;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Penurunan Bunga Tekan Ekspansi

15 May 2025

Pertumbuhan kinerja perusahaan pembiayaan (mulfiinance) tahun ini berisiko lebih rendah dari target yang ditetapkan OJK. Hal ini sebagai dampak atas tantangan eksternal, salah satunya penurunan penjualan kendaraan bermotor karena melemahnya daya beli masyarakat. Ternyata sebanyak 14 emiten perusahaaan pembiayaan pada  kuartal 1-2025 membukukan laba bersih Rp942,62% dibandingkan dengan laba bersih pada kuartal 1-2024 yang senilai Rp1,11 triliun. Salah satu emiten yang mengalami penurunan laba bersih adalah PT Adira Dinamika Multi Finance (Adira Finance). Di mana, pada Maret 2025 emiten bersandi saham ADMF ini meraup laba bersih Rp278,52 miliar, ambles 35,54% dibandingkan dengan Maret 2024 yang sebesar Rp432,11 miliar. Selain itu, ada Clipan Finance Indonesia (CFIN) yang meraup laba bersih Rp35,04 miliar, anjlok 59,3% (yoy) pada akhir Maret 2025. Dari laporan keuangannya, pendapatan susut dan beban melonjak, salah satunya karena alokasi pencadangan yang naik menjadi Rp 158,71 miliar dari sebelumnya Rp 122,38 miliar. (Yetede)

Permintaan Mulai Normal Penjualan Eceran Kontraksi 6,9%

15 May 2025

BI memperkirakan penjualan eceran pada April 2025 terkontraksi 6,9% dari posisi Maret  yang tumbuh 13,6%, karena permintaan secara bertahap mulai normal setelah meningkat pada bulan Ramadan dan Idulfitri. Adapun survey BI juga memperkirakan penjualan pada Juni dan September 2025 dalam tren menurun. “Secara bulanan, penjualan eceran pada April 2025 diperkirakan terkontraksi sebesar 6,9%, dipengaruhi oleh normalisasi permintaan masyarakat seiring berakhirnya periode Ramadan dan Idulfitri,” jelas Kepala Departeman BI Ramdan Denny Parkoso. Mayoritas kelompok barang tercatat turun dan berada dari pada kelompok perlengkapan rumah tangga lainnnya (-10,6%, secara month to month/mtm), makanan, minuman, dan tembakau (-7,2%, mtm).

Responden menginformasikan penurunan penjualan eceran dipengaruhi oleh normalisasi permintaan masyarakat seiring berakhirnya periode Ramadan dan Idulfitri. Sementara itu, kelompok  bahan bakar kendaraan bermotor menjadi satu-satunya kelompok  yang tercatat mengalami perbaikan  meski masih dalam fase kontraksi sebesar 0,8% (mtm) didukung oleh kelancaran distribusi. BI memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) April 2025 mencapai 231,1 karena didiukung oleh tumbuhnya kelompok suku cadang dan aksesoris, bahan bakar, dan subkelompok sandang. Kondisi IPR pada April 2025 disokong oleh tumbuhnya kelompok suku cadang dan aksesori, bahan bakar kendaraan bermotor, dan subkelompok sandang. Sedangkan penjualan kelompok lainnya diperkirakan menurun, tertama kelompok  peralatan informasuk dan komunikasi, perlengkapan rumah tangga lainnya,  makanan, minuman, dan tembakau. (Yetede)

Danantara Akan Benahi Sengkarut Timah

15 May 2025

Mining Industry Indonesia (MIND ID), holding BUMN Industri Pertambangan, bakal membawa sengkarut masalah  tata kelola komoditas timah PT Timah Tbk (TINS) ke Danantara. Hal itu dilakukan agar lembaga superholding BUMN ini ikut terjun pada tataran taktis dan strategis, untuk membenahi tata kelola sekaligus menyehatkan kembali PT Timah. Saat ini, PT Timah menghadapi sejumlah masalah besar yang dikelompokkan dalam empat klaster utama. Pertama, menyangkut  permasalahan operasional seperti penambangan illegal (illegal mining) dan perdagangan illegal (illegal trading/commerce). Kedua, persolaan tata kelola  hulu seperti rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) yang menjadi domain Kementerian ESDM dan analis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan wewenang dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Klaster ketiga, PT Timah juga menghadapi persoalan pada aspek kerja tata kelola niaga seperti persetujuan ekspor dan penjualan fisik melalui bursa yang output-nya mencakup ekspor timah batangan (ingot) dan kebutuhan domestik. Dimana, Kementerian Perdagangan memegang  wewenang pada tata kelolal niaga ini. Klaster terakhir dalam hal tata kelola timah, emiten berkode saham TINS tersebut menghadapi tantangan dari sisi tata kelola industri seperti hilirisasi yang merupakan domain Kementerian Perindustrian. Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoedin menyatakan, dalam upaya menyempurnakan tata kelola timah yang lebih baik perlu koordinasi antar kementerian dan lembaga untuk mencapai tujuan  hilirisasi komoditas timah di Indonesia.(Yetede)

 

Google Cloud Akan Memperluas Kapasitas Pusat Data di Indonesia

15 May 2025

Google, melalui divisi cloud-nya, yaitu Google Cloud bakal memperluas kapasitas pusat data artificial intelegence (AI), yang terletak di Jakarta Cloud Region. Perluasan kapasitas tersebut untuk mendukung lonjakan kebutuhan cloud san AI. langkah ini juga diproyeksikan berkontribuasi sebesar Rpo 1,400 triliun terhadap perekonomian Indonesia dalam lima tahun ke depan. "Jakarta Cloud Region dari Google Cloud mendukung banyak layanan penting bagi organisasi di Indonesia, mulai dari riset dan pengembangan vaksin Bio Farma, pengalaman belajar dan mengajar oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, hingga perbankan digital e-commerce, layanan pengiriman makanan, kerja jarak jauh, dan lainnya," kata Country Director, Google Cloud Indonesia Fanly Tanto. Menurut Fanly, pada 2020, Google Cloud menjadi hyperscaler global pertama yang meluncurkan cloud region di Indonesia. Terkait dengan dampak inovasi dan produktivitas yang lebih luas, selama lima tahun terakhir, Jakarta Cloud Region telah memberikan kontribusi nilai ekonomi dan mendukung rata-rata  hampir 92.00 lapangan kerja per tahun. (Yetede)

BRI Menyiapkan Startegi Jaga Aset Tetap Sehat

15 May 2025

Saat ini kondisi ekonomi global penuh dengan tekanan akibat dampak dari tensi geopolitik dan perang tarif. Menghadapi kondisi tersebut, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga kualitas asset dan pembiayaan tetap sehat, khususnya di segmen UMKM yang menjadi fokus bisnis utama perseroan. Direktur Manajemen Risiko BRI Mucharom menyampaikan bahwa di tengah tekanan yang terjadi, BRI tetap mengedepankan prinsip pertumbuhan yang selektif guna menjaga kualitas kredit secara berkelanjutan. Sebagai bank dengan porsi pembiayaan UMKM terbesar di Tanah Air, BRI mencatatkan penyaluran kredit UMKM hingga Maret 2025 sebesar Rp1.126,02 triliun atau setara 81,97% dari total portfolio. Langkah ini pun menjadi penting agar pertumbuhan pembiayaan tetap selaras dengan kondisi pasar, tanpa mengorbankan aspek kehati-hatian dalam pengelolaan risiko. Hal ini tercermin  dari membaiknya rasio non performing loan (NPL) BRI dari 3,11% pada akhir triwulan 1-2025. Perbaikan serupa juga terlihat pada rasio laoan at risk (LAR) yang membaik atau turun dari 12,68% di akhir triwulan 1-2025. “Tentunyakita memperkuat fungsi monitoring dan juga early warning system, sehingga dapat mengetahui kondisi nasabah  dan juga antisipasi  apabila terjadi potensi keburukan,” ungkap Mucharom. (Yetede)

Ekosistem Industri Penerbangan Tanah Air Dipacu

15 May 2025

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus mendorong terciptanya ekosistem industri penerbangan di tanah Air mampu memiliki daya siang dengan negara lain. Setiap tahap awal pemerintahan bakal mengembangkan Bandara Internasional Kertajati di Majalengka, Jawa Barat. Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengatakan, menciptakan ekosistem industri penerbangan di dalam negeri harus bisa dilakukan bertahap, salah satunya dengan mendorong ekosistem bisnis layanan fasilitas dan perawatan atau Maintance Repair and Overhaul (MRO) di Tanah Air dengan memanfaatkan Bandara Internasional Kertjati di Jawa Barat. “Untuk ekosistem MRO, saya optimis hars bias bergerak seperti yang kami lakukan di Bandara Kertajati.

Segala upaya kami lakukan, dimana  kemarin Garuda Maintance Facility (GMF) AeroAsia sudah beroperasi di kawasan Aerospace Park Kertajati meski baru sebatas perawatan helicopter,” ujar Menhub Dudy. Menurutnya lahan untuk pengembangan Bandara Internasional Kertajati sebagai Kawasan Aerospace Park juga sudah tersedia. Sehingga dengan beroperasinya GMF diharapkan mampu mengundang para pelaku usaha lain yang berkecimpung di sektor aviasi dan kargo untuk bisa berinvestasi Aerospace Park. “Dengan adanya GMF kita berharap bisa  memantik industri aviasi lain bisa masuk ke Kertajati,” Bandara Kertajati tidak hanya berfungsi sekedar bandara, namun juga bisa berkembang dengan ekosistem aviasi yang lebih besar seperti MRO, kargo dan penerbangan haju hingga umroh. (Yetede)

Tarif Sawit Dihadapkan pada Dilema Global

15 May 2025

Keputusan pemerintah untuk menaikkan tarif pungutan ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya mulai 17 Mei 2025 bertujuan untuk meningkatkan pendapatan negara serta memperkuat hilirisasi sektor perkebunan, khususnya melalui program peremajaan sawit dan dukungan terhadap biodiesel B40. Kebijakan ini dituangkan dalam PMK No. 30/2025 dan dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Namun, langkah tersebut menuai kekhawatiran dari para pelaku industri. Eddy Martono, Ketua Umum Gapki, menilai tarif baru akan menambah beban ekspor hingga melemahkan daya saing Indonesia di pasar global, terutama jika dibandingkan dengan Malaysia, kompetitor utama RI. Saat ini eksportir sudah menanggung beban tarif hingga US$221 per metrik ton, dan kenaikan tambahan diprediksi memperburuk posisi tawar Indonesia di pasar internasional.

Selain itu, kondisi geopolitik seperti ketegangan India–Pakistan dan potensi tarif resiprokal dari AS yang akan berlaku mulai 9 Juli 2025, turut menjadi faktor risiko. Ardi Praptono dari Kementerian Pertanian menyarankan diversifikasi pasar ekspor ke wilayah seperti Afrika, Timur Tengah, dan Asia Tengah sebagai langkah mitigasi.

Dari sudut pandang ekonomi makro, Fadhil Hasan dari Indef dan Mohammad Faisal dari Core Indonesia mengkritisi waktu penerapan kebijakan ini. Mereka menyarankan agar pemerintah menunda kebijakan hingga proses negosiasi dagang dengan AS dan negara lainnya selesai. Jika tidak, Indonesia bisa kehilangan pangsa pasar dan mengalami penurunan profitabilitas serta hambatan ekspansi di tengah melemahnya permintaan global terhadap CPO.

Dengan demikian, meskipun tarif baru berpotensi meningkatkan penerimaan negara, ketidaktepatan waktu penerapan serta risiko terhadap daya saing ekspor menjadi tantangan serius yang harus segera dimitigasi oleh pemerintah agar kebijakan ini tidak berbalik menjadi beban bagi industri strategis nasional.


Bersihkan Praktik Premanisme Investasi

15 May 2025

Pemerintah Indonesia menghadapi tantangan berat dalam upaya menggenjot investasi, baik akibat ketidakpastian ekonomi global maupun persoalan internal, salah satunya adalah premanisme dalam investasi yang mencoreng citra nasional. Kasus terbaru yang menimpa proyek pembangunan pabrik kimia CA-EDC milik PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) di Cilegon menunjukkan bagaimana oknum dari ormas dan pelaku usaha lokal, bahkan diduga mengatasnamakan Kadin Cilegon, berupaya meminta jatah proyek.

Kadin Pusat, melalui pembentukan tim investigasi khusus, menunjukkan sikap tegas dalam menangani kasus ini. Ketua Kadin berkomitmen memberikan sanksi kelembagaan kepada pihak yang terbukti melanggar. Polda Banten turut ambil bagian dalam penyelidikan, menandakan bahwa pemerintah tak tinggal diam. Kendati Kadin Cilegon mengklarifikasi bahwa masalah dipicu oleh miskomunikasi, kasus ini tetap mencoreng investasi, terlebih proyek tersebut termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) sesuai Perpres No. 12 Tahun 2025.

Premanisme semacam ini bukan hal baru dan telah sering mengganggu proyek-proyek investasi di berbagai daerah. Padahal, akselerasi investasi sangat krusial untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi yang saat ini melambat. Berdasarkan data BKPM, realisasi investasi kuartal I/2025 hanya tumbuh 15,9%, melambat dibandingkan pertumbuhan 22,1% pada kuartal I/2024.

Sebagai langkah strategis, pemerintah membentuk Satuan Tugas Terpadu Penanganan Premanisme dan Ormas, yang diharapkan mampu menciptakan stabilitas dan kepastian hukum bagi investor. Tokoh dan lembaga penentu kebijakan diharapkan mengawal satgas ini agar bertindak cepat, tegas, dan independen, demi menciptakan iklim investasi yang sehat dan kondusif. Jika tidak segera ditangani dengan serius dan menyeluruh, premanisme akan terus menjadi penghalang utama bagi pertumbuhan investasi dan ekonomi nasional.


Dana Asing Tak Kunjung Deras Masuk

15 May 2025
Pengumuman rebalancing indeks oleh MSCI untuk periode Juni–September 2025 membawa dampak campuran bagi pasar saham Indonesia. Meski dua saham baru, yakni PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), masuk dalam MSCI Indonesia Small Cap Indexes, jumlah saham emiten Indonesia yang dikeluarkan dari indeks lebih banyak, menandakan eksposur Indonesia dalam portofolio global cenderung stagnan atau bahkan menurun.

Guntur Putra, CEO Pinnacle Investment Indonesia, menjelaskan bahwa masuknya saham ke indeks MSCI bisa menarik aliran dana asing, namun dominasi penghapusan saham dari indeks justru memberi sinyal negatif bagi investor global, terutama yang mengikuti MSCI secara ketat. Hal ini membatasi potensi foreign flow jangka pendek.

Parto Kawito, Direktur Infovesta Utama, menyoroti bahwa bobot saham Indonesia di MSCI masih kecil (sekitar 1,5%) karena faktor-faktor seperti likuiditas, prospek industri, dan regulasi. Hal ini menjadikan pasar Indonesia kurang menarik bagi investor asing.

Sementara itu, Budi Frensidy, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, mengkritik banyaknya saham besar seperti PT Barito Renewables Energy (BREN) dan PT Chandra Asri Pacific (TPIA) yang tidak masuk indeks MSCI meskipun memiliki kapitalisasi pasar besar. Ia menilai ketidakjelasan regulasi, seperti penggunaan UMA dan suspensi, menjadi hambatan.

Momentum positif dari penguatan IHSG dan arus masuk dana asing, efektivitas jangka panjang bergantung pada peningkatan bobot Indonesia dalam indeks global, perbaikan regulasi bursa, dan strategi aktif menarik investor asing.

Harga Produk Turun, Marjin Laba Terancam

15 May 2025
Meski kinerja PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) melemah pada kuartal I-2025 akibat cuaca buruk dan gangguan logistik, para analis tetap optimistis perusahaan akan mencapai target produksi 6,8 juta ton dan penjualan 6,1 juta ton batubara hingga akhir tahun. Optimisme ini ditopang oleh pemulihan operasional, perbaikan infrastruktur logistik, dan meredanya tensi perang dagang global.

Analis Ciptadana Sekuritas, Thomas Radityo, menyatakan hambatan produksi bersifat sementara dan proyeksinya akan pulih mulai kuartal II 2025, seiring rampungnya pembangunan konveyor pemuatan tongkang kedua.

Sementara itu, Iqbal Suyudi dari Edvisor Profina menyoroti faktor eksternal seperti membaiknya cuaca dan potensi peningkatan permintaan dari China yang menjadi katalis positif bagi ADMR. Ia juga menyambut baik kontribusi tambahan dari proyek smelter aluminium baru milik anak usaha ADMR, PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI), yang dijadwalkan mulai beroperasi komersial di kuartal IV 2025.

Di sisi lain, Andhika Audrey dari Panin Sekuritas menjelaskan bahwa penurunan kinerja keuangan ADMR pada kuartal I disebabkan oleh jatuhnya harga jual rata-rata batubara metalurgi, meski volume penjualan naik. Ia menilai efisiensi yang dilakukan belum mampu menahan penurunan margin, namun tetap merekomendasikan buy untuk saham ADMR karena adanya diversifikasi ke energi hijau dan proyek smelter.