Ekonomi
( 40846 )Sejumlah Bank Gelar Pameran Dorong Kredit Konsumer
Tunggu Nasib Moratorium Bea Masuk Barang Digital
Memilah Saham Pembagi Dividen Jumbo
Dihantui Tekanan Harga Komoditas
GOTO Mengantongi Komisi dari Tiktok
MI Gencar Meluncurkan Reksadana Anyar
MAPI Didorong Lebaran & Ekspansi
Perputaran Uang Tertahan Gejolak Harga Pangan
MINYAK KELAPA SAWIT : PENYELAMAT DARI DALAM NEGERI
Konsumsi dalam negeri bakal menjadi penopang industri minyak kelapa sawit nasional di tengah tekanan peningkatan produksi minyak nabati lainnya di pasar global pada paruh kedua tahun ini. Meski pangsa pasar minyak sawit Indonesia di market global mencapai 33%, peningkatan produksi minyak nabati lain di Amerika Serikat dan Eropa bisa memberikan impak serius terhadap harga salah satu komoditas andalan Indonesia itu. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) pun mengandalkan konsumsi di dalam negeri yang diproduksi bakal tumbuh seiring dengan pemanfaatannya untuk Biosolar yang saat ini sudah mencapai B35. Gapki mencatat, konsumsi minyak sawit domestik pada 2023 mengalami kenaikan 8,9% (year-on-year/YoY), dari 21,24 juta ton pada 2022 menjadi 23,13 juta ton pada 2023. Implementasi kebijakan B35 secara efektif dilakukan pada juli 2022 telah meningkatkan konsumsi minyak sawit sebesar 17,68%, yakni dari 9,04 juta ton pada 2022 menjadi 10,65 juta ton pada 2023. “Kalau kita enggak pakai untuk energi, harga makin jatuh lagi. Jadi sudah bagus sekarang ini. Dengan pemakaian dalam negeri meningkat menyebabkan harga jadi stabil,” kata Ketua Umum Gapki Eddy Martono, Selasa (27/2). Sebagai contoh, Indonesia telah meminta Tanzania untuk menjadi hub untuk permintaan minyak sawit dari negara di sekitarnya. Dalam waktu dekat, akan ada pameran minyak sawit Indonesia di Nigeria.
Optimisme itu pun diiringi dengan proyeksi produksi minyak sawit pada 2024 yang berpeluang naik sekitar 5%. Pada 2023, produksi minyak sawit, termasuk di dalamnya crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO) tercatat sebanyak 54,84 juta ton, atau naik sekitar 7% dibandingkan dengan produksi pada 2022 sebanyak 51,24 juta ton. Sekretaris Jenderal Gapki Hadi Sugeng mengatakan, adanya El Nino pada pertengahan 2023 lalu tidak berpengaruh signifikan terhadap produksi kelapa sawit tahun ini. Meskipun diakui bahwa El Nino telah menyebabkan keterlambatan panen pada pertengahan 2023. Pada 2023, ekspor produk sawit Indonesia mengalami peningkatan ke beberapa negara importir seperti China, India, Afrika, Amerika Serikat, dan Bangladesh. Namun, ekspor justru menurun ke Uni Eropa dan Pakistan. Permintaan minyak sawit dari China diakui mengalami peningkatan pada 2023 menjadi 7,7 juta ton dari tahun sebelumnya sebanyak 6,2 juta ton. China menempati urutan pertama tujuan ekspor minyak sawit Indonesia, diikuti oleh India sebanyak 5,9 juta ton, dan Uni Eropa sebanyak 3,7 juta ton.
Dilansir Bloomberg, permintaan terhadap minyak sawit biasanya meningkat pada Ramadan, ketika umat Islam berbuka puasa pada malam hari setelah berpuasa siang hari. Bulan suci dimulai pada awal Maret tahun ini. Peningkatan konsumsi juga berlangsung sebulan kemudian, yakni pada Hari Raya Idulfitri, ketika orang-orang mudik ke kota asal mereka untuk bersilaturahmi dengan keluarga. Abdul Hameed, Direktur Penjualan Manzoor Trading di Lahore, Pakistan, mengatakan permintaan yang tinggi selama Ramadan, khususnya di Indonesia dan Malaysia, semestinya mengurangi stok. Perusahaan Fitch Solution itu mengatakan harga CPO mungkin akan lebih lemah dari level saat ini karena ekspektasi panen kedelai dalam jumlah besar, permintaan di China yang lemah, dan dampak El Nino terhadap produksi kelapa sawit yang masih lemah.
Comac Incar Ceruk Pasar Asia Tenggara
Perusahaan negara pembuat pesawat asal China, Comac, akan
mengadakan pameran dan pertunjukan terbang keliling ke lima negara di Asia
Tenggara selama dua pekan ke depan. Indonesia merupakan salah satu dari lima negara
yang akan dikunjungi. Selain ke Indonesia, dua pesawat jet buatan Comac, yakni C919
dan ARJ21, juga akan mampir ke Vietnam, Laos, Kamboja, dan Malaysia. Promosi
ini merupakan upaya Comac mendorong penjualan pesawat-pesawat produksinya di pasar
internasional. Kedua pesawat, C919 dan ARJ21, untuk pertama kali dipamerkan di
Pameran Kedirgantaraan Singapura (Singapore Airshow), pekan lalu. Ini untuk
pertama kali pesawat C919 unjuk terbang di luar wilayah China.
Rencana keliling Asia Tenggara itu diumumkan Comac yang
berkantor pusat di Shanghai, China, Selasa (27/2). Setelah Singapore Airshow
berakhir, Minggu, pesawat jet penumpang C919 tiba di Vietnam untuk
berpartisipasi dalam pertunjukan udara di Vietnam yang dimulai Senin. Pesawat
jet dengan 78 hingga 97 kursi itu lepas landas dari Bandar Udara Internasional Van
Don, Vietnam utara, untuk demonstrasi terbang pada Selasa sore. Kantor berita
China, Xinhua, mengutip Wakil Direktur Bandar Udara Internasional Van Don,
Hoang Van Dung, menyebutkan, pameran dan pertunjukan terbang Comac membantu
mengaktifkan pengoperasian penerbangan komersial dari provinsi dan kota di
China ke Van Don.
Rute penerbangan pertama akan dilakukan dari kota Shantou di Provinsi
Guangdong, China. Pameran itu sekaligus diharapkan dapat mempromosikan kerja
sama pariwisata antara Vietnam dan China. Menurut rencana, C919 dan ARJ21-700 akan
terbang ke kota Danang, Ho Chi Minh, dan ibu kota Laos, Vientiane, setelah
pertunjukan di Quang Ninh. Maskapai penerbangan Indonesia, TransNusa, telah
mengoperasikan ARJ21. Maskapai penerbangan ini menggunakan dua pesawat ARJ21
untuk penerbangan Bandara SoekarnoHatta-Kuala Lumpur dan Soekarno-Hatta-Johor
Bahru. Meskipun pendatang baru, C919 disebut-sebut bakal menjadi pesaing berat
Boeing 737 Max dan A320neo. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









