Ekonomi
( 40733 )Indonesia Memainkan Peran Penting dalam Perdagangan Regional
Benahi Tata Kelola Moratorium Fintech Bakal Dicabut
Pemilu Satu Putaran Akan Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi
Belanja Dalam Negeri Pemerintah Rp 250 Triliun
Tantangan Badan Supervisi LPS
DPR pada akhir 2023 menyetujui tujuh nama anggota Badan Supervisi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) periode 2023-2028. Badan supervisi ini dibentuk berdasarkan UU No 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, terutama pada Bab XA angka 61 Pasal 89A yang mengamanatkan pembentukan Badan Supervisi LPS. LPS adalah lembaga independen yang berfungsi menjamin simpanan nasabah penyimpan dan turut aktif dalam memelihara stabilitas sistem perbankan. Fungsi dan tugas penting itu membutuhkan pengawasan dalam pelaksanaannya. Karena itulah Badan Supervisi LPS dibentuk dalam melaksanakan fungsi pengawasan di bidang tertentu terhadap LPS.
Sepanjang tahun lalu, industri jasa keuangan, terutama sektor non-bank, seperti asuransi, diterpa banyak kasus yang meresahkan masyarakat. Salah satunya skandal PT Asuransi Jiwasraya yang merugikan begitu banyak nasabah. Dampaknya, kasus itu menekan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap industri perasuransian. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi LPS. Kehadiran Badan Supervisi LPS diharapkan dapat mendorong LPS mewujudkan program penjaminan polis sesuai dengan jadwal. Dengan demikian, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap industri jasa keuangan, terutama perasuransian, dapat segera kembali pulih. Namun LPS wajib menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG). (Yetede)
INOVASI PETANI, Bersiasat dengan Pupuk dan Pestisida Organik
Ketika alokasi pupuk bersubsidi berkurang, harga pestisida
kimia bikin pusing, dan hama menyerang, sejumlah petani di Cirebon, Jabar,
tetap tenang. Mereka bersiasat dengan pupuk dan pestisida organik. Namun,
perjuangan petani untuk mandiri masih panjang. Rojai (49) tersenyum menunjukkan
drum biru berisi urine sapi yang telah melalui fermentasi di kandang miliknya
di Desa Tegalkarang, Palimanan, Cirebon, Rabu (28/2). Bagi orang lain, urine
itu bau dan kotor. Tapi, bagi Rojai, kencing sapi itu menghasilkan cuan.
Bagaimana tidak, urine itu menjadi bahan utama pupuk organik cair (POC) untuk
membantu pertumbuhan tanaman. Ia menjual POC itu dengan harga Rp 20.000 per
liter. ”Ini kalau dijual, harganya Rp 2 juta,” kata Rojai tentang wadah berisi
100 liter urine itu. Kumpulan urine tersebut berasal dari 10 sapi yang buang
air tiga hari.
Artinya, selama itu, ia bisa meraup uang yang hampir
menyentuh upah minimum kabupaten, yakni Rp 2,4 juta per bulan. POC buatan Rojai
jauh lebih murah dibandingkan harga pupuk cair kimia yang berkisar Rp 60.000-Rp
90.000 per liter. Meski demikian, POC bukan berarti murahan. Sawah yang memakai
pupuk itu batang dan daun padinya tampak hijau. Tanahnya mudah ditanami, subur.
”Urine sapi itu mengandung pestisida. Jadi, enggak usah beli obat (pestisida
kimia) lagi, larang (mahal),” ucap Ketua Kelompok Ternak Jaya itu. POC biasanya
disemprotkan ke sawah saat tanam dengan interval 10 hari berikutnya. Dalam 1
hektar, kebutuhan POC minimal 5 liter. Tidak hanya urine ternak, Rojai juga mengolah
kotoran sapi menjadi pupuk kompos. Ia bahkan memiliki kemasan khusus pupuk
organik padat dengan merek Supersonik. Harganya hanya Rp 2.000 per kg, lebih
murah daripada pupuk kimia yang bisa belasan ribu rupiah. (Yoga)
Menahan Pertambahan Petani Gurem
Nasib petani di negeri ini tampaknya tidak pernah enak, ibarat
roti tumpuk yang ditekan dari berbagai sisi. Padahal, sebagai negara agraris,
sektor pertanian menjadi penopang ekonomi nasional yang cukup penting. Kontribusinya
terhadap kue perekonomian Indonesia cukup besar, kedua setelah industri
pengolahan. Sebagian besar penduduk Indonesia masih menggantungkan hidupnya di sektor
pertanian. BPS mencatat, dari jumlah penduduk bekerja di Indonesia yang
mencapai 139,85 juta orang pada Agustus 2023, sebanyak 28,21 % bekerja di
sektor pertanian, lebih tinggi dibandingkan penyerapan pekerja di sektor perdagangan
(18,99 %) dan industri (13,83 %). Namun, kesejahteraan petani hingga kini masih
jauh dari yang diharapkan. Rata-rata pendapatan bersih mereka yang memiliki
usaha pertanian Rp 1,59 juta per bulan pada Agustus 2023. Sedang upah buruh di sektor
pertanian Rp 2,37 juta per bulan, terendah kedua setelah sektor jasa lain dan
berada di bawah rata-rata nasional yang mencapai Rp 3,18 juta per bulan.
Nominal upah buruh tani sebenarnya meningkat. Namun, upah riil
yang diterima, setelah disesuaikan dengan tingkat konsumsi petani, justru kian turun.
Disparitas upah nominal dan upah riil mendorong lebih banyak buruh tani ke
dalam kemiskinan. Petani gurem BPS dalam survei pertanian antar sensus tahun
2023 mengklasifikasi delapan jenis rumah tangga usaha pertanian (RTUP) berdasar
luas lahan yang dimiliki petani. Dimulai dengan kepemilikan lahan kurang dari
0,50 hektar hingga lebih dari 10 hektar. Petani gurem, yaitu petani yang
menguasai lahan, baik milik, sewa, maupun bagi hasil, kurang dari 0,5 hektar,
merupakan yang terbanyak jumlahnya. Dalam enam dekade terakhir, jumlah petani
gurem meningkat dari 5,3 juta rumah tangga tahun 1963 menjadi 14,25 juta tahun
2003 dan terakhir 17,24 juta pada 2023. Persentase RTUP gurem terhadap total
RTUP pengguna lahan di Indonesia meningkat dari 55,33 % pada 2013 menjadi 60,84
% pada 2023. Di Pulau Jawa, persentase petani gurem paling besar di DI
Yogyakarta (87,75 %).
Terus terperangkapnya petani gurem dalam kemiskinan menjadi
potret terus dianaktirikannya sektor yang menjadi tumpuan 40 % angkatan kerja
nasional ini. Keberpihakan negara menjadi salah satu kunci meningkatkan taraf
hidup dan kesejahteraan petani. Dengan pertumbuhan jumlah petani gurem, program
pertanian yang seharusnya dikembangkan, menurut BPS, tidak lagi berkaitan dengan
penambahan lahan, tetapi lebih pada peningkatan produktivitas petani. Mereka
juga perlu diberikan subsidi, mulai dari bantuan pupuk, benih, hingga pembangunan
infrastruktur untuk kelancaran pengolahan lahan serta berbagai subsidi lain
yang mengangkat kehidupan mereka ke tingkat yang lebih tinggi. Kebijakan yang
mendukung peningkatan kelayakan hidup petani juga mutlak diberikan agar
pertanian tetap menjadi pekerjaan menarik di masa depan, khususnya bagi
generasi muda. Perlindungan terhadap petani dari produk impor, permainan tengkulak,
serta ketertinggalan teknologi juga perlu dilakukan. (Yoga)
China Pasang Target Ambisius 5 Persen
China menetapkan target pertumbuhan 5 % untuk 2024. Di tengah
kondisi ekonomi China yang lesu, target ini terbilang ambisius. Presiden China
Xi Jinping dan pemerintahannya menyadari hal ini. Kini, tantangan China adalah menemukan
jalan baru untuk memulihkan perekonomian. Salah satunya, membangun industri
yang penting bagi daya saing masa depan, antara lain kecerdasan buatan hingga eksplorasi
ruang angkasa. China juga menawarkan pembukaan akses ke sektor manufaktur dan
beberapa macam jasa untuk membendung mundurnya investor asing. Pesannya jelas,
China ingin swasembada dan terbuka untuk bisnis selama hal itu sesuai dengan keinginan
mereka.
Perdana Menteri China Li Qiang mengumumkan target pertumbuhan
ekonomi itu dalam Kongres Rakyat Nasional (NPC) tahunan China yang dimulai
Selasa (5/3) di Beijing. Ia juga memaparkan keseluruhan anggaran dan kebijakan
utama pemerintah untuk 2024. ”Fondasi bagi pemulihan dan pertumbuhan ekonomi
China yang berkelanjutan tidak cukup kokoh. Upaya mencapai target tahun ini
tidak akan mudah,” kata Li kepada ribuan delegasi dan anggota Partai Komunis China
(PKC). Agenda itu dinilai penting bagi para pemimpin untuk mengomunikasikan
kebijakan yang menjadi prioritas kepada rakyat. Li menjanjikan pemerintah akan
mengubah model pembangunan China dan mengurangi risiko yang dipicu pengembang properti
yang bangkrut dan kota-kota yang terlilit utang. Target pertumbuhan 5 % itu mempertimbangkan
kebutuhan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan pendapatan serta mencegah
atau mengurangi risiko.
Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan
China pada 2024 sebesar 4,6 % dan turun menuju 3,5 % pada 2028. Pertumbuhan
yang tidak merata tahun lalu menunjukkan ketidakseimbangan struktural yang
mendalam di China. Ini terlihat dari lemahnya konsumsi rumah tangga hingga
semakin rendahnya tingkat pengembalian investasi. Karena itulah, China perlu
model pertumbuhan baru. China mengawali tahun ini dengan kemerosotan pasar saham
dan deflasi pada tingkat yang belum pernah terjadi sejak krisis keuangan global
pada 2008-2009. Krisis properti dan permasalahan utang pemerintah daerah terus
berlanjut. Jika pemerintah tidak ber- gerak cepat, para ahli khawatir keajaiban
ekonomi China akan memudar dengan cepat. Pemerintah didesak melakukan reformasi
propasar dan meningkatkan pendapatan penduduk. (Yoga)
Australia Luncurkan Investasi Rp 20,4 Triliun bagi Asia Tenggara
Pemerintah Australia meluncurkan pendanaan investasi senilai
2 miliar dollar Australia atau Rp 20,4 triliun untuk meningkatkan investasi di Asia
Tenggara. Pendanaan itu merupakan bagian dari serangkaian inisiatif ekonomi yang
diumumkan pada KTT Khusus ASEAN-Australia 2024 di Melbourne, Australia, Selasa (5/3).
”Pemerintahan yang saya pimpin telah mengambil keputusan yang jelas. Melebihi kawasan
lain, Asia Tenggara adalah masa depan Australia,” kata PM Australia Anthony
Albanese pada Forum 100 CEO Australia dan Asia Tenggara. Australia terus
memperluas hubungan ekonomi dengan beragam mitra dagang selain mitra dagang
utama mereka, China. Langkah itu diambil menyusul berbagai perselisihan dengan
Beijing. Kawasan ASEAN, dengan pertumbuhan penduduk yang cepat, dipandang
sebagai kekuatan ekonomi yang terus berkembang. Dengan banyaknya cadangan
mineral penting dan kebutuhan tinggi pada listrik, Asia Tenggara bakal memegang
peran utama dalam upaya global mendorong penggunaan energi bersih.
”Dengan senang saya mengumumkan keputusan kami untuk
mendirikan Fasilitas Pembiayaan Investasi Asia Tenggara senilai 2 miliar dollar
(Australia), yang dikelola oleh Pembiayaan Ekspor Australia,” lanjutnya. Menurut
Albanese, pendanaan ini menunjukkan nilai tambah yang dapat diberikan Australia
kepada ASEAN. Pembiayaan ini dimaksudkan untuk meningkatkan perdagangan dan
investasi Australia di Asia Tenggara, terutama untuk transisi energi ramah
lingkungan dan pembangunan infrastruktur. Program pendanaan tersebut kelanjutan
dari bantuan teknis infrastruktur untuk ASEAN, khususnya Program Kemitraan
untuk Infrastruktur. Dalam program itu, Australia memberikan tambahan dana 140
juta dollar Australia. Pendanaan tersebut dimulai tahun 2021, untuk mendukung
upaya ASEAN meningkatkan pembangunan infrastruktur. Beberapa infrastruktur yang
telah dibangun dengan dana tersebut, meliputi jalan raya, infrastruktur
transisi energi ramah lingkungan, dan telekomunikasi. (Yoga)
Menjinakkan Inflasi Pangan
Lonjakan harga pangan tak hanya membuat target inflasi 2024
sebesar 1,5-3,5 persen semakin berat, tetapi juga merampok daya beli kelompok
miskin dan menengah. Inflasi pangan yang bersumber dari komponen harga pangan bergejolak
(volatile food) menjadi penyumbang terbesar angka inflasi nasional beberapa
tahun terakhir. Kenaikan inflasi pangan 3-4 tahun terakhir bahkan melampaui
rata-rata kenaikan upah minimum regional (UMR) dan gaji ASN (Kompas, 4/3/2024).
Ini menggambarkan betapa kenaikan harga pangan menggerus kesejahteraan masyarakat
bawah dan menengah. Bahkan, kenaikan UMR dan gaji ASN tak mampu mengejar laju
kenaikan harga pangan. Beras, menurut BPS, adalah komoditas penyumbang terbesar
garis kemiskinan, baik di perkotaan maupun perdesaan. Sekitar 60-75 %
pengeluaran penduduk miskin kita adalah untuk pangan.
Akibatnya, kenaikan harga beras yang diikuti pangan lain akan
langsung memukul daya beli mereka. Lonjakan harga beras dipastikan juga tak
dinikmati petani kita yang sebagian besar petani gurem dan konsumen neto beras.
Apalagi dengan kian dekatnya Ramadhan dan Lebaran, yang biasanya ditandai
dengan kenaikan harga kebutuhan pokok. Sejauh ini, operasi pasar, kucuran
bansos, dan berbagai kebijakan lain belum mampu menjinakkan harga beras yang
sudah naik di atas 20 % dari tahun lalu. Antrean warga yang memburu beras murah
masih terjadi di sejumlah daerah. Kemelut beras selama ini menunjukkan ada masalah
dalam tata kelola pangan kita. Produksi dan produktivitas terus menurun di
tengah meningkatnya konsumsi.
Kita juga masih terus berkutat dengan problem terkait pupuk, benih,
alih fungsi lahan, dan lain-lain, yang tak kunjung selesai. Perum Bulog sering
kedodoran dalam stabilisasi. Berbagai instrumen pengendalian harga juga tak
sepenuhnya efektif. Belum lagi dampak perubahan iklim dan geopolitik global.
Pemerintah gagap mengantisipasi semua itu. Dalam jangka pendek, operasi pasar
dan penyaluran bansos secara agresif, yang mau tak mau harus ditopang impor
karena Perum Bulog kedodoran dalam mengamankan stok cadangan beras pemerintah yang
bisa diharapkan meredam lonjakan harga. Namun, dalam jangka panjang, tak ada
pilihan lain kecuali membenahi tata kelola pangan dari hulu hingga hilir,
khususnya produksi, produktivitas, dan distribusi, selain juga intervensi di
konsumsi (termasuk melalui diversifikasi pangan). (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









