Ekonomi
( 40600 )GOTO Ditengah Ancaman Berakhirnya Lock Up Saham Pendiri
Menilik Utak Atik Direksi di Bank Pelat Merah
Kabar pergantian direksi di sejumlah bank milik negara santer terdengar di pekan rapat umum pemegang saham (RUPS), awal Maret ini. Selain ada direksi yang periode masa jabatannya akan berakhir, ada kursi kosong karena perpindahan direksi ke BUMN lain. Misalnya di PT Bank Mandiri Tbk. Bank ini dipastikan akan punya direktur baru di posisi Direktur Manajemen Risiko. Maklum, Ahmad Siddik Badruddin, yang sebelumnya menjabat posisi tersebut, ditugaskan jadi Direktur Manajemen Pertamina. Selain itu, ada Direktur Komersial Bank Mandiri Riduan yang bakal habis masa jabatannya. Tapi, menurut kabar beredar, ia berpeluang diangkat kembali karena kinerjanya positif. Kementerian BUMN tampaknya juga memilih kembali menugaskan direksi saat ini. Dus, ada harapan, strategi dan arah bisnis bank masih akan berlanjut. Ini sudah terlihat dalam penyelenggaraan RUPS Bank Rakyat Indonesia (BRI) Jumat (1/3) lalu. Tiga direksi yang masa jabatannya habis diperpanjang kembali, yakni Catur Budi Harto, Agus Noorsanto dan Agus Sudiarto.
Kementerian BUMN hanya merombak kursi dewan komisaris BRI. Haryo Baskoro Wicaksono yang sebelumnya menjabat Transportasi Gas Indonesia diangkat jadi komisaris independen BRI mengganti Hendrikus Ivo. Haryo juga pernah berkarier di Bank Muamalat serta di FIF Group. Di Bank Negara Indonesia (BNI), ada nama Adi Sulistyowati yang sudah menjabat direksi sejak 2015. Kendati begitu, Direktur Utama BNI Royke Tumilaar mengatakan, jabatan yang akan jatuh tempo hanya komisaris. Tapi, perombakan bergantung pada keputusan Kementerian BUMN. Bank Tabungan Negara (BTN) punya empat direksi yang masa jabatannya akan selesai, yakni Jasmin, Hirwandi Gafar, Setiyo Wibowo dan Elisabeth Novie Riswanti. BTN juga punya kursi komisaris kosong, yang ditinggalkan Ahdi Jumhari Luddin yang meninggal dunia Agustus 2023. "Kalau direksi mau diangkat kembali atau tidak, itu urusan pemegang saham," ujar Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu. Amin Nurdin, Senior Faculty LPPI, menilai, pergantian direksi dan komisaris Himbara tidak akan dilakukan secara sembrono. OJK pun mengatur ketat syarat seseorang bisa menjadi direksi maupun komisaris bank. Sementara pengamat ekonomi Budi Frensidy menyebut tak menutup kemungkinan bahwa bakal ada semacam pembagian jatah kursi dalam perubahan jajaran manajemen tersebut.
Strategi Pemerintah Tekan Inflasi Bergejolak 8,47%
Laba dan Pendapatan ADRO Tertekan
Lebaran Pacu Pembiayaan Kendaraan
Data Ekonomi AS Loyo, Mata Uang Regional Rebound
Demi Taylor Swift ”Ngutang” Pun Dijabani
Swifties adalah salah satu fandom artis terbesar di
muka Bumi. The Eras Tour akhirnya membuka kesempatan penggemar Taylor Swift,
termasuk Swifties Indonesia, untuk bertemu idola. Hati girang tak terkira,
persiapan juga polpolan. ”Ini pertemuan pertama kami untuk membahas persiapan
konser karena kami beda-beda tempat tinggal,” kata Anggun Mrz (24) lewat Zoom
di sebuah restoran di Plaza Indonesia, Jakarta, Rabu (28/2). Anggun, Melati
Suci (27), Alya Dina (25), dan Ayu Ihsana (25) berkumpul di sana pukul 19.00
seusai kerja. Mereka akan menonton konser pada 9 Maret, hari terakhir konser
Taylor Swift di National Stadium, Singapura. Penyanyi asal AS itu menggelar
konser enam hari, 2-4 Maret dan 7-9 Maret 2024, sebagai rangkaian The Eras
Tour. Demi menyaksikan ”Mbak TayTay”, sebutan sayang untuk Swift, Anggun,
Melati, Alya, dan Ayu telah ikut ”berperang” mencari tiket Juli tahun lalu.
Sialnya, mereka gagal. Ketika promotor mengumumkan perilisan
tiket tambahan Januari 2024, Alya berburu melalui penyedia jasa titipan
(jastip) di X alias Twitter. Jika harga tiket yang mereka incar Rp 1 juta per
orang, Alya dan teman-teman membayar Rp 2,5 juta. Harga ini, menurut Anggun,
masih masuk akal karena banyak jastip yang menaikkan harga sampai Rp 6 jutaan
untuk kategori yang sama. Kalau dihitung-hitung, Anggun, Melati, Alya, dan Ayu
mengeluarkan uang Rp 10 juta per orang. Dana ini sudah termasuk tiket konser, transportasi
seperti pesawat, penginapan, dan uang jajan. JordyPrayoga (27), karyawan swasta
di Jakarta, pun rela harus keluar uang dalam jumlah besar demi bisa melihat
langsung penyanyi pujaannya. Ia berpikir, sekarang harus nonton karena belum
tentu di konser lain waktu ia bisa.
Lagi pula, lagu karya Swift kini sudah lengkap, punya
bermacam genre, mulai dari country-pop hingga menjelajah ke rock, synthpop,
hiphop, dan sentuhan R&B. Jordy mengawali perjuangannya bertemu Swift
dengan berburu tiket pada Juni 2023. Ia mendapat tiket VIP seharga Rp 6 juta.
Saat memesan tiket, Jordy kaget, harga tiket pesawat sudah meroket. Mau tak
mau, ia harus membeli dengan harga Rp 4 juta pergi-pulang. Begitu pula tarif
hotel yang naik 100 %. Jordy tak punya pilihan, harus sewa penginapan Rp 2 juta
untuk dua malam. Total pengeluarannya demi Mbak TayTay mencapai Rp 12 juta, belum
termasuk uang makan selama di Singapura dan transportasi. ”Untung uang tiket
bisa kuangsur tanpa bunga dengan kartu kredit. Uang tiket dan hotel juga gitu.
Hampir setahun aku alokasikan gajiku untuk nyicil. Sekarang sudah lunas,”
jelasnya lega. (Yoga)
Harmoni Sate dan Keroncong
Bambang Margono (63) selama 20 menit, membakar sate hingga setengah
matang, mencelupkannya ke dalam saus, dan menunggu hingga bumbu-bumbu meresap
sempurna. Asap dari pembakaran sate yang mengumbar ke mana-mana menempel di
baju necis pelanggan. Namun, mereka tak peduli. Hari itu, Selasa (27/2) pukul 12.00,
hampir semua kursi di Sate Keroncong terisi. Beberapa kipas angin mengusir gerah
pelanggan yang tiba silih berganti. Rumah makan di Gang Lele, Jalan Matraman
Raya, Jatinegara, Jakarta, itu sederhana saja. Tak jauh dari para pelanggan yang tengah
melahap pesanan, kompor arang untuk meng- godok tongseng terus di kipas hingga
kuahnya tak henti bergolak.
”Khasnya semua dimasak dengan arang atau kayu bakar sampai
ranting-rantingnya,” ujar Sri Mulyono (59), pemilik Sate Keroncong. Gulai sudah
diolah di panci besar sejak pukul 05.30 dan siap empat jam kemudian. Sementara
bumbu-bumbu dasar gulai dan tongseng yang disiapkan setiap tiga bulan dihaluskan
sampai enam jam, awet disimpan setahun meski tak dimasukkan ke dalam kulkas. Saat
disajikan dan dikunyah, sate yang kaya akan rempah berselang-seling dengan
sekelumit manis. Daging empuk begitu menor berlumur bumbu yang menambah sedapnya
hidangan ditemani bawang merah, tomat, cabai rawit, dan merica. Potongannya
lebih besar dibandingkan sate biasa. Sementara gulai dengan kuah panas menyusuri tubuh diiringi kehangatan di sela Harmoni Sate dan Keroncong. Harga seporsi
gulai dan tongseng masing-masing Rp 50.000, sementara sate Rp 75.000. Sebagai
penawar dahaga, bisa dipilih teh manis panas atau dingin, es jeruk, teh kemasan,
serta air mineral.
Sewaktu mencicipi sajian, lamat-lamat terdengar merdunya keroncong
yang dilantunkan Joni (62) dan Waluyo (70). Pasangan pengamen itu beraksi di depan
Sate Keroncong tanpa mengganggu konsumen. Stoples berisi sumbangan pengunjung
ditaruh di atas bangku. Mereka, mendendangkan ”Bandar Jakarta”, ”Bengawan
Solo”, ”Jembatan Merah”, ”Sampul Surat”, dan ”Di Bawah Sinar Bulan Purnama”.
Alunan yang menghanyutkan kalbu lantas menganyam harmoni dengan cita rasa sate,
gulai, atau tongseng. Joni bersama Waluyo yang sudah menghibur pelanggan Sate
Keroncong sejak tahun 2000 berasal dari Semarang, Jateng. Mereka mengais rezeki
sambil melestarikan kebudayaan Indonesia. Sesekali, lagu pop, dangdut, atau campursari
didendangkan agar tamu-tamu tak bosan. ”Dapatnya enggak tentu. Biasanya, sehari
Rp 50.000-Rp 75.000 per orang. Kalau lagi ramai, sampai Rp 100.000,” ucap Joni
yang bermain gitar. (Yoga)
Warga Palestina Terpaksa Konsumsi Pakan Ternak
Bencana kelaparan menyiksa warga Palestina di Jalur Gaza.
Kepungan militer Israel membuat truk-truk pengangkut bantuan sosial yang menyeberang
dari Mesir lamban datang. Tiadanya bantuan makanan membuat warga Palestina
terpaksa mengonsumsi pakan ternak untuk bertahan hidup. Namun, setelah
berhari-hari bertahan hidup dengan mengonsumsi pakan ternak, kini pilihan itu
pun menipis. Abu Qussay Abu Nasser, warga Gaza, terpaksa mencari-cari tanaman panirak
(Malva sylvestris) yang biasanya tumbuh liar di padang rumput ataupun di pinggir
jalan. Tanaman berbunga ungu ini aman diolah untuk makan meskipun selama ini
masyarakat tidak menganggapnya sebagai sumber pangan.
”Panirak sekarang sudah jarang sekali. Banyak orang
memetiknya saking tidak ada makanan,” kataAbu Nasser kepada kantor berita
Turki, Anadolu, Jumat (1/3). Panirak bukan pilihan pertama Abu Nasser.
Sebelumnya, ia pergi ke pasar di Jabaliyya untuk mencari jagung kering dan
jelai sisa. Biasanya, biji-bijian ini dipakai untuk pakan ternak. Ketika tiba
di pasar, pakan ternak sekalipun sudah habis terjual. Di beberapa wilayah,
warga mengeluhkan harga pakan ternak yang melejit. Satu karung 3 kg dibanderol
dengan harga 60-80 shekel atau Rp 3 juta. Padahal, warga Gaza sudah serba
kekurangan sejak Israel melakukan invasi per Oktober 2023. ”Kemarin, kami sekeluarga
masing-masing hanya memakan sebutir kurma. Saya harus mencari makanan,
anak-anak menangis kelaparan,” kata Abu Nasser.
Data Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (UNOCHA)
memperlihatkan, sedikitnya 576.000 warga Gaza, seperempat dari total populasi
di enklave tersebut, tinggal satu tahap masuk kategori kelaparan. Sejumlah
tenaga medis menuturkan, banyak pasien anak di rumah-rumah sakit sekarat dan
meninggal akibat malanutrisi dan dehidrasi. Bantuan untuk warga Gaza pun lamban
bergulir. ”Segala sistem layanan masyarakat di Gaza sudah ambruk,” kata Jubir
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Christian Lindmeier. Ia menjelaskan, anak-anak
berumur 6-59 bulan menderita kelaparan akut. Angka kelaparan mereka 16,2 %.
Padahal, WHO menetapkan ambang batas bahaya kelaparan tertinggi di dunia adalah
15 %. (Yoga)
Anak Muda Bertahan, Bulan ke Bulan
Konsultan keuangan dan pendiri Mind Money Balance, Lindsay
Bryan-Podvin, mengatakan, milenial dan gen Z menghadapi banyak persoalan ekonomi,
mulai dari krisis kemampuan membeli rumah, utang pinjaman sekolah atau kuliah,
hingga tingginya biaya pengasuhan anak. Kondisi ini membuat mereka tidak mudah
memasuki kehidupan finansial orang dewasa. Impian menjadi kaya di kalangan mereka
pun menguat. ”Gaya hidup kelas menengah terasa di luar jangkauan. Padahal,
setiap hari mereka dicekoki cerita dan gambaran di media sosial yang menunjukkan
orang yang lebih kaya tampak lebih bahagia,” kata Bryan-Podvin. Untuk bisa hidup
lebih kaya, gen Z menginginkan gaji lebih tinggi. Survei terbaru Redfield and
Wilton Strategies menyebutkan, di AS, gen Z menilai gaji tahunan sebesar 74.000
USD atau Rp 1,2 miliar tidak masuk dalam kelompok kelas menengah.
Dibandingkan dengan generasi sebelumnya, rata-rata kekayaan
bersih gen Z adalah yang terendah. Menurut Bank Sentral AS, individu di bawah
usia 35 tahun memiliki kekayaan bersih rata-rata 39.000 USD. Tidak hanya
kekayaan bersih mereka lebih rendah, gaji rata-rata gen Z juga lebih rendah
ketimbang generasi lain sehingga sulit untuk menyewa apartemen, membeli mobil, atau
sekadar makan enak. Menurut survei American Staffing Association dan Harris
Poll terhadap 2.000 orang dewasa AS, pekan lalu, 66 % karyawan berusia 18-27
tahun berniat meminta kenaikan gaji tahun ini. Mereka khawatir gaji mereka tak
bisa mengimbangi inflasi. Generasi milenial dan gen Z mengaku harus hidup dari
gaji ke gaji karena gaji mereka habis untuk membayar tagihan dan belanja
kebutuhan primer.
Banyak yang mengaku berada dalam situasi seperti itu karena
harus membiayai anggota keluarga lainnya dan memiliki utang yang besar.
Sebenarnya mereka ingin berinvestasi, tetapi masalahnya tidak ada sisa uang
untuk berinvestasi. Survei perusahaan konsultan Deloitte pada 2023 terhadap
22.000 milenial dan gen Z di seluruh dunia menemukan makin banyak anak muda mencari
kerja sampingan demi menambah penghasilan. Untuk menghemat uang, anak muda di
AS mulai banyak yang memilih menyimpan dan bertransaksi dengan uang tunai.
Alasannya, memegang uang tunai lebih mudah dikendalikan ketimbang bertransaksi
melalui e-wallet di ponsel. Cara bersiasat lain adalah sejumlah anak muda
memilih tinggal bersama orangtua mereka. Bahkan, menurut BBC, 25 Januari 2024,
mengutip laporan PewResearch, menyebutkan, anak muda usia 18-34 tahun mengaku
masih dibantu orangtua untuk membayar kebutuhan, seperti uang pulsa ponsel,
tagihan internet, bahkan kebutuhan sehari-hari. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









