Ekonomi
( 40460 )Literasi Keuangan bagi Disabilitas
Para penyandang disabilitas masih menghadapi kesenjangan akses keuangan dan literasi keuangan yang memadai. Padahal, keduanya adalah aspek penting yang dapat menunjang sisi ekonomi para penyandang disabilitas. Hasil survei Yayasan Menembus Batas yang dirilis pada Januari 2024 menunjukkan, 55,3 % responden kalangan penyandang disabilitas tidak pernah mendengarkan atau mempelajari literasi keuangan secara mendalam. Meski sebagian besar memiliki kesadaran mengenai pentingnya mengelola keuangan, mereka belum mendapat pengetahuan yang cukup tentang produk-produk keuangan. Staf Khusus Presiden Jokowi, Angkie Yudistia mengatakan, para penyandang disabilitas merupakan kelompok masyarakat rentan yang indeks literasinya juga masih rendah lantaran belum menjadi salah satu fokus sasaran edukasi.
Selama ini, terdapat hambatan upaya literasi keuangan, khususnya bagi mereka yang sulit dijangkau sekalipun dengan digitalisasi, seperti masyarakat yang tidak terafiliasi pada ikatan atau komunitas tertentu, seperti mereka. Maka, dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah dan pihak swasta dalam memberikan akses yang terbuka bagi para penyandang disabilitas. Apalagi, mereka rata-rata lulusan sekolah luar biasa yang kerap merasa bingung dengan potensi yang dimiliki. ”Secara produksi, cakep banget ini semuanya, bisa bikin baju, bisa bikin sepatu, bisa bengkel, bisa bikin kue, bisa masak, semua punya potensi bagus banget. Tapi, what next?” katanya dalam acara bertajuk ”Semua Bisa #FinanciallyFit: Disabilitas Menyala Tanpa Batas” di Jakarta, Kamis (20/6). Dalam praktiknya, kemampuan untuk mengelola keuangan bukanlah sekadar menabung dan mengelola, dibutuhkan juga akses bagaimana mendapatkan pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan.
Dalam kondisi ekonomi yang serba tidak pasti, kemampuan untuk mengelola keuangan dibutuhkan agar seseorang bisa memenuhi kebutuhan dasarnya. Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND) Dante Rigmalia menambahkan, pihaknya akan memastikan dan memantau pelaksanaan penghormatan, pelindungan, dan pemenuhan hak para penyandang disabilitas. Untuk itu, KND secara aktif melakukan advokasi dan kerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan terkait akses pendidikan yang setara. Salah satu lembaga yang mendukung literasi keuangan tersebut, PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC), menyelenggarakan pelatihan khusus bagi para penyandang disabilitas. Selama satu sesi, penyandang disabilitas memperoleh pelatihan dasar dan tips terkait bagaimana mengelola keuangan dengan baik, seperti alokasi kebutuhan, alokasi untuk tabungan, alokasi dana darurat, dan pentingnya berinvestasi. (Yoga)
Wenefrida Tulit Ina Pemberi Terang dan Pengharapan
Mengalami kepincangan kaki kanan sejak usia dua tahun, Wenefrida Tulit Ina (47) tak menyesali kondisi fisiknya itu. Ia menatap masa depannya dengan optimistis dan menjadi dosen serta terus berbagi pengetahuan dan keterampilan kepada perempuan dan anak-anak dengan disabilitas. Dalam pandangan Wenefrida, kaum difabel juga bisa memberi. Ia bilang, kala ditemui di Kupang, NTT, pada Senin (17/6) semua orang ingin hidup sempurna. Kenyataannya, banyak yang fisiknya saja tidak sempurna. Di balik kekurangan, ia percaya ada kelebihan yang diberikan oleh Tuhan. Meski cacat, ia tumbuh dan berkembang dalam kebahagiaan. Kedua orangtuanya menerima keadaannya, mendidik dan membimbingnya meraih mimpi hingga lulus perguruan tinggi.
Padahal, pada 1980-an, banyak orangtua di kampung terpencil NTT yang malu punya anak difabel. ”Saya sekolah seperti kebanyakan anak normal. Kebiasaan mem-bully di sekolah saat itu hampir tidak ada,” ujar Wenefrida. Lulus pada 2003 dari Universitas Nusa Cendana, Kupang, Wenefrida bekerja di universitas itu, mengajar teknik elektro. Sudah 21 tahun ia menjadi dosen dan berencana melanjutkan ke program doktoral di UNHAS, Makassar. Wenefrida menilai banyak anak NTT perlu dibantu menggapai mimpinya. Mereka lulus sekolah menengah atas dengan nilai bagus. Namun, begitu memasuki perguruan tinggi, banyak kesulitan mengikuti kegiatan di kampus. Sejak awal Wenefrida mengajar, minat mahasiswa pada jurusan teknik elektro sangat terbatas. Hanya 20 mahasiswa tertarik dan mendaftar per tahun. Mungkin karena mata kuliah ini dinilai sulit. Ada praktikum mengutak-atik rangkaian listrik, ada hitung-hitungan yang rumit.
Namun, kini sudah lebih dari 100 mahasiswa mendaftar setiap tahun. Memahami kondisi mahasiswa, ia berusaha mengajar dengan cara terbaik. Ia selalu berupaya memberikan penjelasan sedetail mungkin menggunakan contoh-contoh konkret yang dialami mahasiswa sehari-hari. Itulah mengapa di setiap mata kuliah yang diberikan Wenefrida, mahasiswa selalu hadir utuh, kecuali benar-benar berhalangan. Mereka selalu gembira mengikuti mata kuliah yang diajarkan Wenefrida. Mahasiswa hasil didikannya berhasil bekerja di sejumlah perusahaan, seperti PLN, Pertamina, dan Telkomsel. Ada juga yang bekerja di kantor gubernur, bupati, dan wali kota. Banyak pula yang membuka usaha sendiri.
Selain menjadi dosen, Wenefrida juga melatih perempuan dan anak-anak penyandang disabilitas menjahit. Pesertanya kebanyakan ibu rumah tangga yang tidak memiliki pekerjaan selain mengurus rumah tangga. Mereka, ujar Wenefrida, tidak boleh bergantung kepada suami semata. Apalagi jika merupakan orangtua tunggal. Wenefrida melatih mereka secara cuma-cuma. Ia memiliki keterampilan menjahit yang ditekuni sejak lama. Belajar dari orangtua yang memiliki mesin jahit di rumah. Keterampilannya itu terus dikembangkan melalui internet, mempelajari mode-mode terbaru yang muncul tahun itu. Ia juga belajar memodifikasi kain tenun dengan kain pabrikan hingga menjahit gaun pengantin dengan berbagai mode. Selain untuk membangun kepercayaan diri dan bisa tampil leluasa di masyarakat. Lebih dari itu, mereka bisa mandiri secara ekonomi dan membangun masa depan. (Yoga)
Ancaman Mengintai Saham GOTO
Saham PT GOTO Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) diperkirakan masih menapaki jalan terjal untuk bangkit kembali, setelah harganya masuk jajaran saham 'gocap' alias Rp 50. Proyeksi terburuknya, GOTO dapat masuk Papan Pemantauan Khusus dan terdepan dari indeks MSCL. Founder Stock.id Hendra Wardana mengatakan, jika kinerja saham GOTO terus menurun dan masuk dalam papan pemantauan khusus, nasib saham tersebut bisa menghadapi beberapa konsekuensi serius. Pertama, masuknya ke papan pemantauan khusus akan berdampak negatif pada persepsi investor karena papan ini biasanya diisi oleh saham-saham dengan masalah serius, serta kinerja keuangan yang buruk atau ketidakpastian operasional yang tinggi. "Hal ini bisa menyebabkan investor makin ragu untuk mempertahankan atau membeli saham GOTO, memperburuk tekanan jual dan menyebabkan harga saham terus turun," jelas dia kepada Investor Daily. Kedua, lanjut Hendra, saham yang masuk dalam papan pemantauan khusus akan diperdagangkan dengan mekanisme ini berarti saham hanya dapat diperdagangkan pada waktu-waktu tertentu, dalam sehari, yang mengurangi likuiditas dan membuat saham kurang menarik bagi investor yang mengingkan fleksibilitas dalam perdagangan. (Yetede)
Kuartal I, Laba Astra Financial Tumbuh 12%
Kinerja Astra Finansial tercatat tumbuh secara berkesinambungan. Pada kuartal pertama 2024, Astra Finansial mencatatkan laba bersih sebesar Rp 2,1 triliun, atau meningkat 12% secara yoy dari Rp 1,8 triliun. Peningkatan ini didukung oleh pengelolaan portfolio yang baik di sektor pembiayaan otomotif, komersial, retail, dan asuransi. Astra Finansial merupakan salah satu dari tujuh pilar bisnis Astra yang bergerak di jasa keuangan yang menaungi 14 unit bisnis di 8 sektor, yaitu: pembiayaan, asuransi, perbankan, dana pensiun, teknologi finansial, uang elektronik, digital ventura, dan modal ventura. Berdasarkan data kuartal I-2024, Astra Finansial mengelola aset sebesar Rp192,6 triliun dengan didukung oleh lebih dari 22 ribu karyawan dengan 912 cabang, serta mengelola 31,2 juta pelanggan di seluruh Indonesia. "Sesuai dengan visi Astra Finansial, untuk menjadi jasa penyedia keuangan ritel yang terdepan, Astra Finansial terus berupaya untuk memberikan pelayanan terbaik bagi konsumen yang didukung oleh integrasi berbagai layanan dalam ekosistem Astra," kata Direktur Astra sekaligus Director-in-Charge Astra Finansial 1, Suparno Djasmin. (Yetede)
China Sudah Investasikan US$ 230 M Bangun Industri EV
China dilaporkan sudah menginvetasikan US$ 230,8 miliar selama lebih dari satu dekade mengembangkan industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Temuan ini muncul disaat Uni Eropa (UE) berencana mengenakan tarif impor untuk mobil listrik China, yang diduga karena subsidi berlebihan dari pemerintah dalam produksinya. Sementara pada bulan lalu, Amerika Serikat (AS) mengumumkan bakal menaikkan bea masuk impor kendaraan listrik China menjadi 100%. Menurut Scott Kennedy, ketua pengawas Ekonomi dan Bisnis China di Pusat Studi strategis dan internasional yang berbasis di AS, dukungan pemerintah China terhadap total penjualan mobil listrik antara 2009 dan 2023 sebesar 18,8%. Rasio dukungan itu telah turun jauh dari 40% lebh pada tahun-tahun sebelum 2017. Dan pada 2023 hanya sedikit di atas 11%. (Yetede)
Mengapa Industri Tekstil Ambruk
Mengapa Industri Tekstil Ambruk
Melesat Setelah Terlepas dari Jerat
Bagai burung lepas dari sangkar, harga saham emiten yang keluar dari papan pemantauan khusus (PPK) tahap II dengan skema full periodic call auction (FCA) melejit. Dari 25 saham yang keluar dari PPK selama sebulan terakhir, sebanyak 12 saham mencatatkan kenaikan harga. Sementara harga delapan saham turun, dan lima saham stagnan. Sebagai catatan, usai dihujani protes, Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan revisi aturan tentang papan pemantauan khusus dengan skema FCA mulai kemarin. "Keputusan BEI merevisi aturan burs terkait penempatan efek di PPK agar mengurangi ketegangan," kata Jeffrey Hendrik, Direktur Pengembangan BEI, Jumat (21/6). Seiring revisi ketentuan papan khusus ini, BEI juga mencabut sejumlah saham dari papan khusus.
Ada enam saham emiten yang resmi dibebaskan BEI dari papan khusus. Yakni, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Haloni Jane Tbk (HALO), PT Ladangbaja Murni Tbk (LABA), PT Maxindo Karya Anugerah Tbk (MAXI), PT Organon Pharma Indonesia Tbk (SCPI), dan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ). Usai lolos dari papan khusus pada 31 Mei lalu hingga 7 Juni 2024, transaksi rata-rata AGAR melonjak menjadi sekitar 22 juta saham per hari. Harga sahamnya juga melejit 281,63% ke posisi Rp 374 per saham. Usai lolos dari papan khusus pada 31 Mei lalu hingga 7 Juni 2024, transaksi rata-rata AGAR melonjak menjadi sekitar 22 juta saham per hari. Harga sahamnya juga melejit 281,63% ke posisi Rp 374 per saham.
BEI pun mensuspensi lagi saham AGAR sejak 10 Juni, karena harga kumulatif sahamnya naik signifikan. Namun, BEI tidak memasukkan AGAR ke papan khusus berdasarkan kriteria nomor 10, karena suspensi lebih dari sehari. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengimbau, meski sebagian besar saham yang keluar dari PPK harganya melesat, investor hendaknya tetap mencermati kinerja dan pergerakan harga sahamnya. Head of Research Kiwoom Sekurirtas Indonesia, Sukarno Alatas mengatakan, saham-saham yang keluar FCA bisa dilirik, jika fundamental dan teknikalnya menarik. Menurut Hendra Wardana, Founder Stocknow.id, yang menarik dilirik usai keluar dari FCA adalah saham yang menunjukkan stabilitas harga dan volume perdagangan naik. Dari segi teknikal, di jangka pendek, Sukarno menilai,BREN tergolong menarik karena masih punya potensi kenaikan, meski valuasi sudah kemahalan.
Saham Plat Merah Masih Belum Bergairah
Sederet kendala terus menimpa emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Mulai dari kasus hukum, tumpukan utang hingga masalah fundamental kinerja keuangan. Walhasil kapitalisasi pasar (market cap) emiten BUMN melorot. Sebagai perbandingan, di akhir tahun 2023, market cap IDX BUMN20 berjumlah Rp 2.446,62 triliun. Sementara kemarin market cap IDX BUMN20 ini sekitar Rp 2.112,33 triliun. Artinya kapitalisasi pasar emiten BUMN menguap Rp 334,29 triliun year to date (ytd). Mari kita tengok berbagai borok di BUMN farmasi. Kinerja holding BUMN sektor kesehatan, yaitu PT Bio Farma sakit, kerugian mencapai Rp 2,16 triliun pada tahun lalu. PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dan PT Indofarma Tbk (INAF), sebagai anggota holding BUMN kesehatan menjadi sorotan pelaku pasar. Apalagi, ada indikasi fraud dan kasus jeratan pinjaman online pada INAF. Kasus hukum dugaan korupsi jual beli gas juga menimpa emiten PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).
Sebelumnya, ada PT Timah Tbk (TINS) yang terbawa dalam pusaran kasus tata kelola timah. Tak pelak, kinerja saham beberapa emiten BUMN ikut terpuruk. Di sektor perbankan, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang terus menukik. Kemarin, saham BBRI ditutup menguat 3,98% ke Rp 4.440. Bayang-bayang perlambatan kinerja, tantangan era suku bunga tinggi dan risiko naiknya non-performing loan (NPL), jadi salah satu penghambat gerak saham emiten bank BUMN. Pengamat Pasar Modal & Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat menyoroti masalah yang dialami emiten BUMN di berbagai sektor. Pengamat pasar modal Universitas Indonesia, Budi Frensidy punya catatan serupa.
Emiten BUMN tidak boleh mengesampingkan aspek good corporate governance (GCG), apalagi punya tanggungjawab terhadap investor publik. Equity Analyst Kanaka Hita Solvera Andhika Cipta Labora sepakat, di antara saham emiten BUMN, hanya saham perbankan yang menunjukkan prospek apik. Secara teknikal, saham big bank menunjukkan sinyal reversal dan investor mulai beralih ke posisi beli. Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menyarankan buy on weakness BBRI dan BBNI, target harga Rp 4.680-Rp 4.750 dan Rp 4.470-Rp 4.800. Kemudian, trading buy saham ANTM dan PGAS dengan target harga masing-masing Rp 1.300-Rp 1.360 dan Rp 1.550-Rp 1.570 per saham.
JALAN TENGAH RIUH FCA
Aktivitas perdagangan pasar modal kembali bergairah dengan revisi aturan papan pemantauan khusus menggunakan mekanisme lelang saham penuh atau full periodic call auction (PPK FCA) dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menghijau 0,89% ke level 6.879. Salah satu perubahan yang ditunggu adalah aturan mengenai saham di papan pemantauan khusus akibat aktivitas perdagangan. Saham akan keluar dari papan pemantauan jika telah berada di sana selama 7 hari bursa. Perusahaan yang masuk papan pemantauan khusus sebelum aturan ini berlaku pun dikeluarkan dari papan.
Enam saham yang terlepas dari papan pemantauan adalah PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ), PT Haloni Jane Tbk (HALO), PT Ladangbaja Murni Tbk (LABA), PT Maxindo Karya Anugerah Tbk (MAXI), dan PT Organon Pharma Indonesia Tbk (SCPI). BREN dan SRAJ kembali ke papan utama, sementara HALO, LABA, MAXI, dan SCPI ke papan pengembangan.
Nilai ini mengalahkan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang memiliki kapitalisasi Rp1.183,44 triliun. SRAJ menguat 1,78% ke harga 2.290 dan melesat 663,33% sepanjang tahun berjalan. LABA meroket 34,81% dan MAXI naik 1,96%, sementara SCPI dan MAXI stagnan karena masih terkena suspensi. Aturan PPK FCA ini sempat menuai kontroversi sejak diberlakukan pada Maret 2024. Polemik terjadi saat saham BREN, yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar, masuk dalam pemantauan pada akhir Mei 2024, investor pun protes. Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset, menilai revisi ini tepat saat IHSG mengalami tren penurunan. Penguatan IHSG menghentikan tren pelemahan selama ini.
Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, menjelaskan perubahan ketentuan papan pemantauan khusus dari 30 hari menjadi 7 hari bursa berdasarkan fluktuasi harga yang mereda. Fluktuasi saham mereda setelah 7 hari, sehingga tidak perlu sampai 30 hari kalender. “Secepat mungkin [informasi] ini dikeluarkan kepada pasar, karena peraturan ini diharapkan tidak menimbulkan kepanikan,” lanjutnya.
Perwakilan investor ritel, Founder of Indonesia Investment Education, Rita Effendy, menilai revisi ini sudah cukup positif dan menunjukkan pihak otoritas mendengar keluhan investor ritel. Cheril Tanuwijaya, Head of Research InvestasiKu (Mega Capital Sekuritas), menjelaskan pelemahan IHSG semester I/2024 karena faktor global dan domestik. Ketidakpastian kebijakan moneter The Fed dan adaptasi penerapan mekanisme FCA turut memengaruhi pasar.
“Dari domestik, sikap wait-and-see investor terhadap kebijakan dan susunan kabinet baru juga masih membayangi, selain juga adaptasi pelaku pasar terhadap penerapan mekanisme full call auction atau FCA,” ujar Cheril.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









