Suparlan, Bangkit dengan Inovasi Padi Apung
Suparlan (55) tak menyerah pada kondisi alam desanya. Ketika lahan rawa pasang surut di sekitar rumahnya tak lagi memberikan hasil pascabanjir besar tahun 2021, ia menerima tantangan berinovasi dengan padi apung, lalu berhasil bangkit dari kegagalan panen dan bertekad terus melanjutkan inovasi itu. Tanaman padi apung dengan media tanam pot plastik dan styrofoam menghijaukan lahan rawa pasang surut di samping rumah Suparlan di Desa Sampurna, Barito Kuala, Kalsel, 35 km dari Kota Banjarmasin. Saat ditemui di rumahnya, Senin (20/5) Suparlan menuturkan, padi apung yang ditanamnya baru berusia satu bulan. Tahun ini merupakan tahun keduanya menanam padi apung. Jenis padi yang ditanamnya adalah siam madu. ”Ini termasuk padi unggul, bisa panen dalam tiga bulan. Kalau tak ada kendala, dalam dua bulan ke depan sudah bisa panen, pada Juli nanti,” katanya.
Suparlan menggunakan 76 lembar styrofoam berukuran 1 x 2 meter dengan ketebalan 20 cm sebagai media pengapung. Satu lembar styrofoam menyangga 21 pot tanaman padi. Ada lebih dari 1.500 rumpun padi yang tumbuh mengapung di atas air. Tiang-tiang kayu ditancapkan di berbagai sisi Styrofoam untuk menahan tanaman padi apung agar tidak bergeser saat tertiup angin. Dari kejauhan, padi itu tampak seperti ditanam di bedeng terapung. Menurut anggota Kelompok Tani Ar-Raudah itu, lahan rawa pasang surut di samping rumahnya hampir tak pernah surut pascabanjir besar tahun 2021.Banjir kala itu tidak hanya menenggelamkan hamparan tanaman padinya, tetapi juga sampai merendam rumah panggungnya. Ketinggian air d alam rumah sempat mencapai 50 cm. ”Setelah banjir besar itu, kami para petani di sini kerap gagal panen. Sebagian lahan kami juga terendam terus sehingga tidak memungkinkan ditanami padi,” kata bapak dari empat anak sekaligus kakek dari empat cucu itu.
Pada 2023, Suparlan dan beberapa petani di sana ditawari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel untuk mengembangkan padi apung. Mereka mendapat bantuan styrofoam dan pot, tapi benih, pupuk, danp-i pestisida tetap diusahakan sendiri oleh petani. ”Saya pikir ide inovasi itu bagus dan mesti dicoba. Kalau berhasil, petani kembali sejahtera. Jadi, tak perlu beli beras lagi seperti beberapa tahun terakhir pascabanjir,” ujarnya. Pada Mei 2023, ia menjadi satu-satunya petani di desanya yang berhasil panen padi apung. Hasil panen perdana itu cukup menggembirakan. ”Saya dapat 12 kaleng, sekitar 240 kg gabah kering panen,” ucapnya. Menurut Suparlan, hasil panen tersebut setara hasil panen di sawah berukuran dua borong atau 340 meter persegi. ”Kalau sebagian hasilnya tidak dijual, hasil panen itu cukup untuk makan kami bertiga di rumah selama setahun,” katanya.
Suparlan sebetulnya tak ingin menjual hasil panen perdana padi apungnya. Namun, karena banyak petani lain yang menginginkan gabah kering itu sebagai benih, ia pun rela berbagi. ”Mereka bahkan berani membeli dengan harga tinggi karena kualitas benihnya bagus. Tidak kena hama dan tidak hampa,” ujarnya. Gabah kering untuk benih itu pun dihargai Rp 140.000 per kaleng. Padahal, harga pasarannya waktu itu masih Rp 80.000 per kaleng. ”Tujuan saya memang bukan berbisnis, melainkan berbagi,” katanya. ”Pada prinsipnya, sama saja menanam padi itu. Bedanya, untuk padi apung ini, kita harus lebih telaten. Tidak bisa habis ditanam langsung ditinggal, seperti tanam padi di sawah,” ujarnya. ”Kalaupun nanti tidak dapat bantuan lagi, saya tetap akan meneruskan budidaya padi apung. Saya menyadari inovasi pertanian ini adalah solusi yang tepat di lahan yang saya garap,” katanya. (Yoga)
Postingan Terkait
Regulasi Perumahan perlu direformasi
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023