Ekonomi
( 40465 )Lebaran di Jakarta, Yuk Nikmati Pesona Pulau Pari
Pulau Pari di Kepulauan Seribu menjadi destinasi wisata
favorit warga Jabodetabek selama libur Lebaran. Pesona keindahan pantai pasir
putih, hutan bakau, hingga biota laut memikat wisatawan untuk datang ke pulau di
utara Jakarta itu. Setelah berlayar dua jam dari Pelabuhan Muara Angke,
Jakarta, wisatawan tiba di Pulau Pari, Minggu (14/4). Panas matahari yang terik
tak menghalangi kegembiraan para turis lokal itu. Pemandu wisata segera menyambut
dan membawa wisatawan ke homestay milik warga setempat, lalu mereka meluncur ke
Pantai Pasir Perawan. Mereka tersihir pesona pantai pasir putih yang bersih
dengan pemandangan bahari dan embusan angin yang menyejukkan. Anak-anak pun
hanyut bermain pasir di tepi pantai itu.
Ahmad Hanafiah (65), wisatawan asal Bogor, Jabar, menikmati
pesona Pulau Pari bersama keluarga besarnya, yakni istri, anak-anak, dan cucu-cucunya.
”Pulau Pari ini cukup bagus dan harganya sangat terjangkau,” kata Ahmad. Liburan
ke Pulau Pari memang sangat bersahabat bagi keluarga besar. Paket perjalanan Rp
350.000 per orang untuk liburan selama dua hari satu malam. Meskipun jumlah mereka
11 orang, harga itu masih bersahabat. Mereka mendapat paket pelesiran mengitari
sejumlah destinasi wisata di Pulau Pari, mulai dari bermain di Pantai Pasir
Perawan, Bukit Matahari, hingga Tanjung Rengge. Mereka juga bisa menikmati pengalaman
selam permukaan (snorkeling) hingga olahraga air seperti banana boat. Harga tersebut
sudah termasuk penginapan di homestay, makan tiga kali sehari, serta barbeku di
pinggir pantai.
Wisata di Pulau Pari, kata Ahmad, sangat memesona, harga
terjangkau, dan dekat dari Jakarta. Meski demikian, dia berharap pengelola
wisata di Pulau Pari meningkatkan kebersihan. Wisatawan yang cukup ramai
menjadi berkah Lebaran bagi warga lokal di Pulau Pari. Hampir semua penginapan milik
warga di pulau seluas 42 hektar itu penuh selama musim libur Lebaran karena sudah
dipesan wisatawan. Harga rata-rata paket trip (wisata) di Kepulauan Seribu Rp
350.000 per orang. Ada juga paket Rp 1 juta per orang. Bedanya, paket yang
lebih murah menggunakan kapal kayu dari Pelabuhan Muara Angke dan yang lebih
mahal menaiki kapal cepat dari Pelabuhan Marina Ancol. ”Harganya sama saja
dengan hari-hari biasa. Kami tidak aji mumpung mentang-menang lagi libur
Lebaran,” kata Reyhan, pengusaha lokal yang menyulap rumahnya menjadi homestay.
(Yoga)
Antisipasi Dampak Rupiah dan Minyak
Perekonomian dalam negeri kembali menghadapi tekanan akibat
terus melemahnya nilai tukar rupiah, menembus Rp 16.000 per USD, dan naiknya
harga minyak mentah. Pelemahan nilai tukar juga dialami mata uang banyak negara
lain, hal ini terkait erat dengan kebijakan suku bunga ditingkat global. Langkah
bank sentral AS, The Fed, mempertahankan suku bunga acuan di level 5,25-5,50 %,
sejalan dengan kondisi ekonominya. Komite Pasar Terbuka Federal menyatakan
pihaknya akan melakukan tiga kali penurunan bunga acuan tahun ini, masing-masing
25 basis poin dalam rangka menekan inflasi ke 2 %. Ketua The Fed tak menutup
kemungkinan bunga acuan akan dipertahankan selama mungkin. Ketidakpastian kapan
The Fed memangkas bunga acuan membuat tekanan pelemahan rupiah belum berakhir
Melemahnya rupiah juga dipicu meningkatnya kebutuhan Dollar
AS, untuk pembayaran dividen maupun impor BBM dan pangan, yang sifatnya
musiman. Dibanding negara Asia lain, pelemahan rupiah relatif terkendali. Kurs
rupiah saat ini juga dinilai sesuai nilai fundamentalnya. Cadangan devisa 140
miliar USD cukup solid, memadai untuk menutup 6,4 bulan impor. Namun, pelemahan
rupiah yang menembus level psikologis baru bisa memicu sentimen negatif yang
dapat kian menekan rupiah. Pelemahan rupiah membuat beban utang dalam dollar AS
pun meningkat. Kurs rupiah juga memengaruhi inflasi dalam negeri melalui barang
yang diimpor sehingga berdampak ke daya beli masyarakat, fiskal, dan
perekonomian secara keseluruhan.
Karena itu, kalangan pengamat mengingatkan pentingnya mengantisipasi
dampak ini. Apalagi, melemahnya rupiah terjadi berbarengan dengan terus naiknya
harga minyak mentah dan masih tingginya harga pangan dunia. Ini pukulan ganda bagi Indonesia sebagai importir neto minyak
dan negara yangmasih sangat tergantung pada energi fosil dan pangan impor. Harga
Brent dan WTI mendekati 100 dollar AS per barel, dan bukan tidak mungkin
kembali menyentuh 120-130 dollar AS per barel jika eskalasi konflik di Timur
Tengah sampai mengganggu jalur logistik penting minyak. Pemerintah menyatakan
harga BBM tak akan naik sampai Juni 2024.
Jika kenaikan harga minyak mentah global berlanjut, bukan tidak
mungkin Indonesia dipaksa melakukan penyesuaian harga BBM dalam negeri, dengan
konsekuensi pembengkakan subsidi energi apabila harga BBM bersubsidi
dipertahankan. Pemerintah kemungkinan harus menambah belanja sosial guna
melindungi kelompok rentan dari imbas kenaikan harga dan menerapkan kebijakan
pengendalian konsumsi BBM. Mengakhiri ketergantungan yang terlalu besar pada
komponen, barang jadi, dan pangan impor, serta mempercepat transisi energi
fosil ke energi baru terbarukan yang potensinya melimpah di dalam negeri akan
memperkuat resiliensi Indonesia menghadapi tekanan serupa di masa mendatang (Yoga)
Harga Minyak Menuju Keseimbangan Baru
Eskalasi konflik di Timur Tengah dengan serangan udara Iran
ke Israel pada Minggu (14/4) berpotensi mendongkrak harga minyak dunia. Jika
eskalasi berlanjut, harga minyak dunia bisa menembus 100 USD per barel. Iran
melakukan serangan udara selama beberapa jam terhadap Israel pada Sabtu (13/4)
tengah malam hingga Minggu (14/4) pagi. Pemerintah Iran menyatakan, serangan
itu merupakan balasan atas serangan Israel terhadap konsulat Iran di Damaskus
pada 1 April 2024. Meski serangan Iran telah berhenti pada Minggu pagi, risiko
eskalasi konflik sangat terbuka. Situasi memanas penuh ketidakpastian ini berpotensi
menimbulkan dampak negatif terhadap perekonomian global. Dampak langsung yang
sudah terjadi adalah kenaikan harga minyak dunia yang biasanya akan diikuti
kenaikan harga komoditas lainnya.
Baru sebatas kabar tentang potensi Iran menyerang Israel
beredar pada Jumat (12/4) saja, harga minyak dunia sudah melonjak. Mengutip
data situs pencatat basis data ekonomi dan komoditas, Refinitiv, harga minyak
Brent pada penutupan perdagangan per Sabtu (13/4) mencapai 90,45 USD per barel,
tertinggi sejak 20 Oktober 2023 atau enam bulan terakhir. Harga ini melampaui
asumsi rata-rata Indonesia Crude Price (ICP) yang ditetapkan pada APBN 2024
senilai 82 USD per barel. Administrasi Informasi Energi AS dalam prospek energi
bulanan jangka pendeknya memperkirakan harga minyak mentah Brent rata-rata
88,55 USD per barel tahun ini, naik dari perkiraan sebelumnya senilai 87 USD
per barel.
Kenaikan ini mencerminkan ekspektasi kuatnya penarikan persediaan
minyak global pada triwulan I-2024 dan risiko geopolitik yang sedang berlangsung.
Prospek ini dirilis per 9 April atau sebelum serangan udara Iran ke Israel.
Artinya, bisa saja perkiraannya dalam prospek berikutnya akan direvisi naik lagi.
Mengutip CNBC, Presiden Rapidan Energy dan mantan pejabat energi senior di pemerintahan
Bush, Bob McNally, menyatakan, harga minyak mentah jenis Brent bisa melonjak
hingga 100 USD per barel jika Iran langsung menyerang Israel. Jika eskalasi menyebabkan
gangguan di Selat Hormuz, harga bisa melonjak hingga 120 USD atau 130 USD per barel. (Yoga)
Masyarakat Sipil Gugat Eksploitasi Benih Lobster
Berbagai kalangan dari masyarakat sipil menggugat kebijakan
eksploitasi benih bening lobster (puerulus) yang ditetapkan Kementerian
Kelautan dan Perikanan (KKP). Pemerintah menetapkan kuota benih bening lobster
yang boleh dieksploitasi dan diekspor sebanyak 419.213.719 ekor atau 90 % dari
estimasi stok benih. Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Busyro Muqoddas
menilai kebijakan ekspor benih bening lobster yang dibuka kembali menunjukkan minimnya
akuntabilitas pemerintah. Penetapan potensi benih dan kuota tangkapan benih menggunakan
basis data yang sepihak dari pemerintah, tanpa melibatkan unsur masyarakat sipil,
LSM yang pro nelayan dan pembudidaya, serta akademisi. Publik sulit diharapkan
percaya dengan penjelasan pemerintah karena akurasi dan validitasnya tidak bisa
dipertanggung jawabkan.
Busyro menilai persoalan ekspor benih bening lobster pernah
disikapi dengan baik oleh pemerintah melalui kebijakan larangan ekspor benih pada
2015-2019. Namun, dibukanya kembali kebijakan ekspor benih bening lobster pada
tahun ini secara tidak transparan, sepihak, dan tanpa ada kesempatan masyarakat
untuk memberikan data komparatif menunjukkan langkah mundur. ”Demokratisasi
seharusnya dilakukan dalam bentuk kebijakan-kebijakan publik. Namun yang
terjadi proses demokrasi sudah sekarat. Publik sangat patut meragukan kebijakan
benih bening lobster,” ujar Busyro, yang juga Ketua Komisi KPK periode
2010-2011, pada Minggu (14/4).
Direktur Eksekutif Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan
Abdul Halim mengemukakan, dibukanya penangkapan benih bening lobster besar-besaran
untuk tujuan ekspor merupakan paradoks kebijakan perikanan serta bertolak
belakang dengan target yang diusung pemerintah untuk menjadikan Indonesia
sebagai sentra lobster dunia. Sementara jutaan pembudidaya lobster
menggantungkan hidupnya dari ketersediaan benih bening lobster. ”Usaha
pembesaran lobster di Indonesia akan kalah bersaing dengan aktivitas eksploitatif
benih bening lobster yang disponsori pemerintah. Eksploitasi benih lobster juga
mengancam kesejahteraan nelayan penangkap benih dalam jangka panjang,” kata
Halim. (Yoga)
Saat Liburan, Banyak Warga Beli Kebutuhan Harian Melampaui Anggaran
Musim liburan menjadi kesempatan banyak orang untuk piknik dan
membelanjakan uangnya. Banyak di antaranya menghabiskan dana di luar prediksi
atau anggaran yang tersedia. Survei YouGov di 17 negara pasar internasional
menemukan konsumen secara umum membeli kebutuhan harian, termasuk pangan dalam
jumlah banyak melampaui anggaran saat liburan, 22 % responden di 16 negara menyatakan
demikian. Survei dilakukan pada warga usia 18 tahun ke atas di 16 negara pasar
internasional dengan jumlah sampel bervariasi, 500 responden hingga 2.001
responden setiap negara. Survei dilakukan secara daring pada November
2023 dan dipublikasikan Februari 2024.
Sebanyak 17 % responden membelanjakan dana melebihi anggaran
untuk pemberian hadiah. Anggaran yang berlebih juga muncul pada aktivitas makan
di luar (16 %), biaya perjalanan (16 %), dan biaya sosialisasi (10 %). Kanada
dan Jerman menjadi negara dengan jumlah responden tertinggi yang membelanjakan
kebutuhan harian saat liburan melebihi anggaran. Sebanyak 27 % responden
melakukannya. Warga Indonesia yang membelanjakan kebutuhan harian melebihi
anggaran di musim liburan mencapai 22 %, sama dengan rata-rata dunia, tetapi
tertinggi di kawasan Asia yang disurvei, melebihi Singapura dan India yang
masing-masing 20 %.
Meski banyak warga yang menghabiskan anggaran untuk kebutuhan
harian melebihi anggaran, 35 % responden menyatakan tetap ketat mengatur
belanja pangan dan kebutuhan harian dan 35 % responden lainnya menyatakan
membelanjakan makanan dan kebutuhan harian di bawah anggaran. Belanja paling
irit dilakukan penduduk India. Di luar 20 % responden yang belanja makanan dan
kebutuhan harian melebihi anggaran, terdapat 50 % responden negara itu yang
belanja di bawah anggaran. Secara khusus, survei YugGov menunjukkan hampir
separuh atau 48 % responden Tanah Air menyatakan akan berbelanja makanan dan
minuman lebih banyak pada Lebaran 2024 dibandingkan tahun lalu. Sebanyak 37 %
berbelanja sama dengan tahun lalu dan 6 % berbelanja lebih sedikit dibanding
tahun lalu.
Survei dilakukan pada 2.136 responden di Indonesia usia 18 tahun
ke atas pada Januari 2024. Adapun responden yang menghabiskan dana untuk
fashion dan pakaian lebih besar dibandingkan tahun lalu mencapai 33 %. Artikel
YouGov berjudul, ”Holiday Shopping in Indonesia: How Consumers Find What to Buy
and How Early Most Start Their Shopping” berdasarkan survei pada November 2023
menemukan 79 % warga Indonesia berbelanja pada bulan liburan berlangsung, meliputi,
21 % konsumen berbelanja 3-4 minggu sebelum liburan, 34 % berbelanja 1-2 minggu
sebelumliburan dan 24 % berbelanja pada pekan perayaan berlangsung. Kebanyakan
konsumen mendapatkan ide berbelanja dari media sosial, 52 % responden. (Yoga)
Sudah Jatuh Tertimbun Beras
Sore itu, Senin (8/4) Herianto (48) mengendarai sepeda motor
menuju Balai Desa Belanti Siam, Pulang Pisau, Kalteng, untuk berbuka puasa
bersama petani lain. Setelah berbuka, semua berencana tarawih bersama. Saat
melihat sawahnya yang berisi jerami pascapanen berserakan, Herianto menghentikan
sepeda motornya. Ia bahkan sujud syukur di pematang sawah atas hasil panen yang
diberikan tahun ini. Sawah seluas 2 hektar miliknya itu mampu menghasilkan 10
ton gabah kering giling (GKG). Dari tiap hektar ia bisa mendapatkan 4 ton lebih
GKG, dua kali lipat panen normalnya selama ini. Ungkapan syukur juga diutarakan
petani-petani lain, termasuk Kelompok Tani Sido Mekar, tempat Herianto
bernaung. Semuanya punya cerita sukses panen luar biasa.
Ada yang menghasilkan 5 ton per hektar, ada yang 5,5 ton per
hektar, bahkan ada sawah yang dikunjungi para pejabat daerah untuk menjadi
penanda kesuksesan mereka. Panen raya dihadiri Wagub Kalteng Edy Pratowo, Senin
(1/4). Bangganya mereka, sawah yang berjarak 150 km dari Palangkaraya itu
didatangi pejabat, tapi ada yang mengganjal di hati mereka. ”Sebenarnya kasihan
petani, pas panen lagi bagus gini harga gabah malah anjlok,” ujar Herianto. Harga
gabah anjlok, bahkan dua kali. Pertengahan Maret, harga gabah kering turun dari
Rp 8.500 per kg menjadi Rp 7.200 per kg. Kini harga gabah tersungkur menjadi Rp
5.500 per kg. Sudah mendekati Lebaran, lanjut Herianto, harga gabah tak kunjung
merangkak naik.
Bagi dia, hasil panen yang baik sudah cukup untuk menambah kegembiraan Ramadhan. ”Meski anjlok, gabahnya, ya, tetap saya jual, mau enggak mau. Berapa saja harganya, itu untuk kebutuhan hidup, sekolah, dan lain-lain. Kalau Lebaran, ya, gini-gini aja udah alhamdulillah,” kata Herianto. Pujiaman dari Kelompok Sido Mekar juga demikian. Ia tak marah, apalagi mengeluh, saat harga gabah anjlok. ”Pasti harganya enggak pernah stabil,” ucapnya. Pujiaman menyebutkan, ”Kalau belum rugi dan gagal panen, belum petani Indonesia.” Dengan harga yang anjlok kerugian tidak bisa dihindari. Apalagi Herianto dan Pujiaman tidak mendapat jatah pupuk bersubsidi. Mereka mengeluarkan uang Rp 340.000 per 100 kg pupuk.
Untuk 1 hektar lahan ia membutuhkan empat sampai enam kali pemupukan dengan total lima sampai enam karung pupuk berukuran 100 kg tersebut. Ia menghabiskan Rp 10 juta hanya untuk pupuk, belum termasuk biaya lain. Herianto dan Pujiaman bahkan harus meminjam uang di bank untuk bisa menanam padi dan menyiapkan lahan. Untuk membeli pupuk, obat-obatan, dan benih padi yang ia inginkan. ”Semoga bisa untuk nyaur utang dan nabung kuliah anak,” kata Pujiaman. Ironisnya, saat harga gabah anjlok, harga beras justru mahal. Di Pulang Pisau, beras berjenama Pangkoh dijual Rp 18.000 per liter dari yang sebelumnya Rp 13.000. Lalu, harga beras Mayang Super Rp 22.000 per liter naik pada awal Februari menjadi Rp 25.000 per liter sampai saat ini. (Yoga)
Dari Nasi Bungkus hingga Snorkeling Laris Manis di Gili Trawangan
Saat libur Lebaran dan awal musim ramai wisatawan
mancanegara, kunjungan ke Gili Trawangan di Desa Gili Indah, Lombok Utara, NTB,
menggeliat. Semua kecipratan rezeki. Nasi bungkus, sepeda, dan paket snorkeling
laris manis. ”Lauknya ada ikan dan ayam. Satu bungkus Rp 10.000 saja,” kata
Maemunah (65) saat seorang pembeli menanyakan nasi bungkus yang dijualnya pada
Sabtu (13/4). Sebagian besar pembelinya memilih duduk di area lapang di bawah
rindang cemara laut. Kelezatan nasi hangat dengan lauk ikan tongkol atau ayam,
sedikit mi goreng, dan potongan kacangan panjang berlipat dengan suguhan di
depan mata mereka. Pasir putih nan lembut berpadu dengan ombak tenang, air laut
sebening kaca menyambung dengan laut biru yang lebih gelap di tengah dan berakhir
di deretan perbukitan di Lombok daratan.
Jika sarapan lebih pagi, di sisi timur terlihat jelas Gunung
Rinjani, favorit para pendaki dalam dan luar negeri. Sebagian yang berlibur ke
Gili juga ada yang baru turun dari Rinjani. ”Kemarin saya dapat Rp 1 juta dari
hasil jualan nasi bungkus dan minuman. Alhamdulillah, meningkat dari
sebelumnya, Rp 600.000 sampai Rp 700.000 per hari,” kata Maemunah, yang selama
bulan Ramadhan libur berjualan. ”Minat sepeda banyak sekali, terutama wisatawan
lokal. Ada juga wisatawan mancanegara. Mereka menyewa sehari, ada juga dua
hari,” kata Najamudin (46), yang menyewakan sepeda per hari Rp 50.000. Menurut
Najamudin, seminggu terakhir rata-rata tempat penyewaan sepeda laris manis.
Hampir semua unit sepeda mereka habis disewa. ”Saya punya
tujuh unit, tinggal satu unit lagi. Padahal, ini masih pagi,” kata Najamudin. Ia
menambahkan, kondisi di Gili memang sudah semakin membaik dalam dua tahun terakhir.
Sebelumnya, Gili ikut terdampak pandemi Covid-19. Selain dari Pelabuhan Bangsal,
wisatawan yang datang ke Gili juga bisa menggunakan kapal cepat dari sejumlah
titik di Bali. Mereka biasanya menginap beberapa hari hingga lebih dari satu
minggu. ”Rata-rata satu kapal cepat datang membawa 100 penumpang. Kalau
ditotal, bisa lebih dari 1.500 wisatawan sehari. Jumlah wisatawan lokal dalam seminggu
terakhir sekitar 500 orang per hari,” kata Najamudin.
Kondisi itu berdampak pada berbagai sektor usaha jasa pariwisata
terkait. Tidak hanya akomodasi, tetapi juga aktivitas perairan yang juga jadi daya tarik Gili,
seperti snorkeling dan menyelam. ”Seluruh kamar kami penuh. Open trip
snorkeling juga ramai,” kata Wahab (28), pegawai Gili Gili Hotel sekaligus penyedia
paket snorkeling. Selain di area pantai dengan menyewa peralatan, tersedia juga
layanan open trip snorkeling ke sejumlah tempat di kawasan Gili. Setiap orang
dikenai tarif Rp 150.000, sudah termasuk peralatan dan pemandu, juga ke
beberapa titik snorkeling favorit di kawasan Gili. Beberapa di antaranya area
patung bawah laut dan titik penyu. Pada Sabtu siang terlihat para peserta open
trip snorkeling begitu antusias, baik wisatawan dalam negeri maupun
mancanegara. (Yoga)
Pilu dan Tawa di Balik ”Wisata Macet”
Daya Tarik kawasan wisata Puncak di Kabupaten Bogor hingga
Kabupaten Cianjur, Jabar, tak pernah memudar. Wisatawan berbondong-bondong
mengunjungi kawasan itu meski harus merasakan kemacetan dan tertahan karena
aturan sistem satu arah. Di balik derita ”wisata kemacetan” di kawasan Puncak,
ternyata membawa berkah bagi sejumlah warga setempat. Fania Oktaviani (27) menimang
anaknya laki-lakinya yang gelisah dan menangis dan menyerahkannya kepada sang
suami, Yudi (31). ”Kami sudah terjebak di sini sejak pukul 14.00. Sekarang
sudah hampir pukul 22.00. Anak dari tadi siang sudah rewel karena one way
enggak selesai-selesai,” ujar Yudi, warga Depok, Sabtu (13/4) malam. Yudi sudah
mengingatkan istrinya agar tidak ke kawasan Puncak karena macet. Namun, Fania
tetap ingin ke Puncak karena sudah janji dengan kakak, keponakan, dan ibunya. Sebuah
vila telanjur disewa untuk menghabiskan waktu libur di akhir pekan.
Cornelis Galuh (34) dan adiknya, Vincent (31), warga Jakarta,
tak bisa menutupi wajah letih karena tertahan sekitar delapan jam di sisi ruas
Jalan Tol Jagorawi. ”Ini sudah di luar wajar. Biasanya paling lama tiga jam, belum
lagi jalan ke atas pasti kejebak macet lagi,” kata Galuh kesal. ”Keluarga dari
Bandung sudah tiba di vila (Sabtu) sore. Kami masih di sini sampai malam,” kata
Vincent yang kapok berwisata ke Puncak di saat musim libur. Kekesalan serupa
juga dirasakan warga Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, salah satunya Risa
(32). Ia dan keluarga berniat bersilaturahmi ke rumah kerabat di Cianjur. Namun,
karena lalu lintas padat, Risa memilih di rumah saja.
Di balik kemacetan hingga tertahannya kendaraan karena sistem
satu arah, ternyata mendatangkan berkah dan sumber rezeki bagi para pedagang
kecil. Trisno (45) selama tiga hari terakhir, dagangan aneka makanan dan minuman
di warung miliknya yang berukuran 2 x 3 meter, laris manis. Pengunjung silih berganti
datang berbelanja. Pada hari biasa, omzet dagangan Trisno paling banyak Rp
150.000 per hari. Namun, melonjaknya kunjungan wisatawan di Puncak membuat
omzetnya bisa mencapai Rp 250.000 hingga Rp 300.000 per hari. ”Ada rezeki dari
macet ini. Jarang-jarang dapat segini, malam biasa sepi yang beli. Ini ada saja
yang datang beli. Bisa sampai lebih dari Rp 250.000,” ujarnya sambil tertawa.
Kemacetan di jalan akses menuju Puncak tak terelakkan akibat
kepadatan kendaraan. Kepolisian memberlakukan sistem satu arah pada Minggu (14/3)
pukul 11.00 untuk mengalirkan arus kendaraan dari Puncak menuju Gadog atau
Jakarta. Rekayasa lalu lintas masih dilakukan hingga Selasa (16/4). Berdasarkan
data TMC Polres Bogor pada Minggu pukul 13.00, ada 28.866 kendaraan yang
melintasi Puncak menuju Gadog atau Jakarta. Sementara dari arah Gadog menuju
Puncak mencapai 30.539 kendaraan. Total kendaraan yang melintas di jalur Puncak
itu sebanyak 59.405 kendaraan. Sepeda motor mendominasi, yakni 44.782
kendaraan. Total mobil mencapai 13.723 kendaraan. Sisanya bus dan truk sebanyak
900 kendaraan. (Yoga)
Wahai Petani, Musim Tanam Sudah Bergeser Jauh
Goris Takene (48) memetik satu per satu buah jagung di kebun
miliknya di Kelurahan Bello, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, NTT, Senin (8/4)
pagi. Jagung yang ia panen di lahan seluas 4.000 meter persegi itu lolos dari
bencana gagal tanam yang menimpa ribuan petani di NTT. Jagung yang baru dipanen
itu ditanam oleh Goris pada 16 Januari 2024 atau mundur jauh dibandingkan
tahun-tahun sebelumnya. Saat menanam, ia seperti berjudi sebab hanya memanfaatkan
hari hujan yang tersisa. Setelah membeli benih Rp 95.000 per kg, ia coba menanam
di tanah yang disesaki hamparan batu karang itu. Ia tak berharap banyak karena
sudah banyak petani yang mengalami gagal tanam. Petani mulai menanam pada awal
Desember ketika hujan hampir seminggu.
Mereka mengira musim hujan tiba. Sayangnya, setelah jagung
atau padi mulai tumbuh beberapa sentimeter, hujan berhenti. Panas datang mematikan
tanaman. Akhir Desember hujan kembali turun. Petani berpikir itu saat tepat
menanam. Ketika tanaman mulai tumbuh, datang terik dan menyapu semua tanaman.
Banyak petani putus asa, lalu meninggalkan kebun. Mereka merasa seakan dikecoh oleh
alam yang tidak menurunkan hujan seperti dulu lagi. ”Biasanya, petani lahan tadah
hujan itu sudah mulai menanam pada awal Desember. Sejak 20 tahun terakhir,
terus mundur sampai Januari. Musim tanam sudah bergeser,” ucap Goris. Ia tak
lagi berpatokan pada pola lama, tapi mengikuti perkembangan cuaca dan iklim dari
BMKG.
”Saatnya petani menyesuaikan dengan perkembangan ilmu
pengetahuan yang ternyata banyak membantu,” ujar Goris. Kelurahan Bello
merupakan salah satu sentra pangan di Kota Kupang, khususnya untuk padi,
jagung, dan hortikultura. Daerah itu punya cadangan air yang banyak.
Belakangan, debit air terus menurun sehingga petani mengandalkan hujan. Tak
jauh dari kebun Goris terdapat hamparan sawah yang kini baru mulai ditanam
padi. Petani menunggu debit air bertambah setelah hujan satu bulan terakhir.
Sekitar 20 tahun sebelumnya, sawah di Bello sudah panen pertama di awal April,
kemudian persiapan untuk musim tanam berikutnya. ”Sekarang tanam padi pertama
sudah bergeser ke April dan tidak mungkin tanam kedua karena musim hujan sudah selesai.
Satu kali tanam saja sudah bersyukur,” ujar Rino (27), warga. (Yoga)
Kenapa Pelni Butuh Kapal Baru
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









