Lampu Kuning Primissima dan Sritex
GEDUNG dua lantai itu berdiri dalam sunyi di Jalan Yogyakarta-Magelang Kilometer 15, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Cat putihnya sudah pudar dan terkelupas di sana-sini, menandakan bangunan itu tak lagi terawat. Bahkan logo matahari dan tulisan PT Primissima di fasad mulai menghitam, dari awalnya cokelat keemasan.
Bangunan itu milik perusahaan tekstil negara yang sedang sekarat. Mulai 1 Juni 2024, Primissima, yang berdiri sejak 1971, mengumumkan berhenti beroperasi sementara. Sebanyak 425 karyawan pabrik dirumahkan. “Bukan hanya karyawan, direksi dan manajemen juga semua dirumahkan. Hanya ada sekuriti yang menjaga pabrik,” kata Direktur Utama PT Primissima Usmansyah di Yogyakarta pada Jumat, 12 Juli 2024.
Produsen kain dan benang berbahan baku kapas ini tak memiliki modal untuk melanjutkan operasi. Sejak 2020, Primissima tidak mampu membeli bahan baku sendiri untuk operasi. Perusahaan hasil patungan antara pemerintah Indonesia dan Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) itu selama empat tahun terakhir hidup mengandalkan pesanan pihak lain dengan memanfaatkan peralatan dan sumber daya manusia yang ada.
Usmansyah menuturkan pendapatan dari hasil mengerjakan pesanan orang lain ini tak signifikan. “Pemasukan yang ada ternyata juga tidak bisa menutup semua biaya, termasuk gaji karyawan,” kata pria yang bergabung dengan perusahaan itu sejak 2016. (Yetede)
Tags :
#TekstilPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023