Ekonomi
( 40733 )Kelas Menengah Minim Perhatian Pemerintah
Menyandang status yang ”tanggung” alias tidak miskin tetapi
sulit kaya, warga kelas menengah di Indonesia selama ini belum cukup
diperhatikan pemerintah dalam berbagai instrumen kebijakan. Kurangnya perhatian
terhadap kelas menengah ini bisa menjadi ancaman untuk mimpi Indonesia Emas
pada tahun 2045. Masyarakat kelas menengah selama ini kerap diandalkan sebagai
penggerak ekonomi nasional. Meski demikian, kelompok ini masih hidup pas-pasan
dari hari ke hari. Hasil liputan Tim Jurnalisme Data Kompas menunjukkan,
sebagian besar kelas menengah dan calon kelas menengah usia produktif (17-40
tahun) kesulitan mengatur keuangannya. Pendapatan mereka lebih kecil dari
pengeluaran sehingga gaji kelompok calon kelas menengah minus Rp 181.724 per bulan
dan gaji kelas menengah minus Rp 65.529 setiap bulan. Defisit gaji ini membuat
mereka sulit menabung dan semakin susah naik kelas menjadi kelas atas atau
orang kaya.
Laju pendapatan yang stagnan itu diperkirakan akan berlanjut
sampai tahun 2045 ketika Indonesia menginjak usia satu abad atau dikenal dengan
momentum ”Indonesia Emas”. Tim Jurnalisme Data Kompas memproyeksikan, rata-rata
gaji calon kelas menengah pada 2030 dan 2045 lebih rendah Rp 384.109 dan Rp
818.472 ketimbang pengeluarannya. Meski hidup pas-pasan, kelas menengah di
Indonesia masih minim perhatian. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI Teguh
Dartanto menilai, sampai saat ini belum banyak kebijakan atau keberpihakan
pemerintah kepada kelas menengah. Kebijakan pemerintah lewat APBN masih terlalu
fokus pada kelompok masyarakat miskin ekstrem dan miskin. Di sisi lain, pemerintah
membuat kebijakan intervensi yang lebih menguntungkan kelompok atas. ”Kebijakan
seperti bantuan sosial (bansos) hanya untuk kelompok 40 % terbawah, sedang
kebijakan pembebasan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang beberapa
kali diberikan pemerintah, seperti untuk pembelian mobil listrik, justru lebih
dinikmati oleh kelompok atas,” kata Teguh, Selasa (27/2).
Kebijakan untuk kelas menengah, seperti skema perlindungan
sosial yang adaptif dan sesuai dengan permintaan (on-demand), masih sangat
minim. Sejauh ini, baru program Kartu Prakerja yang menawarkan bantuan
pelatihan kerja dan uang saku bersifat on-demand bagi kelas menengah. Skema
on-demand, menurut Teguh, bisa dimanfaatkan kelas menengah yang rentan terkena
guncangan ekonomi, seperti PHK, gagal panen, atau terdampak bencana. Bentuk
lainnya, menjamin proteksi jaminan kecelakaan kerja dan kematian bagi pekerja
rentan nonmiskin, seperti pengemudi ojek daring, kurir, dan pekerja konstruksi.
”Jadi, kelas menengah perlu diberi akses untuk bisa mendaftarkan diri mendapat
bantuan pemerintah ketika mereka terkena
shock. Bansos cukup ditujukan untuk yang membutuhkan (miskin dan rentan),”
katanya. (Yoga)
ESG untuk Bisnis Berkelanjutan
Airlangga: Jokowi Akan Dapat Peran di Pemerintahan Baru
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto menyebutkan Presiden Joko Widodo akan mengambil peran di pemerintahan berikutnya jika pasangan Prabowo dan Gibran menang dalam Pilpres 2024. Golkar sebagai salah satu partai pengusung mengajak semua pihak menunggu keputusan KPU RI atau hasil resmi perhitungan suara Pilpres 2024. "Tentu akan ada perannya tapi kita tunggu saja," kata Airlangga. Diketahui, hasil hitungan sementara KPU yang dikutip dari situs resmi KPU pada Selasa pukul 13.34 WIB menunjukkan pasangan capres dan cawapres nomor urut 2 Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka mengantongi perolehan suara 58,84%. Di posisi kedua ada pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dengan perolehan suara sebanyak 24,46% dan pasangan nomor urut 3 Ganjar Pranomowo-Mahfud Md dengan perolehan suara 16,7% di poisisi terakhir. (Yetede)
OJK Akan Luncurkan Program Dapen Wajib Tambahan
Astra Bakal Tebar Dividen Jumbo Rp 21 Triliun
Tiga Bank Bakal Rilis Green Bond dan Sukuk
Mengelola Belanja Bansos, Menjaga Stabilitas Rasio Utang
BI Proyeksikan Ekonomi Syariah Tumbuh 5,5%
Indonesia Kembali Perjuangkan Sistem Penyelesaian Sengketa
Izin Seni Pertunjukan Perlu Perbaikan
Menparekraf Sandiaga Uno mengakui, proses dan skema perizinan
di Indonesia masih perlu diperbaiki. Tak hanya itu, pendampingan bagi para
promotor musik juga perlu dilakukan. ”Teman-teman event organizer/EO (promotor)
harus difasilitasi, terutama sejalan dengan disetujuinya Indonesia Tourism Fund
(ITF) yang kami harapkan bisa jadi sebuah langkah pendampingan bagi para EO,”
ujarnya dalam konferensi pers mingguan di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Senin
(26/2). Berkaca dari penyelenggaraan konser musik internasional bintang dunia,
Taylor Swift di Singapura, Indonesia mempunyai potensi yang sama dengan negara
itu. Pemerintah Singapura mampu mengalokasikan sekitar Rp 250 miliar untuk
memberi dana tunjangan dalam konser Taylor Swift yang berlangsung 2-4 Maret
2024 dan 7-9 Maret 2024.
”Indonesia ini jangan hanya jadi pasar, tapi kita juga harus
mampu jadi host dari konser-konser besar dan event-event berkelas internasional,”
kata Sandiaga. Menurut Co-Founder PK Entertainment Harry Sudarma, promotor-promotor
Indonesia menghadapi dua tantangan besar ketika berencana mendatangkan bintang
papan atas dunia. Pertama, promotor memperhitungkan dana yang harus dikeluarkan
dan pada akhirnya dana itu bisa menghasilkan kembali, seperti prinsip dasar bisnis.
Saat menggelar acara besar, risiko yang besar itu menjadi hambatan yang harus ditanggung.
”Ada artis-artis tertentu yang hitungannya tak masuk (anggaran). Jadi, kami
berat juga kalau harus bawa (artis), kemudian harus rugi, misalnya,” ujar
Harry. Isu kedua, birokrasi dan infrastruktur di Indonesia belum mendukung.
Negara-negara lain memiliki birokrasi dan infrastruktur yang bisa diakses lebih
mulus, baik dalam hal perizinan maupun lokasi. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









