PELEMAHAN NILAI TUKAR RUPIAH : Resiliensi Emiten Properti
Sejumlah emiten properti memastikan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak akan banyak mengganggu rencana bisnisnya pada tahun ini. Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA) Adrianto P. Adhi mengatakan, depresiasi rupiah tidak memiliki dampak signifi kan bagi kinerja bisnis perusahaan yang fokus menggarap rumah tapak. Menurutnya, pembangunan rumah tapak atau landed house tidak memiliki ketergantungan terhadap bahan baku impor. Kondisi tersebut berbeda dengan sektor apartemen yang membutuhkan sejumlah barang impor, salah satunya elevator. Berdasarkan hal tersebut, Adrianto menyatakan Summarecon sejauh ini tetap menjalankan bisnisnya seperti biasa. Perseroan bahkan tidak memiliki langkah mitigasi khusus guna menghadapi nilai rupiah yang terus melemah. “Bisnis Summarecon terkait dengan nilai tukar itu porsinya sangat sedikit, sehingga kami masih melakukan business as usual, tidak terlalu fokus untuk menyiapkan mitigasi tertentu,” tuturnya. Meski begitu, Adrianto tetap berharap insentif pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) 100% dilanjutkan untuk mendorong kemampuan masyarakat dalam membeli aset properti. Dalam kesempatan terpisah, Direktur Utama PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) Candra Ciputra,menyatakan, pelemahan rupiah memang berisiko menekan daya beli masyarakat terhadap aset properti. Untuk itu, pemerintah diharapkan bertindak cepat mengatasi pelemahan rupiah. Di sisi lain, dia menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah tidak akan mengganggu keuangan perusahaan yang diakibatkan oleh pembengkakan bunga surat utang internasional.
Sebab, mayoritas surat utang CTRA berdenominasi dolar Singapura.
Untuk diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diketahui makin lesu, dan sempat berada di level Rp16.450 per dolar AS pada perdagangan kemarin. Posisi tersebut mencerminkan pelemahan sebesar 20 poin atau 0,12% dibandingkan dengan hari sebelumnya. Sementara itu, sampai dengan kuartal I/2024, CTRA telah membukukan prapenjualan alias marketing sales sebesar Rp3,3 triliun. Perolehan tersebut mengalami penurunan sebesar 4% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Meski menurun, realisasi prapenjualan CTRA telah mencapai 30% dari target yang dibidik sepanjang tahun ini, yakni Rp11,2 triliun. Capaian itu juga melampaui rata-rata historis dalam 5 tahun terakhir yang berada di level 24%.
Berdasarkan laporan perusahaan, wilayah Jakarta dan sekitarnya menjadi penyumbang terbesar prapenjualan SMRA dengan persentase 83%. Selain itu, Bandung dan Makassar masing-masing berkontribusi sebesar 7%, sedangkan Karawang 3%.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023