Ekonomi
( 40554 )Bank Korsel di RI Bukukan Laba Kompak
Kehati-hatian Dunia Menyikapi Gencatan Tarif AS-China
Bursa dan investor global sedikit lega setelah AS-China sepakat menunda sebagian tarif bea masuk impor, walau tetap ada kekhawatiran babak baru perang dagang. Dalam perdagangan Selasa (13/5) mayoritas bursa di sejumlah negara menghijau. Investor bergairah secara berhati-hati atas kesepakatan AS-China. Pada Senin (12/5), Beijing dan Washington mengumumkan kesepakatan untuk menurunkan bea masuk impor (BMI). Selama 90 hari sejak Rabu, tariff BMI untuk impor China ke AS dipangkas dari 145 % menjadi 30 %. Sementara BMI impor AS ke China dipangkas dari 125 % menjadi 10 %. AS-China juga setuju merundingkan relasi dagang mereka. Pasar menganggap kesepakatan itu tanda pemerintah memahami kegelisahan. ”Ini menandakan bahwa pemerintahan ini pun menyadari hambatan ekonomi dari tarif yang tak henti-hentinya,” kata Stephen Innes, Kepala Perdagangan dan Strategi Pasar SPI Asset Management.
Para pengamat, ekonom, dan investor di seluruh dunia menyikapi kabar baik itu dengan hati-hati. Sebab, tidak ada yang bisa memperkirakan proses dan hasil negosiasi lanjutan antara AS dan China di masa mendatang. Para ekonom HSBC mengingatkan, situasi saat ini mungkin tidak berjalan mulus. ”Keadaan dapat dengan mudah berubah sedikit lebih sulit dalam negosiasi perdagangan di masa mendatang,” tulis mereka dalam catatan ke investor. Direktur Phillip Securities Group di Hong Kong Louis Wong menyebutkan, investor menyadari proses untuk mencapai kesepakatan perdagangan belum selesai. ”Saya akan menyarankan investor untuk tetap berhati-hati dalam waktu dekat dan bersiap menghadapi berita tak terduga dari sisi perdagangan,” tambahnya. (Yoga)
Dunia menyambut Gembira Meredanya Perang Tarif
Dunia menyambut kesepakatan AS-China meredakan perang tarif dengan gembira. Delegasi China dan AS bertemu di Geneva, Swiss, membahas isu tarif impor antar mereka. Hasil perundingan positif, perang dagang sementara mereda karena AS dan China sepakat untuk saling mengurangi tarif impor selama 90 hari. AS akan menurunkan tarif dari 145 % menjadi 30 %, sementara tarif China terhadap barang-barang AS turun menjadi 10 % dari 125 %. Menkeu AS, Scott Bessent melunak terhadap China. Dalam keterangan kepada wartawan, Senin (12/5) ia mengatakan, kedua negara sama-sama menginginkan perdagangan di antara mereka tetap berlangsung seimbang. Menurut China, kesediaan Beijing dan Washington untuk meredakan perang tarif selaras dengan harapan produsen dan konsumen di kedua negara sekaligus menjadi kepentingan kedua negara dan dunia.
Kesepakatan AS dan China di Geneva disambut positif oleh negara-negara lain. Sejumlah indeks bursa naik. Meski bersifat sementara, kesediaan China dan AS untuk meredakan perang tarif pantas disambut gembira. Perusahaan AS yang membutuhkan produk dari China segera memerintahkan perusahaan transportasi untuk mengirim barangnya. Selama ini, tidak sedikit perusahaan AS menunda kedatangan barang dari China supaya tidak terkena tarif impor. Akibatnya, produk-produk dari China yang selama ini cukup tersedia, mulai berkurang. Meski ketidakpastian masih menghantui, pertemuan kedua negara menunjukkan pentingnya dialog dan mencari titik temu di tengah persaingan dua raksasa. (Yoga)
Tak Berdampaknya PHK Massal Panasonic bagi Indonesia
Kemenperin menyatakan, restrukturisasi karyawan Panasonic Holdings tak akan merembet bagi karyawan yang ada di Indonesia. Indonesia tetap menjadi salah satu basis produksi penting bagi Panasonic di kawasan Asia Tenggara. ”PHK yang akan dilakukan Panasonic Holdings tidak berdampak pada operasional di Indonesia. Pabrik Panasonic di Indonesia justru masih menjadi basis ekspor ke lebih dari 80 negara,” ujar Jubir Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, dalam siaran pers, Senin (12/5) di Jakarta. Sebelumnya, sesuai pemberitaan Reuters, Panasonic Holdings pada Jumat (9/5) mengumumkan akan memangkas 10.000 orang karyawan. Rencana ini bagian dari perombakan perusahaan dan dilakukan pada sisa tahun 2025. Panasonic Holdings berharap bisa membukukan biaya restrukturisasi sebesar 896,06 juta USD.
Panasonic Holdings mempekerjakan 228.000 orang karyawan di seluruh dunia. Dari 10.000 karyawan yang akan dikurangi, pabrikan elektronik itu menyatakan bahwa setengahnya direncanakan dari Jepang dan setengahnya lainnya di luar negeri. Hampir separo dari biaya restrukturisasi yang akan dibukukan pada bisnis produk elektronik gaya hidup dan sisanya pada bisnis lainnya. Menurut Febri, Kemenperin mengakui bahwa utilisasi industri elektronik saatini sedang berada pada level yang rendah, yakni 50,64 % pada triwulan I-2025. Realita itu menjadi pengingat bagi seluruh pelaku industri dan para karyawan untuk terus beradaptasi dan melakukan transformasi agar tetap kompetitif. Persaingan global di sektor elektronik semakin ketat. (Yoga)
Alternatif Kredit bagi UMKM dengan Pinjaman Daring
Di tengah kredit yang melambat, industri fintech peer to peer lending atau pinjaman daring memiliki peluang besar untuk meningkatkan pembiayaan ke sektor UMKM. Kendati demikian, industri pinjaman daring cenderung menunggu dan melihat peluang pembiayaan ke depan. Data BI menunjukkan, penyaluran kredit UMKM oleh perbankan pada Maret 2025 tercatat tumbuh 1,95 % secara tahunan, terus melambat dari setahun terakhir, dimana pada Maret 2024 berada di 8,17 %. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (Core) Indonesia, Mohamad Faisal, mengatakan, kondisi itu meningkatkan peluang bagi industri pinjaman daring untuk menyalurkan pembiayaan UMKM. Sebab, perbankan memiliki pakem kehati-hatian dan berbagai persyaratan lain yang cukup ketat, seperti agunan.
”Fintech lending bisa menawarkan kredit dengan persyaratan yang lebih mudah, tidak harus menggunakan agunan sebagaimana di perbankan dan juga proses yang lebih cepat karena mereka (pinjaman daring) relatif lebih agile dibandingkan dengan bank-bank umumnya,” kata Faisal, Selasa (13/5). Industri pinjaman daring juga dapat mengambil peluang pembiayaan berskala kecil yang notabene tidak diambil oleh industri perbankan. Dengan kemampuannya, pinjaman daring dapat memenuhi banyaknya permintaan pembiayaan berskala kecil dari sektor UMKM tersebut. (Yoga)
Beragam Masalah Mendera Daya Saing Industri Nasional
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengatakan, industri dalam negeri menghadapi beragam tantangan yang tidak mudah dan menggerus daya saing nasional. Memasuki awal 2025, perekonomian Indonesia, baik dari faktor domestik maupun eksternal, pada triwulanI-2025 hanya tumbuh 4,87 % secara tahunan. Angka ini menunjukkan perlambatan yang lebih rendah dari triwulan I-2024, yaitu 5,11 %. Perlambatan juga terlihat pada triwulan IV-2024, yaitu 5,02 %. Secara triwulanan, perekonomian terkontraksi sebesar 0,98 %. Kontraksi ini menandai meningkatnya tekanan dari sisi domestik ataupun eksternal.
Melambatnya pertumbuhan ekonomi itu karena melemahnya konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional. Pada triwulanI-2025, konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 4,89 %. Padahal, ada periode Ramadhan yang biasanya menjadi momentum mendorong peningkatan belanja masyarakat. ”Capaian ini terendah dalam lima triwulan terakhir, yang mencerminkan tekanan pada daya beli masyarakat, terutama di kelompok pendapatan menengah ke bawah. Tekanan inflasi dan belum optimalnya stimulus fiskal langsung, memengaruhi lemahnya konsumsi domestik,” ujar Shinta dalam acara Media Briefing Apindo Indonesia Quarterly Update, di Jakarta, Selasa (13/5).
Ada empat tantangan structural yang terus menggerus daya saing nasional. Pertama, hambatan regulasi yang masih menjadi sorotan utama dunia usaha. Kedua, tingginya biaya berusaha menjadi kendala serius. Ketiga, keamanan berusaha menjadi tantangan nyata di lapangan. Gangguan dari oknum di luar sistem hukum kerap menghambat proses produksi dan distribusi, serta menciptakan ketidakpastian operasional bagi pelaku usaha. Keempat, kualitas SDM juga jadi penghambat utama. Produktivitas tenaga kerja Indonesia masih tertinggal dari rata-rata negara di kawasan ASEAN. (Yoga)
Investor Kembali Memburu Aset Berisiko
TIK Membeberkan Peran Operator Telekomunikasi dalam Memperkuat Konektivitas
Pemerintah dan Pelaku Perlu Duduk Bersama Secara Intensif
Laba 14 Emiten Multifinance Menurun
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









