Ekonomi
( 40600 )Ekonomi Sulit, Pembeli Pilih Produk Diskon
Untuk menyiasati kenaikan harga barang, konsumen di AS
terpaksa hidup dengan lebih hemat. dengan membeli barang kebutuhan sehari-hari
yang sedang didiskon. Konsumen mencari barang dengan harga lebih murah, tetapi
kualitasnya tetap baik. Mereka juga mengurangi belanja camilan dan jajan di
luar. Inflasi telah mengubah cara banyak warga AS berbelanja. Perubahan itu
dinilai ikut membantu mengendalikan inflasi. Hidup lebih berhemat ini menjadi
cara konsumen AS ”melawan” harga barang konsumsi yang rata-rata naik 19 % dibandingkan sebelum saat pandemi Covid-19. Siasat
itu, antara lain, dilakukan karyawan salah satu bank di Virginia, Stuart Dryden
(37).
Ia berhenti membeli produk-produk mahal dari Kraft Heinz. Ia
memilih produk di toko tempat belanja aneka kebutuhan sehari-hari yang harganya
lebih murah. Penyuka krim keju dan bagel itu mencontohkan, harga 24 irisan keju
tunggal Kraft 7,69 USD. Adapun produk toko dijual 2,99 USD. Perbedaan harga
yang relatif jauh itu juga terjadi pada produk mac-and-cheese dan keju parut. ”Saya
sudah coba, kualitasnya sama saja. Karena sama, saya pilih yang lebih murah
saja,” kata Dryden. Tidak hanya mengganti jenama kebutuhan harian, ia juga memilih
pindah tempat tinggal setelah biaya sewa rusun naik 50 % dari harga lama. Kini,
kontrakannya lebih dekat ke Amazon Fresh dan Albrecht-Discount. Harga produk di
toko-toko itu lebih murah. (Yoga)
Romansa dan Cerita Rupiah di Batas Negara
Rombongan Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2024 tiba di
terminal penumpang Pelabuhan Kelas III Sungai Nyamuk, Pulau Sebatik, Nunukan,
Kaltara, Sabtu (24/2) setelah menempuh 10 jam perjalanan dari Dermaga Pangkalan
Utama TNI AL XIII Tarakan. Rombongan ERB 2024 terdiri dari pegawai BI, prajurit
TNI AL, dan anggota Baznas. Misinya, memberi layanan penukaran uang rupiah dan
layanan kesehatan, juga menyalurkan bantuan program sosial kepada masyarakat
yang tinggal di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Harian Kompas
dan beberapa media lain bergabung dalam rombongan ini. Warung Muliyati (48) hanya
berjarak 10 langkah dari Patok Perbatasan Indonesia-Malaysia (PB-02) Sebatik.
Meski Muliyati mengantongi identitas warga negara Indonesia, warungnya terletak
di luar patok perbatasan atau berdiri di wilayah negeri jiran. Warung yang diba
ngun Muliyati pada Juni 2023 itu kerap disambangi pelancong yang tergugah untuk
melihat batas negara sekaligus mengunjungi Wisata Rumah Dua Negara.
”Di sini, orang bisa membayar pakai dua mata uang, ringgit
dan rupiah, ada juga yang pakai QRIS. Tapi, paling banyak pembayaran pakai rupiah,”
katanya. Peredaran kedua mata uang itu menjadi fenomena yang wajar mengingat
kehidupan masyarakat di wilayah perbatasan hanya dibatasi garis imajiner yang
memisahkan teritori dua negara. Beberapa meter dari patok perbatasan, sejumlah
prajurit TNI selalu mencatat lalu lalang warga lintas negara. Barang dagangan
di warung Muliyati yang banyak diminati pembeli adalah ragam produk minuman
saset buatan Malaysia. Kehidupan di perbatasan tidak hanya berkait urusan ekonomi
bagi Muliyati, tetapi juga menyangkut urusan keluarga. Muliyati menikah dengan
warga negara Malaysia dan dikaruniai enam anak. ”Saya orang Indonesia, tetapi
menikah dengan orang Malaysia. Anak saya Malaysia semua. Tapi, saya tetap cinta
Indonesia,” imbuhnya.
Sugianto (66) pemilik kebun sawit di Desa Aji Kuning,
Kabupaten Nunukan, menceritakan, tak sedikit orang Malaysia yang tinggal di
perbatasan membeli hasil kebun sawitnya. Kendati demikian, Sugianto yang kerap
singgah di warung Muliyati untuk sekadar menikmati secangkir kopi masih menyimpan
uang rupiah dalam jumlah lebih banyak ketimbang ringgit. Ringgit yang ia terima
akan ditukarkan dengan rupiah di bank atau digunakan untuk membeli kebutuhan
pokok di kota Tawau, Sabah, Malaysia, yang terpisah perairan laut dengan Pulau
Sebatik, karena lebih dekat dan harga barang-barang kebutuhan pokok di Tawau
pun lebih murah ketimbang di kota terdekat di wilayah Indonesia. Harga 10 kg beras,
27 ringgit 60 sen atau Rp 90.000. Sementara beras domestik Rp 130.000 per 10
kg. Harga minyak goreng di Malaysia Rp 16.000 per liter. Sementara minyak
goreng dalam negeri Rp 20.000 per liter. (Yoga)
Dapur Umum Jadi Andalan Mahasiswa AS
Susah sekali menjadi mahasiswa di AS. Tidak hanya terlilit utang
pinjaman kuliah, sekarang banyak mahasiswa yang kesulitan membeli makanan. Saking
tidak punya uang untuk memasak sendiri atau makan di kantin, mereka mengandalkan
dapur umum gratis. Karenanya, Universitas West Virginia menambah dapur umum mereka.
Dilaporkan oleh surat kabar lokal, Dominion Post, Jumat (23/2) di perguruan
tinggi itu kini ada dapur umum di tiga lokasi. Sejak tahun 2010, masalah
kesulitan membeli makanan di kalangan mahasiswa telah menjadi perhatian.
”Dulu, mahasiswa selalu bercanda, makanan pokoknya mi instan.
Sekarang, untuk membeli mi saja tidak bisa,” kata Sydni Vega, Asisten Pengawas Keterlibatan
dan Kepemimpinan Mahasiswa Universitas West Virginia. Ia bertanggung jawab atas
operasionalisasi dapur umum di sana. Selama periode 2022-2023, ada 1.000
mahasiswa yang bergantung pada dapur umum ini. Menurut angket Universitas West
Virginia, uang kuliah yang terus naik, disertai meningkatnya harga sewa kamar
indekos ataupun asrama mengakibatkan uang mahasiswa terkuras. Selain itu,
mereka juga masih harus membeli peralatan kuliah, seperti alat tulis, komputer,
dan penunjang lain. Makanan bergizi semakin tergeser dari daftar prioritas.
”Kesulitan membeli makanan membuat mahasiswa sakit, tidak
produktif, depresi, serta berdampak buruk pada kehidupan akademis dan sosial mereka,”
demikian tulis laporan angket tersebut. Media CBS edisi Rabu (21/2) menerbitkan
laporan hasil penelitian Universitas Temple bersama Universitas California Davis,
menemukan, di AS, satu dari tiga mahasiswa kelaparan. Mulai dari kampus besar
dan elite sampai kampus kecil, semua mengalami kasus kesulitan membeli makanan.
Setiap hari mahasiswa yang tidak memiliki uang ini mengantre di dapur umum
untuk makan.
Dapur umum
mengandalkan sumbangan dari masyarakat lokal. Sejumlah kampus dan asrama
mengembangkan lahan pertanian sendiri, termasuk pertanian hidroponik. Hasil
panennya disumbangkan ke dapur umum. Kegiatan memasak dan pelayanannya dikelola
unit kerja mahasiswa. ”Setiap hari saya mengantre 90 menit supaya dapat kursi
di dapur umum,” kata Erin Cashin, mahasiswa tingkat akhir di UC Davis. Ia
bahkan mengatur jadwal kuliahnya sedemikian rupa agar bisa memastikan memperoleh
makanan di dapur umum. (Yoga)
Gaji ”Ngepas”, Anak Muda Jungkir Balik Mengelola Keuangan
Sebagian besar kelas menengah usia 17-40 tahun jumpalitan
mengatur pengeluaran. Salah satu caranya dengan menambah pekerjaan lantaran sisa
gajinya kurang dari nol alias minus untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari
102,48 juta penduduk usia 17-40 tahun, sebanyak 48,49 juta orang atau 47,32 %
tergolong dalam masyarakat calon kelas menengah. Yang tergolong kelas menengah sebesar
21,01 juta orang (20,51 %) sedangkan yang kaya hanya 463.469 orang (0,45 %). Rentang
usia 17-40 tahun oleh KPU dikategorikan sebagai pemilih muda. Pemilih muda yang
masuk kelompok calon kelas menengah, ternyata pengeluarannya lebih besar dari
pendapatannya.
Mereka tak punya sisa gaji bahkan minus Rp 181.724 per kapita
per bulan. Sementara pemilih muda yang masuk kategori kelas menengah juga
pendapatannya minus Rp 65.529 per kapita per bulan. Angka-angka tersebut adalah
hasil pengolahan data mikro pengeluaran dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional
(Susenas) 2021 serta pendapatan dalam Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas)
2021. Berdasarkan data pengeluaran dan pendapatan itu, Bank Dunia mengelompokkan
menjadi calon kelas menengah (pengeluaran 1,5-3,5 kali lipat garis kemiskinan
per kapita per bulan) dan kelas menengah (3,5-17 kali lipat).
Ani (27), warga Kaltim, harus bekerja keras mencari tambahan
untuk mengumpulkan pundi-pundi uang di rekeningnya untuk kebutuhan hidup. Saat
ini, ia bekerja sebagai pekerja lepas di bidang fotografi, copy writer, dan
kreator konten. Dalam sebulan, pengeluarannya Rp 6 juta untuk menghidupi dua
anggota keluarga di rumah, dimana, 40 % atau Rp 2,4 juta digunakan untuk biaya
makan harian. Sementara biaya operasional listrik, air, dan internet Rp 800.000.
Dia juga bertekad mengumpulkan tabungan dana pendidikan untuk anaknya menggunakan
instrument investasi reksadana dengan besaran Rp 500.000-Rp 1 juta per bulan.
Nominalnya tak menentu bergantung jumlah proyek yang diterimanya bulan itu.
Jika butuh uang mendadak, dia biasanya pinjam uang ke teman dekat atau kantor
dan menghindari meminjam dari pinjaman daring.
Dedi Setiawan (30) warga Konawe Selatan, Sultra, setahun ini
bekerja sebagai pengontrol kualitas pengelasan di galangan kapal. Setelah
mendapat promosi jabatan, gaji Dedi naik Rp 300.000 menjadi Rp 3,2 juta per
bulan. Kenaikan gaji tersebut tidak serta-merta membuat Dedi bisa menyisihkan
gajinya untuk tabungan. Pengeluarannya untuk kebutuhan sehari-hari, susu, dan
popok untuk tiga anak balitanya serta cicilan perabot rumah mencapai Rp 3,5
juta per bulan. ”Ini belum bisa nabung. Hidup pas-pasan, ngepres banget, untuk
membayar pengeluaran sehari-hari dan biaya tak terduga,” kata Dedi, awal
Februari lalu. Untuk menutupi biaya pengeluarannya yang minus, Dedi bekerja
sampingan berjualan tas daring yang dijalankan istrinya. Istri Dedi memainkan
peran sebagai reseller tas berjenama Imori yang dibeli dari Batam, Kepri. ”Lumayan,
per bulan bisa menjual 10 tas seharga Rp 400.000 hingga Rp 500.000,” kata Dedi.
(Yoga)
Kelas Menengah Indonesia Sulit Menjadi Orang Kaya
Ada kesenjangan sisa gaji per bulan antara kelas menengah dan
kelas kaya usia produktif (15-64 tahun) pada tahun 2021. Sisa gaji warga kelas
atas Rp 1,59 juta per orang per bulan yang nilainya setara 3,64 kali lebih
besar dari warga kelas menengah. Dengan rata-rata sisa gaji kelas menengah pada
2021 senilai Rp 435.888 per bulan, tidak banyak uang yang bisa ditabung dan
diinvestasikan. Kondisi ini menyulitkan kelas menengah yang jumlahnya 38,5 juta
jiwa (20,7 % penduduk Indonesia) naik kelas menjadi orang kaya. Sebagai
gambaran, untuk membeli 1 gram emas senilai Rp 1,1 juta (Antam per 9 Februari
2024), kelas menengah dan kelas kaya membutuhkan waktu yang berbeda.
Warga kelas menengah perlu dua bulan untuk membeli 1 gram emas.
Adapun warga kaya hanya membutuhkan waktu 21 hari. Tim Jurnalisme Data Harian Kompas
menemukan fakta itu dari olahan data mikro Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas)
dan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS tahun 2012-2021. Sisa gaji
merupakan selisih pendapatan dengan pengeluaran rata-rata per orang per bulan
dari warga usia produktif usia 15-64 tahun. Pendapatan yang dimaksud berasal dari
pekerjaan utama warga.
Kelas menengah yang merujuk pada publikasi Bank Dunia
berjudul ”Aspiring Indonesia-Expanding The Middle Class (2019)”. Bank Dunia membagi
kelas menengah menjadi dua kelompok, yakni calon kelas menengah (aspiring
middle class) dan kelas menengah (middle class). Rentang pengeluaran kelas
menengah adalah 3,5 hingga 17 kali lipat garis kemiskinan per kapita per bulan.
Merujuk garis kemiskinan BPS (2021), rentang pengeluaran kelas menengah Rp 1,7
juta-Rp 8,2 juta per orang per bulan.
Rachmat Fadillah (43), pengojek daring di Tangsel, Banten,
menjadi bagian dari kelas menengah usia produktif. Rachmat harus bekerja dari
pukul 06.00 hingga tengah malam untuk menutupi kebutuhan harian. ”Akun saya lagi
’anyep’, nih, sulit dapat orderan,” kata bapak dua anak ini. Meski sudah
bekerja seharian, Rachmat baru mendapat uang Rp 150.000 setiap harinya. Jika
bekerja enam hari per minggu, ia bisa mendapatkan uang Rp 3,9 juta sebulan. Pendapatan
itu tidak bisa menutupi pengeluaran keluarganya sebesar Rp 6 juta per bulan kebutuhan
hidup sehari-hari dan membiayai kuliah anak pertamanya di Kota Bandung. (Yoga)
Pasar Kuliner Desa di Lombok
Menjaga Jejak Kejayaan Pertanian dan Kelautan di Pulau Obi
Hilirisasi nikel mengubah lanskap kehidupan warga Pulau Obi,
Halmahera Selatan, Maluku Utara. Daerah yang semula bergantung pada perkebunan
kelapa, rempah-rempah, dan hasil laut kini berkembang menjadi sentra hilirisasi
nikel. Namun, pertanian dan kelautan tetaplah sektor menjanjikan bagi masa
depan warga Pulau Obi yang harus dipertahankan. Jejak-jejak kejayaan komoditas
kelapa di pulau itu nyata terlihat di Desa Buton, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera
Selatan, Maluku Utara. Di sepanjang jalan, barisan pohon kelapa mendominasi. Umumnya,
pohon-pohonnya sudah tua, tak terawat, daunnya banyak yang kering, dan buahnya
dibiarkan jatuh berserakan. Dulunya, kelapa menjadi tumpuan kehidupan warga
Desa Buton. Daging kelapa dikeringkan menjadi kopra dikirim ke Makassar, Sulsel,
sebelum diekspor ke berbagai negara tujuan.
Sayang, harga kopra jatuh dalam dua tahun terakhir dari Rp
7.000 per kg menjadi Rp 5.000-Rp 6.500 per kg. Situasi ini, menurut Ketua
BUMDes Batu Putih, Mahfud Lohor (42), membuat banyak warga tidak lagi
bergantung pada kopra. Anjloknya harga kopra dari Rp 7.000 per kilogram (kg) menjadi
Rp 5.000-Rp 6.500 per Pada 2022, keadaan mulai berubah saat ia dan beberapa petani
lain diajak Harita Nickel mengembangkan komoditas pertanian, seperti semangka dan
padi lewat program Sentra Ketahanan Pangan Obi (Sentani). Kelapa yang
berserakan di bawah pohon dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk organik,
khususnya untuk semangka. Mahfud tidak menyangka, air kelapa yang selama ini
untuk melepas dahaga bisa pula menyuburkan tanaman.
Mahfud dan petani lain membuka lahan semangka seluas 3
hektar. Dalam meracik pupuk organik, para petani menggunakan air kelapa sebagai
bahan dasar, dicampur krimer kental manis, air tempe, dan gula pasir. Hasilnya,
semangka terasa manis. Dari lahan 3 hektar, para petani di BUMDes Batu Putih
bisa menghasilkan satu ton semangka. Hasilnya dijual ke Harita Nickel untuk dikonsumsi
para karyawan. Selain semangka, Program Sentani Harita Nickel juga membina
warga menanam padi, yang menghasilkan gabah kering panen (KGP) hingga 4,5 ton
per hektar setiap musim panen dari 10 hektar sawah. Peningkatan produktivitas
ini juga membuat jumlah petani di BUMDes Batu Putih bertambah, dari 10 petani
menjadi 30 petani. Beras hasil panen nantinya juga dijual ke perusahaan sebagai
konsumsi karyawan.
Di Desa Kawasi, yang berbatasan dengan kawasan pertambangan
Harita Nickel, kelompok perempuan juga dibantu mengembangkan usaha keripik
pisang dan umbi-umbian. Mereka juga memproduksi abon ikan tuna, minyak kelapa,
dan sambal roa dalam kemasan. ”Produk yang paling dicari adalah keripik pisang.
Kami awalnya tidak mengira kalau keripik pisang dikemas dan dipasarkan seperti
ini,” ujar Suryani, yang akrab dipanggil Mama Cahya, penggerak kelompok perempuan
di Kawasi. Anggota kelompoknya pun berkembang dari Sembilan orangmenjadi 19
orang. Usaha kelompok keripik ini beromzet hingga Rp 24 juta per bulan sehingga
sangat membantu menambah penghasilan anggotanya, yang sebagian besar keluarga
nelayan. Selain nikel, sektor pertanian dan perikanan yang menghidupi warga
dapat kembali menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan ekonomi Maluku Utara. (Yoga)
Aku Punya Tabungan, maka Aku Aman
Memiliki tabungan adalah sebuah keniscayaan. Namun, bukan
perkara mudah bagi sebagian kelas menengah menabung sisa gaji. Alih-alih
bersisa, pendapatan justru habis untuk menyambung hidup. Arin Setiawan (24),
buruh pabrik di Jayapura, Papua, menceritakan kesulitan itu. ”Sejak kecil, saya
terbiasa hidup hemat. Apalagi sekarang ada target ke depan, jadi harus bisa semakin
menahan diri untuk segala hal yang tidak terlalu penting,” ucapnya, Senin (29/1)
malam. Sederhana yang dimaksud tergambar pada minuman yang dipesannya,
secangkir cokelat seharga Rp 7.000. Ia pun memilih pakaian merek lokal dengan
harga terjangkau. Ia pun mengedit memakai ponsel bekasnya, untuk menunjang
pekerjaan, karena tidak memiliki laptop. Selesai SMA pada 2019, Arin lebih
banyak berkecimpung sebagai pekerja lepas di bidang videografi. Pertengahan 2023,
ia bekerja sebagai buruh pabrik dengan sumber penghasilan tetap dari Senin
hingga Jumat pukul 08.00-17.00. Hari Sabtu, ia masuk kantor setengah hari. Disela
waktu luangnya, dia manfaatkan untuk proyek videografi yang setiap bulan
mendapat satu atau dua garapan dengan pendapatan Rp 2 juta- Rp 5 juta.
Pengeluarannya berkisar Rp 1,7 juta-Rp 2 juta per bulan untuk
bayar indekos, makan, dan kebutuhan sehari-hari. Ia mengirimkan sebagian uang
untuk ibunya yang tinggal di kota lain. ”Saya berusaha menabung 40 %
pendapatan. Jika ada kebutuhan lain, saya menunda sehingga pengeluaran tetap
tidak lebih dari 60 %,” ujarnya. Arin yakin dengan cara tersebut akan
membawanya pada target tabungan rumah dan modal menikah. Stigma hidup boros,
kesulitan menabung, dan terjebak utang agaknya melekat pada kelompok kelas
menengah. Padahal, belum tentu gajinya digunakan untuk hal konsumtif. Merujuk
pada Bank Dunia, kelas menengah adalah mereka yang memiliki pengeluaran pada
rentang 3,5-17 kali lipat garis kemiskinan per kapita per bulan. Hitungan Kompas,
pengeluarannya Rp 1,7 juta-Rp 8,2 juta per kapita per bulan. Hidup di wilayah
Indonesia timur sering terdengar sulit.
Ria Tanlain (27), pengelola penginapan keluarga di Maluku
Tenggara. ”Setelah pindah (Maluku) malah lebih hemat, mungkin karena ini
tempatnya kecil dan tidak banyak apa-apa, jadi bisa menabung. Membeli barang
dari Pulau Jawa juga jarang karena mahal,” kata Ria yang pernah merantau enam
tahun di Surabaya. Untuk berhemat, dia juga jarang membeli makan di restoran,
tetapi memasak di rumah. Ia juga tak banyak bepergian ke luar kota. Ini sejalan
dengan pekerjaan tambahan yang dilakukannya sebagai ilustrator. Dengan
pendapatan Rp 7 juta per bulan, dia menyisihkan 45 % untuk investasi dan
tabungan. ”Menjaga tabungan penting karena bila ikut tren, tabungan setiap
tahun pasti habis,” kata Ria. Memiliki tabungan tak hanya membuat aman, tetapi
juga lebih tenang. (Yoga)
PEMANTIK BISNIS MOBIL LISTRIK
Guyuran insentif yang diberikan pemerintah untuk mengangkat performa penjualan mobil listrik belum sepenuhnya sukses. Infrastruktur pendukung kendaraan listrik, khususnya charging station yang masih terpusat di kota-kota besar, jadi alasan utama para konsumen. Sebaliknya, penjualan mobil dengan basis bahan bakar kombinasi antara fosil dan baterai atau hybrid, malah mampu menarik hati masyarakat. Jumlah mobil hybrid yang laku di pasaran, lebih banyak dari kendaraan full battery. Seusai perhelatan Indonesia International Motor Show (IIMS) 2024, pemerintah mulai menimang-nimang untuk memberi insentif bagi kendaraan hybrid. Cara ini seolah menjadi jalan tengah untuk mengejar target transisi energi dan memberikan kesetaraan bagi industri otomotif nasional.
Muhammad Redho, Komitmen Perajin Sasirangan
Muhammad Redho (62) konsisten mengembangkan wastra sasirangan
dengan pewarna alami. Tumbuhan untuk bahan pewarna alami kain khas suku Banjar
itu juga ia budidayakan. Satu demi satu perajin sasirangan mengikuti jejaknya. Aneka
tanaman menghijaukan Kampung Biru di tepian Sungai Martapura, Kota Banjarmasin,
Kalsel, Kamis (22/2). Redho menghijaukan lingkungan sekitar Pojok Kreatif
Wisata Kampung Biru di Kelurahan Melayu, sejak dipercaya sebagai Sekretaris Kelompok
Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Biru pada 2018. Di Kampung Biru semua rumah
bercat biru. ”Semua tanaman yang ada di sini adalah bahan pewarna alami kain
sasirangan,” katanya. Sasirangan berasal dari kata menyirang yang berarti
’menjelujur’ atau menjahit jarang-jarang.
Prosesnya dimulai dari pembuatan motif pada kain, dijelujur,
diikat dengan tali, dan dicelupkan ke pewarna. Setelah itu, ikatan dan jahitan
dilepas, dicuci, lalu dikeringkan.”Di Kampung Biru, pengunjung bisa belajar
membuat kain sasirangan pewarna alami dan belajar berkebun tanaman yang menghasilkan
pewarna alami,” kata Redho. Sejak 2009, ia konsisten memproduksi dan menjual
kain sasirangan berpewarna alami dengan jenama Assalam Sasirangan. Berbekal
ilmu dari pelatihan batik di Pulau Jawa oleh mentor dari Yogyakarta, ia
berupaya mengembangkan sasirangan berpewarna alami yang saat itu pangsa
pasarnya kurang menjanjikan. Waktu itu harga kain sasirangan berpewarna alami
minimal Rp 150.000 per potong, sedangkan sasirangan berpewarna sintetis seharga
Rp 100.000 per potong.
Dengan harga lebih murah dan warna lebih cerah, permintaan
pasar lokal untuk kain sasirangan berpewarna sintetis lebih besar. Bekerja sama
dengan Museum Lambung Mangkurat, Redho mendapat kesempatan mengikuti pameran dan
peragaan busana sasirangan berpewarna alami di Museum Serawak, Kuching,
Sarawak, Malaysia, pada 2011. Setelah itu, ia langsung memproduksi sasirangan
berpewarna alami dalam jumlah banyak untuk seragam para guru SMA Negeri 2
Banjarmasin. Lambatlaun, pesanan hampir tak pernah putus. ”Saya pernah dapat order
300 lembar sasirangan warna alam dan mengerjakannya dalam waktu tiga bulan.” Redho
rutin menjadi narasumber pelatihan sasirangan berpewarna alami di lingkungan
Dinas P&K Kalsel dan Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin. Ia juga beberapa kali
diminta menjadi instruktur pelatihan sasirangan berpewarna alam di sejumlah
kabupaten atau kota. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









