Ekonomi
( 40846 )Penganggur Berlimpah, Gen Z Gerah dengan Pameran Kemewahan
Warganet, terutama kelompok anak muda yang masuk dalam
generasi Z, merasa bahwa para pemengaruh media sosial tidak hidup di dunia yang
dihuni warga kebanyakan. Fakta ada jutaan penganggur di antara mereka membuat
generasi Z lelah dan gerah dengan pameran itu. Produsen perlu menimbang ulang
strategi pemasaran mereka. Apalagi, ada gerakan de-influencing. Dalam laporan
Yahoo News pada Sabtu (16/3) 53 % generasi Z kini memilih mengonsumsi sesuatu
berdasarkan rekomendasi orang biasa. Adapun 43 % generasi Z atau gen Z
menganggap kekuatan pemengaruh (influencer) sudah berkurang pada mereka. ”Dulu
saya suka mereka. Lalu, saya sadar betapa tidak realistisnya setiap hari hanya
ke pusat kebugaran atau membeli berbagai hal mahal. Saya sadar, kebanyakan
orang di sekitar saya kesulitan untuk hidup sederhana sekalipun,” kata Emma (16)
kepada majalah Vogue.
Majalah gaya hidup itu melaporkan, pada 2022, sebanyak 28 %
pengguna Tiktok membeli karena terpengaruh para pemilik akun besar di pelantar
itu. Sekarang, semakin sedikit orang membeli barang-barang yang dipromosikan
para pemenga ruh itu. Intinya, orang-orang merasa diperas agar para pemengaruh itu
bisa hidup mewah. Para pemengaruh mempromosikan barang-barang mahal. Padahal, orang-orang
sedang kesulitan, antara lain akibat inflasi tinggi di AS dan sejumlah negara. Kemarahan
itu diungkap saat puluhan juta orang di AS kesulitan akibat lonjakan inflasi. Mengacu
pada data Organisasi Buruh Internasional (ILO), sebanyak 5,3 % angkatan kerja
global 2024 menganggur. Di China, setidaknya 13 juta generasi muda jadi
penganggur. Sebagian amat frustrasi karena tidak kunjung diterima kerja meski
sudah mengirimkan ratusan lamaran. Di sejumlah negara lain, fenomena itu juga terjadi.
Fakta itu membuat cara pemasaran dengan
memanfaatkan pemengaruh menjadi tidak relevan.
Para pemengaruh menyajikan gaya hidup mewah. Sementara itu,
kebanyakan pengguna media sosial hidup susah payah. Kemarahan orang-orang tidak
hanya ditunjukkan lewat komentar di unggahan pada pemengaruh. Sebagian juga membuat
unggahan yang mengajak orang berpikir ulang sebelum membeli aneka hal yang
dipromosikan pemengaruh. Fenomena itu dikenal sebagai de-influencing. Analis
media sosial pada Ruby Media Group, Kris Ruby, menyebut fenomena itu memberi
pendapat tandingan atas aneka promosi dan dukungan di media sosial. Pada
dasarnya gerakan ini mencoba mengingatkan konsumen untuk tidak membeli produk
tertentu hanya karena dipromosikan oleh pemengaruh. Padahal, produk itu dinilai
kurang berguna atau nilainya tidak sepadan dengan harga yang dibayarkan. Tren
ini mendorong konsumen untuk mempertimbangkan apakah mereka membutuhkan produk
itu sebelum membelinya. (Yoga)
Tantangan Rendah Emisi Batubara
Industri Batubara menghadapi tantangan cukup
berat, yakni adanya tuntutan global terhadap penggunaan energi bersih, termasuk
dari pendanaan asing. Karenanya, Indonesia harus mampu mengoptimalkan potensi
batubara yang jumlahnya masih berlimpah, dengan penerapan teknologi serta
kaidah kegiatan pertambangan yang baik (good mining practices) sehingga
pemanfaatan batubara bisa bersanding dengan energi terbarukan lainnya.
Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dan
Reggie Parengkuan dalam risetnya mengatakan, dana asing umumnya tidak
berinvestasi pada perusahaan batubara karena pertimbangan ESG. “Jika lebih
detail lagi, sebagian besar dana asing khususnya yang terafiliasi dengan
Eropa/AS, dibatasi membeli nama-nama yang berhubungan dengan batubara. Dan
beberapa dana asing lebih fleksibel dengan kemajuan perusahaan menuju
diversivikasi ESG,” ujar Ryan. (Yetede)
Perputaran Uang Wisata Halal Berpotensi Naik 25 %
Perputaran uang dari pariwisata halal Indonesia
berpotensi meningkat 25 % tahun ini. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi
yang membaik pasca pandemi Covid-19. Menparekraf Sandiaga Uno menerangkan,
Indonesia merupakan destinasi wisata halal yang sangat diminati dunia. Apalagi
Indonesia telah berhasil mendapatkan predikat Top Muslim Friendly Destination
of The Year 2023 dalam Mastercard Crescent Rating Global Muslim Travel Index
(GMTI) di tahun 2023.
“Ini meningkat luar biasa, signifikan. Kami
memetakan ada potensi peningktan sampai 25 % tahun ini. Sejalan dengan
berakhirnya Covid di tahun 2023 lalu. Peningkatan ini kita pantau ada pada
konsumsi rumah tangga yang bertumbuh dengan sehat,” kata dia, Minggu (17/3). (Yetede)
Impor Jagung Pakan Dihentikan
Pemerintah menghentikan impor jagung pakan guna
mencegah anjloknya harga komoditas itu di tingkat petani seiring masuknya masa
panen raya. Hal itu juga agar penyerapan jagung dalam negeri oleh Perum Bulog,
produsen pakan ternak dan para pemangku kepentingan (stake holder) demi
membantu menjaga stabilitas harga di petani berjalan optimal.
Rerata nasional harga jagung di tingkat
peternak pada 17 Maret 2024 mencapai Rp 8.140 per kg, lebih rendah dari 10
Maret 2024 di Rp 8.360 per kg. Kepala Bapanas/NFA Arief Prasetyo Adi
menegaskan, sebelum panen raya jagung yang puncaknya diperkirakan April 2024,
importasi saat ini telah distop untuk menjaga harga di petani tidak jatuh, juga
untuk memastikan penyerapan jagung produksi dalam negeri dapat berjalan
optimal. (Yetede)
Chandra Asri Spin Off Lini Bisnis Infrastruktur
Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) berencana
memisahkan (spin off) unit usaha di bisnis infrastruktur, yaitu pelabuhan,
dermaga (jetty) dan fasilitas penyimpanan kepada anak usahanya yang bergerak di
bidang pengangkutan dan pergudangan, PT Chandra Pelabuhan Nusantara (CPAT).
GM of Legal & Corporate Secretary TPIA Erri
Dewi Riani menyebutkan, spin off unit-unit usaha ini akan memiliki empat
manfaat. Pertama, optimalisasi pengelolaan asset; kedua, akselerasi dan
diversifikasi pengembangan usaha; ketiga, potensi kerjasama strategis dan
sinergis; dan keempat, menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham. (Yetede)
Krisis Laut Merah dan Panama Mengubah Prospek Ekonomi Global
CEO Hapag Lloyd Rold Habben Jansen menyampaikan
pandangan optimisnya terkait industri perdagangan, khususnya yang menggunakan
jasa perusahaan transportasi peti kemas, di sisa 2024. Menurut dia, permintaan
di semester ke dua tahun ini lebih baik dibanding proyeksi awal. Terlepas
permasalahan di laut merah yang mengakibatkan lonjakan tarif pengiriman kontainer,
Hapag Lloyd memperkirakan penurunan pendapatan tahun ini disebabkan kenaikan
biaya terkait pengalihan perdagangan dari laut merah.
Untuk melalui rute di sekitar Tanduk Afrika
yang lebih panjang, membutuhkan lebih banyak bahan bakar. Selain biaya
tambahan, dikatakan oleh Sea Inteligence, pengalihan rute laut merah berpotensi
meningkatkan emisi karbon dioksida sebesar 260 % - 354 %. Akibatnya kapal
pengangkut laut yang berlayar ke Eropa bakal membayar kewajiban emisi lebih
tinggi dibawah Sistem Perdagangan Uni Eropa. (Yetede)
OXO Group Indonesia Siapkan Proyek di Bali Senilai 500 Miliar
OXO Group Indonesia, perusahaan pengembangan
dan manajemen properti butik yang berbasis di Bali, menyiapkan satu proyek
senilai Rp 500 miliar. “Pada uni 2024 nanti, kami berencana meluncurkan proyek
terbaru di daerah Nyanyi, Bali senilai 500 miliar. Proyek terbaru kami ini akan
mewakili gaya desain terbaru dan filosofi OXO Living yang menganut paham life
style real estate,” ujar Johanes Weissenbaeck, founder dan CEO OXO Group
Indonesia dalam keterangan tertulis baru-baru ini.
Lokasi proyek hunian terbaru ini terletak di
depan Nuanu City, sebuah proyek seluas 50 hektare yang akan menjadi The Next
Big Thing di Bali setelah Canggu dalam 2-3 tahun ke depan. “Dan nantinya semua
penghuni pryek hunian ini dapat menikmati semua fasilitas yang dimiliki Nuanu
City,” tambahnya. Johanes menjelaskan, masifnyapariwisata di Bali mendorong
pengembangan property di kawasan ini. (Yetede)
Cuan Terus dari Anggota Kompas 100
Saham-saham penghuni Indeks Kompas100 bergerak melaju. Pada pekan lalu, saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus rekor tertinggi sepanjang masa alias all time high (ATH), beberapa saham Kompas100 juga turut menyentuh rekor tertinggi baru. Jika dihitung dari awal Maret 2024, terdapat delapan emiten yang berhasil menyentuh ATH. Setengah dari saham penjebol rekor tersebut berasal dari sektor perbankan yang memiliki kapitalisasi pasar atau market caps terbesar di Indonesia. Sektor perbankan besar, memang terdorong euforia pembagian dividen. Kinerja emiten bank yang masih oke juga jadi alasan pelaku pasar memburu saham-saham ini. Tapi di luar sektor bank, ada beberapa saham lainnya yang juga unjuk gigi. Misalnya, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) yang sempat menyentuh ATH ke level Rp 1.810 pada perdagangan intraday 6 Maret 2024. Saham penghuni baru Indeks Kompas100, PT Sarana Mitra Luas Tbk (SMIL) juga menembus rekor tertinggi intraday pada 15 Maret 2024 ke Rp 184. Dua saham lainnya yang tembus ATH adalah PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) dan saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).
CEO Edvisor Profina Visindo Praska Putrantyo menilai, saham-saham emiten Kompas100 diwarnai sentimen positif terkait ekspektasi pemulihan kinerja fundamental dalam jangka panjang. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy menambahkan, ada beberapa pemicu yang membuat saham-saham Kompas100 menembus ATH. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer juga sepakat, kenaikan harga minyak di awal tahun ini menjadi sentimen positif bagi distributor BBM seperti AKRA. Di sisi lain, pencapaian rekor harga tertinggi baru juga disebabkan oleh adanya aksi akumulasi. Contohnya seperti yang terjadi pada saham SSIA. Pengamat Pasar Modal dan pendiri WH Project William Hartanto menemukan adanya akumulasi (aksi beli) besar di saham SSIA, yang terjadi di kisaran harga Rp 340. William misalnya, melihat koreksi saham SSIA masih aman selama harga bertahan di atas Rp 855. Sedangkan, Praska mencermati ada peluang buy on weakness di saham AKRA dengan target harga Rp 1.580–Rp 1.670. Lalu SMIL dengan target harga Rp 158–Rp 166 per saham, TPIA dengan target harga Rp 3.710–Rp 4.240, serta saham SSIA dengan target harga Rp 535–Rp 670 per saham.
Mewaspadai Kenaikan Beban Utang Indonesia
Pemerintah Indonesia tidak boleh lengah dengan posisi utang saat ini. Sebab, rasio pembayaran utang alias debt service ratio (DSR) Indonesia cenderung meningkat, meskipun masih dalam batas aman. Tapi, kenaikan DSR berarti beban membayar utang luar negeri (ULN) Indonesia kian tinggi. Tren utang Indonesia terus meningkat di tengah kinerja ekspor cenderung melandai. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan, ULN RI per Januari 2024 sebesar US$ 405,73 miliar, naik 0,04% secara tahunan year on year (yoy). Secara terperinci, ULN pemerintah tercatat US$ 194,4 miliar, tumbuh 0,1% yoy. Sementara ULN swasta periode tersebut sebesar US$ 196,7 miliar, turun 2,6% yoy. Di sisi lain, kinerja ekspor terus merosot yang membuat surplus neraca perdagangan turun. Pada periode Januari-Februari 2024, surplus neraca dagang tercatat US$ 2,87 miliar, turun 69,18% yoy. Dari data BI, DSR Indonesia pada tahun 2023 mencapai 17%.
Angka ini meningkat dari 2022 yang sebesar 16,57%. Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan, saat ini kemampuan Indonesia untuk membayar ULN secara umum dinilai masih cukup baik. Sebab, ada kemungkinan kinerja ekspor Indonesia akan semakin menyusut seiring dengan perlambatan ekonomi global. Setidaknya, pemerintah harus mewaspadai kinerja ekspor dari dua sisi. Ekonom Center of Reform on Economic (Core) Yusuf Rendy Manilet menilai, meskipun kinerja ekspor dalam tiga tahun terakhir mengalami peningkatan, namun belum sebanding dengan rasio utang terhadap ekspor yang belum turun signifikan. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemkeu) Febrio Kacaribu mengatakan, pemerintah akan terus memantau dampak perlambatan global terhadap ekspor nasional dan menyiapkan langkah antisipasi melalui dorongan terhadap keberlanjutan hilirisasi sumber daya alam (SDA). Juga, peningkatan daya saing produk ekspor nasional, serta diversifikasi mitra dagang utama.
Asing Masuk Rp 21 Triliun di Pertengahan Maret
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









