Ekonomi
( 40460 )PELEMAHAN NILAI TUKAR RUPIAH : Resiliensi Emiten Properti
Sejumlah emiten properti memastikan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak akan banyak mengganggu rencana bisnisnya pada tahun ini. Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA) Adrianto P. Adhi mengatakan, depresiasi rupiah tidak memiliki dampak signifi kan bagi kinerja bisnis perusahaan yang fokus menggarap rumah tapak. Menurutnya, pembangunan rumah tapak atau landed house tidak memiliki ketergantungan terhadap bahan baku impor. Kondisi tersebut berbeda dengan sektor apartemen yang membutuhkan sejumlah barang impor, salah satunya elevator. Berdasarkan hal tersebut, Adrianto menyatakan Summarecon sejauh ini tetap menjalankan bisnisnya seperti biasa. Perseroan bahkan tidak memiliki langkah mitigasi khusus guna menghadapi nilai rupiah yang terus melemah. “Bisnis Summarecon terkait dengan nilai tukar itu porsinya sangat sedikit, sehingga kami masih melakukan business as usual, tidak terlalu fokus untuk menyiapkan mitigasi tertentu,” tuturnya. Meski begitu, Adrianto tetap berharap insentif pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) 100% dilanjutkan untuk mendorong kemampuan masyarakat dalam membeli aset properti. Dalam kesempatan terpisah, Direktur Utama PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) Candra Ciputra,menyatakan, pelemahan rupiah memang berisiko menekan daya beli masyarakat terhadap aset properti. Untuk itu, pemerintah diharapkan bertindak cepat mengatasi pelemahan rupiah. Di sisi lain, dia menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah tidak akan mengganggu keuangan perusahaan yang diakibatkan oleh pembengkakan bunga surat utang internasional.
Sebab, mayoritas surat utang CTRA berdenominasi dolar Singapura.
Untuk diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diketahui makin lesu, dan sempat berada di level Rp16.450 per dolar AS pada perdagangan kemarin. Posisi tersebut mencerminkan pelemahan sebesar 20 poin atau 0,12% dibandingkan dengan hari sebelumnya. Sementara itu, sampai dengan kuartal I/2024, CTRA telah membukukan prapenjualan alias marketing sales sebesar Rp3,3 triliun. Perolehan tersebut mengalami penurunan sebesar 4% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Meski menurun, realisasi prapenjualan CTRA telah mencapai 30% dari target yang dibidik sepanjang tahun ini, yakni Rp11,2 triliun. Capaian itu juga melampaui rata-rata historis dalam 5 tahun terakhir yang berada di level 24%.
Berdasarkan laporan perusahaan, wilayah Jakarta dan sekitarnya menjadi penyumbang terbesar prapenjualan SMRA dengan persentase 83%. Selain itu, Bandung dan Makassar masing-masing berkontribusi sebesar 7%, sedangkan Karawang 3%.
DAMPAK PERANG DAGANG : PELUANG TERBUKA EKSPOR BAJA
Pemerintah mengincar negara-negara Barat sebagai tujuan ekspor baja nasional di tengah menghangatnya hubungan blok tersebut dengan China. Pelaku industri baja nasional pun diminta untuk mempersiapkan produknya agar bisa diterima di pasar global.
Kementerian Perdagangan menilai perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan China bisa menjadi peluang bagi industri baja nasional. Pelaku industri bisa memasok kebutuhan baja di sejumlah negara yang terdampak dari situasi tersebut. Menteri Perdagangan Zulkifl i Hasan mengatakan bahwa situasi yang berkembang saat ini menjadi momentum bagi industri baja nasional untuk melakukan perluasan ekspor. AS, Kanada, Australia, dan sejumlah negara Eropa bisa menjadi tujuan ekspor baru dari produk baja nasional. Sebagai informasi, AS pada April 2024 berencana menaikkan tarif hingga tiga kali lipat untuk impor baja dan aluminium asal China jika Beijing terbukti menggunakan praktik anti persaingan. “[Akibat] persaingan dagang antara Tiongkok dan negara-negara Barat, baja-baja dari Tiongkok enggak bisa masuk. Saya kira ini menjadi peluang emas,” katanya saat pelepasan ekspor baja lapis milik PT Tata Metal Lestari, Jumat (21/6). Zulhas, sapaan akrab Zulkifli Hasan, dalam kesempatan itu melepas ekspor produk nexalume nexium, dan nexcolor yang diproduksi oleh PT Tata Metal Lestari ke Australia, Kanada, dan Puerto Rico, dengan nilai mencapai Rp24 miliar.
Berdasarkan data dari Satu Data Perdagangan, Indonesia mengalami defisit dagang ke Australia sebesar US$1.597,8 juta pada periode Januari—April 2024. Pada periode tersebut, impor tercatat sebesar US$3,096,1 juta, sedangkan ekspor hanya sekitar US$1,498,3 juta.
Vice President Tata Metal Lestari Stephanus Koeswandi pun mengatakan bahwa kondisi yang terjadi saat ini memang menjadi peluang bagi industri baja, termasuk perusahaannya untuk melakukan perluasan ekspor. “Jadi bisa dibilang agak beruntung ekspornya, karena kebetulan adanya pertarungan antara dua ‘raksasa’,” ujarnya. Selain itu, industri baja nasional kian diuntungkan dengan sejumlah perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA) antara Indonesia dan sejumlah negara lain, termasuk Australia. Perjanjian tersebut memungkinkan pelaku industri dalam negeri untuk melakukan ekspor ke Australia. Adapun, pada kuartal I/2023, Stephanus mengungkapkan bahwa ekspor baja perusahaannya mengalami peningkatan sebesar 8,2% atau 3,18 juta ton dibanding periode sebelumnya.
Dengan capaian yang baik tersebut, Tata Metal Lestari berencana untuk kembali berinvestasi pada 2025 dengan nilai mencapai Rp1,5 triliun di luar lahan dan pembangunan.
Di sisi lain, Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) mencatat penurunan volume impor baja sebesar 10,2%, yakni sebesar 3,51 juta ton pada kuartal I/2024 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang sebanyak 3,91 juta ton.Direktur Eksekutif IISIA Widodo Setiadharmaji sempat mengatakan bahwa kinerja impor yang turun merupakan dampak dari kebijakan pengendalian impor yang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian melalui kebijakan larangan dan pembatasan impor.
Bahkan, dalam 5 tahun terakhir atau periode 2019—2023, volume impor turun 12,94% year-on-year (yoy) dari 17 juta ton pada 2019 menjadi 14,8 juta ton pada 2023. Angka impor itu belum pernah mencapai level sebelum Covid-19, meskipun permintaan baja domestik terus mengalami pertumbuhan.
Sementara itu, World Steel Association mencatat, produksi baja mentah sepanjang Mei 2024 dari 71 negara yang melaporkan ke lembaga tersebut mencapai 165,1 juta ton. Angka tersebut meningkat 1,5% dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu. China masih menjadi negara yang memproduksi baja paling banyak pada bulan lalu, yakni 92,9 juta ton, naik 2,7% dari Mei 2023. Kemudian, India memproduksi 12,2 juta ton, naik 3,5% secara tahunan. Jepang 7,2 juta ton, tumbuh 6,3% YoY, sedangkan AS memproduksi 6,9 juta ton, turun 1,5% YoY. Data tersebut juga mencatat Rusia yang diproyeksi memproduksi baja sebanyak 6,3 juta ton pada Mei 2024, dan Korea Selatan 5,2 juta ton.
BSI INTERNATIONAL EXPO Transaksi Ditargetkan Rp 1 Triliun
Wapres Ma’ruf Amin meresmikan pembukaan Bank Syariah Indonesia atau BSI International Expo 2024 yang merupakan pameran ekosistem keuangan syariah berskala internasional pertama di Indonesia. BSI International Expo 2024 yang diselenggarakan pada 20-23 Juni 2024 menghadirkan pembeli potensial dari 20 negara, dengan target jumlah transaksi Rp 1triliun. ”Seperti saya bilang, ini bank syariah harus halal, tapi juga keren. Jangan kumuh! Selain itu, BSI semakin terdepan dalam menciptakan ekosistem yang mampu menopang dan mengakselerasi pengembangan ekonomi syariah Indonesia ke depan,” tutur Wapres Amin pada acara pembukaan BSI International Expo 2024 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis (20/6/2024). Sejak hadir pada tahun 2021, BSI dinilai telah mampu menjawab kebutuhan yang sangat tinggi akan adanya bank syariah berkapasitas mumpuni.
Saat ini, BSI mampu tumbuh menjadi bank terbesar kelima nasional dan mengukuhkan posisinya dalam merepresentasikan bank syariah yang modern, inklusif, dan mampu bersaing dengan bank konvensional. Di tataran global, BSI juga telah menembus 10 besar bank syariah terbesar dunia dari sisi kapitalisasi, membuka cabang di Dubai, dan terus berupaya melebarkan sayapnya di mancanegara. Hal ini dinilai sebagai langkah konkret yang akan semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama ekonomi syariah dunia. ”Hari ini saya bangga, BSI menyelenggarakan ajang BSI International Expo untuk pertama kalinya. Sebuah agenda strategis untuk mendemonstrasikan berbagai inovasi dan pengembangan di sektor industri halal nasional dan global,” tambah Wapres Amin. (Yoga)
Harga Lada di Perbatasan Naik, Petani Bersemangat
Harga lada di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalbar, sebulan terakhir merangkak naik. Warga mulai merawat kebun lada kembali yang sempat terbengkalai karena harga anjlok dan kendala pupuk. Kadus Badat Baru, Desa Suruh Tembawang, Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalbar, Matius Liset (48) Kamis (20/6) menuturkan, harga lada putih di Entikong menjadi Rp 120.000 per kg dari Rp 70.000 per kg. Harga lada hitam Rp 70.000-Rp 80.000 per kg dari sekitar Rp 50.000 per kg. ”Dengan kenaikan harga lada, petani mulai semangat lagi merawat kebun. Selama ini banyak kebun warga terbengkalai tidak dirawat karena harga anjlok. Kini, ada yang mulai menanam lagi,” ujar Liset.
Di Dusun Barat Baru, ada 46 keluarga yang rata-rata memiliki kebun lada. Setiap keluarga memiliki lada berkisar 200-400 batang. Liset masih memiliki 100 pohon lada di Dusun Badat Baru. Jika cuaca bagus dan pupuk mencukupi, panen per pohon bisa berkisar 1-2 kg. Panen lada sekali setahun. Selama ini saat harga anjlok, kebun dibiarkan begitu saja. Kini ia berencana memupuk kebunnya. ”Selama harga anjlok kemarin, saya fokus berladang dan menanam sawit,” ujarnya. Tapi, harga bisa saja tiba-tiba anjlok lagi. Belum lagi pupuk sering kali sulit didapatkan. Harga pupuk subsidi jenis NPK dan Urea Rp 160.000 per karung 50 kg. Namun, menurut Liset kerap sulit didapatkan. ”Pupuk nonsubsisi sudah lama tidak membeli, tetapi dari pengalaman sebelumnya sekitar Rp 300.000 per karung 50 kg,” tutur Liset. Ia berharap, harga lada tetap bertahan dan terus naik hingga petani panen. Harga saat ini, menurut dia, cukup ideal. (Yoga)
Merayu Anak Muda Semarang untuk ”Njamu” Bareng
Empat pemudi duduk sambil bercerita di Herbal Corner, kafe minuman herbal di Semarang Tengah, Jateng, Rabu (19/6). Adette (20), salah satu dari mereka, memegang kunyit asam grande. Warga Candisari, Semarang, meyakini minuman berbahan dasar kunyit dan asam jawa itu bisa mengatasi nyeri menstruasi yang dideritanya. Minuman itu selalu dicari sebulan sekali oleh mahasiswi program studi gizi perguruan tinggi negeri Kota Semarang itu. Adette yang kehilangan pedagang jamu keliling langganannya kegirangan menemukan kafe herbal itu lewat video yang muncul di Instagramnya.Tanpa pikir panjang, Adette langsung datang ke kafe tersebut. Di kafe itu, jamu-jamu dicampur dengan bahan lain, kemudian diolah menjadi aneka minuman kekinian, seperti jamu blend (diblender), jamu shake (kocok), dan es krim jamu. Terkesan dengan olahan jamu di kafe itu, Adette sering mengajak teman-temannya untuk njamu di tempat itu.
”Meski tidak menstruasi, saya tetap datang. Soalnya, jamunya unik, kekinian, tak membosankan. Tampilannya menarik. Saya dapat manfaat khasiat jamu tanpa mengecap atau membaui aroma jamu,” ujarnya. Selain olahan minuman jamu yang dibanderol Rp 25.000-Rp 30.000, kafe juga menjual jamu-jamu cair, serbuk, tablet, dan kapsul. Tak hanya di kafe minuman herbal, jamu produksi Sido Muncul yang diolah menjadi es krim juga dijual di sejumlah kafe di Kota Semarang. Penyajian jamu menjadi minuman kekinian di sejumlah tempat itu meru pakan upaya Sido Muncul, produsen jamu di Semarang, membuat jamu lebih menarik dan gampang dijangkau, khususnya untuk konsumen muda. Di sejumlah hotel yang merupakan anak usaha Sido Muncul, pengelola selalu menawarkan tamu untuk mencicipi jamu seduh Sido Muncul. Jadi, mari kita njamu bareng. (Yoga)
Suparlan, Bangkit dengan Inovasi Padi Apung
Suparlan (55) tak menyerah pada kondisi alam desanya. Ketika lahan rawa pasang surut di sekitar rumahnya tak lagi memberikan hasil pascabanjir besar tahun 2021, ia menerima tantangan berinovasi dengan padi apung, lalu berhasil bangkit dari kegagalan panen dan bertekad terus melanjutkan inovasi itu. Tanaman padi apung dengan media tanam pot plastik dan styrofoam menghijaukan lahan rawa pasang surut di samping rumah Suparlan di Desa Sampurna, Barito Kuala, Kalsel, 35 km dari Kota Banjarmasin. Saat ditemui di rumahnya, Senin (20/5) Suparlan menuturkan, padi apung yang ditanamnya baru berusia satu bulan. Tahun ini merupakan tahun keduanya menanam padi apung. Jenis padi yang ditanamnya adalah siam madu. ”Ini termasuk padi unggul, bisa panen dalam tiga bulan. Kalau tak ada kendala, dalam dua bulan ke depan sudah bisa panen, pada Juli nanti,” katanya.
Suparlan menggunakan 76 lembar styrofoam berukuran 1 x 2 meter dengan ketebalan 20 cm sebagai media pengapung. Satu lembar styrofoam menyangga 21 pot tanaman padi. Ada lebih dari 1.500 rumpun padi yang tumbuh mengapung di atas air. Tiang-tiang kayu ditancapkan di berbagai sisi Styrofoam untuk menahan tanaman padi apung agar tidak bergeser saat tertiup angin. Dari kejauhan, padi itu tampak seperti ditanam di bedeng terapung. Menurut anggota Kelompok Tani Ar-Raudah itu, lahan rawa pasang surut di samping rumahnya hampir tak pernah surut pascabanjir besar tahun 2021.Banjir kala itu tidak hanya menenggelamkan hamparan tanaman padinya, tetapi juga sampai merendam rumah panggungnya. Ketinggian air d alam rumah sempat mencapai 50 cm. ”Setelah banjir besar itu, kami para petani di sini kerap gagal panen. Sebagian lahan kami juga terendam terus sehingga tidak memungkinkan ditanami padi,” kata bapak dari empat anak sekaligus kakek dari empat cucu itu.
Pada 2023, Suparlan dan beberapa petani di sana ditawari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel untuk mengembangkan padi apung. Mereka mendapat bantuan styrofoam dan pot, tapi benih, pupuk, danp-i pestisida tetap diusahakan sendiri oleh petani. ”Saya pikir ide inovasi itu bagus dan mesti dicoba. Kalau berhasil, petani kembali sejahtera. Jadi, tak perlu beli beras lagi seperti beberapa tahun terakhir pascabanjir,” ujarnya. Pada Mei 2023, ia menjadi satu-satunya petani di desanya yang berhasil panen padi apung. Hasil panen perdana itu cukup menggembirakan. ”Saya dapat 12 kaleng, sekitar 240 kg gabah kering panen,” ucapnya. Menurut Suparlan, hasil panen tersebut setara hasil panen di sawah berukuran dua borong atau 340 meter persegi. ”Kalau sebagian hasilnya tidak dijual, hasil panen itu cukup untuk makan kami bertiga di rumah selama setahun,” katanya.
Suparlan sebetulnya tak ingin menjual hasil panen perdana padi apungnya. Namun, karena banyak petani lain yang menginginkan gabah kering itu sebagai benih, ia pun rela berbagi. ”Mereka bahkan berani membeli dengan harga tinggi karena kualitas benihnya bagus. Tidak kena hama dan tidak hampa,” ujarnya. Gabah kering untuk benih itu pun dihargai Rp 140.000 per kaleng. Padahal, harga pasarannya waktu itu masih Rp 80.000 per kaleng. ”Tujuan saya memang bukan berbisnis, melainkan berbagi,” katanya. ”Pada prinsipnya, sama saja menanam padi itu. Bedanya, untuk padi apung ini, kita harus lebih telaten. Tidak bisa habis ditanam langsung ditinggal, seperti tanam padi di sawah,” ujarnya. ”Kalaupun nanti tidak dapat bantuan lagi, saya tetap akan meneruskan budidaya padi apung. Saya menyadari inovasi pertanian ini adalah solusi yang tepat di lahan yang saya garap,” katanya. (Yoga)
Pembentukan Holding Gagal Perbaiki Kinerja BUMN Farmasi
Sinergi tiga BUMN farmasi melalui pembentukan holding yang telah berjalan selama empat tahun ternyata gagal mendongkrak kinerja. Faktanya, ketiga BUMN yang meliputi PT Bio Farma (induk holding), PT Kimia Farma Tbk, dan PT Indofarma Tbk itu justru mencatatkan penurunan pendapatan hingga 28% pada 2023. Anggota Komisi VI DPR RI Amin Ak mengkritik keras kondisi tersebut. Menurut anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, keberadaan holding seharusnya dapat meningkatkan effisiensi dan kinerja masing-masing BUMN dengan kerja sama dan sinergi yang dijalin. Namun, setelah holding BUMN farmasi resmi terbentuk awal 2020, yang terjadi justru sebaliknya. "Apakah enggak ada sinergi? Apa enggak tercipta chemistry? Bungkusnya saja holding, tetapi masih jalan sendiri-sendiri. Malah mungkin satu ngalor (ke utara), satu ngidul (ke selatan), satu ngetan ( ke timur), satu ngulon ( ke barat). Enggak ada sinergi didalamnya. Apakah seperti itu? Tentu harus kita kritik," ujar Amin. Bahkan, salah satu anggota holding, PT Indofarma Tbk, diduga mengalami fraud, salah satunya yang banyak disorot publik adalah terkait utang ke pinjalaman online atau fintech sebesar Rp 1,26 miliar. (Yetede)
Kimia Farma Jajaki Divestasi Aset
PT Kimia Farma Tbk (KAFF) mengkaji opsi untuk mendivestasi aset berupa pabrik obat milik perseroan. Penjajakan ini menyusul rencana perseroan untuk menutup lima dari 10 pabriknya sebagai upaya efisiensi atau rasionalisasi aset perusahaan. Direktur Utama Kimia Farma David Utama mengungkapkan bahwa perseroan sudah mulai menjalankan upaya efisiensi tersebut. Meski dalam prosesnya rasionalisasi ini bakal menelan waktu yang tidak sebentar karena berkaitan dengan perizinan pemindahan obat dari satu pabrik ke pabrik yang lain. Makanya,sampai saat ini perseroan belum menjual pabriknya. Tapi paling tidak perseroan sudah selaraskan. "Jadi, asetnya tetap ada. Hanya kegiatannya sudah kami kurangi. Apakah nanti pabriknya dijual, mungkin itu menjadi analisis berikutnya untuk divestasi aset. Tapi pengurangan efisiensi harus terjadi," jelas David. Menurut David, inisiatif perseroan mengurangi jumlah pabrik ini tidak lepas dari rendahnya utilitas pabrik perseroan yang hanya mencapai 40%, yang membuat operating expense (opex) perseroan terlalu besar. (Yetede)
Pengawasan Ditjen Bea Cukai Dinilai Lemah
Kinerja Buruk Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemkeu) dituding menjadi salah satu penyebab utama badai PHK dalam 2 tahun terakhir. Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta menyatakan bahwa hal ini dapat terlihat jelas dari data trade map, yang menunjukkan gap impor yang tidak tercatat dari China terus meningkat. Dari US$ 2,7 Miliar pada 2021, menjadi US$ 2,9 Miliar di 2022. "Pada 2023 diperkirakan mencapai US$ 4 Miliar," kata dia dalam keterangan tertulis, Jakarta, Kamis (20/6/2024). Hal ini diungkapkan Redma untuk menanggapi Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani yang menyatakan bahwa penyebab PHK adalah praktik dumping diluar negeri. Hal ini dipandang sebagai upaya pengalihan isu dan untuk menutupi kegagalannya dalam memberishkan DitJen Bea Cukai. Redma menyesalkan tindakan Menkeu Sri Mulyani yang membela Bea Cukai dan menyalahkan kementerian lain terkait penumpukan kontainer di pelabuhan. Hal itu membuat segala upaya usulan perbaikan sistim ditolak mentah-mentah. Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB) Nandi Herdiaman menyatakan bahwa banjir impor 2 tahun terakhir sangat keterlaluan, hingga 60% anggotanya yang merupakan industri kecil menengah sudah tidak lagi beroperasi, sedangkan sisanya hanya jalan dibawah 50%. "Kalau impor garmen resmikan ada PPN, bea masuk plus bea safeguard-nya, jadi tidak mungkin perpotongnya dijual di bawah harga Rp 50.000," jelas dia.
Dengan harga yang sangat murah ini, para pengusaha baik IKM maupun perusahaan besar tidak akan tak kuat menghadapi persaingan dengan produk-produk impor. Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor TPT pada Mei 2024 sebesar US$963,7 Juta atau turun 6,80% year-on-year (yoy) dibandingkan Mei 2023 senilai US$1,03 Miliar. Deputi Bidang Statistik Produksi BPS Habibullah mengatakan, meski meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, nilai ekspor kumulatif untuk TPT turun 0,80% pada Januari-Mei 2024 dibandingkan periode tahun lalu. BPS melihat tren impor barang jadi mengalami kenaikan. Dia mengucapkan, nilai impor pakaian dan aksesorisnya menunjukkan peningkatan mendekati hari raya. Dia mengungkapkan, ada 3 negara utama yang menjadi negara asal impor pakaian rajutan dan bukan rajutan (HS 61 dan 62) ke Indonesia. Itu terdiri dari China, Vietnam, dan Bangladesh. Secara rinci, BPS melaporkan, impor pakaian dan aksesoris dari rajutan (HS 61), paling banyak berasal dari China (38,76%). Kemudian disusul oleh impor dari Vietnam (13,99%), Bangladesh (10,36%), dan Turki (5,02%), serta negara-negara lainnya (31,86%). "Impor pakaian dan aksesoris, baik rajutan maupun bukan rajutan HS 61 dan 62, menunjukkan tren fluktuatif yang cenderung dipengaruhi oleh pola musiman, yairu hari raya nasional maupun keagamaan," tutur Habibullah.
Rilis Daftar The Global 2000, Forbes Nobatkan BRI jadi Perusahaan Terbesar di Indonesia
Forbes Internasional, media keuangan dan ekonomi terkemuka di dunia, menerbitkan daftar perusahaan terbesar dunia, Forbes Global 2000 tahun 2024 pada Kamis (13/06) di New York. The Global 2000 berisikan 2000 perusahaan terbesar di dunia berdasarkan sales (penjualan), profit (laba), asset (aset), dan market value (nilai pasar) dengan keempat variabel diberi bobot yang sama. Mengutip situs resmi Forbes Internasional, dari 2.000 perusahaan di seluruh dunia yang masuk dalam daftar tersebut, terdapat 9 perusahaan berasal dari Indonesia dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. menduduki peringkat teratas. BRI menduduki peringkat 308, Mandiri (373), BCA (457), Telkom Indonesia (912), BNI (944), Bayan Resources (1.194), Chandra Asri Petrochemical (1.591), Amman Mineral (1.605) dan Adaro Energy (1.738). “Daftar tahunan Forbes The Global 2000 mencerminkan perusahaan global terbesar yang menggerakkan pasar, serta industri yang sedang tumbuh dan menjadi tren.
Daftar tahun ini menunjukkan bagaimana pasar global terintegrasi satu sama lain dan tren kecerdasan buat an yang berkelanjutan seiring berkembang dicerminkan dari naiknya peringkat perusahaan semikonduktor,” kata Hank Tucker, staf penulis Forbes.
Untuk daftar tahun ini men cakup data ki nerja perusahaan 12 bulan terakhir hingga 17 Mei 2024. 2000 perusahaan yang masuk dalam daftar tersebut secara kolektif memiliki nilai pasar sebesar US$88 triliun, mencatat peningkatan nilai pasar 19%, dan membukukan rekor pendapatan sebesar US$51,7 triliun, laba US$4,5 triliun dan aset US$238 triliun. Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan apresiasi dan rasa bangga atas pengakuan dari Forbes Internasional utamanya ketika perseroan menghadapi kondisi ekonomi global yang penuh dengan tantangan. “Sekali lagi, dunia internasional mengakui kinerja positif BRI, dan kiprah BRI sebagai perusahaan BUMN mampu untuk terus memberikan pengaruh secara global,” ujar Sunarso.
Sementara itu, dana pihak ketiga BRI tercatat tumbuh lebih kencang 12,80% men jadi Rp1.416,21 triliun. Total aset perusahaan juga me ningkat 9,11% menjadi Rp1.989 triliun. Dari sisi permodalan, BRI didukung dengan CAR yang kuat atau berada di level 23,97% dengan rasio pinjaman terhadap simpanan atau LDR 83,28%. Perusahaan juga mencadangkan NPL coveragesebesar 214,26%.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









