle. Pham mengantongi uang 150 juta USD.
Ia pulang ke Vietnam, berinvestasi di bidang properti dan real estat. Dia juga mengembangkan bisnis ke bidang lain, antara lain hiburan, ritel, kesehatan, pendidikan, dan teknologi, termasuk industri teknologi telekomunikasi. VinHomes, VinSchool, VinAI hingga VinBrain adalah beberapa nama perusahaan di bawah payung Vingrup. Pada 2021 Pham meninggalkan industri gawai pintarnya dan memfokuskan diri pada pengembangan kendaraan listrik untuk pasar global di bawah bendera VinFast yang didirikannya tahun 2017. Seperti dilansir Financial Times, Agustus 2023, kelompok usaha Vingroup membukukan pendapatan 130,5 triliun dong atau 5,4 miliar USD. CEO VinFast Le Thi Thu Thuy mengatakan, keinginan Pham adalah menjadikan produk mereka berkualitas dan bisa diakses oleh semua kalangan. ”Misi kami ialah membuat kendaraan listrik dapat diakses oleh semua orang,” kata Le, dikutip dari laman Forbes India.
Guna mendukung upaya itu, Pham merogoh koceknya hingga 10 miliar USD untuk mengembangkan produk kendaraan VinFast. Le mengatakan, apa pun kebutuhan untuk pengembangan VinFast, kelompok bisnis Vingroup dan Pham selalu mendukung. Target penjualan mereka ambisius, yakni mampu menjual 1 juta kendaraan listrik dalam kurun waktu enam tahun secara global. Untuk mendukung ambisinya, VinFast bekerja sama dengan perusahaan otomotif Jerman, BMW, mengembangkan platform dan mesin kendaraannya. Beberapa petinggi perusahaan itu juga membantu mengembangkan desain dan produk kendaraan listrik VinFast. Sebut saja Michael Lohscheller, mantan CEO Opel, yang telah berpengalaman di industri otomotif lebih dari dua dekade. Selain itu, ada Jeremy Snyder yang membantu Elon Musk dalam pengembangan kendaraan listrik Tesla. (Yoga)
KAMPUNG BAYAM, Komnas HAM Gelar Mediasi Awal Maret
Warga eks Kampung Bayam melaporkan Pj Gubernur DKI Jakarta
Heru Budi Hartono ke Ombudsman RI karena ia tak kunjung merespons ajakan
berdiskusi soal nasib mereka. Melihat berlarutnya kasus ini, Komnas HAM berencana
menggelar mediasi antara eks warga Kampung Bayam dan Pemprov DKI pada 5 Maret
2024. Salah satu warga eks Kampung Bayam, Madani Furkon, mengatakan, data yang
diserahkan kepada Ombudsman telah lengkap, tetapi masih akan ada berkas
susulan. ”Yang kurang itu surat kuasa dari perwakilan warga yang melaporkan,
surat tertulis yang kami kirimkan kepada Pj Gubernur yang tidak pernah
direspons,” kata Furkon, Rabu (21/2). Furkon mengatakan, warga eks Kampung
Bayam hanya menginginkan dialog terbuka dengan Pj Gubernur dan PT Jakarta
Propertindo (Jakpro) terkait nasib mereka yang belum mengantongi kunci Kampung
Susun Bayam.
Ia berharap, setelah warga melengkapi dokumen yang diperlukan,
Ombudsman RI dapat mengambil sikap tegas sebagai pengawas pelayanan publik dan
berpihak kepada rakyat. Warga eks Kampung Bayam adalah penghuni lahan yang kini
menjadi Jakarta International Stadium (JIS). Sebelumnya mereka dijanjikan dapat
menempati rumah susun bernama Kampung Susun Bayam (KSB) di kawasan JIS saat ini.
Namun, pergantian kepemimpinan di DKI berujung perubahan kebijakan terkait KSB.
Warga eks Kampung Bayam bisa menempati KSB dengan kewajiban membayar sewa
sesuai yang ditetapkan Jakpro, pengelola JIS, dan KSB. Warga eks Kampung
Bayam keberatan karena syarat itu dinilai tidak sesuai dengan janji awal
Pemprov DKI. Terkait dengan berlarutnya kasus Kampung Bayam, Komnas HAM juga di
rencanakan menggelar mediasi antara eks warga Kampung Bayam dan Pemprov DKI,
termasuk Jakpro, pada 5 Maret 2024. (Yoga)
Dua Perusahaan Tekstil Pecat 5.300 Pekerja
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN)
Ristadi, Rabu (21/2) mengungkapkan, dua perusahaan tekstil yang berlokasi di
Semarang, Jateng, pada Januari-Februari ini total sudah melakukan PHK terhadap 5.300
pekerja. Satu perusahaan telah mem-PHK 5.000 karyawan dan perusahaan yang lain
300 karyawan. Ia menjelaskan, PHK itu dilakukan karena terjadinya penurunan
permintaan. Akibatnya, perusahaan tidak mampu lagi membiayai upah para pekerja.
Kendati demikian, lanjut Ristadi, hak-hak dan pesangon dari karyawan yang
di-PHK sudah diselesaikan sesuai ketentuan yang berlaku. Ristadi menambahkan,
sejak 2020 hingga kini, pihaknya mencatat ada 62.000 pekerja industri tekstil
dan produk tekstil yang mengalami PHK. Mereka tersebar di Banten, Jabar dan Jateng.
Perusahaan yang melakukan PHK itu ada yang produknya berorientasi pasar ekspor
dan ada pula yang memiliki pasar dalam negeri.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Bidang Ketenagakerjaan dan Pengembangan SDM Nurdin Setiawan mengatakan, pihaknya belum memperoleh laporan resmi mengenai PHK di dua perusahaan itu. Namun, dia tidak menampik bahwa pada 2024, yang belum genap berjalan dua bulan ini, memang sudah terjadi PHK di industri tekstil dan produk tekstil. ”Pada 2024 ada (PHK), tapi tidak masif seperti 2022 dan 2023,” ujar Nurdin, dihubungi pada Rabu. Ia menambahkan, kini utilitas produksi industri ini berkisar 60-70 %. Angka ini tidak banyak berubah dalam 2-3 tahun terakhir yang juga berkisar 65-75 %. Data Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) memperkirakan serapan tenaga kerja di industri initerus menurun. Saatini jumlahnya mendekati 3 juta orang, menurun dibandingkan 2019 yang pernah menyerap hingga 3,5 juta orang. Berkurangnya jumlah tenaga kerja itu disebabkan beberapa faktor, mulai dari langkah merumahkan sementara pekerja hingga PHK. (Yoga)
Indonesia Jangan Kalah dari Vietnam
Selain dimeriahkan produsen kendaraan dari Asia Timur, Indonesia
International Motor Show 2024 di Jakarta juga diramaikan oleh VinFast yang
sangat ambisius. Bulan September 2017, VinFast memulai pembangunan pabrik di Hai
Phong, Vietnam. Hanya dalam 21 bulan, pabrik itu sudah memproduksi mobil, kemudian
sepeda motor listrik hingga bus listrik. Musim gugur 2018, tepatnya di Paris
Motorshow, telah diperkenalkan LUX SA2.0 dan LUX A2.0, dua tipe mobil VinFast,
yang didesain Pininfarina. Sebelum membantu VinFast, Pininfarina telah
berkolaborasi dengan General Motors, Mitsubishi, dan Ferrari. Pada 2021,
VinFast mengumumkan hanya memproduksi kendaraan listrik. Pada IIMS 2024,
VinFast pun memboyong mobil-mobil listriknya dengan harga bersaing. Kuartal I-2022,
VinFast dan pemerintah North Carolina, AS, menyepakati pembangunan pabrik
berkapasitas 150.000 unit kendaraan per tahun. Hari Sabtu (13/1) Presiden Jokowi
telah meninjau pabrikVinFast di HaiPhong,Vietnam.Presiden bahkan sempat duduk
di dalam mobil VinFast.
”Kami mendukung rencana investasi VinFast di Indonesia,” ujar
Presiden. VinFast memang berminat membangun pabrik seluas 240 hektar di Indonesia,
karena potensi pasar di Indonesia besar. Tahun 2024 ini, VinFast berencana
memulai pembangunan pabrik senilai 200 juta USD yang dapat menyerap 3.000
tenaga kerja. Ditargetkan, VinFast memproduksi 50.000 unit kendaraan per tahun.
Langkah VinFast sesungguhnya mengekor Hyundai, Morris Garage (MG), dan Wuling
Motors. Beberapa pabrikan mobil, yang baru-baru ini agresif berinvestasi di
Indonesia, bahkan mengkhususkan diri pada produksi kendaraan listrik. Mereka tak
sekadar menjual produk, tetapi juga mengedukasi pasar. Atas aksi korporasi
sejumlah pabrikan mobil itu, idealnya kita, sebagai bangsa, dapat
berkontemplasi. Mengapa tidak kita sendiri yang memanfaatkan pasar negeri ini. Jangan
kalah dari Vietnam, sedang pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas rata-rata
pertumbuhan ekonomi global. Logikanya, dengan potensi pasar sebesar ini,
korporasi dapat tumbuh lebih besar. (Yoga)
Saham-saham Perbankan Kian Berkibar
Berharap Dampak Positif dari Resesi Jepang
OJK Proyeksikan Pertumbuhan Kredit Lebih Lambat
Presiden Ajak Industri Jasa Keuangan Dukung Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan
PT DI Perluas N129 di Singapore Airlines
Tarif Jalan Tol Serpong-Cinere Seksi I Resmi Naik
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









