Ekonomi
( 40460 )Saling-silang Bea Masuk Antidumping Keramik Cina
Cara Tepat Mengukur Kesejahteraan Petani
Ketergantungan Impor Tinggi, Harga Obat Sulit Turun
Ekspor Kontraksi, Surplus Neraca Dagang Turun 18 %
Rasio Kredit UMKM Terus Melandai
Indeks Parekraf Dapat Bantu Pertumbuhan Ekonomi
Zyrex Naikkanlah Kapasitas Produksi 3 Kalo Lipat
RI-Korsel Sepakat Menghubungkan QR Code Pembayaran Antarnegara
Sengkarut Kebijakan Impor Industri Jangan Jadi Korban
Silang pendapat antara Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) atas kebijakan importasi kian terbuka. Kini kian meluas dengan menyeret Kementerian Perekonomian. Alih-alih menyelesaikan masalah, ketiga kementerian itu memilih saling melempar tanggung jawab atas kebijakan importasi. Jika terus dibiarkan tanpa solusi, sengkarut ini bisa memakan lebih banyak korban industri. Bukan hanya industri tekstil yang terkapar dan melakukan pemutusan hubungan kerja, tapi bisa meluas. Kemenperin menuding, Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No 8/ 2024 yang merupakan Perubahan Ketiga atas Permendag Nomor 36 Tahun 2023 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor jadi biang keladi membanjirnya impor, khususnya Tekstil dan Produk Tekstil (TPT). Sejak aturan itu keluar, impor TPT naik jadi 194.870 ton pada Mei dari 136.360 ton di April 2024. Lantaran Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan di Peru, revisi tetap dilakukan sebagai hasil tindak lanjut rapat di Istana. Kata Bara, saat itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumpulkan menteri-menteri terkait yakni Menko Perekonomian, Menteri Keuangan, dan Menteri Perindustrian untuk mengatasi tumpukan impor itu. Pemerintah memilih akan membentuk Satgas Pemberantasan Impor Ilegal untuk melindungi industri dalam negeri.
Satgas melibatkan banyak pihak, termasuk penegak hukum seperti Kepolisian serta Kejaksaan Agung.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga bilang, pemerintah belum akan merevisi Permendag 8/2024. Perubahan terbesar di Permendag 8/2024 adalah menghapus pertimbangan teknis (Pertex) sebagai syarat impor mayoritas komoditas. Beleid itu memicu banjir impor hingga menekan industri lokal dan mengancam PHK.
Ketua Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik (Inaplas) Fajar Budiono menyatakan, saat ini utilitas industri yang tergabung di Inaplas sudah di bawah 50%.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta menyebut, pemerintah harus cepat bertindak. Pembentukan Satgas bisa jadi salah satu cara mengatasi impor ilegal.
Anggota Komisi VI DPR RI, Amin Ak menilai pembentukan Satgas Pemberantasan Impor Ilegal adalah upaya pemerintah menghalau impor ilegal tidak maksimal.
Ekspor Sawit Menahan Penurunan Kinerja Ekspor
Kinerja ekspor impor tercatat melemah pada Juni 2024. Hal ini yang menyebabkan surplus neraca perdagangan Indonesia kembali menyusut. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor pada Juni tahun ini mencapai US$ 20,84 miliar. Nilai itu menurun 6,65% month to month (mtm), meski tumbuh 1,17% year on year (yoy). Perkembangan tersebut sejalan dengan pelemahan ekspor sejumlah komoditas andalan, yakni batubara serta besi dan baja. Pada Juni lalu, ekspor batubara tercatat senilai US$ 2,49 miliar, turun 0,36% mtm dan ekspor besi dan baja tercatat US$ 2,1 miliar, turun 4,32% mtm. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan, penurunan ekspor batubara karena di beberapa negara tujuan ekspor seperti China telah memasuki musim panas yang membuat permintaan batubara menurun.
"Penurunan ekspor batubara secara bulanan juga disebabkan menurunnya secara volume maupun harga," kata Amalia dalam konferensi pers, Senin (15/7).
Di sisi lain, nilai impor Juni tercatat US$ 18,45 miliar, turun 4,89% mtm. Secara tahunan, nilai impor juga masih tumbuh 7,58% yoy. Penurunan impor secara bulanan, sejalan dengan penurunan impor bahan baku dan barang modal yang masing-masing sebesar 3,41% dan 14,51% mtm. Sedangkan impor barang konsumsi masih tercatat naik 2,48% mtm.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, perkembangan harga komoditas secara signifikan berefek terhadap kontraksi nilai ekspor bulan lalu. Harga sejumlah komoditas ekspor utama RI tercatat menurun. "Harga batubara Juni 2024 turun 4,9% mtm, nikel turun 10,7% mtm dan tembaga turun 4,8% mtm," kata dia, kemarin.
Ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalia Situmorang memperkirakan, kinerja ekspor Indonesia ke depan masih diliputi tantangan. "Ekspor kita masih akan challenging selama suku bunga di global masih tinggi dan jika China juga masih belum pulih," kata Hosianna.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









