Ekonomi
( 40733 )Premi Asuransi Umum Diproyeksikan Tumbuh Dua Digit
Perkiraan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5,1% oleh bank Indonesia (BI) tahun ini dinilai sebgaai hal positif, dan turut mempengaruhi pertumbuhan industri perasuransian. Begitu juga dengan efek dari pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) yang berjalan lancar. Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Braw mengatakan, pelaksanaan pemilu yang berlangung lancar dan proyeksi pertumbuhan ekonomi oleh BI tersebut merupakan kabar baik bagi industri perasuransian, pasalnya pertumbuhan asuransi selalu erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi nasional. "Karena pertumbuhan asuransi sangat kuat sekali dengan pertumbuhan ekonomi nasional, maka kami melihat hal ini yang positif untuk pertumbuhan asuransi di tahun ini," ungkap Bern kepada Investor Daily. (Yetede)
IHSG Berpotensi Menguji Level Baru 7.400 di Bulan Maret
GOTO Ditengah Ancaman Berakhirnya Lock Up Saham Pendiri
Menilik Utak Atik Direksi di Bank Pelat Merah
Kabar pergantian direksi di sejumlah bank milik negara santer terdengar di pekan rapat umum pemegang saham (RUPS), awal Maret ini. Selain ada direksi yang periode masa jabatannya akan berakhir, ada kursi kosong karena perpindahan direksi ke BUMN lain. Misalnya di PT Bank Mandiri Tbk. Bank ini dipastikan akan punya direktur baru di posisi Direktur Manajemen Risiko. Maklum, Ahmad Siddik Badruddin, yang sebelumnya menjabat posisi tersebut, ditugaskan jadi Direktur Manajemen Pertamina. Selain itu, ada Direktur Komersial Bank Mandiri Riduan yang bakal habis masa jabatannya. Tapi, menurut kabar beredar, ia berpeluang diangkat kembali karena kinerjanya positif. Kementerian BUMN tampaknya juga memilih kembali menugaskan direksi saat ini. Dus, ada harapan, strategi dan arah bisnis bank masih akan berlanjut. Ini sudah terlihat dalam penyelenggaraan RUPS Bank Rakyat Indonesia (BRI) Jumat (1/3) lalu. Tiga direksi yang masa jabatannya habis diperpanjang kembali, yakni Catur Budi Harto, Agus Noorsanto dan Agus Sudiarto.
Kementerian BUMN hanya merombak kursi dewan komisaris BRI. Haryo Baskoro Wicaksono yang sebelumnya menjabat Transportasi Gas Indonesia diangkat jadi komisaris independen BRI mengganti Hendrikus Ivo. Haryo juga pernah berkarier di Bank Muamalat serta di FIF Group. Di Bank Negara Indonesia (BNI), ada nama Adi Sulistyowati yang sudah menjabat direksi sejak 2015. Kendati begitu, Direktur Utama BNI Royke Tumilaar mengatakan, jabatan yang akan jatuh tempo hanya komisaris. Tapi, perombakan bergantung pada keputusan Kementerian BUMN. Bank Tabungan Negara (BTN) punya empat direksi yang masa jabatannya akan selesai, yakni Jasmin, Hirwandi Gafar, Setiyo Wibowo dan Elisabeth Novie Riswanti. BTN juga punya kursi komisaris kosong, yang ditinggalkan Ahdi Jumhari Luddin yang meninggal dunia Agustus 2023. "Kalau direksi mau diangkat kembali atau tidak, itu urusan pemegang saham," ujar Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu. Amin Nurdin, Senior Faculty LPPI, menilai, pergantian direksi dan komisaris Himbara tidak akan dilakukan secara sembrono. OJK pun mengatur ketat syarat seseorang bisa menjadi direksi maupun komisaris bank. Sementara pengamat ekonomi Budi Frensidy menyebut tak menutup kemungkinan bahwa bakal ada semacam pembagian jatah kursi dalam perubahan jajaran manajemen tersebut.
Strategi Pemerintah Tekan Inflasi Bergejolak 8,47%
Laba dan Pendapatan ADRO Tertekan
Lebaran Pacu Pembiayaan Kendaraan
Data Ekonomi AS Loyo, Mata Uang Regional Rebound
Demi Taylor Swift ”Ngutang” Pun Dijabani
Swifties adalah salah satu fandom artis terbesar di
muka Bumi. The Eras Tour akhirnya membuka kesempatan penggemar Taylor Swift,
termasuk Swifties Indonesia, untuk bertemu idola. Hati girang tak terkira,
persiapan juga polpolan. ”Ini pertemuan pertama kami untuk membahas persiapan
konser karena kami beda-beda tempat tinggal,” kata Anggun Mrz (24) lewat Zoom
di sebuah restoran di Plaza Indonesia, Jakarta, Rabu (28/2). Anggun, Melati
Suci (27), Alya Dina (25), dan Ayu Ihsana (25) berkumpul di sana pukul 19.00
seusai kerja. Mereka akan menonton konser pada 9 Maret, hari terakhir konser
Taylor Swift di National Stadium, Singapura. Penyanyi asal AS itu menggelar
konser enam hari, 2-4 Maret dan 7-9 Maret 2024, sebagai rangkaian The Eras
Tour. Demi menyaksikan ”Mbak TayTay”, sebutan sayang untuk Swift, Anggun,
Melati, Alya, dan Ayu telah ikut ”berperang” mencari tiket Juli tahun lalu.
Sialnya, mereka gagal. Ketika promotor mengumumkan perilisan
tiket tambahan Januari 2024, Alya berburu melalui penyedia jasa titipan
(jastip) di X alias Twitter. Jika harga tiket yang mereka incar Rp 1 juta per
orang, Alya dan teman-teman membayar Rp 2,5 juta. Harga ini, menurut Anggun,
masih masuk akal karena banyak jastip yang menaikkan harga sampai Rp 6 jutaan
untuk kategori yang sama. Kalau dihitung-hitung, Anggun, Melati, Alya, dan Ayu
mengeluarkan uang Rp 10 juta per orang. Dana ini sudah termasuk tiket konser, transportasi
seperti pesawat, penginapan, dan uang jajan. JordyPrayoga (27), karyawan swasta
di Jakarta, pun rela harus keluar uang dalam jumlah besar demi bisa melihat
langsung penyanyi pujaannya. Ia berpikir, sekarang harus nonton karena belum
tentu di konser lain waktu ia bisa.
Lagi pula, lagu karya Swift kini sudah lengkap, punya
bermacam genre, mulai dari country-pop hingga menjelajah ke rock, synthpop,
hiphop, dan sentuhan R&B. Jordy mengawali perjuangannya bertemu Swift
dengan berburu tiket pada Juni 2023. Ia mendapat tiket VIP seharga Rp 6 juta.
Saat memesan tiket, Jordy kaget, harga tiket pesawat sudah meroket. Mau tak
mau, ia harus membeli dengan harga Rp 4 juta pergi-pulang. Begitu pula tarif
hotel yang naik 100 %. Jordy tak punya pilihan, harus sewa penginapan Rp 2 juta
untuk dua malam. Total pengeluarannya demi Mbak TayTay mencapai Rp 12 juta, belum
termasuk uang makan selama di Singapura dan transportasi. ”Untung uang tiket
bisa kuangsur tanpa bunga dengan kartu kredit. Uang tiket dan hotel juga gitu.
Hampir setahun aku alokasikan gajiku untuk nyicil. Sekarang sudah lunas,”
jelasnya lega. (Yoga)
Harmoni Sate dan Keroncong
Bambang Margono (63) selama 20 menit, membakar sate hingga setengah
matang, mencelupkannya ke dalam saus, dan menunggu hingga bumbu-bumbu meresap
sempurna. Asap dari pembakaran sate yang mengumbar ke mana-mana menempel di
baju necis pelanggan. Namun, mereka tak peduli. Hari itu, Selasa (27/2) pukul 12.00,
hampir semua kursi di Sate Keroncong terisi. Beberapa kipas angin mengusir gerah
pelanggan yang tiba silih berganti. Rumah makan di Gang Lele, Jalan Matraman
Raya, Jatinegara, Jakarta, itu sederhana saja. Tak jauh dari para pelanggan yang tengah
melahap pesanan, kompor arang untuk meng- godok tongseng terus di kipas hingga
kuahnya tak henti bergolak.
”Khasnya semua dimasak dengan arang atau kayu bakar sampai
ranting-rantingnya,” ujar Sri Mulyono (59), pemilik Sate Keroncong. Gulai sudah
diolah di panci besar sejak pukul 05.30 dan siap empat jam kemudian. Sementara
bumbu-bumbu dasar gulai dan tongseng yang disiapkan setiap tiga bulan dihaluskan
sampai enam jam, awet disimpan setahun meski tak dimasukkan ke dalam kulkas. Saat
disajikan dan dikunyah, sate yang kaya akan rempah berselang-seling dengan
sekelumit manis. Daging empuk begitu menor berlumur bumbu yang menambah sedapnya
hidangan ditemani bawang merah, tomat, cabai rawit, dan merica. Potongannya
lebih besar dibandingkan sate biasa. Sementara gulai dengan kuah panas menyusuri tubuh diiringi kehangatan di sela Harmoni Sate dan Keroncong. Harga seporsi
gulai dan tongseng masing-masing Rp 50.000, sementara sate Rp 75.000. Sebagai
penawar dahaga, bisa dipilih teh manis panas atau dingin, es jeruk, teh kemasan,
serta air mineral.
Sewaktu mencicipi sajian, lamat-lamat terdengar merdunya keroncong
yang dilantunkan Joni (62) dan Waluyo (70). Pasangan pengamen itu beraksi di depan
Sate Keroncong tanpa mengganggu konsumen. Stoples berisi sumbangan pengunjung
ditaruh di atas bangku. Mereka, mendendangkan ”Bandar Jakarta”, ”Bengawan
Solo”, ”Jembatan Merah”, ”Sampul Surat”, dan ”Di Bawah Sinar Bulan Purnama”.
Alunan yang menghanyutkan kalbu lantas menganyam harmoni dengan cita rasa sate,
gulai, atau tongseng. Joni bersama Waluyo yang sudah menghibur pelanggan Sate
Keroncong sejak tahun 2000 berasal dari Semarang, Jateng. Mereka mengais rezeki
sambil melestarikan kebudayaan Indonesia. Sesekali, lagu pop, dangdut, atau campursari
didendangkan agar tamu-tamu tak bosan. ”Dapatnya enggak tentu. Biasanya, sehari
Rp 50.000-Rp 75.000 per orang. Kalau lagi ramai, sampai Rp 100.000,” ucap Joni
yang bermain gitar. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









