Ekonomi
( 40465 )Harga Beras Melambung, Saham Emitennya Kian Membumbung
BI tetap Optimistis Kredit Tumbuh 12%
Kenaikan Inflasi Volatile Food hanya Temporer
Tingkat Kekosongan Perkantoran di CBD Jakarta Masih Tinggi
Dualisme Sikap AS Tentang Gencatan Senjata
Cuan Terbit dari Hak Penerbit
Menanti Tuah Guyuran Subsidi Pajak Baru
Pemerintah kembali mengguyur subsidi fiskal untuk mendorong industri mobil listrik dan properti pada tahun ini. Namun di tengah pelemahan daya beli kelas menengah, subsidi fiskal ini dinilai hanya menahan risiko perlambatan ekonomi, alias tak bisa mengungkit pertumbuhan signifikan. Kementerian Keuangan baru saja merilis tiga aturan baru insentif pajak untuk industri kendaraan listrik, juga properti. Pertama, pajak pertambahan nilai (PPN) ditanggung pemerintah (DTP) untuk pembelian mobil listrik yang diproduksi lokal yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 8/2024. Kedua, insentif pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) DTP atas impor mobil listrik completely built up (CBU) dan penyerahan mobil listrik completely knocked-down (CKD) yang diatur melalui PMK Nomor 9/2024. Insentif PPnBM DTP atas impor CBU dan CKD diberikan 100% dari jumlah PPnBM yang terutang. Ketiga, insentif PPN DTP untuk pembelian rumah Rp 2 miliar hingga Rp 5 miliar yang diatur melalui PMK Nomor 7/2024. Selama ini, sokongan industri otomotif terhadap produk domestik bruto (PDB) tak terlalu besar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, industri alat angkutan hanya berkontribusi 1,49% terhadap PDB.
Sementara perdagangan mobil, sepeda motor dan reparasinya menyumbang 2,24% ke PDB. Adapun real estate berkontribusi 2,42% terhadap PDB dan sektor konstruksi menyumbang 9,29% ke PDB. Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita melihat pemberian insentif PPN DTP untuk mobil listrik tak signifikan mengerek penjualan lantaran terbatasnya infrastruktur pendukung mobil listrik. Ia juga menilai, pemberian insentif untuk impor CBU tak tepat. "Karena sama dengan mensubsidi orang kaya," terang dia, Rabu (21/2). Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri juga berpendapat, insentif ini tidak bisa diharapkan menggerakkan ekonomi lantaran daya beli masyarakat yang masih lemah. Sementara kunci untuk mendorong perekonomian dalam negeri adalah memacu daya beli masyarakat. Direktur Center of Reform on Economics (Core) Mohammad Faisal menilai, insentif mobil listrik yang diberikan oleh pemerintah belum akan kelihatan dampaknya dalam waktu singkat, atau setidaknya dalam waktu 10 tahun. Alhasil, belum akan berdampak signifikan terhadap perekomian.
Fajar Mulia, Mengubah Sampah Jadi Berkah
Sudah lama Fajar Mulia (42) gerah melihat sampah bertumpuk di
mana-mana. Ia tergerak menyedekahkan waktu untuk mengatasi persoalan sampah dan
mengubahnya menjadi berkah. Berkeliling di perumahan Althia Park, Bintaro, Tangsel,
Banten, pada Minggu (18/2) kita bisa menangkap kegairahan warga mengolah sampah
rumah tangga. Sekitar 70 % dari 122 rumah tangga di kompleks itu telah memilah
sendiri sampah dalam lima kategori: kardus/kertas, plastik, kemasan makanan,
beling, dan logam. Sampah yang masih punya nilai ekonomi itu mereka setorkan ke
tiga titik penampungan di kompleks tersebut. Setelah penuh, sampah diangkut ke
depo bank sampah di sisi belakang kompleks.
Sebulan sekali sampah itu ditimbang dan dijual kepada
pengepul. Sampah sisa makanan (organik) yang tidak bisa disetor ke bank sampah
diolah jadi kompos dan eco-enzyme. Di kompleks itu, ada 11 titik komposer kolektif
dan 60-an komposer individu milik warga. Kompos dipakai mereka untuk media
tanam taman pribadi dan kebun milik bersama. Ekoenzim dipakai untuk activator pembuatan
kompos, pupuk, dan sarana edukasi. Warga juga memanfaatkan ekoenzim untuk bahan
pembuatan sabun, pembersih lantai, dan produk ramah lingkungan lainnya.
”Semuanya masih kecil-kecilan, baru skala rumah tangga.
Tetapi, yang penting, kesadaran warga untuk mengolah sampah sudah muncul,” ujar
Fajar Mulia, inisiator gerakan pengolahan sampah yang ditunjuk warga sebagai Ketua
Bank Sampah Althia Bahagia. Sejak gerakan swakelola sampah dilakukan warga pada
akhir 2018 hingga akhir 2023, sampah bernilai ekonomi yang berhasil dipilah dan
dijual jumlahnya lebih dari 18 ton. Adapun sampah organik yang berhasil diubah
menjadi kompos dan ekoenzim sekitar 50 % dari sampah warga. Sampah yang dibuang
warga tinggal sampah yang benar-benar tak bisa diolah, seperti sampah B3. Menurut
Fajar, hasil penjualan sampah setiap tahun Rp 6 juta-Rp 9 juta. Jika diakumulasikan
pada 2018-2023, totalnya Rp 41 juta. Uang itu dimasukkan ke kas RT dan
digunakan untuk membiayai kegiatan kompleks. (Yoga)
Pelaku UMKM Siasati Tingginya Harga Beras
Pelaku UMKM makanan di sejumlah daerah menyiasati tingginya
harga beras dalam dua pekan terakhir. Mereka berupaya agar harga jual ke konsumen
tidak naik meskipun itu berdampak pada berkurangnya keuntungan. Di kawasan
Surabaya, Jatim, para penjual lontong bersiasat dengan cara mencampur beras
premium dan beras medium. ”Saya biasanya pakai beras premium, tetapi karena harga
sedang tinggi, saya campur dengan beras medium yang dibeli dari tetangga,” ujar
Sugiyanto, warga kampung lontong Sawahan, Surabaya, Rabu (21/2). Dalam sehari,
Sugiyanto mengolah maksimal 5 kg beras menjadi lontong. Dengan pencampuran
beras medium dan premium, ongkos produksi lontong bisa ditekan. Penganan ini
bisa dijual kepada pelanggan dengan harga Rp 1.500-Rp 2.000 per lontong. Jika
memakai beras premium seutuhnya, harga jual lontong naik sampai dua kali lipat.
”Dampaknya, bisa tidak laku dan bikin rugi,” katanya.
Suminto, penjual lontong balap di gerobak keliling di Gubeng, Surabaya, mengatakan, saat harga beras tinggi, ukuran lontong yang diterimanya dari pembuat lontong biasanya mengecil dan berbahan beras campuran. Namun, baginya itu tak menjadi masalah karena penjual lontong telah memberitahukan hal tersebut. ”Yang paling penting,lontongnya segar atau dibuat pagi tadi. Saya juga membatasi beli lontong sekaligus mengurangi bikin sayurnya (taoge),” katanya. Menurut Suminto, dengan membatasi produksi, pedagang makanan sebenarnya akan terdampak berupa berkurangnya keuntungan. Padahal, bagi pedagang mikro dan kecil, keuntungan penjualan makanan merupakan sandaran utama keberlangsungan hidup ekonomi keluarga. Suminto dapat menjual 50 porsi lontong balap dengan keuntungan maksimal Rp 100.000 sehari. ”Tiga hari ini, produksi lontong balap turun, ya, keuntungan juga turun sampai Rp 20.000 sehari,” ujarnya. (Yoga)
Nikmat Hasil Kesetiaan Peladang Tangguh Kalbar
Para peladang tangguh dari Kalbar menikmati jalan hidup dan
kesetiaan mereka pada alam. Saat kini harga beras melambung tinggi, mereka
masih dikaruniai cukup persediaan, bahkan hingga tahun depan. ”Kami tidak
terlalu terdampak kenaikan harga beras. Kami punya ladang. Berasnya melimpah,”
kata Igoh (59), warga adat Dayak Iban, di Rumah Panjang Sungai Utik di Kabupaten
Kapuas Hulu, Kalbar, Selasa (20/2). Bahkan, saat stok panen tahun
lalu belum habis, dia akan panen lagi dalam waktu dekat. Menurut Igoh, panennya
diperkirakan 1 ton beras dari sebagian lahan seluas 2 hektar. Jumlah itu akan
mencukupi kebutuhan tiga anggota keluarganya hingga lebih dari setahun. Kondisi
ini, lanjut Igoh, juga dirasakan masyarakat adat Dayak Iban Sungai Utik
lainnya. Saat ini komunitas adat itu berjumlah 281 orang Sebagian tinggal di
rumah tunggal. Namun, ada juga yang masih bermukim di Rumah Panjang khas suku
Dayak. Dibangun pada 1978, rumah sepanjang 168 meter, dimana warga tinggal di
28 bilik. Untuk hidup, mereka memiliki wilayah adat Sungai Utik seluas 10.048
hektar. Seluas 9.480 hektar di antaranya hutan adat.
Di sana, warga bisa memenuhi kebutuhan hidupnya secara
mandiri. Tidak hanya beras, juga sayur-mayur dan buah-buah lokal. ”Saya dan
masyarakat di kampung bahkan mengirim beras kepada anak-anak kami yang sedang
bersekolah di luar daerah. Biasanya 5 kg per setiap panen agar mereka juga ikut
menikmati hasil panen,” kata Igoh. Hal serupa terjadi di salah satu wilayah
perbatasan Indonesia-Malaysia, tepatnya di Dusun Sontas, Kecamatan Entikong,
Kabupaten Sanggau. Temenggung (pemimpin adat) Benua Desa Entikong, Kanisius
Kartus (49), Rabu (21/2) mengatakan, dirinya memiliki ladang seluas 2 hektar.
Pekan depan, ia akan panen hingga 300 kg beras. Kartus mengatakan, dari lebih
kurang 1.000 warga adat, 80 % masih berladang. Dengan demikian, kebutuhan pangan
warga tetap terpenuhi. Tahun lalu, panen ladang milik adiknya mencapai 1 ton
beras dan masih ada stok untuk konsumsi. ”Kami bahkan bisa mengirim beras untuk
kerabat di luar daerah melalui taksi (moda transportasi mobil) antar kabupaten,”
ucapnya. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









