;
Kategori

Ekonomi

( 40430 )

Antam Jadi Mesin Pertumbuhan Baru

10 May 2025

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) berencana menambah lini usaha  baru di bidang industri barang perhiasan, custom product, dan barang lainnya dari logam mulia, untuk mengoptimalkan peluang dari segmen emas. Dari bisnis baru ini, perseroan menargetkan tambahan omzet penjualan hingga Rp 1 triliun dalam lima tahun ke depan. Menejemen Antam mengungkapkan bahwa penambahan kegiatan usaha komoditas logam mulia ini, akan dapat meningkatkan segmen emas dan pemurnian perseroan. "Selain  itu pengembangan kegiatan usaha komoditas tersebut diharapkan dapat mendukung pencapaian kinerja perusahaan dalam jangka panjang," ujar manajemen Antam.  Dalam penjelasannya, manajemen Antam menyebut bahwa sejalan dengan rancana jangka panjang perusahaan (RPJJ) tahun 2025-2029, komoditas emas memiliki peluang optimasi penjualan emas dengan verifikasi produk, pasar, dan ekspansi jaringan ritel distribusi.

Terkait hal itu, salah satu tema strategis dalam jangka panjang adalah penguatan fungsi emas, termasuk penetrasi ke lini pasar baru melalui kolaborasi, akuisisi, maupun kegiatan lainnya. "Untuk mendukung pencapaian target penjualan komoditas emas, perseroan melalui unit bisnis pengolahan dan pemurnian logam mulia (UBPPLM) memiliki strategi yang berfokus   pada kualitas dan penyediaan produk, pengembangan produk  dan keunggulan daya saing, serta pemasaran. Perseroan telah merencanakan berbagai program kerja, diantaranya pengembangan produk berupa produk perhiasan dan costum product termasuk product  termasuk produk industri untuk keperluan teknik dan atau laboratorium yang terbuat dari logam mulia," papar manajemen Antam. (Yetede)

BI Memutuskan untuk Mempertahankan BI-Rate Sebesar 5,75%

10 May 2025
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 April 2025, BI memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility 5,00%, dan suku bunga Lending Facility 6,50%. Di sisi lain, Bank Sentral Amerika Serikat Federal Reserve atau The Fed mempertahankan suku  juga acuan sebesar 4,25%-4,50% dalam federal Open market Committe atau FOMC periode Mei 2025. The Fed  memeprtahankan suku bunga acuan seiring meluaskany kekhawatiran  atas tarif yang diberlakukan terhadap mitra dagang utama AS. Hal ini berartu Bank Sentral AS tersebut sejak mempertahankan suku bunga sejak pertemuan pada Januari dan Maret tahun ini. "Waktu yang realistis untuk penuruan suku bunga acuan lebih lanjut adalah pada semester II tahun 2025, dengan catat bawa kondisi global mulai membaik dan tekanan inflasi tetap rendah," kata pakar ekonomi Fakultas Ekonomi dan bisnis Universitas Arilangga Tika Widiastuti kepada Investor Daily. Dia mengatakan, indikator domestik seperti pertumbuhan ekonomi yang melambat dan permintaan kredit yang lemah juga menjadi pertimbangan yang penting. (Yetede)

Pemegang Polis Jiwasraya Nasibnya Masih Belum Jelas

10 May 2025
Meski proses restrukturisasi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) telah berlangsung bertahun-tahun, namun nasib pemagang saham polis masih terkatung-katung. Banyak dari mereka yang  mengadu kepada Kejaksaan Agung (Kejagung) untuk mendapatkan haknya. Dalam hal ini OJK mendorong tim likuidasi Jiwasraya untuk memenuhi kewajiban kepada pemegang polis yang menolak restrukturisasi dan jua kepada peserta Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK). Kepala Eksekutif Pengawas Asuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun(PPDP) Ogi Prastomiyono menjelaskan, pemerintah sebagai pemegang saham Jiwasraya telah memutuskan untuk melakukan penyelamatan pemegang polis Jiwasraya melalui restrukturisasi atas kewajiban dan pengalihan pertanggungan kepada IFG Life yang berada di bawah holding IFG. Kedua, pembubaran Jiwasraya setelah program pengalihan diselesaikan Pemerintah telah memberikan total Penyertaan Modal Negara (PMN) dengan total Rp16,56 triliun melalui BPUI sebagai holding. Selain itu, BPUI juga melakukan fundrising mencapai Rp 34,75 triliun. Dan tersebut yang digunakan untuk pengalihan polis Jiwasraya ke IFG Life. Selanjutnya dana tersebut disertakan modal untuk pengalihan polis. Sampai dengan 31 Desember 2024, jumlah restrukturisasi polis yang dialihkan mencapai 99,9% polis yaitu 314.060 polis, dengan kewajiban Rp38,09 triliun  lebih  dari 2 juta orang peserta. (Yetede)

PT Sumber Global Energy Teken Kontak Batu Bara US$ 10 Juta

10 May 2025

Emiten perdagangan komoditas, PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) menandatangani kontrak ekspor batu bara bernilai US$ 10 juta atau setara Rp165,25 miliarm bersama COALIMEX, perusahaan di bawah Kementerian Listrik dan Batu Bara Vietnam. Kontrak tersebut diteken pada Senin (5.5.2025 oleh konsorsium TGS  yang dipimpin oleh SGER. Adapaun jenis batu bara yang dikapalkan merupakan antrasit berkualitas tinggi sesuai paket pengadaan No 01/2024/TNK-CLM. "Kontrak ini merupakan hasil proses pengadaan yang telah melalui evaluasi dan disetujui Keputusan No 30T tertanggal 23 Januari 2025," kata Direktur Utama SGER Welly Thomas. Welly menjelaskan, nilai kontrak sebesar US$ 10 juta tersebut berpotensi terus bertambah seiring permintaan energi yang tinggi dari Vietnam. Dia juga menyebutkan  bahwa kontrak ini adalah bagian dari upaya memperkuat kerja sama energi antara Indonesia dan Vietnam. COALIMEX sendiri merupakan pemain lama dalam batu bara dunia dengan pengalaman lebih dari 40 tahun. Sejak didirikan pada 1982, perusahaan ini telah mengalami transformasi kelembagaan dan kini berada di bawah naungan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Vietnam. (Yetede)

Peluang Bank Indonesia untuk Menurunkan Suku Bunga Acuan

10 May 2025
Peluang Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga acuan (BI-Rate) diperkirakan  pada semester II-2025. Hal ini dapat dilakukan jika RI memiliki ruang pelonggaran  moneter yang menandai, tingkat inflasi sesuai target, dan nilai tukar rupiah yang stabil. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia 22-23 April 2025, BI memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Falicity 5,00%, dan suku bunga Lending Falicity 6,50%. Di sisi lain, Bank Sentral Amerika Serikat The Fed mempertahankan  suku bunga Deposit Facility 5,00%, dan suku bunga Lending Falicity 6,50%. Di sisi lain Bank Sentra AS Federal Reserve atau The Fed mempertahankan suku bunga acuan sebesar 4,25%-4,50% dalam Federal Open Market Committe atau FOMC periode Mei 2025. The Fed mempertahankan suku bunga acuannya seiring meluasnya kekhawatiran atas tarif yang diberlakukan terhadap mitra dagang utama AS. Hal ini berarti Bank Sentral AS tersebut telah memeprtahankan suku bunga sejak pertama pada Januari dan Maret tahun ini. "Waktu yang realistis untuk penurunan suku bunga acuan lebih lanjut adalah pada semester II tahun 2025, dengan catatan bahwa kondisi global mulai membaik dan tekanan inflasi tetap rendah," kata Pakar Ekonomi Fakultas Bisnis Universitas Airlangga Tika Widiastuti. (Yetede)

Ekspor China Melampaui Proyeksi April 2025

10 May 2025
Ekspor China melampaui proyeksi April 2025, yang didorong oleh lonjakan permintaan bahan baku dari para produsen luar negeri, yang bergerak cepat mengirimi barang selama masa jeda pengenaan tarif selama 90 hari, yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump. Data bea cukai yang dirilis pada Jumat (09/05/2025) menunjukkan pengiriman barang keluar China naik 8,1% year on year (yoy) untuk April 2025. Angka ini melampaui prediksi kenaikan 1,9% dalam jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom, tetapi melambat dari lonjakan 12,4% pada Maret. Pabrikan di China berlomba melakukan ekspor untuk menantisipasi bea masuk  lebih tinggi, tetapi sekarang menunggu hasil negosiasi awal tarif antara tin negosiator AS dan China, yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Swiss pada Sabtu (10/05/2025). Data tersebut juga menunjukkan, impor turun 0,2%. Dibandingkan ekspektasi penurunan 5,9%, data terbaru ini meunjukkan bahwa permintaan domestik China tahan banting daripada perkiraan. Tapi pemerintah China juga terus mengambil langkah-langkah untuk menyokong ekonomi negara yang bernilai US$ 19 triliun. (Yetede)

Ambisi Asus Jadi Penguasa Segmen Komputer RI

10 May 2025
Asus, produsen perangkat komputer, yang terdiri dari laptop, notebook, personal computer (PC) hingga desktops menargetkan untuk menjadi penguasa, alias raja produk komputer di pasar Indonesia. Upaya ini seiring dengan posisinya yang sudah menguasai segmen consumer dengan 30-35% pangsa pasar selama 5-10 tahun terakhir, serta menargetkan untuk menguasai segmen komersial dalam jangka waktu tiga tahun ke depan. "Untuk consumer, selama 10 tahun terakhir ini kami posisi pertama di Indonesia dengan pangsa pasar saat ini sekitar 30-35%. Sedangkan untuk segmen komersial, targetnya dalam waktu 1-3 tahun ke depan menjadi nomor satu di Indonesia," kata Director of Commercial Products Asus Indonesia Yulianto Hasan di Batam. Penguatan di lini komersial ini, juga akan menjadi fokus utama Asus ke depannya. Karena permintaan perangkat bisnis ini terutama didukung oleh segmen pemerintah dan korporasi yang gencar melakukan digitalisasi, dan peremajaan perangkat seiring dengan rencana Microsoft yang akan mematikan sistem operasi Windows 10, dan beralih ke Windows 11 pada tahun ini. (Yetede)

Kritik Lanjut Terhadap Program Koperasi Pemerintah

10 May 2025

Kebijakan pembentukan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes MP) menuai polemik luas, bahkan di kalangan akar rumput. Banyak penggiat koperasi, termasuk penulis artikel, menilai pendekatan top down yang diambil pemerintah justru bertentangan dengan prinsip dasar koperasi yang menekankan pada kemandirian, partisipasi, dan tanggung jawab sosial anggota. Pengalaman masa lalu seperti kegagalan BUUD/KUD pada era Orde Baru dan berbagai program koperasi pemerintah lainnya menunjukkan bahwa intervensi negara yang bersifat formalistik tanpa pembinaan profesional dan modal sosial yang kuat kerap berakhir pada kegagalan.

Tokoh penting dalam diskursus ini, yaitu para penggerak koperasi, menekankan pentingnya pendekatan berbasis klaster dan penguatan koperasi yang sudah ada daripada membentuk koperasi baru yang seragam dan dipolitisasi. Solusi yang ditawarkan mencakup penguatan ekosistem koperasi, pembentukan lembaga pembiayaan khusus, pengembangan akses pasar dan tata niaga, hingga peningkatan profesionalisme dan adopsi teknologi digital. Dengan pendekatan ini, dana sebesar Rp400 triliun akan lebih efektif digunakan untuk memperkuat koperasi yang sudah memiliki praktik terbaik dan fondasi kuat, sehingga lebih mungkin mencapai target pemerintah secara berkelanjutan.


Performa Buyback Emiten Masih di Bawah Ekspektasi

10 May 2025

Otoritas Jasa Keuangan (OJK), melalui Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon, Inarno Djajadi, mencatat bahwa realisasi pembelian kembali saham (buyback) tanpa persetujuan RUPS masih tergolong rendah, hanya mencapai 5,55% dari total rencana dana Rp16,9 triliun dalam periode 20 Maret—30 April 2025. Meskipun terdapat 32 emiten yang mengajukan rencana buyback, hanya 24 yang telah merealisasikannya dengan nominal sekitar Rp937,42 miliar. Beberapa emiten besar seperti PT Telkom Indonesia, Adaro, Medco, dan Mayora termasuk dalam daftar yang mengalokasikan dana signifikan untuk buyback saham mereka.

Inarno menegaskan bahwa buyback dilakukan berdasarkan POJK No. 13/2023 dan POJK No. 29/2023, yang mempertimbangkan arus kas sebagai salah satu kriteria penting, namun tidak menjadi satu-satunya acuan analisis oleh OJK. Selain itu, untuk menjaga stabilitas pasar di tengah dinamika global, OJK juga telah mengambil langkah mitigatif seperti penundaan transaksi short selling, penyesuaian batas trading halt, dan penerapan asymmetric auto rejection.

Maximilianus Nico Demus dari Pilarmas Investindo Sekuritas menilai bahwa langkah-langkah OJK diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan investor dan meningkatkan kembali partisipasi aktif di pasar modal Indonesia.


Danantara Bakal Kelola Aset Ikonik Negara

10 May 2025

Istana Kepresidenan melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) akan mengelola sejumlah aset strategis negara, termasuk Gelora Bung Karno (GBK), Hotel Sultan, dan ke depan juga Taman Mini Indonesia Indah (TMII) serta Kemayoran. Pengalihan pengelolaan ini dilakukan sebagai bagian dari langkah strategis pemerintah untuk meningkatkan efektivitas pemanfaatan aset negara.

Prasetyo menegaskan bahwa meskipun pengelolaan aset selama ini terkesan berjalan lancar, hasil evaluasi internal—termasuk dari tim audit—mengindikasikan bahwa banyak potensi yang belum tergarap secara optimal, khususnya dalam bentuk kerja sama dan pemanfaatan aset. Oleh karena itu, pendekatan baru melalui Danantara yang lebih profesional diharapkan dapat memberi manfaat ekonomi yang lebih besar bagi negara.

Terkait dengan sengketa lahan Hotel Sultan, Prasetyo memastikan penyelesaiannya telah mendekati final dan aset tersebut akan segera kembali sepenuhnya ke pengelolaan negara.