Ekonomi
( 40814 )Meraih Peluang di Tengah Konflik
Di tengah spekulasi memanasnya konflik di Timur Tengah yang dipicu oleh serangan Iran ke Israel pada Sabtu (13/4), sejumlah negara pengimpor minyak mentah dan produk olahan, salah satunya Indonesia mulai bersiap siaga. Pasalnya, konflik yang melibatkan Iran yang dikenal sebagai salah satu produsen minyak bumi terbesar di dunia ini berisiko mengerek harga komoditas energi ini hingga ke level puncak. Indonesia sebagai salah satu pengimpor minyak mentah mulai mencermati langkah yang diambil investor berikut strategi antisipasi dari produsen dan konsumen migas dunia. Upaya ini menjadi penting karena pemerintah perlu memastikan kebutuhan minyak mentah dalam negeri dapat dipenuhi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, impor minyak mentah Indonesia pada 2023 mencapai 17,83 juta ton, dengan nilai mencapai US$11,14 miliar.
Sementara itu, impor minyak bumi dan hasil-hasilnya pada tahan lalu mencapai 52,14 juta ton, senilai US$35,83 miliar. Di Indonesia, setiap kenaikan Indonesia Crude Price (ICP) US$1 per barel dapat dipastikan berdampak pada kenaikan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sekitar Rp1,8 triliun. Kenaikan harga tersebut juga mengatrol peningkatan subsidi energi sekitar Rp1,8 triliun, sekaligus kompensasi energi sebanyak Rp5,3 triliun. Kendati konflik geopolitik Timur Tengah berisiko membebani APBN, di sisi lain peluang baru khususnya di sektor hulu minyak dan gas nasional justru terbuka lebar.
Kenaikan harga bakal membantu keekonomian sejumlah proyek hulu migas nasional khususnya bagi kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dalam melakukan pembiayaan proyek existing. Selama ini, investasi di sektor hulu migas khususnya untuk eksplorasi masih jauh dari target. Kondisi ini membuat proses penemuan cadangan migas di sejumlah lapangan menjadi tersendat. Upaya yang perlu diutamakan adalah peningkatan daya saing di industri migas nasional. Selain itu, upaya pemerintah dalam menjaga iklim investasi yang tetap kondusif menjadi kunci memenangkan kompetisi dalam situasi seperti sekarang ini.
Stimulus Restrukturisasi Sektor Keuangan Nonbank Berakhir
OJK menilai bahwa sektor Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal
Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) siap
menghadapi berakhirnya kebijakan stimulus Covid-19 terkait penilaian kualitas
aset pembiayaan pada 17 April 2024. Pemberian stimulus Covid-19 untuk
perusahaan sektor jasa keuangan nonbank ini diatur dalam Keputusan Dewan
Komisioner OJK No 55 / KDK.05 / 2022 tentang Penetapan Kebijakan Relaksasi bagi
Lembaga Jasa Keuangan Nonbank (KDK Perlakuan Khusus) yang merupakan kebijakan
stimulus bagi pembiayaan debitor targeted yang berstatus sebagai restrukturisasi
Covid-19.
Kepala Eksekutif Pengawas PVML OJK Agusman, Rabu (17/4)
menyampaikan bahwa stimulus restrukturisasi pembiayaan ini telah menjadi kebijakan
penting dalam men dukung kinerja debitor, sektor PVML, dan perekonomian Indonesia
secara keseluruhan. ”Dalam menghadapi berakhirnya kebijakan stimulus Covid-19,
OJK telah melakukan analisis dan pertimbangan yang komprehensif mengenai kondisi
ekonomi makro dan sektoral serta kesiapan sektor PVML, khususnya mengenai kenaikan
risiko kredit dan daya tahan sektor PVML yang diproyeksikan masih dalam kondisi
yang baik,” kata Agusman.
Berakhirnya kebijakan stimulus ini, kata Agusman, telah mempertimbangkan
pemulihan ekonomi, dengan tingkat inflasi yang terkendali
dan tumbuhnya investasi serta pencabutan status pandemi Covid-19 oleh
Pemerintah Indonesia melalui penerbitan Kepres No 17 Tahun 2023 pada tanggal 21
Juni 2023. Berdasarkan asesmen indikator kesehatan keuangan pada Februari 2024,
sektor PVML di Indonesia dinilai dalam kondisi yang baik, tercermin dari tren
piutang pembiayaan restrukturisasi yang terus menurun dari sisi outstanding dan
peningkatan dari sisi pembentukan cadangan kerugian. Nilai outstanding piutang
pembiayaan restrukturisasi Covid-19 hingga Februari 2024 mencapai Rp 6,41
triliun dari 172.150 kontrak. Jumlah ini menurun jauh dari angka tertinggi
piutang pembiayaan restrukturisasi Covid-19 pada Oktober 2020 sebesar Rp 78,82
triliun dari 2,57 juta kontrak. (Yoga)
Hutama Karya Garap Jalan Trans Papua Rp 3,3 Triliun
Konflik Iran-Israel, RI Siapkan Skenario Jaga Ekonomi Domestik
Kuartal I, AUM Wealth Management BRI Tumbuh 21 %
Jokowi Ajak China Bangun Moda Transportasi di IKN
Tanpa ”Skill” , Merantau Itu Berat
Meski peminatnya berkurang, Jakarta masih jadi tujuan
sejumlah perantau untuk mengadu nasib, terutama setelah Lebaran. Namun, ada banyak persiapan yang harus
dilakukan agar sukses menjadi ”seseorang” di Jakarta. Keputusan untuk merantau sebaiknya
dibarengi dengan "skill" atau keahlian. Banyak perantau membawa harta dan cerita sukacita
saat mudik ke kampung halaman. Hal ini memicu hasrat merantau bagi kerabat. Maya
Septia (23), warga Semarang, Jateng, sejak Selasa (16/4) memutuskan mencari
pekerjaan di Jakarta, seperti kakaknya yang lebih dahulu bekerja di Jakarta. Berbekal
ijazah sarjana akuntansi, Maya lebih dulu mencari lowongan pekerjaan secara
daring.
Ia juga mendapatkan panggilan wawancara kerja di beberapa tempat.
Menurut dia, kesempatan bekerja di kota besar lebih terbuka dibandingkan di perdesaan.
Di kota, lowongan kerja lebih beragam. Merantau ke Jakarta tanpa bekal memadai
tidaklah mudah. Hal ini dialami Muhammad Fahmi (41) asal Solo, pedagang makanan
di Jakpus. Mengambil hikmah pengalamannya merantau di Jakarta 15 tahun
terakhir, ia tak menyarankan calon perantau berangkat tanpa persiapan. 15 tahun
yang lalu. Berbagai pekerjaan pernah ia jalani, seperti jadi kurir hingga
penjual keliling. Beruntung, saat ini ia terbilang sukses memiliki dua warung
makan yang laris dengan penghasilan mencapai dua digit per bulan.
”Pendatang di Jakarta, dari seluruh wilayah Indonesia. Agar
tidak kalah saing, kalau bisa sudah memiliki pengalaman kerja sebelumnya. Harus
punya modal dan bakat tertentu juga. Lalu, pendapatan yang diterima harus disesuaikan
pola hidup di kota. “Buat apa merantau tapi gaji masih kurang,” katanya. Perantau
yang tidak memiliki kemampuan apa pun, menurut Fahmi, hanya akan menyulitkan
dirinya dan orang sekitar. Jika diterima bekerja, mereka juga akan menyulitkan
para rekan kerjanya. ”Yang terpenting para perantau memiliki keahlian di bidangnya
dan ada kemauan bekerja. Tanpa skill yang lebih unggul, perantau baru di Jakarta
tak akan dilirik,” ujarnya. (Yoga)
Kebutuhan Ahli Keamanan Siber Terus Melonjak
Seiring perkembangan ekonomi digital Indonesia, kebutuhan
ahli keamanan siber juga meningkat. Tanpa pembangunan SDM, pasokan dan
kebutuhan yang saat ini sudah senjang akan semakin senjang. Situasi ini menjadi
tantangan menuju Indonesia maju sekaligus peluang lowongan kerja bagi generasi
muda Tanah Air. Sejumlah kolaborasi di antara pemangku kepentingan mulai
muncul. ”Keamanan siber dimulai dengan pengembangan kapasitas SDM. Jika tidak
memiliki ahli keamanan siber, akan sangat sulit menjalankan ekonomi digital
dalam skala besar,” kata CEO Mastercard, Michael Miebach, dalam wawancara
khusus dengan Kompas di Jakarta, Kamis (18/4).
Keamanan siber menjadi salah satu tema yang Michael bicarakan
dalam pertemuannya secara terpisah dengan empat menteri Kabinet Indonesia Maju,
17-18 April, yaitu Menteri BUMN ErickThohir, Menko Bidang Kemaritiman dan
Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Menko Bidang Perekonomian Airlangga
Hartarto, serta Menkominfo Budi Arie Setiadi. Salah satu tujuan pertemuan
Michael dengan para menteri itu adalah menjajaki kemitraan strategis. Pengembangan
aspek keamanan siber adalah salah satunya. ”Sebagai bentuk keterlibatan dalam
sebuah pasar dan sebagai perusahaan global, kami harus memahami, mendatangi,
serta menemui pemerintah untuk mengetahui apa misinya.
Dari pertemuan dengan sejumlah kementerian, visi besar yang
hendak dicapai ialah 2045, Indonesia Emas,” katanya. Ia berpendapat, butuh sebuah pendekatan
keamanan siber kuat guna mendapatkan keuntungan dari perkembangan ekonomi
digital. ”Pendekatan kami di sini (dengan Indosat) terkait dengan pengembangan
kapasitas dan kemitraan dengan universitas, mulai dari membuat kurikulum,
pelatihan, hingga akhirnya diharapkan dapat menciptakan efek berganda,” ujar
Michael. Kebutuhan ahli keamanan siber dalam jumlah besar vital mengingat
ancaman keamanan siber di dunia terus meningkat.
Ancaman keamanan siber diperkirakan dapat menyebabkan
kerugian hingga 14 triliun USD pada 2028. Sebuah survei global terbaru
menunjukkan, 72 % serangan siber di Asia disebabkan oleh kurangnya tenaga ahli
di bidang siber. Mastercard dan Indosat Ooredoo Hutchison telah menandatangani
nota kesepahaman sekaligus meresmikan kerja sama dalam bentuk Indosat-Mastercard
Cybersecurity Center of Excellence (CoE). Kerja sama ini juga melibatkan ITB. Fokus
Indosat-Mastercard CoE adalah edukasi, inovasi, serta kolaborasi dengan
industri guna meningkatkan kapasitas tenaga ahli bidang siber. (Yoga)
Penyerahan Alat dan Mesin Pertanian
Permintaan Properti Ramah Lingkungan Terus Meningkat
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









