Ekonomi
( 40600 )Saatnya Pesiar Bersama Kapal Pelni
Pintu ditutup, lampu utama dipadamkan. Mirwan (38) bersama istrinya, Nadya (35), mengambil tempat duduk di deretan belakang teater mini KM Kelud yang sedang berlayar dari Medan, Sumut, menuju Batam, Kepri, Selasa (27/2) malam. ”Tempat duduknya nyaman, gambarnya terang, dan soundnya juga jelas. Rasanya seperti menonton di bioskop XXI,” kata Mirwan. Dengan suhu 16 derajat Celsius, di dek bawah yang ”minim” goyangan gelombang, bioskop mini itu terasa nyaman. Dengan membayar Rp 15.000 per orang, kenyamanan itu membunuh rasa jenuh yang muncul di sela-sela pelayaran selama 26 jam. Ini kali ketiga pasangan itu menumpang KM Kelud. Sejak pengalaman pertama berlayar dengan kapal Pelni, mereka merasa nyaman. Tak hanya bioskop, ada fasiltas tambahan lain, seperti minimarket dan kafe, harga tiketnya pun kompetitif. Harga tiket kamar kelas satu KM Kelud yang mereka pakai Rp 749.000 per orang. Sedikit berbeda dengan tiket pesawat Medan-Batam di Rp 1 juta.
Meskipun waktu tempuh menggunakan pesawat jauh lebih pendek, ada kemewahan yang didapat apabila berlayar, yakni menghabiskan waktu berduaan di kapal. ”Bonus”nya pun istimewa, antara lain, menyaksikan matahari terbenam dan berkenalan dengan sesama penumpang. ”Serasa seperti di kapal pesiar,” ujar Mirwan. Pembenahan fasilitas dan pelayanan di KM Kelud merupakan bagian transformasi PT Pelni sebagai operator kapal penumpang milik negara. KM Kelud menjadi kapal pertama yang didandani. Dindingnya dicat sesuai warna logo baru. Bagian dalam kapal juga ditata ulang, seperti dapur, kamar mandi dan toilet, serta bioskop. Beberapa fasilitas baru dihadirkan, seperti minimarket, tempat ngopi, dan Wi-Fi. Kamar tidur kelas satu dilengkapi air panas serta makanan dan minuman ringan. Kamar bersih dan wangi. Setiap penumpang mendapat makan tiga kali sehari yang dipilih sendiri dengan berbagai lauk, di ruang makan yang bisa menampung hingga 1.000 orang. (Yoga)
Ruth Gottesman ”Malaikat” bagi Banyak Mahasiswa
Pekan ini, sivitas akademika Fakultas Kedokteran Albert
Einstein Universitas Yeshiva, New York, AS, dikejutkan kabar gembira. Mereka
mendapat sumbangan 1 miliar USD sehingga semua mahasiswa bisa kuliah gratis.
Bahkan, uang itu juga dapat dipakai untuk membiayai mahasiswa baru di
tahun-tahun mendatang. Penyumbangnya datang dari lingkungan kampus itu sendiri,
yaitu Ruth Gottesman, pensiunan dosen Fakultas Kedokteran Albert Einstein
(AECOM) yang kini mengabdi di dewan pembina yayasan. Uang yang ia sedekahkan adalah
warisan suaminya, David Gottesman, salah satu investor di firma Berkshire Hathaway
sekaligus mitra kerja miliarder Warren Buffett, yang meninggal pada 2022 dalam
usia 96 tahun. Sebelum berpulang, David berkata kepada istrinya untuk menggunakan
harta warisan sesukanya.
Gottesman sendiri tidak menyangka warisan suaminya sebesar
itu. Mereka memang hidup berkecukupan, tetapi tidak mewah. Ia pun memutuskan menyumbangkan
warisan itu kepada AECOM. Apalagi, ketiga anak pasangan Gottesman sudah dewasa
dan memiliki karier masing-masing. ”Hal yang langsung tebersit di pikiran saya
adalah para mahasiswa di AECOM dan berbagai persoalan keuangan mereka sehingga
kesusahan membiayai kuliah,” tutur Gottesman, dikutip oleh surat kabar lokal
Baltimore Sun edisi 27 Februari 2024. Menurut keterangan pers AECOM, biaya
kuliah di kampus itu adalah 60.000 USD per tahun. Umumnya, alumni fakultas kedokteran itu harus
menanggung utang pinjaman kuliah 200.000 USD yang memberatkan mereka dalam
mencari pekerjaan dan kesejahteraan. Beban itu harus dicicil selama
bertahun-tahun bekerja sehingga para dokter dan tenaga kesehatan tidak bisa menabung.
Kepada surat kabar The New York Times edisi 26 Februari 2024,
Gottesman menjelaskan pentingnya sumbangan itu. Berada di Bronx, distrik
termiskin New York, AECOM dikelilingi oleh kelompok rentan. Di samping miskin,
warga sekitar mayoritas berasal dari kelompok etnis minoritas. Akan tetapi, ada
banyak anak pintar berasal dari Bronx. ”Mereka memiliki kemampuan otak dan
karakter yang layak untuk menjadi dokter. Satu-satunya masalah yang merintangi
adalah biaya. Kita harus menanggulanginya karena kita membutuhkan dokter dari
berbagai latar belakang etnis dan agama guna memperkaya layanan kesehatan di
negara ini,” ujarnya. Gottesman yang menolak program beasiswa atau gedung dengan
nama dia ataupun suaminya adalah “Malaikat” bai banyak mahasiswa yang terbantu
oleh kedermawanannya. (Yoga)
Optimisme Investor ke IKN Meningkat Pascapemilu
MK Tak Meniadakan Ambang Batas Parlemen
KIJA Incar Penjualan Rp 2,5 Triliun
Asuransi ASO Tidak Proteksi Dana Lender
Rezeki Bertambah di Bulan Penuh Berkah
Ahlan Wa Sahlan Ekonomi Ramadan
Kinerja Manufaktur Tetap Ekspansif
Menjemput Bantuan Berujung Kematian
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









