Ekonomi
( 40600 )”Guremisasi” dan ”Miskinisasi”
BPS merilis hasil Sensus Pertanian 2023 (ST2023) mengenai
jumlah usaha pertanian tahun 2023 yang sebanyak 29,36 juta unit. Berkurang 2,35
juta unit atau 7,42 % dibandingkan dengan hasil Sensus Pertanian 2013 (ST2013)
yang 31,71 juta. Dampak langsung dari penurunan jumlah usaha pertanian adalah
menurunnya penyerapan tenaga kerja di sektor ini. BPS mencatat, tahun 2013, sektor
pertanian menyerap 39.220.261 tenaga kerja atau berkontribusi 34,78 % terhadap
total penyerapan tenaga kerja nasional. Angka ini menurun di 2022 menjadi
38.703.996 tenaga kerja atau 28,61 % dari total penyerapan tenaga kerja
nasional. Menurunnya jumlah usaha pertanian yang berdampak pada menurunnya penyerapan
tenaga kerja disebabkan oleh banyaknya petani yang mengganti profesinya ke
bidang usaha lain atau ”pensiun” dan relatif sedikitnya muncul ”petani baru”.
Mayoritas petani di Indonesia adalah petani yang melakukan
usaha pertanian dengan penguasaan lahan pertanian kurang dari 0,5 hektar atau
dikenal sebagai petani gurem. Pada 2013, terdapat 14,25 juta rumah tangga
petani gurem. Proporsi rumah tangga petani gurem terhadap total rumah tangga
petani di Indonesia tahun 2013 sebesar 55,33 %. Kondisi ini memburuk pada 2023,
di mana jumlah rumah tangga petani gurem naik 18,49 % menjadi 16,89 juta rumah
tangga. Akibatnya, proporsi rumah tangga petani gurem juga meningkat menjadi
60,84 % pada 2023. Dengan jumlah petani gurem yang sangat besar, maka
transformasi usaha pertanian ke nonpertanian hanya menunggu waktu. Apalagi, di
2023, ketika jumlah petani gurem semakin meningkat.
Di Indonesia, pengangguran bukanlah kelompok terbesar dari
penduduk miskin, melainkan petani. BPS mencatat, pada 2023 sebesar 48,86 % rumah
tangga miskin mempunyai sumber penghasilan utama dari bertani, sementara yang
tidak bekerja hanya 12,07 %. Artinya, mayoritas orang miskin di Indonesia
merupakan pekerja keras, yang sekaligus merupakan elemen penting tercapainya Tujuan
Pembangunan Berkelanjutan (TPB) 2-4, tetapi berusaha dalam sistem bisnis yang
tak mendukung. Para petani gurem merupakan cerminan dari kemiskinan tersebut. Pemerintah
perlu mengkaji kriteria kemiskinan ini karena bisa menyebabkan bansos jadi
salah sasaran. Kenyataan menunjukkan bahwa pertanian bukan sektor yang menarik
untuk digeluti oleh anak muda karena menjadi petani hanya akan menjadi miskin
dan kelak melahirkan generasi-generasi miskin. (Yoga)
BERAS, Pasokan Naik, Warga Diimbau Tidak Panik
Pasokan gabah dan beras ke pasaran diprediksi meningkat
seiring meluasnya area panen padi hingga 1-2 bulan ke depan. Masyarakat diimbau
tidak panik dalam membeli barang kebutuhan pokok, khususnya beras, karena dapat
berdampak pada kenaikan harga. Stok beras di Jabar, salah satu sentra produksi
beras nasional, diperkirakan dalam kondisi surplus 50.000 ton selama Maret
2024. Produksi akan meningkat pada puncak panen raya yang diperkirakan terjadi
bulan depan. Pergeseran masa tanam membuat panen padi di Jabar meningkat dan
mencapai 1,27 juta ton pada April 2024. Kepala Dinas Tanaman Pangan dan
Hortikultura Jabar Dadan Hidayat memaparkan, produksi padi di Jabar diprediksi
mencapai 620.989 ton dalam bentuk gabah kering giling (GKG) pada Maret 2024.
Jumlah ini jauh lebih tinggi disbanding produksi pada Februari yang sebanyak 148.560
ton GKG, sementara pada Januari 2024 angkanya 243.362 ton GKG.
Menurut Dadan, selain pada volume produksi, fenomena El Nino
berdampak pada pergeseran masa tanam hingga 2-3 bulan. Akibatnya, masa tanam
dimulai pada Desember 2023 hingga Januari 2024. ”Secara kumulatif, pada Maret
2024, Jabar surplus hingga 50.000 ton. Memang ini cukup kecil. Namun, ini memastikan
masih ada kecukupan pangan. Potensi panen yang besar ada pada April 2024 karena
masa tanam bergeser jadi akhir tahun lalu dan Januari tahun ini,” ujarnya
seusai rapat pembahasan ketahanan pangan di Bandung, Jabar, Rabu (13/3). ”Dalam
kurun Oktober 2023 sampai 15 Februari 2024, ada 6.299 hektar lahan yang
terdampak bencana karena perubahan iklim. Namun, dari jumlah tersebut, yang
puso hanya 874 hektar. Jadi, kondisi awal tahun ini tidak dipengaruhi oleh bencana-bencana
tersebut,” ujarnya. Pj Gubernur Jabar Bey Machmudin mengatakan, stok pangan
yang dinilai aman ini diharapkan bisa menenangkan masyarakat. Dia mengimbau
warga untuk tidak panik saat bulan Ramadhan karena dapat berdampak pada
kenaikan harga. (Yoga)
RISIKO ANOMALI EKONOMI RAMADAN
Geliat konsumsi pada Ramadan tahun ini diprediksi penuh dengan tantangan. Bulan yang biasanya diiringi dengan melonjaknya permintaan, kali ini dibayangi oleh perubahan pola konsumsi. Bukannya tanpa alasan konsumen menunda belanja pada periode krusial ini. Besarnya pengeluaran untuk belanja pokok dan antisipasi membengkaknya pengeluaran pada mudik Lebaran sedikit mengerem konsumsi Ramadan. Ada dua faktor yang menjadi pemberat konsumsi masyarakat pada bulan ini. Pertama, mahalnya harga beras yang menjadi kebutuhan utama masyarakat. Bahkan, pemerintah baru-baru ini menaikkan harga eceran tertinggi (HET) beras premium dari Rp13.900—Rp14.800 per kilogram (kg) menjadi Rp14.900—Rp15.800 per kg berdasarkan zonasi. Kedua, naiknya tarif sejumlah ruas jalan tol yakni Jalan Tol Jakarta—Cikampek (Japek), Jalan Tol Serpong—Cinere, Jalan Tol Jombang—Mojokerto, hingga Jalan Tol Surabaya—Gresik. Tentu keduanya akan memberatkan masyarakat sehingga konsumsi pada bulan ini diestimasi tertahan. Terlebih, sebelum memasuki Ramadan ada aksi menahan pengeluaran dari konsumen. Hal itu tecermin dalam Survei Konsumen (SK) Bank Indonesia (BI) yang mencatat proporsi pengeluaran konsumsi terhadap pendapatan turun dari 74,6% pada Januari 2024 menjadi 73% pada Februari 2024. Asisten Gubernur Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, mengatakan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat, tecermin dari IKK Februari 2024 yang berada pada level 123,1. "IKE juga tetap terjaga didukung oleh optimisme pada semua komponen pembentuknya," katanya, Rabu (13/3). Pemerintah pun menyiapkan berbagai cara untuk menjaga stabilitas harga pada bulan puasa sehingga konsumsi yang menjadi mesin utama produk domestik bruto (PDB) mampu tumbuh maksimal. Persoalannya, terjadi ketidaksinkronan aksi dalam mengelola infl asi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah (Pemda).
Mengacu pada data Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), per kemarin ada 250 daerah yang belum melakukan operasi pasar sebagai upaya untuk menjaga stabilitas harga. Irjen Kemendagri Tomsi Tohir, dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Infl asi kemarin mengatakan ada banyak daerah yang tidak melaksanakan operasi pasar meski memiliki stok beras melimpah. Optimisme senada juga disampaikan Kementerian Perindustrian, yang juga berkomitmen untuk melakukan berbagai upaya bersama pemerintah terkait dalam rangka menjaga daya beli masyarakat. Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian Merrijantji Punguan Pintaria, mengatakan momentum Ramadan cukup potensial untuk mendongkrak kinerja industri. Sementara itu, kalangan pelaku usaha menyadari adanya perubahan pola konsumsi karena besarnya pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan pangan dan antisipasi membengkaknya biaya mudik. Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim) Triyono Prijosoesilo, mengatakan pengusaha akan mengerahkan sejumlah strategi seperti meningkatkan keterjangkauan produk, produksi minuman rendah kalori, hingga menjamin ketersediaan pasokan. Pelaku usaha pun memandang urgensi untuk menguatkan proteksi konsumsi sangat tinggi. Sebab menurutnya, tahun ini merupakan waktu yang tepat bagi industri minuman ringan untuk reboundpasca Covid-19 yang menurunkan penjualan hingga 40%—50%. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, mengatakan pemerintah harus mulai mendesain kebijakan untuk membantu kelas menengah yang selama ini belum tersentuh bantuan sosial. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky, menambahkan tantangan ekonomi yang masih muncul dari harga pangan yang masih tinggi akibat El-Nino. "Ini tentu cukup signifi kan dampaknya terhadap daya beli masyarakat," katanya.
Menjaga Daya Beli & Pengendalian Inflasi
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Inflasi pada Februari 2024 sebesar 2,75% secara year-on-year (YoY) yang ditunjukkan dengan naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, seperti makanan, minuman, dan tembakau hingga rekreasi dan budaya. Kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan tertinggi secara YoY pada Februari 2024, yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 6,36%, disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya (3,09%), penyediaan makanan dan minuman/restoran (2,38%), kesehatan (1,95%), rekreasi, olahraga, dan budaya (1,68%), pendidikan (1,55%), dan transportasi (1,40%). Selanjutnya, kelompok pengeluaran perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami kenaikan 1,13%, pakaian dan alas kaki (0,90%), perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga (0,57%). Sebaliknya, hanya kelompok pengeluaran informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang membukukan penurunan 0,13% pada Februari 2024 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Inflasi atau kenaikan harga ini dapat menjadi indikator mengenai daya beli konsumen, di mana kenaikan harga menunjukkan adanya peningkatan permintaan atau dengan kata lain konsumsi masih bertumbuh. Peningkatan permintaan ini tentu saja, salah satunya dipicu oleh bulan suci Ramadan dan menyambut Hari Raya Idulfitri, di mana menjadi kelaziman bahwa pedagang berharap adanya lonjakan permintaan.
Pasalnya, survei Indeks Kepercayaan Konsumen yang dirilis Bank Indonesia selaku otoritas moneter menunjukkan adanya tren penurunan belanja atau pengeluaran konsumsi di seluruh golongan pada Februari 2024. Situasi ini disebabkan oleh tingginya harga komoditas pangan yang membebani masyarakat sehingga memengaruhi pola konsumsi secara keseluruhan.
Operasi Tiktok di AS Terus Mendapat Ganjalan
DPR di AS, ketika berita ini ditulis, Rabu (13/3) tengah bersiap
menggelar pemungutan suara terkait masa depan media sosial Tiktok di AS. Diduga
kuat, DPR AS akan meloloskan ketentuan yang memaksa Bytedance, perusahaan induk
Tiktok di China, mendivestasikan aset mereka pada entitas di luar China. Waktu
yang diberikan hanya enam bulan. Apabila tidak mengindahkannya, Tiktok akan
dilarang digunakan di AS. Pemungutan suara akan dilakukan pukul 10.00 waktu
setempat. Untuk dapat disahkan, RUU itu membutuhkan dukungan dari dua pertiga
anggota DPR. Meskipun Tiktok gigih menggalang dukungan untuk menahan laju RUU
itu, para pihak, baik pendukung maupun penentang RUU itu, memprakirakan, ketentuan
itu bakal lolos di DPR. Komite Energi dan Perdagangan DPR pada pekan lalu
memberikan suara 50-0 untuk mendukung RUU tersebut.
RUU itu lahir dari kekhawatiran soal keamanan nasional AS
terhadap langkah asertif China, mulai dari isu mobil cerdas, kecerdasan buatan,
hingga media sosial. Selasa lalu, Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih Jake
Sullivan mengatakan, tujuan dari lahirnya RUU itu adalah untuk mengakhiri
kepemilikan oleh perusahaan China, bukan semata-mata melarang Tiktok. ”Apakah
kita ingin Tiktok, sebagai sebuah platform, dimiliki oleh perusahaan AS atau
dimiliki oleh China? Apakah kita ingin data dari Tiktok, data anak-anak, data
orang dewasa, tetap ada di sini, di AS, atau pergi ke luar negeri? China?” kata
Sullivan.
Secara resmi, ketentuan itu dikenal sebagai ”UU Perlindungan
Orang AS dari Aplikasi yang Dikendalikan Musuh Asing”. China mengancam sikap
dan langkah AS. Menurut China, pada akhirnya larangan itu justru akan berdampak
buruk dan merugikan AS. Kecaman keras China tersebut disampaikan oleh juru bicara
Kemenlu China, Wang Wenbin, Rabu (13/3) di Beijing, China. ”Meskipun AS tidak
pernah menemukan bukti bahwa Tiktok mengancam keamanan nasional AS, mereka
tidak berhenti menekan Tiktok,” kata Wang. Saat ini, aplikasi video pendek itu
digunakan 170 juta orang di AS. Ini menjadikan Tiktok salah satu media sosial dengan
jumlah pengguna terbanyak di negara itu. Namun, Fraksi Partai Republik dan
Partai Demokrat di DPR AS berpendapat, kepemilikan perusahaan itu dinilai
memiliki potensi atau menimbulkan risiko terhadap keamanan nasional AS. (Yoga)
Menghadapi Generasi Pesimistis
Inilah kisah di China ketika anak muda berebut lowongan pekerjaan. Malam sebelum ujian pegawai negeri China, Melody Zhang (24) belajar sambil berjalan mondar-mandir dengan cemas. Barulah saat masuk ke dalam ruangan ujian keesokan harinya, dia menyadari sudah menangis seharian. Zhang sangat berharap bisa bekerja di lembaga pemerintah setelah 100 berkas lamaran kerjanya untuk industri media ditolak. Sayangnya, impian itu pun kandas. Bukan hanya Zhang yang gagal menjadi pegawai negeri karena peminatnya sampai 2,6 juta orang. Padahal, lowongan yang tersedia hanya 39.600 posisi. Jumlah peminat 2,6 juta orang ini mencatat rekor di tengah krisis kemiskinan yang dialami anak muda (Kompas.id, 11/3/2024). Setidaknya 20 % dari 100 juta warga China berusia 16-24 tahun menganggur pada Juni 2023.
Pengumuman ini ditarik dan kemudian muncul pernyataan baru yang menyebutkan bahwa data itu tidak memasukkan mahasiswa dan menyebutkan pengangguran anak muda mencapai 14,9 % pada Desember 2023. Angka-angka ini sebenarnya berkorelasi dengan pertumbuhan ekonomi China yang tidak lagi tinggi sehingga penyediaan lapangan pekerjaan tidak memadai. Mereka yang bekerja pun tidak memperoleh pendapatan yang layak karena turun 1,3 % dibandingkan tahun lalu. Tak mengherankan jika mereka disebut generasi paling pesimistis. Fenomena ini tidak hanya terjadi di China, tetapi juga di AS dan Indonesia. Mereka adalah generasi yang sulit mendapatkan pekerjaan, sulit untuk membeli properti, dan tak mudah untuk mendapatkan akses pendidikan yang bermutu.
Tekanan hidup mereka sangat berat dan mendalam. China memahami hal ini. Saat ini, mereka tengah mencari sumber pertumbuhan baru. Target pertumbuhan saat ini, yaitu 5 %, hanya sekadar untuk menjaga lapangan pekerjaan. Mereka bercita-cita memiliki pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi lagi untuk menyelesaikan masalah tenaga kerja. Dalam Kongres Rakyat Nasional (NPC) tahunan awal Maret lalu, China telah mengumumkan, salah satu cara menyelesaikan masalah saat ini adalah dengan membangun industri yang penting bagi daya saing masa depan, antara lain kecerdasan buatan hingga eksplorasi ruang angkasa. (Yoga)
Emiten Bahan Baku Mulai Menggeliat
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,53% ke posisi 7.421,20 Rabu (13/3). IHSG sempat menembus level tertinggi (all time high) di 7.441,61. Saham di sektor barang baku (basic materials) jadi motor penggerak lonjakan IHSG. Saham barang baku melaju paling kencang dengan penguatan harian indeks sektoral mencapai 2,61%. Barisan saham emiten berskala jumbo dari bidang usaha tambang logam mineral (nikel, tembaga dan timah), kimia, kertas dan baja kompak melaju. Sekadar contoh, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang menguat 3,28% dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang naik 3,51%. Duo Grup Barito di industri kimia, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) kompak melompat 1,49% dan 11,66%. Emiten kertas PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan emiten baja PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) turut melesat, naik 2,10% dan 6,25%. Sebelumnya, saham emiten emas telah melaju cukup kencang. Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih mengamati akselerasi saham sektor barang baku terdongkrak kenaikan harga komoditas tambang global, seperti nikel yang kembali rebound setelah setahun terakhir mengalami koreksi. Sementara itu, ketidakpastian global turut memoles permintaan emas sebagai aset safe haven.
Research Analyst Reliance Sekuritas Indonesia, Ayu Dian menambahkan perkembangan industri Artificial Intelligence (AI) akan turut menggairahkan kembali permintaan dan harga komoditas logam dan mineral. Pasalnya, industri AI sangat memerlukan semikonduktor yang bahan bakunya berasal dari komoditas tambang mineral. Sedangkan Equity Research Analyst Panin Sekuritas, Felix Darmawan menyoroti rilis data inflasi China bulan Februari 2024 yang berada di atas estimasi konsensus. Menjadi salah satu tanda perbaikan ekonomi China yang sebelumnya menghadapi tantangan deflasi sejak September 2023. "Ada indikasi pulihnya ekonomi China dan menggeliatnya aktivitas industri," ujar Felix ke KONTAN, Rabu (13/3). Head of Research Mega Capital Sekuritas, Cheril Tanuwijaya mengingatkan, pelaku pasar perlu selektif memilih saham dan menentukan momentum. Dia menyoroti emiten petrokimia yang berpotensi profit taking usai naik signifikan. Sedangkan emiten komoditas yang kinerjanya tertinggal seperti nikel dan emas, masih berpotensi kembali melaju.
Menkeu dan Menhub Bahas Moda Transportasi IKN
Pebisnis Tolak Wajib Kunci Valas Ekspor Tiga Bulan
Saham Big Caps Unggulan Bursa Cetak Rekor
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak rekor tertinggi sepanjang masa alias all time high. Rekor itu terjadi di perdagangan Rabu (13/3) yang menyentuh 7.441,61. Meski setelah itu melandai, IHSG mampu bertahan di atas level 7.400 hingga akhir perdagangan Rabu (13/3). IHSG ditutup menguat 0,53% atau naik 39,30 poin ke level 7.421,20. Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, Miftahul Khaer menjelaskan, penguatan IHSG beberapa hari ini tidak terlepas dari menguatkan mayoritas bursa saham di kawasan Asia dan global. Selain itu, data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia pada Februari 2024 berada di level 123,1. Ini masih menjadi pertanda masyarakat Indonesia masih cukup optimistis terhadap kondisi ekonomi. Sentimen lain, pengumuman pembagian dividen bank pelat merah serta emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lainnya, termasuk PT Bukit Asam Tbk (PTBA). "Ini menambah antusias pelaku pasar," kata dia kepada KONTAN, Rabu (13/3).
Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas juga melihat, penguatan IHSG didorong euforia pembagian dividen emiten. Saham-saham dengan kapitalisasi besar atau big caps juga menjadi mendorong pergerakan IHSG. Dorongan terbesar penguatan IHSG berasal dari entitas Grup Barito, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), TPIA menguat 11,7% ke level Rp 6.225 per saham dan menyentuh all time high. Dengan kapitalisasi pasar senilai Rp 539 triliun, TPIA menyumbang 20,69 poin terhadap pergerakan IHSG. Selain TPIA, menyusul saham Bank Mandiri Tbk (BMRI) berkontribusi 13,67 poin. Kemudian ada PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang masing-masing menyumbang 8,5 poin dan 5,82 poin. Investment Consultant Reliance Sekuritas, Reza Priyambada melihat, kinerja sejumlah emiten saham milik Prajogo Pangestu masih menarik.Namun dalam beberapa waktu terakhir, di saat harga saham emiten milik Prajogo sedang menguat, malah mendapat teguran dari otoritas BEI. Secara umum, sejumlah saham big caps tetap menarik dicermati. Reza menjagokan BBCA dengan target harga Rp 11.150, BBRI dengan target Rp 7.250, BREN di harga Rp 7.250, AMMN di RP 8.900 dan TLKM di harga Rp 4.500.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









