Ekonomi
( 40460 )Aturan Short Selling Lebih Longgar
Bursa Efek Indonesia (BEI) meyakini transaksi
short selling
bisa mendorong nilai transaksi di pasar saham. Agar transaksi ini bisa ramai, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI pun melakukan sejumlah penyesuaian atas ketentuan tran-saksi
short selling. Salah satunya adalah menghapus ketentuan
uptick rule.
Asal tahu saja, aturan
uptick rule
mengharuskan investor untuk mengambil posisi
short selling
jika harga saham sedang naik dari harga penutupan sebelumnya. Nah, aturan ini sebelumnya tertuang dalam Peraturan OJK No.55/2020.
Makanya, dalam revisi terbaru soal
short selling,
OJK mengubah aturan ini. Dalam beleid baru yang tertuang di POJK No.6/2024 disebutkan, harga penawaran jual atas saham dapat dilaksanakan pada harga yang sama dengan atau di atas harga yang terjadi terakhir di Bursa Efek Indonesia.
Inarno Djajadi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, mengatakan, OJK juga mengubah nilai jaminan awal pada saat transaksi. Tadinya nilai jaminan awal paling sedikit 50% dari nilai pembelian efek pada saat transaksi atau Rp 200 juta.
Dalam aturan terbaru, nilai jaminan awal pada saat transaksi pertama paling sedikit sebesar 50% dari nilai pembelian efek atau Rp 50 juta. Penilaian jaminan awal berupa efek wajib memperhitungkan
haircut.
Presiden Direktur Maybank Sekuritas, Wilianto mengatakan, pihaknya masih mencermati peraturan soal
short selling
ini. Menurutnya, kebanyakan investor institusi lebih menyenangi transaksi
short selling
dalam jangka panjang karena bisa menjadi sarana untuk
hedging
atau lindung nilai.
Adu Kuat Emiten Grup Konglomerat
Jumlah perusahaan milik konglomerat di Tanah Air yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) semakin bejibun. Terbaru, melalui PT Tancorp Investama Mulia, konglomerat asal Surabaya, Hermanto Tanoko sukses membawa PT Superior Prima Sukses Tbk (BLES) melakukan initial public offering (IPO) pada Senin (8/7). Mengutip data RTI, hingga penutupan pasar saham Jumat (12/7), nilai market cap atau kapitalisasi pasar BLES di BEI mencapai Rp 2,29 triliun. Nilai market cap ddelapan emiten Tancorp itu mencapai Rp 63,75 triliun. Kapitalisasi pasar emiten Grup Tancorp itu berpotensi bertambah. Ini seiring rencana Hermanto Tanoko yang bakal membawa dua perusahaan lagi untuk IPO. Kedua perusahaan itu paling telat dijadwalkan akan IPO di kuartal IV-2024. Bila ditotal, kapitalisasi pasar lima emiten Grup Barito itu menembus Rp 2.303,37 triliun. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi emiten penyumbang market cap terbesar Grup Barito, yakni Rp 1.264,28 triliun. Nilai ini lebih dari 50% total market cap emiten Grup Barito. Tempat kedua diduduki konglomerat Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono. Lewat Grup Djarum, Hartono bersaudara ini memiliki sejumlah kepemilikan saham di enam emiten. Total market cap emiten Grup Djarum sekitar Rp 1.392,58 triliun. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menguasai market cap emiten Grup Djarum, dengan nilai Rp 1.242 triliun. Founder & CEO Finvesol Consulting Fendi Susiyanto mengamati, kepemilikan saham konglomerat di sebuah emiten bisa menambah daya tarik yang mengangkat prospek sahamnya. Apalagi jika sang konglomerat punya reputasi dan rekam jejak apik, serta menguasai jejaring grup bisnis besar. Salah satu saham emiten milik konglomerat yang sempat membetot perhatian publik adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Pemilik
market cap
terbesar di BEI ini sempat jadi 'tahanan' papan pemantauan khusus skema full periodic call auction (FCA) BEI pada 29 Mei 2024.Pasca masuk papan khusus, harga saham BREN langsung anjlok 10% ke level Rp 10.125 atau membentur batas auto reject bawah (ARB) pada perdagangan Rabu (29/5). Beruntung, saham BREN tak lama masuk papan khusus.
Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas menambahkan, bagi investor yang ingin melirik saham-saham emiten konglomerat bisa mencermati pergerakan sahamnya dalam jangka panjang. Terutama, emiten yang punya fundamental bisnis kuat.
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menambahkan, grup konglomerasi memiliki keunggulan bisnis terdiversifikasi dengan baik. Ini bisa memberikan keuntungan saat salah satu sektor bisnis lainnya tertekan.
Founder Stocknow.id, Hendra Wardana melihat, saham grup Barito punya portofolio menonjol. Selain lonjakan harga saham yang signifikan, Grup Barito juga punya prospek kinerja menarik.
Pengamat & Praktisi Pasar Modal, Agus Pramono memandang, emiten milik konglomerat yang bisnisnya di sektor konsumsi primer dan batubara bisa menjadi pilihan menarik. Tapi, perlu diingat, performa saham dipengaruhi faktor fundamental emiten dibanding pada pemiliknya.
EKSPOR BIJIH BAUKSIT : MENGUJI KETEGUHAN PENGHILIRAN
Keteguhan hati pemerintah melaksanakan penghiliran sumber daya mineral sesuai dengan Undang-Undang Mineral dan Batu Bara mendapat cobaan. Bermacam-macam tantangan yang dihadapi dalam pembangunan smelter membuat sejumlah pihak, termasuk DPR, meminta pemerintah mengkaji kembali pelarangan ekspor bauksit. Pemerintah tengah mengalami dilema, setelah Komisi VII DPR secara langsung menyampaikan agar pemerintah mempertimbangkan untuk membuka kembali keran ekspor bijih bauksit. Alasannya, ekspor bijih bauksit bisa menggeliatkan kembali perekonomian daerah yang selama ini menjadi produsen komoditas tersebut. Pemerintah pun hanya bisa berjanji bakal melakukan kajian dan koordinasi antarkementerian terkait dengan usulan tersebut. Pasalnya, kebijakan melarang ekspor bijih bauksit merupakan amanat Undang-Undang Mineral dan Batu Bara yang menjadi satu kesatuan dengan kebijakan penghiliran. Dalam memutuskan kebijakan terkait dengan ekspor bijih bauksit, pemerintah diminta untuk cermat dan hati-hati. Terlebih, keputusan itu baru berjalan sekitar 1 tahun, dan progres pembangunan smelter yang mengolah bauksit menjadi alumina di dalam negeri masih belum sesuai harapan. “Harus dikaji terlebih dahulu apa manfaat dan dampak dari kebijakan relaksasi tersebut untuk Indonesia,” kata Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli, dikutip Minggu (14/7).
Dia pun mengakui bahwa biaya yang dibutuhkan untuk membangun smelter bauksit memang lebih mahal dibandingkan dengan smelter untuk komoditas lain. Akan tetapi, dia juga mempertanyakan apakah relaksasi ekspor bijih bauksit bisa berimpak positif terhadap pembangunan smelter di dalam negeri. Yang pasti terjadi dari dibukanya kembali ekspor bijih bauksit, kata dia, adalah penyerapan tenaga kerja untuk operasi pertambangan, penyaluran dana pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah tambang, serta multiplier effect lain dari kegiatan pertambangan. Dari kalangan pengusaha bauksit, problem pendanaan memang menjadi tantangan terbesar yang hingga kini belum ada solusinya. Dampaknya, banyak rencana pembangunan smelter yang jalan di tempat. Plh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Bauksit dan Bijih Besi Indonesia (APB3I) Ronald Sulistyanto mengatakan, untuk membangun smelter bauksit yang bisa menghasilkan alumina dengan kapasitas 2 juta ton membutuhkan investasi sebanyak US$1,2 miliar. Sementara itu, Ketua Komite Tetap Minerba Kadin Indonesia Arya Rizqi Darsono mengatakan, usulan DPR untuk membuka kembali keran ekspor bauksit secara terbatas sudah tepat. “Karena dampak dari larangan ekspor pada 2023 sudah terasa di pelaku usaha,” katanya, beberapa waktu lalu. Rizqi menjelaskan, berdasarkan data pada 2022, dari 27,2 juta ton bauksit yang diproduksi, hanya 14 juta ton yang dapat diserap oleh pasar domestik. Di sisi lain, apabila pemerintah membatasi rencana produksi dalam rencana kerja dan anggaran belanja (RKAB) perusahaan, pelaku usaha mau tidak mau menurunkan produksinya atau memberhentikan sementara operasi mereka.
BRI Telah Kucurkan KUR Rp 76,4 T
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) terus mengakselerasi penyaluran kredit kepada segmen UMKM di Indonesia. Sepanjang Januari hingga Mei 2024, tercatat BRI berhasil menyalurkan kredit usaha rakyat (KUR) sebesar Rp 76,4 triliun kepada 1,5 juta debitur. Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengungkapkan, nilai tersebut setara dengan 46,33% dari total penyaluran KUR BRI untuk 2024 yakni sebesar Rp 165 triliun. "Sejalan dengan penyaluran KUR yang terus tumbuh, BRI mampu menjaga kualitas kredit KUR yang disalurkan.
Hal tersebut tercermin dari NPL (non performing loan) KUR BRI yang terjaga di kisaran 2%," imbuh Supari. Ke depan, BRI berharap adanya kebijakan penguatan yang dapat memperkuat daya beli masyarakat dan meningkatkan konsumsi rumah tangga, karena dua faktor tersebut menjadi driver utama pertumbuhan kredit UMKM yang menjadi kontributor utama dan menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia di tengah kondisi makro ekonomi mendatang. (Yetede)
Capital Inflow ke Pasar Keuangan Domestik Rp 5,59 Triliun
KKP Tingkatkan Akses Pasar Udang ke Amerika
Basa-basi Pansus Haji
Lampu Kuning Primissima dan Sritex
Krisis Akuntabilitas dalam Digitalisasi Layanan Publik
Lima Merek China Menyodok Dominasi Sponsor di Piala Eropa 2024
Turnamen Piala Eropa 2024 diklaim ditonton 5 miliar pasang mata di seluruh dunia, yang membuatnya menjadi ajang promosi berbagai merek global. Mengutip situs Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA), Euro 2024 disponsori secara resmi oleh total 18 merek dunia, yaitu Adidas, AliExpress, AliPay+, Atos, Betano, Booking.com, BYD, Coca-Cola Zero, Hisense, Lidl, Engelbert Strauss, Visit Qatar, Vivo, Bitburger, Deutsche Bahn, Deutsche Telekom, Ergo, dan Wiesenhof. Para sponsor ini bergerak di beragam industri, mulai dari perlengkapan olahraga, situs belanja daring, sistem pembayaran, situs taruhan resmi, telekomunikasi, produsen barang elektronik, ponsel, sampai sepatu pabrik, dari tujuh negara, yakni Jerman, China, Perancis, Yunani, Belanda, AS dan Qatar. Jerman menjadi negara dengan merek sponsor terbanyak, yakni delapan perusahaan, wajar mengingat negeri Bavaria ini adalah tuan rumah Euro 2024.
China menyodok dominasi negara-negara Eropa dengan lima merek yang menjadi sponsor Euro 2024, yakni AliExpress, AliPay+, BYD, Hisense, dan Vivo. AliExpress dan AliPay+ adalah bagian dari grup perusahaan teknologi asal China, Alibaba Group, yangdidirikan Jack Ma, miliarder China yang menurut Bloomberg Billionaire Index per Sabtu (13/7) adalah orang terkaya ke-52 dunia dengan kekayaan 33,1 miliar USD. Adapun BYD adalah perusahaan produsen mobil listrik yang tengah naik daun. Mengutip lembaga riset energi bersih, CleanTechnica, BYD adalah pemimpin pasar mobil listrik berbasis baterai di dunia pada Mei 2024 dengan pangsa pasar 23,8 %, meninggalkan Tesla dengan pangsa pasar 10,6 %. Kendaraan listrik BYD jadi sarana transportasi resmi untuk para pemain dan panitia acara Euro 2024.
Sementara, Hisense adalah produsen barang elektronik, seperti televisi, lemari es, dan penyejuk ruangan. Adapun Vivo merupakan produsen ponsel. Hisense memiliki hak eksklusif menyediakan layar resmi untuk sistem video asisten wasit (VAR) di turnamen ini. Hisense konsisten menjadi sponsor dalam ajang sepak bola dunia dalam beberapa tahun terakhir, seperti sponsor pada Euro 2016 dan Euro 2020. Hisense juga menjadi sponsor Piala Dunia 2018 dan Piala Dunia 2022. Ekspansi global Mengutip Sportspromedia, konsistensi Hisense menjadi sponsor, tak lepas dari strategi perusahaan yang membidik ekspansi pasar global. Secara khusus, mereka membidik peningkatan penjualan televisi.
Ajang sepak bola akbar, seperti Piala Eropa dan Piala Dunia, sudah diantisipasipenggila sepak bola seluruh dunia. Akan ada miliaran pasang mata yang menyaksikan turnamen ini. Di sinilah perusahaan melihat peluang dengan menawarkan televisi untuk menonton kompetisi ini. Ini kesempatan besar menjual perabot elektronik. Sebab, persaingan di industri elektronik sangat ketat. Upaya mengenalkan merek ke penonton diharapkan bisa meningkatkan penjualan. Mengutip data lembaga riset teknologi, Omdia, Hisense pada 2023 menduduki peringkat kedua pengiriman televisi di seluruh dunia dengan 26,11 juta unit, hanya kalah dari Samsung di 37,46 juta unit. Mengutip laporan Bloomberg, pendapatan Hisense dari penjualan luar negeri pada 2016 meningkat 83 % menyusul keterlibatannya menjadi sponsor Piala Eropa 2016. Merek China telah menempatkan diri sebagai pemain utama dan sejajar dengan merek global lainmya dari AS dan Eropa. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









