Wenefrida Tulit Ina Pemberi Terang dan Pengharapan
Mengalami kepincangan kaki kanan sejak usia dua tahun, Wenefrida Tulit Ina (47) tak menyesali kondisi fisiknya itu. Ia menatap masa depannya dengan optimistis dan menjadi dosen serta terus berbagi pengetahuan dan keterampilan kepada perempuan dan anak-anak dengan disabilitas. Dalam pandangan Wenefrida, kaum difabel juga bisa memberi. Ia bilang, kala ditemui di Kupang, NTT, pada Senin (17/6) semua orang ingin hidup sempurna. Kenyataannya, banyak yang fisiknya saja tidak sempurna. Di balik kekurangan, ia percaya ada kelebihan yang diberikan oleh Tuhan. Meski cacat, ia tumbuh dan berkembang dalam kebahagiaan. Kedua orangtuanya menerima keadaannya, mendidik dan membimbingnya meraih mimpi hingga lulus perguruan tinggi.
Padahal, pada 1980-an, banyak orangtua di kampung terpencil NTT yang malu punya anak difabel. ”Saya sekolah seperti kebanyakan anak normal. Kebiasaan mem-bully di sekolah saat itu hampir tidak ada,” ujar Wenefrida. Lulus pada 2003 dari Universitas Nusa Cendana, Kupang, Wenefrida bekerja di universitas itu, mengajar teknik elektro. Sudah 21 tahun ia menjadi dosen dan berencana melanjutkan ke program doktoral di UNHAS, Makassar. Wenefrida menilai banyak anak NTT perlu dibantu menggapai mimpinya. Mereka lulus sekolah menengah atas dengan nilai bagus. Namun, begitu memasuki perguruan tinggi, banyak kesulitan mengikuti kegiatan di kampus. Sejak awal Wenefrida mengajar, minat mahasiswa pada jurusan teknik elektro sangat terbatas. Hanya 20 mahasiswa tertarik dan mendaftar per tahun. Mungkin karena mata kuliah ini dinilai sulit. Ada praktikum mengutak-atik rangkaian listrik, ada hitung-hitungan yang rumit.
Namun, kini sudah lebih dari 100 mahasiswa mendaftar setiap tahun. Memahami kondisi mahasiswa, ia berusaha mengajar dengan cara terbaik. Ia selalu berupaya memberikan penjelasan sedetail mungkin menggunakan contoh-contoh konkret yang dialami mahasiswa sehari-hari. Itulah mengapa di setiap mata kuliah yang diberikan Wenefrida, mahasiswa selalu hadir utuh, kecuali benar-benar berhalangan. Mereka selalu gembira mengikuti mata kuliah yang diajarkan Wenefrida. Mahasiswa hasil didikannya berhasil bekerja di sejumlah perusahaan, seperti PLN, Pertamina, dan Telkomsel. Ada juga yang bekerja di kantor gubernur, bupati, dan wali kota. Banyak pula yang membuka usaha sendiri.
Selain menjadi dosen, Wenefrida juga melatih perempuan dan anak-anak penyandang disabilitas menjahit. Pesertanya kebanyakan ibu rumah tangga yang tidak memiliki pekerjaan selain mengurus rumah tangga. Mereka, ujar Wenefrida, tidak boleh bergantung kepada suami semata. Apalagi jika merupakan orangtua tunggal. Wenefrida melatih mereka secara cuma-cuma. Ia memiliki keterampilan menjahit yang ditekuni sejak lama. Belajar dari orangtua yang memiliki mesin jahit di rumah. Keterampilannya itu terus dikembangkan melalui internet, mempelajari mode-mode terbaru yang muncul tahun itu. Ia juga belajar memodifikasi kain tenun dengan kain pabrikan hingga menjahit gaun pengantin dengan berbagai mode. Selain untuk membangun kepercayaan diri dan bisa tampil leluasa di masyarakat. Lebih dari itu, mereka bisa mandiri secara ekonomi dan membangun masa depan. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023